Si Kabayan Jadi Pembantu

Posted on

Kali ini si Kabayan benar-benar lieur. Persisnya teh bingung campur geli. Kok, bisa? Ya, bisa, di negeri urang mah apa yang nggak bisa? Begitu pikirnya memberi simpulan.

Rupanya Kabayan tak asal simpul. Ia pun sigap memberi bukti mutakhir. Misalnya, pada momen ulang tahun Republik Indonesia (RI) yang ke-64 ini, para anak bangsa menorehkan rekor menyelenggarakan upacara bendera memperingati proklamasi kemerdekaan di bawah dalam laut dengan peserta para penyelam terbanyak (2.800-an). Torehan itu paling tidak bisa menjadi pengingat bahwa kita ini memang bangsa bahari meski tentu saja untuk mengukuhkan kembali predikat kebaharian itu, semua anak bangsa harus bersatu, bersinergi memberikan kontribusi.

Memangnya Kabayan sudah berkontribusi apa? Nah, itu dia. Kalau soal sumbang-menyumbang alias memberikan kontribusi itu kan banyak macamnya karena memang banyak pula sasaran yang perlu diwujudkan. Bukan hanya agar bisa berdaya kembali sebagai bangsa bahari. Kalaupun ingin fokus memberdayakan kebaharian, banyak sisi pula yang mesti diberdayakan dalam hal ini. Namun, apa pun yang ingin kita capai, hal yang tak boleh dilupakan adalah pembangunan karakter, mental spiritual. Atau meminjam istilah yang sering dipakai Kabayan adalah character building (huahaha, jangan under estimated ya sama Kabayan). Jangan sekali-kali melupakan hal ini. Mau contoh?

Ya, kita boleh saja berbangga bisa membangun jembatan di atas laut. Itu tuh Jembatan Suramadu yang menghubungkan wilayah Surabaya, Jawa Timur, dengan Pulau Madura. Lah, tapi kok baru saja diresmikan, itu mur dan baut jembatan langsung raib digondol maling? Bahkan akhir-akhir ini, pengembatan besi-besi jembatan semakin menjadi-jadi. Petugas penjaga jembatan yang jumlahnya terbatas pun kewalahan. Para maling itu lebih berani dan terbiasa beraksi. Mereka biasa menyelam mengambil besi-besi tua bekas kapal karam. Tapi, kali ini yang mereka embat adalah besi-besi penyangga jembatan. Edan. Mereka sama sekali nggak berpikiran lain selain ngembat besi. Masa bodoh tuh jembatan nanti ambruk, lalu orang-orang yang lewat jadi celaka.

Duh, si Akang, nggak usah repot-repotlah mikir yang bukan urusan kita. Mending Kang Kabayan mikir caranya biar dapat kerja, nggak nganggur melulu.” Nyi Iteung, istri Kabayan, akhirnya nggak tahan juga menahan gejolak untuk mencerocoskan kata-katanya.

Tentu saja, yang kena serangan, si Kabayan langsung tersungkur, tapi nggak sampai KO. Dia terdiam sejenak sembari memikirkan jawaban.

Nyi Iteung kan tahu sendiri, tiap hari Akang berusaha cari kerja, tapi nggak nemu-nemu. Apalagi Akang kan harus mematuhi permintaan Nyi Iteung supaya cari kerja yang sesuai dengan harkat martabat keluarga, yang nggak bikin malu. Lain soal kalau Nyi Iteung mengizinkan Akang kerja apa saja asal halal.” Rupanya Kabayan nggak betul-betul memilih jawaban. Ia hanya asal nemu saja. Makanya, ia kembali gelagapan ketika Nyi Iteung balas menantang.

Oh, gitu? Sok atuh, sekarang mau kerja apa?”

Kali ini, jawaban Kabayan lebih asal-asalan.

Akang mau jadi pembantu, Nyi. Kalau Nyi Iteung mengizinkan, sekarang juga bisa langsung kerja.”

Eleuh, eleuh Kang Kabayan. Memang nggak bosen, di rumah jadi pembantu istri dan mertua, masa di luar mau jadi pembantu lagi?”

Justru karena itu Nyi, Akang ingin mengamalkan pengalaman sebagai pembantu. Terus Akang juga ingin mengangkat harkat dan martabat pembantu. Akang ingin mengembalikan profesi pembantu pada fitrahnya. Ehm, maksud Akang, Akang ingin meluruskan pandangan orang-orang tentang pembantu.”

Memangnya orang-orang banyak itu bengkok-bengkok ya pandangannya. Terus, ‘pandangan’ yang lurus tentang pembantu itu seperti apa?”

