Fondasi Nilai-Nilai Anton Medan

Posted on Updated on

Di sebuah pondok pesantren di bilangan Cibinong, ia kini tinggal. Tepatnya di Jalan Raya Kampung Sawah RT02 RW08 Kampung Bulak Rata, Kelurahan Pondok Rajeg, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ini pesantren terpadu yang menyelenggarakan pendidikan setingkat SMP­­-SMA dengan basis wirausaha—selain dasar agama tentu saja—dan terbuka untuk umum. Jadi bukan dikhususkan untuk para mantan narapidana (napi) atau preman. Ia betul-betul telah melangkah jauh dari bayang-bayang masa lalunya itu. Ia telah mengubah bayang-bayang itu jadi jalan terang.

Gerbang-At-Taibin
Gerbang-At-Taibin

Tentu bukan berarti ia tak peduli lagi kepada orang-orang yang mungkin telanjur dicap miring oleh masyarakat itu. Masih di bilangan Cibinong misalnya, ia punya balai pelatihan kerja untuk eks napi dan preman. Lalu, ia juga masih punya pesantren yang dikhususkan untuk memberikan pencerahan dan pemberdayaan kepada mereka, tepatnya di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Bahkan ia akan membuka cabang di Sambas, Kalimantan Barat dan di Medan, ibu kota Sumatera Utara tempat ia berasal yang hingga kini melekat menjadi bagian dari sapaan dirinya.

anton-medan-amcYa, dialah Anton Medan yang sejak masuk Islam pada 1992 telah memilih nama baru: Muhammad Ramadhan Effendi.  Itu bukan sekadar nama asal tempel untuk menandai beralihnya identitas dirinya. Terutama bagian depan namanya itu. Ia memang sangat mengidolakan figur pemungkas para nabi itu.

“Jika Rasululullah yang ummi dan tak pernah mengenyam bangku sekolah itu bisa jadi sosok teladan hebat, tokoh sejarah nomor satu di dunia, tentu saya pun bisa mengikuti pencapaian beliau. Apalagi saya malah sempat mengenyam bangku sekolah dasar. Mestinya bisa lebih ‘hebat’ kan,” begitu antara lain Bang Anton mengikatkan diri pada sosok idolanya itu.

Jadi, begitu ia memutuskan masuk Islam tepat pada bulan Ramadan 17 tahun lalu itu, ia telah memiliki fondasi keyakinan yang amat kuat bahwa Islam adalah jawaban atas hidup, bukan sekadar sebuah pelajaran teoretis tentang agama.  Sejak itu, ia memantapkan hidupnya dengan tiga sumber ini: Alquran, lingkungan/alam semesta, dan Sunnah yang teraktualisasi dalam diri Nabi SAW. Sejak itu pula hidupnya senantiasa didasari nilai-nilai positif substansial yang ia serap dari ketiga sumber tadi. Ia menjadi manusia mandiri autodidak yang terus tekun belajar, melangkah, menerapkan segenap kemampuan dan pengetahuannya untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita hidupnya sesuai dengan nilai-nilai yang ia yakini berdasarkan ketiga sumber tadi.

Kini, lihatlah buah dari pergulatannya itu yang antara lain berupa pesantren eks napi/preman, balai pelatihan kerja untuk mereka, dan Pesantren Terpadu At-Taibin di tempat tinggalnya saat ini. Dari situ, kita akan dibuat takjub bahwa itu semua merupakan buah karya dari seseorang yang hanya eks siswa sekolah dasar dan mantan napi.

Bahkan, jika kita amati baik-baik Pesantren Terpadu At-Taibin itu, akan terasa ada “kemustahilan” bahwa semua itu buah tangan dari seorang Anton. Semua bangunan fisik pesantren, ia sendirilah yang memandori dan mengarsitekinya. Yang istimewa, tak ada dari tiap jengkal tanah, bangunan, dan properti pesantren yang terlepas dari topangan nilai-nilai filosofis dan pemikiran abang kita satu ini. Denyut aktivitas para santri/siswa dan semua warga pesantren pun mengalir berdasarkan fondasi nilai-nilai darinya. Itulah denyut pesantren berbasis wirausaha versi Anton.

Anton memaknai wirausaha sebagai gabungan dari dua kata “wira” dan “usaha”. Kata “wira” diartikannya sebagai “pahlawan/kepahlawanan” yang di dalamnya memuat sekian makna positif semisal keberanian, kegigihan. Dari elan vital kata “wira” inilah Anton memadukannya dengan keterampilan ber-“usaha” sehingga lahirlah kewirausahaan ala Anton. Namun, wirausaha baginya bukanlah sekadar bermakna sebagai sebuah kegiatan berbisnis atau berdagang mencari rezeki. Ia memaknainya lebih luas dari itu.

