Oleh-oleh Mudik Lebaran dari Banyumas

Posted on

Tak banyak yang dapat kuceritakan dan kubagikan sebagai oleh-oleh Lebaran kali ini, 1430 H (20 September 2009). Alhamdulillah, aku tak mengalami “perjuangan berat” untuk sampai di kampung halaman. Kemacetan pun hanya kualami sebentar saja. Yang pasti, setiba di kampung, selain mendapatkan kesempatan bersilaturahmi dengan orang tua, aku pun menikmati banyak perubahan berarti dari penampilan dan suasana di kampungku. Aku juga mendapati di kampungku sedang musim kawin. Eh, maksudku, banyak orang yang sedang dan bakal menyelenggarakan hajatan. Memang, yang terbanyak ya hajatan pernikahan. Maklum, kalau menikah pas bulan puasa kan bisa “bahaya”…ha ha ha.

Sebagai gambaran betapa banyak jadwal hajatan itu, salah satunya dengan melihat seberapa banyak undangan hajatan yang kita terima sebagaimana yang ada pada orang tuaku. Untuk awal-awal bulan Syawal ini saja, mereka menerima tak kurang dari 15 undangan.

Yang menarik, di kampungku ada sistem undangan secara pinggelan. Ini sejenis undangan hajatan yang bersifat wajib dipenuhi. Biasanya antara pengundang dan yang diundang sudah saling tahu besar sumbangan (uang) yang mesti disepakati. Ada juga yang dengan jelas mencantumkan nominal sumbangan dalam amplop undangan. Undangan pinggelan memang hanya berupa amplop yang di sampul depannya tercantum informasi perihal si pengundang, tempat dan waktu hajatan.

Kita tak bisa mengelak dari kewajiban memenuhi pinggelan ini karena sistem ini sudah otomatis memberikan hak bagi orang yang diundang untuk melakukan hal yang sama, semacam pinggelan balasan. Repotnya kalau kita tak punya (lagi) anggota  keluarga yang bisa dihajatankan. Itu berarti kita mesti mengikhlaskan saja sumbangan dan hak kita itu.

Memang sih ada sebagian orang yang “secara kreatif” menciptakan pinggelan untuk hal-hal yang tak lazim sebagai materi hajatan. Biasanya kan hajatan itu kalau nggak pernikahan ya sunatan anak. Namun, pernah ada orang di kampungku yang mengenakan pinggelan untuk keperluan bangun/renovasi rumah. Kini bahkan ada yang buat beli sepeda motor. Terbayang kan bagaimana ia mesti punya “keberanian” (kalau nggak boleh dibilang mesti “tebal muka”) untuk menyampaikan undangan pinggelan itu dan untuk mengumpulkan kembali sumbangan uang dari segenap yang terundang dalam sebuah event hajatan “jadi-jadian”? Kalau untuk yang begituan, kenapa nggak pakai mekanisme semacam arisan?

Ingat akan jenis pinggelan itu, rasanya memang ada yang kurang pas meski sebenarnya ada juga unsur sosial untuk saling bantu antarsanak-saudara sekampung agar bisa memenuhi berbagai macam kebutuhan. Agaknya diperlukan orang-orang yang memiliki kecerdasan power dan sosial untuk mengorganisasi masyarakat demi pencapaian tujuan sosial semacam itu tanpa merugikan para warga masyarakat di dalamnya. Semua jadi sama-sama lega, ikhlas, dan senang. Tak ada “teror” pinggelan atau apalagi “penipuan berkedok arisan”. Anda punya ide menyangkut hal ini?

Yang pasti, aku tidak bermaksud menghambat orang-orang yang menyelenggarakan hajatan pada momen selepas Lebaran dalam bulan Syawal ini. Aku setuju-setuju saja karena memang momennya tepat. Pada saat-saat seperti sekarang ini, banyak orang yang kumpul mudik. Mereka juga sedang senang untuk bepergian, rekreasi, piknik dan yang terpenting umumnya mereka sedang “pegang uang”. Kloplah.

Pada hari pertama dan kedua Lebaran, misalnya, orang-orang umumnya masih sibuk bersilaturahmi dengan sanak keluarga. Nah, mulai hari ketiga, suara-suara yang terdengar dari seperangkat sound system dalam radius minimal satu RT mulai berubah dari sebelumnya untuk acara silaturahmi keluarga besar  berupa orasi-orasi, kini jadi terdengar alunan musik dan lagu-lagu “khas” hajatan. Di lingkup satu RT hingga RT/RW lain yang masih berdekatan saja di kampungku, minimal ada tiga sumber suara hajatan itu. Ketika pada hari ketiga Lebaran aku, istri, dan anakku pergi bersilaturahmi ke saudara di lain kecamatan, misalnya, dalam perjalanan kulihat banyak juga orang-orang yang tengah berhajatan. Tampak ada yang menanggap kesenian ebeg (kuda lumping Banyumasan) sebagai hiburan dalam hajatan. Kami pun jadi ikut terhibur dan sempat mengambil gambarnya (sayang angle dan hasilnya jelek).