Sebenarnya sih kita semua sudah sama-sama tahu. Profesi pembantu sekarang ini kan banyak macamnya. Hampir semua profesi punya pembantu. Memang yang paling lazim ya pembantu rumah tangga. Tapi, presiden pun punya pembantu, menteri-menteri namanya.”

Kalau yang itu sih Iteung sudah tahu. Memangnya Kang Kabayan mau jadi menteri? Menteri apa, Kang?”

Akang sebenarnya sudah lama bercita-cita jadi menteri. Tapi, berhubung nasib menakdirkan Akang sekadar tamat SMA, ya jadi agak susah menembus kesempatan untuk jadi menteri. Tapi, kalau takdir menghendaki lain, Akang ingin jadi menteri kebudayaan doang.”

Yang ada mah menteri kebudayaan dan pariwisata, bukan kebudayaan doang. Lagipula, yang presiden saja bisa cuma berijazah SMA, masa yang menteri malah nggak bisa?”

Oh, iya ya, Nyi. Syarat jadi presiden minimal berijazah SMA saja ya? Apa Akang pilih nglamar jadi presiden saja ya? Tapi, mesti nunggu lima tahun lagi, kan sekarang baru saja pilpres. Ya, sudahlah jadi menteri kebudayaan doang, kebudayaan saja. Maksud Akang teh nggak perlu ada embel-embel lagi selain kebudayaan. Jadi, tuh menteri melulu mengurusi persoalan kebudayaan. Ya, meski pariwisata sebenarnya juga bagian dari budaya, tetapi secara teknis kan bukan soal pelesiran itu yang mesti diurus menteri kebudayaan.”

Halah, Kang Kabayan tuh, kalau sudah tertohok kekurangannya kok malah jadi ngaco. Jadi sok pinter, gitu.”

Bukan begitu, Nyi. Sebener-benernya sih dari tadi Akang mah sedang lieur. Bingung, tak habis pikir, campur geli.”

Kenapa bisa gitu?” Iteung nggak tahan membiarkan Kabayan mulus bercerita tanpa determinasi. Eh, maksudnya tanpa turut menimpali.

Ceritanya tadi, sehabis cari kerja, Akang pulang naik krl (kereta rel listrik). Trus beli koran deh. Kan ada tuh yang khusus harga di kereta cuma seribu rupiah. Setelah dibuka dan dibaca-baca, ketemu deh tuh tulisan soal para menteri yang bermental pembantu. Soal itu bahkan menjadi tajuk editorial koran itu. Berarti itu kan soal serius.”

Ya memang serius. Tapi kan memang benar. Memang sudah seharusnya begitu. Kan menteri itu pembantu presiden, ya tentu mesti bermental pembantu. Memangnya mesti bermental apa? Mental bos? Mental majikan?”

Ya tidak begitulah, Nyi. Lalu apa bedanya sama pembantu rumah tangga (PRT) kalau seperti itu? Padahal, PRT juga nggak begitu-begitu amat. Lah, amat saja nggak begitu, kok.”

Wah, serieus atuh, Kang. Jangan malah ngebodor plesetan begitu.”

Ini Akang malah sungguh-sungguh amat sangat benar-benar serius sekali. PRT memang harus patuh sama majikan. Itu pun kalau perintah majikannya bener, sesuai dengan akal sehat. Di luar itu, PRT juga masih punya hak inisiatif sebagai manusia. Bukan berarti harus jadi seperti robot. Lagipula, yang mesti dipatuhi sebenar-benarnya adalah instruksinya sang majikan, bukan majikannya itu sendiri. Sang majikan hanya memiliki fungsi administratif saja meskipun sebagai manusia, dia pun otomatis memiliki hak yang sama sebagaimana juga dimiliki si PRT.” Waduh, si Akang Kabayan ternyata memang benar-benar serieus berlipat-lipat kali hingga bikin kepala Nyi Iteung kleyeng-kleyeng alias pusing tujuh keliling.

Aduh, Akang, serieus ya serieus, tapi ya jangan sampai sebegitulah. Itu mah namanya bikin rumit masalah.”

Halah, Nyi, yang begituan mah bahasa para cerdik cendekia, bahasa standar mereka. Itu kan dulu Akang dapatkan dari bangku kuliah.”

Eeleuh, ari Akang. Tadi katanya cuma tamat SMA, tapi sekarang bilang pernah kuliah. Mana yang benar atuh, Kang?”

