Tradisi menjelang Ramadan di P. Brandan

Posted on Updated on

Beberapa hari lagi, kita akan memasuki bulan suci Ramadan, atau biasa juga kita sebut dengan bulan puasa. Karena pada bulan itu, seluruh umat Islam, di mana pun mereka berada diwajibkan menjalankan ibadah puasa sebulan penuh di bulan itu.

Berbagai macam kebiasaan atau tradisi yang dilakukan masyarakat muslim di berbagai tempat dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan ini.Ada yang melakukan ‘mandi kembang’, membersihkan diri dan mandi ber- limau (memakai potongan jeruk purut) ber harum-harum sebelum masuk bulan yang suci ini.

Di zaman moderen sekarang ini, dimana alat-alat informasi telekomunikasi sudah demikian canggih dan serba cepat, tak sedikit pula yang memanfaatkan untuk saling berkirim pesan singkat atau email kepada teman, sahabat,ataupun sanak saudara yang jauh.Kadang hanya untuk sekadar mengucapkan “Marhaban Ya Ramadhan”. Disamping sebagai sarana untuk saling bermaafan yang saya contohkan diatas.

Dan yang uniknya, pesan- pesan itu diembel-embeli dengan pantun atau pun emoticon yang kalau kita simak cukup bervariasi dan penuh kreatifitas.

Ada satu tradisi yang sudah berlaku secara turun temurun dan tidak diketahui asal muasalnya karena sudah sedemikian lama. Sampai rasa-rasanya kurang ‘afdol’ kalau tidak dilaksanakan. Tradisi ini berlaku di kalangan masyarakat kota Pangkalan Brandan dan kota disekitarnya sampai ke daerah Aceh.

Pada satu hari sebelum memasuki bulan Ramadan, ibu-ibu di sana ’sibuk’ memasak daging, untuk dimakan pada malam sahur yang pertama. Pada hari itu, yang disebut dengan istilah ‘Hari Motong’ atau ‘Hari Megang’ (ini lagi penulis kurang tahu juga kata ini berasal dari kata apa. Apanya yang di pegang), setiap rumah di kota itu, pasti mengeluarkan aroma daging yang dimasak.Tak terkecuali rumah kecil atau pun orang yang kurang berpunya sekalipun. “Rasanya kurang ‘afdol’ kalau tidak masak daging, pada hari motong”, kata seorang warga disana.

Entah dari mana asal-muasalnya, tradisi ini sudah berlaku  sejak  puluhan tahun yang lalu. Dikarenakan adanya tradisi ini, maka tidak heran kalau di Pangkalan Brandan pada hari itu muncul juragan ataupun pedagang daging dadakan. Pedagang ini ada yang mempunyai modal sendiri dan menggaji para pembantunya, atau memakai sanak saudaranya. Ada pula yang berkongsi dan mengumpulkan modal secara patungan.

Dua hari sebelum hari H, mereka sudah bersiap membuat warung atau kios darurat. Terbuat dari tiang-tiang kayu kadang tanpa dinding, beratapkan seng atau terpal.    Kalau pada waktu dahulu, tidak kurang pula yang beratapkan daun nipah.Mereka mengantarkan lembu ataupun kerbau yang akan di potong ke rumah potong hewan kepunyaan pemerintah pada malam hari sebelum hari motong atau hari megang tersebut.

Selesai salat subuh, sudah ramai ibu-ibu, bapak-bapak, bahkan anak-anak yang tumpah ruah ke’ pajak’ untuk mencari , memilih dan membeli daging untuk keperluan yang disebutkan di atas tadi.

Di Pangkalan Brandan serta kota-kota sekitarnya sampai ke Medan, pasar disebut dengan ‘pajak’. Jadi di sana ‘pajak’ bukan cuma sejumlah uang yang harus dibayarkan oleh wajib pajak kepada pemerintah, tapi disana pajak = pasar, juga artinya.

Demikian ramainya pajak pada hari itu, terlebih saat matahari mulai naik , sehingga berjalan saja sudah sulit.Jarak antara orang ke orang demikian rapatnya. Apakah karena hal ini maka hari tersebut dinamai ‘hari megang’??(Entahlah, penulis nggak tahu juga).

Menjelang ashar, daging sudah pun dimasak, ada yang di rendang, ada yang menggulai cencang,juga ada yang sekedar sanggup memasak tulang-tulang untuk dijadikan sop.Setelah selesai kesibukan baru pun dimulai.

Sebagian dari masakan itu dimasukkan ke rantang dan diantarkan ke sanak famili ataupun kerabat dekat. Khusus untuk yang masih pengantin baru diantarkan pula ke rumah mertua.Ada juga yang memberikan masakannya kepada para tetangga yang kurang mampu.

Sebelum mengantar itu, ada yang berziarah terlebih dulu ke pemakaman umum setempat.

Semua kegiatan itu merupakan tradisi yang unik, menurut penulis. Karena sepanjang pengalaman dan pengetahuan penulis, selama merantau diluar Pangkalan Brandan, penulis belum menemukan tradisi tersebut di daerah lain. Patutkah ditiru ? Khususnya memberi makanan yang enak kepada orang yang fakir.(selesai)

Iklan

One thought on “Tradisi menjelang Ramadan di P. Brandan

    sedolf said:
    12 Juni 2011 pukul 22:06

    tetep semangat,

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s