ebeg bms1

Dalam perjalanan bersilaturahmi ke tempat saudara itu, kami pun menikmati pemandangan alam sekitar. Ada satu kawasan wisata yang sempat kami lewati. Letaknya masih dalam satu kecamatan dari kampungku, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas. Tepatnya di Desa Tambak Negara. Nama tempat wisatanya Bendungan Gerak Serayu dan Pemandian Kali Bacin. Letaknya tak jauh dari kampungku di Desa Tipar. Kami pun sempat menikmati pemandangan di sana sejenak dan sempat mengambil gambar-gambarnya. Sayang, hasilnya kurang bagus karena hanya diambil dari sebuah ponsel jadul. Lagipula bermasalah ketika mau diunggah (upload). Jadinya, ambil gambar-gambar dari tempat lain saja (untuk yang bendungan dari arto9001.wordpress.com, pemandian dari voucher-hotel.com, dan ebeg dari banyumasnews.com.

a_pemandian_kalibacin

bendung-gerak-serayu1

Kulihat banyak sekali orang berekreasi di sana. Hal semacam itu memang sudah menjadi bagian dari tradisi di musim Lebaran. Semoga semua dari kita berada dalam suasana gembira, berhati lapang dan ceria, tidak sekadar untuk menikmati tempat-tempat rekreasi, tetapi juga untuk membuka hati bagi sesama sanak famili dan segenap saudara sebangsa setanah air ini. Amin.

bendung-gerak-serayu2sisi lain

Selamat berlebaran, mohon maaf lahir dan batin.

Iklan

6 thoughts on “Oleh-oleh Mudik Lebaran dari Banyumas

    Rina Suardi said:
    27 September 2009 pukul 23:33

    Minal Aidin wal Faizin ya Pa’ Awam 🙂
    Maafkan lahir batin karena kesibukan belum bisa bertemu he…. he…

    Aku baru tahu ada tradisi seperti itu,
    tapi maaf saya kurang handal dalam memberikan ide menyangkut keuangan.

    wah… banyak juga yah penyelenggaraan hajatannya.
    I wish I have it too.

    Ida Fidianti said:
    28 September 2009 pukul 10:44

    Aslm.

    Mohon Maaf Lahir Batin untuk semua..

    Wah senang sekali rasanya bisa bertemu dengan orang hebat yang berasal dari kampung yang sama “ngapak city” Banyumas…
    Saya juga berasal dari Kabupaten Banyumas Pak..tepatnya di Desa Banteran Kecamatan Sumbang (di kaki Gunung Slamet)
    Tapi meski satu kampung alhamdulillah di daerahku tidak ada tradisi punggelan seperti di daerah Bpk lho…

    Oya setiap kali saya buka internet pasti tdk lepas buka sodiq.com karena banyak sekali info2 menarik…ga nyangka ternyata dari satu kampung…memang dunia tidak selebar daun kelor… 🙂

    Maturnuwun…

    Waslm.

    richocean said:
    28 September 2009 pukul 12:58

    apa pinggelan bisa diterapkan di tempat lain, misal Jakarta, Bandung ? 🙂

    silahkan berkunjung ke blog saya:
    http://richocean.wordpress.com
    http://richmountain.wordpress.com

    salam kenal 😆

    Bahtiar Baihaqi responded:
    6 Oktober 2009 pukul 04:17

    @Rina,
    sama-sama. Soal hajatan itu, insya Allah, dirimu bakal segera menyusul.

    @Ida,
    klo yang hebat itu mah Pak Shodiq, sang empunya dan pemimpin situs ini. Klo aku sih sekadar kontributor. Blog ngapakku ada di http://awamologi.wordpress.com/ . Waalaikumsalam.

    @Pak Richo,
    makasih dah turut menyimak dan membagikan link-nya. Isinya bagus2. Salam kenal juga.

    Mas Gocip said:
    22 Oktober 2009 pukul 22:12

    apa bener rika asale sing Banterannn…angger kyakue ya kie inyong wong Limpakuwus Pak…Met Kenalan ya pak.. Kie agi latihan Ngblogg…. njajal mbukak bae neng https://limpakuwus.wordpress.com tapi anu urung dadiii.ok pak

    Kusnanto said:
    22 Juli 2010 pukul 00:24

    kula nuwun…
    tepangaken…
    kulo tiang tambaknegara ,tunggakputa….
    moga bae sedulurku lagi pada sehat kabeh
    aminnn…

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s