Siapa bilang Akang pernah kuliah. Akang kan cuma bilang itu bahasa begitu Akang dapatkan dari bangku kuliah. Maksudnya teh, Akang dapetnya dari anak-anak kuliahan yang sedang ber-KKN (kuliah kerja nyata) di desa Akang. Mereka sering datang ke rumah (orang tua) Akang. Nah, di rumah Akang itu mereka suka duduk di bangku di bawah pohon mangga. Akang juga ikut duduk di sana. Pada waktu itulah mereka suka memberikan kuliah dengan bahasa-bahasa yang kurang lebih begitu.”

Sudahlah, Kang. Sesama tamatan SMA dilarang saling menguliahi. Mending sini atuh itu koran Iteung baca sendiri. Siapa tahu sebenernya yang dimaksud mereka nggak seperti yang Kang Kabayan tafsirkan.”

Baiklah. Akang setuju saja. Memang seharusnya perempuan itu baca-baca juga informasi yang bagus-bagus begitu, berita yang serieus, jangan selalu melahap media gosip atau infotainment. Masa mau menggunjing terus sampai mati? Amit-amit atuh, Nyi.”

Sudahlah, mana korannya, kok malah banyak ceramahnya.”

Akhirnya tuh koran sampai juga di tangan Nyi Iteung yang sudah sangat penasaran dan langsung mendapatkan sasarannya. “Nih, Iteung bacakan saja biar kita simak bersama-sama.”

Apakah yang tidak berubah setelah kita merdeka 65 tahun? Salah satu jawabannya adalah mentalitas elite bangsa. Tidak berubah, bahkan bertambah parah.

Bukti paling mutakhir … perangai menteri terhadap Wakil Presiden …. (selanjutnya disingkat Wapres/beliau saja––BB). Setelah dinyatakan kalah dalam pemilu presiden, Wapres dijauhi para menteri….

Padahal, beliau masih menjadi wakil presiden sampai 20 Oktober nanti. Akan tetapi, dalam berbagai tugas pemerintahan ke daerah, menteri enggan mendampinginya. Sangat ‘kurang ajar’, mereka bahkan tidak menugasi pejabat eselon satu, tetapi eselon dua.

Bayangkanlah apakah yang terjadi bila presiden yang sedang menjabat alias incumbent yang kalah dalam pemilu presiden. Perkara serupa jualah yang akan terjadi.

……………………………………………………………………….

Kebanyakan menteri bukanlah manusia merdeka. Sesungguhnya, para menteri masih budaknya feodalisme. Mereka masih orang jajahan.

Ciri-ciri mentalitas itu adalah berorientasi ke atas, menghamba pada kekuasaan….

Para menteri umumnya memang hidup dengan reserve. Umumnya takut kehilangan jabatan. Yang masih ingin menjadi menterinya … lantas mengambil sikap menjauh dari Wapres….

…………………………………………………………………………..

Sebaik-baiknya perkara janganlah angkat menteri yang bermental terjajah seperti itu. Carilah menteri yang cakap secara konseptual dan fungsional, tetapi juga sosok yang telah menemukan dan memiliki dirinya sendiri untuk mengabdi kepada kepentingan publik.*

Kalau menurut Iteung mah, Kang Kabayan nggak bakalan terpilih jadi menteri. Kalau soal mengabdi pada kepentingan publik, itu sih Iteung percaya Akang bisa. Kan sudah terbiasa mengabdi kepada istri dan mertua. Tapi, kalau soal cakap konseptual dan fungsional, itu dari mana Akang sanggup memenuhinya?”

Oalah Nyi, timbang soal begituan saja sampai menganggap rendah suami sendiri. Kalau menurut Akang mah yang penting semua manusia ini kan mesti bisa menjadi hamba Allah dulu, baru bisa jadi hamba bagi yang lain, termasuk untuk kepentingan publik. Kalau soal cakap konseptual dan fungsional, itu mah Akang tinggal menghubungi kenalan Akang para mantan mahasiswa yang ber-KKN dulu itu. Sebulan les privat saja sama mereka sudah cukup, Nyi. Apalagi, Akang kan cerdas.”

Soklah, bagaimana Akang saja. Yang penting mah tugas sebagai asisten eh pembantu di rumah Iteung tetap harus terlaksana.”

Kali ini, Kabayan hanya diam saja. Mungkin tambah bingung. Lieur pisan, euh.

===

*Dikutip dari Editorial Media Indonesia.

Iklan

2 thoughts on “Si Kabayan Jadi Pembantu

    Ahmad said:
    23 Agustus 2009 pukul 02:41

    siiip ceritanya, kayak felm bang bayan pemulung sampah,heheeeeee

      Arief said:
      20 Juli 2010 pukul 10:51

      Benarkah?

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s