Kesedihanku Sebagai Seorang Lelaki

Posted on

Sudah lama aku tak menulis tentang kesedihan, khususnya kesedihanku. Kenapa, ya? Apa karena aku sudah selalu bahagia? Enggak juga. Jangan-jangan karena aku sudah mati-rasa, tak mampu merasakan lagi. Eh, ini juga enggak. Yang lebih pas barangkali karena seperti lelaki pada umumnya, kesibukan kerja membuatku diriku cenderung lupa pada perasaanku, termasuk perasaan sedih selaku penulis.

Selaku penulis, apa sih yang membuatku sedih? Sedih karena beberapa pembaca mengolok-olok diriku, melecehkan diriku, baik secara terang-terangan maupun diam-diam? Enggak, ah. Aku bukan tergolong lelaki yang menjunjung tinggi harga diri. (Jangan-jangan diriku emang nggak ada harganya, ya!)

Setelah kupikir-kupikir, aku berpandangan bahwa salah satu kesedihanku belakangan ini mirip dengan kesedihan yang dialami oleh Rasulullah Musa a.s ketika umatnya kurang memahami kata-katanya. Tadi sore, Dik Sekar (salah seorang perempuan yang kini menjadi salah satu tim co-writer-ku yang bernama Aura Saphira) berkata, “Laki-laki pada umumnya kurang pandai mengungkapkan segala sesuatu melalui kata-kata.

Kalau begitu, aku perlu menempuh solusi yang pernah ditempuh oleh Musa a.s, yaitu berdoa:

Wahai Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku. … Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui [keadaan] kami.” (QS Thaahaa [20]: 25-28, 35)

Iklan

7 thoughts on “Kesedihanku Sebagai Seorang Lelaki

    Rina said:
    11 Oktober 2009 pukul 07:05

    Menurutku, kesedihan itu dari sebuah rasa, kita mengenalnya “hati”
    Some people say, Laki – laki berbicara melalui “pikirannya”, sedangkan perempuan berbicara melalui “hatinya”
    kesedihan lelaki dan perempuan, mungkin saja hanya bentuknya yang berbeda, tetapi satu makna yakni “tidak sesuai dengan yang diharapkan”.

    malissa said:
    11 Oktober 2009 pukul 22:26

    semua tergantung karakter masing2. Sebuah perkataan itu memang slalu sulit utk di ucapkan. Dalam artian perkataan yang mudah difahami orang lain,tidak menyakiti perasaan orang lain dan membawa kesejukan bagi para pendengar/pembaca. Jangan bersedih jikalau sulit utk mengungkapkan kata2 secara langsung. Ada baiknya kita memberi jedah utk otak kita supaya bisa lebih banyak berfikir utk memilih kata2 yang baik dan tepat.

    tsania said:
    12 Oktober 2009 pukul 19:36

    Benar apa yg dikatakan mbak Sekar…dan inilah yg akhirx menjadikan kesalahpahaman dan perselisihan. Krn itu mending banyak2 komunikasi dg jujur agar bs mjembataninya.

    ade inges said:
    13 Oktober 2009 pukul 19:48

    untuk apa bersedih Allah telah memberi yang terbaik di anatara yang terbaik.INssaalah……………………

    Hellu said:
    19 Oktober 2009 pukul 00:08

    la TahZan……mendingboker sambil mroko’

    Dewi said:
    23 Oktober 2009 pukul 10:25

    Sedih merupakan salah satu sandiriwara dunia yang dijalani.Hari ini sedih, bahagia, satu menit kemudian tertawa. Jalani saja jangan mengeluh.

    mamo said:
    31 Oktober 2009 pukul 15:04

    Kesedihan adalah bimbang yg akhan segera berlalu.
    pada alam dan kehidupan ada suatu pola kekacauan yang selalu terjadi sebelum adanya perkembangan dan pertumbuhan.

    renovasi rumah terlihat berantakan sebelum rumah itu kelihatan bagus..

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s