Anton memulai bangunan kewirausahaan itu dari fondasi tauhid. Bahwa rezeki itu datang dari Allah, tetapi manusia wajib berusaha. Laksana burung yang rezekinya telah dijamin Allah, tetapi sang burung tetap berikhtiar terbang di pagi hari, pulang petang hari untuk memenuhi perutnya dengan makanan. “Jadi, manusia itu wajib berusaha, tetapi tidak wajib berhasil karena urusan hasil itu Allahlah yang menentukan,” kata Bang Anton.

Dari fondasi tauhid, Anton menambahnya dengan tiang-tiang akhlak bahwa semua hal itu mesti dilaksanakan sesuai dengan nilai dan norma-norma yang benar. Inilah character building, sebuah pembangunan mental spiritual yang mesti dilakukan untuk mewujudkan langkah kewirausahaan. Maka, tak aneh bila dari dasar inilah Anton mampu memaknai setiap ajaran agamanya secara substantif dan aplikatif, menyatu dengan lingkungannya. Ia misalnya dengan sungguh-sungguh menerapkan ajaran “carilah duniamu seakan-akan kau akan hidup seribu tahun lagi dan persiapkanlah akhiratmu seolah-olah kau akan mati esok hari”. Ia juga memaknai secara aplikatif ajaran “apabila kau bersyukur, maka nikmatmu akan Ku-tambah” dengan memaksimalkan segenap potensi yang ada pada dirinya untuk menyerap ilmu dan mengamalkannya buat kebaikan bersama. Bahkan, ajaran yang mungkin terdengar “remeh” saja semisal “kebersihan adalah bagian dari iman” mampu mengaktifkan segenap indera ragawi dan batiniahnya untuk berkarya. Maka, seonggok sampah pun menjadi bermakna di pesantrennya. Pot-pot bunga tertata rapi. Debu-debu tak dibiarkan berlama-lama menempel di lantai dan segenap ruang pesantren. Semua warga pesantren pun menjadi sigap, penuh inisiatif dan kreatif menerjemahkan harmoni nilai-nilai yang ditanamkan pemimpinnya, Muhammad Ramadhan Effendi alias Anton Medan.

Hari itu, Jumat (28/8) malam selepas tarawih, saya berkesempatan berbincang dengan Bang Anton dan Mas Abu Faiz, direktur pesantren, hingga menjelang dini hari. Dari perbincangan dengan mereka dan amatan terhadap kegiatan para santri dan warga pesantren lainnya, saya menjadi optimistis bahwa inilah sumbangan yang akan dapat menjawab salah satu masalah bangsa. Masalah ketika saat ini anggaran pendidikan telah mencapai 20% APBN, tetapi jumlah pengangguran terdidik justru meningkat.

Malam itu, sebelum berpamitan, saya sempat berbincang dengan Mas Abu Faiz yang ditugasi meneruskan obrolan saya dengan Bang Anton yang bermula dari bagian tengah pesantren hingga mengakhirinya di depan gerbang pesantren. Saya perhatikan di tiang kanan gerbang tertulis “Panca Disiplin Pesantren”: (1) Ibadah, (2) Akhlaq, (3) Belajar, (4) Bahasa, (5) Lingkungan. Saya ikut senang memperhatikan para santri bergotong-royong membersihkan lingkungan pesantren hingga jalan masuk di bagian depan gerbang. Mereka tampak ceria meski esoknya mesti berpuasa. Kebetulan, esok hari, Sabtu, pesantren akan dikunjungi tamu.

Dari Mas Abu Faiz saya jadi tahu bahwa semua warga pesantren paham akan tugas masing-masing. Boleh dikatakan, mereka siap sedia 24 jam untuk menunaikan tugas-tugas pesantren. Menurut Mas Faiz, mustahil mereka semua, termasuk dirinya, akan patuh pada panggilan tugas itu bila kalkulasinya hanya atas dasar materi, uang. Ada dasar nilai-nilai lain semisal nilai kekeluargaan yang mempererat ikatan di antara mereka sehingga berbagai tugas pun dapat dengan ringan dan cepat mereka kerjakan.

Masjid-At-Taibin
Masjid-At-Taibin

Ibaratnya mereka berada dalam sirkulasi gelombang yang sama yang aliran energinya berasal dari seorang Anton Medan. Energi yang tak hanya terkait dengan soal-soal duniawi, tetapi juga ukhrawi. Tak hanya berkutat pada hidup demi hidup itu sendiri, tetapi juga hidup demi akhir yang indah dalam naungan Illahi. Maka, tak mengagetkan bila salah satu ruang untuk menerima tamu yang kami gunakan untuk berbincang malam itu adalah sebuah pendapa kecil di samping masjid yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah makam.

Pendapa-makam
Pendapa-makam

Itulah simbol pengingat bagi para tamu, bagi warga pesantren, dan tentu bagi diri Anton sendiri bahwa setiap orang yang hidup dan menikmati hidup wajiblah baginya mengingat mati dan mempersiapkan diri untuk menyambutnya. “Kullu nafsin dzaikatul maut (setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian)”; dan sebaik-baik bekal baginya adalah takwa.

Ket.: Gambar-gambar ilustrasi diambil dari www.antonmedancenter.com.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s