Nasib Nasi

Posted on

Bagi mereka yang hanya menganggap nasi sebagai makanan pokok, bahan makanan pokok lainnya hanya dianggap sebagai snack. Roti, pasta, jagung, semuanya tidak bisa mengenyangkan. Berbahagialah orang yang punya kemampuan adaptasi, sehingga tidak mengalami ketergantungan pada nasi. Saya termasuk kelompok orang yang berbahagia itu. Di masa kecil, sekalipun terbiasa sarapan roti, tetapi mampu berubah seketika untuk menerima sarapan berupa ketan dan talas goreng. Itu terjadi karena teman-teman sekolah saya di Padang ketika itu menganggap roti adalah makanan orang kafir.

Barangkali karena ketergantungan pada nasi itulah pula yang menyebabkan Pizza Hut di Indonesia memperkenalkan menu baru yang dijuluki risotto. Saya katakan dijuluki, karena risotto yang dijual di Pizza Hut bukanlah risotto asli. Risotto Pizza Hut sudah “diblaster” dengan selera Indonesia. Dalam versi aslinya, risotto adalah nasi yang belum tanak. Orang Jawa mengatakannya nglethis. Orang Italia menyebutnya al dente. Orang Jawa – dan juga rata-rata orang Indonesia lainnya – tidak suka nasi nglethis yang belum tanak. Karena itu risotto Pizza Hut dibuat tanak. Kejunya pun mondho-mondho alias tidak terlalu banyak untuk menyesuaikan dengan selera Indonesia.

Cara memasak nasi juga merupakan trick tersendiri bagi orang kita. Di Solo ada nasi liwet yang khas. Tetapi, masyarakat dari sukubangsa lain justru kurang suka nasi yang lembek seperti nasi liwet. Ada juga kebiasaan menanak nasi di dalam buluh bambu, sehingga menciptakan rasa dan bau yang khas. Nasi jaha khas Manado, misalnya, dimasak di dalam buluh. Di Manado juga ada nasi bungkus yang dikukus di dalam bungkusan daun. Orang Manado menyebutnya daun nasi. Bentuknya mirip daun tanaman kecombrang.

Tetapi, pernyataan bahwa perut pribumi hanya bisa makan nasi adalah pernyataan yang agak menyesatkan. Di berbagai pelosok Indonesia, kenyataannya nasi bukanlah makanan pokok. Di Papua rakyat makan ubi jalar sebagai makanan pokok. Orang Jawa-lah yang memperkenalkan nasi dan membuat ketergantungan baru teman-teman Papua terhadap nasi. Orang Madura dulu lebih mengedepankan jagung ketimbang nasi. Sekarang pun, nasinya harus dicampur jagung supaya mereka merasa lebih berotot. Orang Maluku dan orang Mentawai dulu makan sagu sebagai makanan pokok. Semuanya memang sudah berubah kini. Masyarakat menganggap nasi lebih berbudaya dibanding ubi, sagu, maupun jagung. Akibatnya, bangsa kita yang sudah tidak mampu lagi swasembada beras, terpaksa harus mengimpor beras dalam jumlah besar.

Lain lagi di Kawasan Timur Indonesia. Di Kepulauan Kai, Maluku Tenggara, nasi bukanlah hal penting. Di sana masyarakat makan jagung atau embal (singkong yang diolah secara tradisional) sebagai makanan pokok. Yang paling penting di sana adalah ikan. Belum makan ikan bagi orang Maluku Tenggara serasa belum makan. Maklum, di sana ikan melimpah. Masyarakat makan ikan tiga kali sehari. Daging sapi kurang laku di sana. Bahkan, di sana orang harus pesan kalau ingin makan daging. Baru kalau pesanan sudah cukup, maka seekor sapi disembelih untuk dijual di pasar.

