“Istriku Bidadariku”

Posted on Updated on

– Menurut Pak Shodiq, apa arti dari Pernikahan?

Pernikahan adalah penyatuan jiwa-raga antara seorang pria dan seorang wanita untuk membangun keluarga baru yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Sakinah bermakna tenteram dan bertahan lama. Mawaddah berarti penuh dengan cinta kasih antara istri dan suami. Sedangkan rahmah mengandung makna penuh dengan karunia dari Allah Sang Maha Penyayang.

– Bagaimana Pak Shodiq memandang suatu pernikahan?

Menikah itu bagaikan menanam bibit pohon buah-buahan. Bila pengelolaannya baik, maka baik jugalah buah yang dihasilkannya. Begitu pula sebaliknya. Seandainya pengelolaannya buruk, maka buruk jugalah buah yang dihasilkannya.

– Pernikahan yang ideal menurut Pak Shodiq itu bagaimana?

Yang ideal adalah bila sang suami dan sang istri sama-sama merasa seolah-olah berada di surga sejak akad nikah hingga akhir hayat. Suami merasa, “Istriku bidadariku.” Begitu pula sebaliknya. (“Suamiku bidadaraku.”) Sementara itu, sebagaimana di surga, masing-masing tidak merasa takut akan kehilangan. (Apabila yang menonjol adalah rasa takut akan kehilangan pasangan, maka penderitaannya hampir bagaikan di neraka.)

– Menurut Pak Shodiq, apa yang dimaksud dengan relasi suami istri?

Pola hubungan antara suami dan istri dalam kaitannya dengan posisi masing-masing. Pandangan suami bisa berbeda dengan pandangan istri mengenai hubungan antara mereka ini.

– Dalam suatu pernikahan, biasanya relasi apa saja yang terjalin antara suami dan istri?

Dalam suatu pernikahan, segala kemungkinan relasi dapat terjadi. Faktor kepribadian dan latar belakang budaya masing-masing biasanya berpengaruh besar. Dalam pengamatan pribadi saya, relasi suami-istri yang paling banyak terjadi pada masa kini adalah relasi kepemilikan. Pola pikir suami pada umumnya adalah “saya memiliki istri”. Sedikit sekali yang berpikiran “saya dimiliki oleh istri”. Namun, pola pikir istri pada umumnya adalah “saya memiliki suami” dan sekaligus “saya dimiliki oleh suami”.

– Apakah relasi suami istri di Indonesia ini sudah berjalan dengan baik?

Relasi kepemilikan bukanlah relasi yang baik. Yang baik menurut saya diantaranya adalah relasi penyatuan (atas dasar cinta). Mestinya, pola pikir yang dominan pada kedua pihak adalah “Kami suami-istri saling mencintai bagaikan sepasang mempelai di surga“.

– Biasanya, permasalahan apa saja yang terjadi di dalam rumah tangga menyangkut relasi suami istri?

Relasi kepemilikan menumbuhkan akar masalah berupa “rasa takut kehilangan”. Sebab, hanya orang yang merasa memiliki sajalah yang bisa kehilangan. (Sebaliknya, orang yang merasa tidak memiliki apa-apa takkan merasa kehilangan apa-apa.)

Dari akar masalah tersebut, bisa tumbuh berbagai masalah “keserakahan” seperti perselingkuhan, kecemburuan yang berlebihan, merasa kebutuhan diri kurang terpenuhi, merasa kurang dihargai, merasa kurang dicintai, dan sebagainya. Masalah KDRT (kekerasan dalam rumahtangga) pada umumnya pun mungkin berakar di situ pula, terutama karena suami merasa sepenuhnya “memiliki” si istri, seolah-olah istri adalah budak yang dimiliki oleh suami.

– Apa saja hak dan kewajiban seorang suami?
– Apa saja hak dan kewajiban seorang istri?

Pembicaraan hak dan kewajiban itu berarti menggunakan sudut pandang hukum normatif (misalnya: hukum Islam dan hukum negara). Saya bukan ahli hukum normatif dan jarang pula menggunakan sudut pandang tersebut. Karena itu, saya mungkin kurang mampu menjelaskan apa saja hak dan kewajiban seorang suami atau pun istri.

