Kurengguh dirimu dengan bahasa tinta

Posted on Updated on

Wahai angin, sampaikanlah gelombang rasa yang selalu menghantam dadaku sebelum perahu layar kandas di perairan perbatasan, kepada dia yang telah mencuri keseluruhanku. Adakah harapan esok untuk bersatu sedangkan masih banyak batu dan duri yang siap menghadang, hingga entah sampai kapan kedatangan kepastian.

Haruskah aku berdiam dalam kebingungan sementara pertahanan semakin merapuh? Atau aku harus menanti suara salam dari malaikat maut membawa dua keranjang amal?

Mungkinkah rasa ini hanyalah permainan atau memang kenyataan yang harus kuterima dalam meniti jembatan menuju tujuan? mengapa aku semakin tidak mengerti dengan segenap bisik yang semakin mengeraskan suaranya mengajakku menerjemahkannya dalam isyarat dan gerak nyata.

Kalau aku harus berucap, kalimat apakah yang harus aku suguhkan sedangkan saat disisinya bahasa terasa hilang, seluruh badan menggetar, mengucurkan keringat dingin, tetapi kalau aku harus berdiam, aku harus mampu menerima kenyataan, kehilangan bayang-bayang yang selama ini telah menghias dinding-dinding jiwaku walau sebatas khayal.

Kalimat di atas sebenarnya sederhanya dan tidak terlalu berlebihan kiranya kalau dikirimkan kepada seseorang yang menjadi obyek pikiran kita dalam arti kita telah jatuh hati sementara kita tidak mampu mengutarakannya. Maka bisa saja kita sampaikan kalimat diatas dengan menggunakan bahasa tulisan kalau misalnya lisan tidak sanggup berkata.

Semoga saja kalimat sederhana tersebut mampu memberikan harapan baru sekaligus menjadi solusi bagi mereka yang selama ini belum mampu menemukan jalan untuk mengungkapkan perasaannya. insya Allah edisi selanjutnya  akan kita terbitkan bagaimana cara mengungkapkan perasaan kepada lain jenis dalam bahasa yang lebih memikat.

Iklan

One thought on “Kurengguh dirimu dengan bahasa tinta

    […] Kurengguh dirimu dengan bahasa tinta Wahai angin, sampaikanlah gelombang rasa yang selalu menghantam dadaku sebelum perahu layar kandas di perairan perbatasan, kepada dia yang telah mencuri keseluruhanku. Adakah harapan esok untuk bersatu sedangkan masih banyak batu dan duri yang siap menghadang, hingga entah sampai kapan kedatangan kepastian. Haruskah aku berdiam dalam kebingungan sementara pertahanan semakin merapuh? Atau aku harus menanti suara […] […]

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s