Rambu-Rambu Bercinta

Posted on Updated on

Cinta itu adalah sesuatu hal yang abstrak. Cinta bukan sekedar rasa melainkan keseluruhan rasa,asa dan perasaan bahkan perbuatan. Cinta bukan sekedar bahasa kata, bukan pula sekedar terjemahan sikap semata, melainkan rasa yang diterjemahkan dalam kata, sikap dan rasa itu sendiri. Akan tetapi itu bukan difinisi dari cinta, karena bagaimanapun juga cinta bukanlah kata atau rasa yang memiliki batas. Memberikan difinisi terhadap cinta secara tidak langsung  memberikan batasan makna cinta.

Perasaan cinta tidak akan pernah hadir sebelum mampu menghilangkan rasa benci, dengki, tidak suka, muak dan beberapa sifat yang bertentangan dengan gambaran makna  cinta.

Akan tetapi tidak menutup kemungkinan cinta lahir dari arah yang berlawanan tersebut. Atau dengan kata lain, Cinta adalah kemampuan untuk menghilangkan perasaan benci, dengki, acuh dalam menjalin hubungan dan perhatian yang intensif terhadap yang dicinta.

Ada gambaran sabda dari baginda Nabi Muhammad saw,

“ Barang siapa yang mencintai sesuatu maka ia menjadi budak dari apa yang dicintainya.”

Para ilmuwan muslim (baca : ulama Allah) sebagian memberikan rambu-rambu lalu lintas bercinta agar tidak terjebak ke lambah pembudakan tersebut. Mencintai adalah merupakan fitrowiyah bagi seseorang. Selama menjadi manusia, pasti memiliki perasaan cinta. Karena cinta merupakan fitrowi maka, tidak mungkin suatu doktrin akan mengajarkan untuk mencintai. Bukanlah kita ada karena adanya cinta?

Gambaran batasan yang diberikan para ulama tentang cinta tersebut, agar seseorang mencintai bukan semata karena hasrat yang dipicu nafsu, melainkan menyadari dengan segenap pengetahuan, bahwa adanya cinta tidak mungkin tumbuh dengan sendirinya tetapi karena ada yang mengadakan, menumbuhkan kembangkan, sehingga terlahir dalam bentuk rasa, kata dan perbuatan.

Mungkin kita agak sulit membedakan makna cinta yang mengarah kepada pembudakan (cinta yang terlahir karena nafsu) dengan rasa yang tulus dan murni karena anjuran syar’ie. Mungkin juga kita sempat bertanya kepada orang atau kepada diri sendiri, apakah rasa yang sedang menepit jiwa hanya sekedar hasrat, buruan nafsu, kehendak atau kamuslase saja?

Minimalnya kita memiliki gambaran tentang rambu-rambu dalam bercinta agar tidak tertipu oleh daya dan kekuatan yang dimiliki musuh-musuh kita (iblis) :

  • Menyadari dengan sepenuhnya, cinta bukan hanya terlahir karena seringnya bersama (berkumpul), seringnya berkomunikasi, atau lantaran kebaikan sikap, wajah dan lain sebagainya tetapi ada kekuatan supra natural yang menghadirkannya.
  • Mentaati rambu-rambu agama dalam menjalin komunikasi bukan sekedar ingin memuaskan panggilan nafsu.
  • Memiliki orientasi yang jelas dan kontinuitas yang konsis terhadap hubungan yang dibina tidak hanya dianggap sebagai permainan belaka.
  • Menyadari motor penggerak kehidupan, bahwa apa yang sedang dijalani tidak mesti berujung dengan senyum dan tawa melainkan bisa jadi berakhir dengan air mata dalam ketidakpuasan.
  • Memahami pula makna dalam penciptaan, Allah selalu memberikan pasangan. Allah menciptakan atas maka diciptakan-Nya pula bawah, ada timur ada barat. Begitu juga kalau saat ini sedang tertawa karena senang, bersiaplah untuk menangis dalam duka dan kecewa.

Tidak ada jaminan khusus bagi kita untuk sukses dalam menjalani cinta walau sudah ada rambu-rambunya, tetapi minimalnya kita telah mempersiapkan diri untuk dapat menghadapi kemungkinan tantangan yang bakal terjadi.

Semoga Allah menyatukan kita dalam cinta dan memisahkan pula dengan cinta, amien.

Iklan

3 thoughts on “Rambu-Rambu Bercinta

    EKO AGUNG said:
    23 Agustus 2009 pukul 16:17

    memang betul cinta itu berasal dari lubuk hati dan cinta itu juga bs sebagai ungkapan!!!!!!! maaf, tapi ada yang lebih luhur dari cinta: yaitu rasa sayang

    zulkarnain said:
    27 Agustus 2009 pukul 00:27

    Ya………… Cinta memang harus..!!!! difahami dalam arti yang seluas-luasnya, saling memehami dan saling melengkapi tentunya,!!! sangat bermakna dalam menghadapi hari-hari dengan cinta.
    Munafik,!!!! kalau menjauhi yang namanya cinta…

    indah said:
    2 Desember 2009 pukul 10:16

    hidup akan hampa tanpa namanya ciiiiiiiinta..
    but cinta bukan segalanya za…

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s