Dadi Krismatono, yang sekarang bekerja di Indonesian Institute for Corporate Governance, belum lama ini mengirim e-mail untuk saya. Tulisnya: “Sahabat-sahabat saya menganugerahkan gelar ‘Penyembah Nasi’ kepada saya.” Itu tentunya karena kedoyanan Dadi pada nasi. Mungkin juga karena Dadi fanatik nasi. Perutnya akan terus berkeroncongan bila belum dipasok nasi.

Dalam kaitan sebagai pemuja nasi itulah Dadi berbagi informasi tentang varian olahan nasi yang sangat unik dan ditemukannya di Pasar Lama, Serang, ibukota provinsi yang baru, Banten. Di antara tenda-tenda yang berjajar di depan bekas bioskop Pelita (sekarang menjadi rumah walet!), tampak sebuah warung dengan penanda “Nasi Sumsum Mang Puri”.

Sumsum (lemak di bagian dalam tulang kaki) menjadi lauk utama untuk Nasi Sumsum khas Banten ini. Boleh pilih, sumsum kerbau atau sumsum sapi. Sumsum ini dimasukkan ke dalam nasi yang dibungkus dalam daun pisang menyerupai lontong, kemudian dibakar. Anda tentu bisa membayangkan sensasi aroma yang dihasilkan oleh daun pisang yang dibakar ….

Menurut Dadi, bumbu yang digunakan sederhana saja, yaitu: mirip bumbu nasi goreng standar rumahan. Bawang merah dan bawang putih secukupnya, cabe merah, dan sedikit terasi. Di dalam tiap bungkus Nasi Sumsum itu juga diletakkan sebatang sereh yang menguatkan cita rasa khas.

Seorang pemuja nasi lain, Murtanto, juga mengirim e-mail tentang nasi pecel yang ditemukannya di Gilimanuk, pelabuhan penyerangan di ujung Barat Bali. Menurut ceritanya, Murtanto ini jadi mulas perutnya karena dalam bus dari Denpasar-Gilimanuk hanya makan roti sebagai snack. Maka, setiba di Gilimanuk, sambil menunggu feri yang akan menyeberangkan bus, ia menemukan warung bertanda “Nasi Pecel Eksekutif”.

Pecel memang bukan makanan khas Bali. Dan warung “Nasi Pecel Eksekutif” ini ternyata memang punya Ibu Widi yang berasal dari Nganjuk. Teman kita Murtanto ini menjadi semakin penasaran ketika melihat betapa panjangnya barisan orang yang antre untuk mendapat giliran dilayani. Menurutnya, pelancong asing pun banyak yang nongkrong di “Warung Pecel Eksekutif” itu. Cooked salad in peanut dressing, mungkin begitu namanya buat mereka.

Pecelnya disajikan dalam pincuk daun, dilengkapi dengan rempeyek teri. Rasanya? Menurut Murtanto, semua pelancong darat yang lewat Gilimanuk harus mampir di warung Ibu Widi ini. Harus!

Wah, karena penjelasan ini membuat saya sendiri menjadi ngiler dan lapar, maka buru-burulah saya berangkat mengajak beberapa teman makan di warung langganan wartawan Suara Pembaruan di lapangan parkir depan Makam Pahlawan Kalibata. Di sana ada warung yang khusus berjualan pecel dan sambel tumpang. Untuk ukuran Jakarta, barangkali itulah yang terbaik. Tempatnya pun nyaman. Dan, ah, yang datang ke sana juga banyak yang cantik-cantik, lho!

Menu kesukaan saya di sana adalah es beras kencur, pecel tumpang dengan rempeyek dan bothok teri. Mak nyus rasanya!

Bondan Winarno
– Penulis –
Penulis adalah Pemimpin Redaksi Harian Suara Pembaruan yang telah menyinggahi banyak tempat di dunia dan mencicipi hidangan khas tempat-tempat yang disinggahinya. (E-mail: bwinarno@indosat.net.id)

Sumber: Kompas, 18 Juli 2002
http://www.kompas.com/kcm/bondan/bd79.htm

Iklan

One thought on “Nasib Nasi

    atiens said:
    18 Oktober 2009 pukul 12:01

    nasi dibikin apaun tetap enak kok…..

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s