Kembali ke Islam Setelah 11 September

Posted on

Potret kehidupan pemuda muslim keturunan di Belanda secara umum tidak jauh berbeda dengan pemuda asli setempat. Islam KTP, menurut lidah Indonesia. Muslim tapi tidak salat, malah mengerjakan semua yang dilarang Tuhan. Peristiwa 11/9 membalikkan keadaan.

Peristiwa 11/9 selain mendorong pemuda-pemudi bule penasaran untuk mempelajari islam dan akhirnya mengimaninya, juga menggugah kesadaran pemuda-pemudi muslim keturunan kembali ke agama mereka.

Tekanan-tekanan pasca 11/9, yang menempatkan seolah-olah semua muslim teroris atau berpotensi menjadi teroris, bukannya menjauhkan mereka dari islam, justru sebaliknya memicu mereka untuk mendalami islam.

Mereka yang semula rata-rata hanya menerima islam dari orangtua berdasarkan kultur kebiasaan, kini menjadi tekun mengaji Quran, mengunjungi majelis-majelis taklim, dan mengikuti sunnah Nabi. Jadilah mereka yang pria memelihara jenggot, dan wanitanya rapat berjilbab, salat tak pernah bolong, dst.

Simak pengakuan Said, account manager, dalam programa televisi Tegenlicht, VPRO. “Titik balik pemuda keturunan tekun mendalami sumber ajaran Islam adalah setelah terus-menerus disudutkan pasca peristiwa 11/9. Hai, bagaimana itu dengan agamamu? Inikah agamamu? Apakah dibolehkan membunuh orang-orang tak bersalah? Dst.”

“Saya hanya bisa bungkam. Saya harus bilang apa? Maksud saya, citra yang dominan saat itu:  inilah islam, para penyebabnya muslim. Karena kamu mengaku muslim, maka kamu setidaknya sama atau kamu akan menjadi seperti para pelaku itu. Bagi saya itu menjadi trigger untuk mengatakan pada diri saya sendiri: kamu harus mendalami agamamu sendiri.”  

Umair, mahasiswa managemen hotel. “Sama. Pada saya semua juga bermula dari peristiwa 11/9. Setiap orang saat itu berpikir apa selanjutnya yang akan dilakukan oleh muslim?”

“Saya saat itu tidak mengenal islam meskipun saya muslim. Saya selanjutnya terus mencari dan salah satu yang membuat saya berubah adalah ceramahnya Abdul Djabbar van de Ven (pendakwah muda asli Belanda, red). Ceramahnya itu mengenai ampunan. Ada sesuatu merasuk ke dalam diri saya yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Sejak saat itu saya tidak pernah meninggalkan salat.”

Yassine, mahasiswa ilmu bisnis menjelaskan bahwa perbedaan besar antara generasi tua dengan muda adalah dalam hal menambah ilmu. Orangtua umumnya hanya mengikuti kultur kebiasaan. Ok, kamu harus salat. Jangan tanya mengapa, kerjakan.
detik.com

Iklan

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s