Pakai Celana Panjang Dihukum?

Posted on

Seorang wartawati bernama Lubna Hussein, didenda sebesar 2000 dollar. Itu sudah mendingan, sebab tadinya dia mau dihukum cambuk. Gara-garanya pakai celana panjang di tempat umum.
Saya memang belum baca berita selengkapnya, tapi saya kira itu adalah kasus di sebuah negeri di wilayah asia selatan sana. Kita tahu, di beberapa daerah, wanita muslim harus berbusana yang benar-benar tertutup. Artinya, sama sekali tidakada bentuk tubuh yang menonjol. Contohnya seperrti si Lubna ini.
Ini menunjukkan bahwa sebenarrnya Islam di tiap tempat itu berbeda. Kalau di timur tengah dan sekitarnya, Islam jadi terkesan ekstrim. Mereka benar-benar mengacu pada aturan seperti jaman Rasulullah.
Sedangkan di bagian lain, seperti di Indonesia, Islam-nya sangat berbeda dengan di sana. Muslimah pakai celana panjang, masih oke. Justru paling senang pakai celana panjang kan? Hayo, para muslimah, benar begitu? Saya sebagai muslimah (yang moderat) mengakui lebih suka memakai celana panjang dari pada rok. Sebab dengan celana saya bisa bebas bergerak.
Cuma….. pakaian seperti apa yang sebaiknya dikenakan agar tidak terkesan “berpakaian tapi telanjang” itu? (seperti yang sering kita dengar, “berjilbab kok telanjang”).
Kalau untuk saya pribadi nih, saya masih suka pakai celana jeans juga. Padahal kita tahu, celana panjang model sekarang seperti apa, hipster dan ketat. Nah, kalau sudah pakai celana panjang, sebaiknya para wanita mengenakan blus atau atasan yang panjang juga dan agak longgar. Jadi tidak terkesan ‘bugil’ gitu. Sementara kalau pakai atasan kaus (kita juga tahu kaus peremepuan jaman sekarang), di pasangkan dengan bawahan yang longgar, jilbabnya yang panjang menutup sampai ke dada.
Untuk lebih amannya sih, Anda beli saja kain lalu pergi ke tukang jahit untuk membuat baju sendiri.
Kita hargai saja perbedaan di antar kita. Sesama Muslim kan bersaudara. Kita tidak tahu mana yang benar-benar “benar” atau yang salah. Urusan itu hanya Dia yang Maha tahu.

Iklan

4 thoughts on “Pakai Celana Panjang Dihukum?

    omagus said:
    10 September 2009 pukul 16:35

    mungkin itulah mengapa kita harus menghargai perbedaan.
    dan bahwa kita di ciptakan berlain-lain suku dan budaya.

    zely Indahan responded:
    11 September 2009 pukul 09:40

    Sip. saya setuju dengan OM Agus. paling tidak. menurut saya, keadaan kita ini kan berkembang. Jadi tidak bisa disamakan lagi dengan jaman Rasulullah dulu. Tapi saya bukan orang liberal lho. saya tetap ingin syariah dijaga, hanya saja disesuaikan dengan kondisi modern sekarang.

    Sammy said:
    12 September 2009 pukul 15:30

    kan sudah diramalkan bagi kaum muslim nanti akan ada bermacam2 aliran yang berbeda… 😀

    bima said:
    15 September 2009 pukul 15:33

    ya menurut saya islam itu janganlah dipersulit…
    apa yang dimaksudkan nabi SAW mengenai ‘berpakaian tapi bugil’ itu menurut saya bukanlah celana panjang, tapi memang pakaian yang benar2 ketat, menampakkan lekuk tubuh, bahkan mungkin kekurangan bahan (misalnya udelnya kaga ketutup..hehehe)

    jika yang dimaksudkan adalah celana panjang yang cukup longgar entah itu berbahan jeans, atau hipster, atau yg lainnya menurut saya tak jadi masalah…
    dengan catatan berfungsi utk menutup aurat dan memang cukup longgar sehingga tidak menampakkan lekuk tubuh…

    namun, berbeda lagi jika sudah berlaih ke celana2 jaman sekarang yang modelnya menyempit sehingga lekuk tubuh menjadi tampak.
    meskipun panjang dan menutupi kulit, namun, akan sangat dikhawatirkan bagi lelaki yg melihatnya akan terangsang…
    itulah sebabnya, saya berpendapat jika celana yg digunakan adalah celana yg seperti demikian, maka status hukumnya bisa berubah menjadi haram..

    Wallahu ‘Alam 🙂

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s