Jiwa Memasak Perempuan Beriman

Posted on Updated on

Memasak itu sulit. Siapa bilang. Saya dulu juga berpikir demikian. Waktu ibu menyuruh saya untuk membantu memasak, saya melakukannya dengan ogah-ogahan. Alasannya, kesulitan cari bumbu karena nggak hafal namanya lah, nggak tahu resepnya lah, takut kena tangannya kotor lah, takut terlalu asin lah…. wah, buanyak sekali alasannya.

Tetapi setelah saya semakin dewasa, saya menyadari bahwa memasak adalah sebentuk dari sebuah ibadah juga. Mengapa? Saya berpikiran : Saya ini adalah seorang perempuan. Walaupun pada masa sekarang koki kebanyakan lelaki, tapi saya yakin cara mengolah antara lelaki dan perempuan itu berbeda.

Menurut saya, koki di restoran memang lebih baik berkelamin pria. Pasalnya adalah pria lebih cekatan dan gesit dalam bekerja. Mereka memang ditakdirkan lebih cerdas daripada wanita. Koordinasi otak dan tubuh lebih baik. Mereka cepat berpikir, “Pelanggan butuh pelayanan cepat.” Itu kemungkinan besar yang ada di pikiran mereka. Ya, meski pun wajah mereka pun jadi terlihat sangar.

Sementara kita, perempuan, memiliki kecenderungan berperasaan halus. Ini lah yang membedakan cara mengolah suatu menu bagi perempuan dan lelaki. Tahu kenapa? Perempuan yang berjiwa lembut akan mengolah suatu menu yang memiliki bumbu spesial, yaitu bumbu kasih sayang dan cinta. Percaya atau tidak. Tetapi begitulah yang saya rasakan.

Perempuan itu gemulai, lembut, berperasaan halus. Kita berpikir : “Untuk siapa kita memasak?” Kita memasak untuk orang-orang agar mereka menyayangi kita. Saya mempraktekkannya. Apalagi bagi anda, para istri. Hmmm…. saya rasa memasak adalah salah satu cara menunjukkan cinta Anda padanya. I wanna be like that. Kita bisa membuat menu sederhana atau memvariasi menu-menu yang sudah ada. Mungkin bumbunya juga hanya bumbu lokal. Tetapi jika Anda mampu memadu padankan bumbu tersebut. Maka aroma yang terpancar dari hidangan Anda pasti akan menggugah selera.

Dan memasak itu bukan lagi menjadi hal sulit jika kita telah terbiasa melakukannya, punya niat untuk menghidangkan makanan enak dan menyehatkan, dan berpikir kreatif agar orang yang akan menyantap tidak bosan.

Contoh sederhananya : saya penyuka menu nasi goreng. Tetapi saya sudah biasa makan nasi goreng yang biasa. Saya ingin membuat kejutan untuk keluarga. Maka, saya mencoba bagaim an saya memadukan bahan-bahan ala pasar tradisional menjadi hidangan yang nikmat. Yang perlu diingat, setiap masakan itu punya bumbu inti yang sama : bawang merah dan bawang putih. Maka saya menambahkan untuk nasi goreng saya : sedikit terasi dan kunyit yang sudah dibakar, dan kencur. Juga merica, ketumbar, kadang-kadang juga pakai daun kemangi. Selain nasi, saya juga menabahkan daun bawang, scamble egg,  atau daging (sapi, ayam). Anda bisa juga mengubah variasi isinya menurut selera Anda. Bahkan sayuran yang dicincang pun menjadi isian dari nasi goreng tersebut.

Awalnya saya takut mencoba eksperimen nasi goren rempah ini. Tetapi setelah saya coba. Mengolahnya memang tidak secepat nasi goreng biasa, tapi…. Hmmm… .yummy….. rasanya unik sekali. khas indoneseia karena pakai terasi. rasanya agak mirip nasi kuning tapi lebih berbumbu. Dan keluarga pun menyukainya. Penghargaan terbesar saya, kalau masakan saya habis disantap mereka.

Iklan

6 thoughts on “Jiwa Memasak Perempuan Beriman

    zely Indahan responded:
    3 Oktober 2009 pukul 07:02

    LET’S COOK!!!

      khusnul said:
      9 Oktober 2009 pukul 12:59

      salam kenal ya….
      wah, saya baru tau klo memasak memang suatu ibadah khususnya kita2 yang sudah menikah. trma kasih ya atas pemikirannya tentang masakan aq kira slama ini aq memasak hanya mengisi perut yang lapar jd kenyang tau agar gak jajan di luar. jika ada waktu kirim email tentang resep masakan maklum ibu muda.

    Rina said:
    11 Oktober 2009 pukul 07:26

    wah… seru juga untuk dicoba

    tsania said:
    12 Oktober 2009 pukul 19:43

    Aku th memasak adl ibadah dan masakan yang enak dan unik mbuat keluarga menemukan cinta kita u mereka dlm masakan itu. Tp aku sampe skrg tak pintar jg u memasak, bs tlalu asin, atau manis, atau hambar, atau mlh pahit. Apalg klo buat kue, meski itu dg mmakai panduan resep. Pdhl aku pengen bgt menunjukx rasa cintaku u keluarga lwt mskn, jd gmn dong?

    Iwa Jayasantika said:
    30 Oktober 2009 pukul 11:18

    Dimana ada kemauan pasti ada jalan. Dengan mencoba lalu gagal mencoba lagi, suatu saat akan ketemu apa yang dinginkan. Saya juga walaupun laki-laki senang dengan masak memasak yang awalnya dari coba mencoba

    noviana said:
    2 Juni 2010 pukul 01:56

    Alhamdulillah dapat tambahan ilmu lagi. tapi gimana ya…di tempat kami ( dino katering ) yang memasak semuanya perempuan. apa perlu ditambahkan seorang atau dua orang juru masak pria? terimakasih atas petunjuknya

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s