Sebagaimana saya sebut di atas, saya memandang bahwa menikah itu bagaikan menanam bibit pohon buah-buahan. Jika kita melakukannya dengan berlandaskan cinta, maka segala yang kita lakukan dalam rangka penanaman dan perawatan pohon itu tidak kita rasakan sebagai kewajiban (atau apalagi beban). Kita juga tidak perlu menuntut hak kepada si pohon untuk memberi buah kepada kita. Bila kita menanam dan merawat pohon buah-buahan itu dengan penuh cinta, maka pohon tersebut akan menghasilkan buah yang sebagus-bagusnya “dengan sendirinya” (sesuai dengan sunnatullah).

– Bagaimana pandangan Pak Shodiq mengenai sepasang suami istri yang nekat menikah muda namun mereka tidak memiliki bekal yang cukup (baik dari segi mental maupun finansial)? Apakah hal tersebut akan berpengaruh dalam relasi suami istri pada pasangan tersebut?

Buru-buru menikah padahal belum siap itu mungkin menunjukkan “keserakahan”. Bolehjadi mereka terlalu bernafsu ingin “memiliki” sesuatu yang belum waktunya untuk “dimiliki”. Padahal, “keserakahan” itu merupakan salah satu unsur utama dalam pola “kepemilikan” seperti yang saya sebut di atas. Secara demikian, relasi kepemilikan pada pasangan semacam itu mungkin lebih menonjol.

Akibatnya, akar masalah yang akan mereka hadapi, yakni “rasa takut kehilangan”, akan lebih besar pula. Padahal, kemampuan mereka untuk mengatasi rasa takut ini masih amat kurang. Walhasil, bisa-bisa rumahtangga mereka (dan bahkan diri mereka sendiri) menjadi “layu sebelum berkembang”.

Iklan

5 thoughts on ““Istriku Bidadariku”

    kopral cepot said:
    20 Agustus 2009 pukul 05:28

    sebuah pencerahan buat yg udah berkeluarga n wawasan bagi yang belum 🙂

      M Shodiq Mustika responded:
      20 Agustus 2009 pukul 05:31

      makasih, kopral. semoga istri kopral menjadi bidadari kopral, ya!

    Viva 4 ever said:
    20 Agustus 2009 pukul 08:21

    Dulu sy seringkali mencemaskan sebuah pernikahan sbg babak awal memasuki ‘tragedi sihka dan winka’ -puisi chalsum bachri-ini menjadi pencerahan bagi saya pribadi yang berkecimpung dalam pendampingan kasus KDRT. Selama ini kasus KDRT (khususnya kekerasan suami terhdp istri) seringkali dikaitkan dg ‘hak dan kewajiban’. bahkan dlm akad nikah pun seringkali mempelai dicekoki dg segudang hak & kewajiban versi UU perkawinan. Akibatnya saya seringkali menjumpai kasus pengakuan ‘istri wajib melayani suami’ dan ‘suami memenuhi hak istri’. koq…hubungan laki2 dan peramp yang sdh menikah lebih didominasi hak & kewajiban ya..?? cinta menjadi nomor sekian!!
    Tapi stlh membca sudut pandang yang lbh humanis spt yg bpk sampaikan, sebuah lightment mencuat. Saya kira pasangan calon mempelai lbh tepat jika mendptkan asupan gizi yg lbh humanis dr pd dicekoki hak & kewajiban versi UU Perkawinan.

    KangBoed said:
    21 Agustus 2009 pukul 01:15

    Saya mengucapkan SELAMAT menjalankan PUASA RAMADHAN.. sekaligus Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika ada kata kata maupun omongan dan pendapat yang telah menyinggung atau melukai perasaan para sahabat dan saudaraku yang kucinta dan kusayangi.. semoga bulan puasa ini menjadi momentum yang baik dalam melangkah dan menghampiriNYA.. dan menjadikan kita manusia seutuhnya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh..

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

    […] “Istriku Bidadariku” […]

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s