Apakah kita ini hamba Allah ataukah hamba internet?

Posted on Updated on

Dalam daftar penyumbang, misalnya untuk membantu korban gempa atau pun lainnya, tak jarang kita jumpai bahwa penyumbangnya ialah Hamba Allah. Semoga mereka itu benar-benar hamba Allah. Semoga pula kita terdorong untuk juga menjadi Allah.

Aku sendiri takut menjuluki diriku Hamba Allah. Aku malu kepada-Nya. Di benakku seolah-olah terdengar suara-Nya, “Hai, Shodiq! Benarkah kamu hamba-Ku? Tidakkah kamu adalah hamba internet? Bukankah kamu keasyikan ngakses internet berjam-jam setiap hari? Bukankah untuk menyembah Diriku melalui shalat, kamu melakukannya hanya beberapa menit setiap harinya?”

25 thoughts on “Apakah kita ini hamba Allah ataukah hamba internet?

    KangBoed said:
    12 Oktober 2009 pukul 06:13

    pertamaaaaaaaaaaaaaaxxxxxxzzzzzz

    KangBoed said:
    12 Oktober 2009 pukul 06:15

    Bagaimana jika lahir bermain internet tetapi bathin tetap zikrullah.. mengingat ALLAH.. HATI ingat tida lupa seiring sejalan tarikan nafas berkata ALLAH… tanpa huruf tanpa kata..😆

    KangBoed said:
    12 Oktober 2009 pukul 06:17

    hehehhehehe.. memang sesungguhnya tiada satupun manusia mau jika dikatakan hamba yang lainnya.. padahal ketika ditanyakannya kepada Hati Nuraninya siapakah yang utama dan terutama dalam hidupnya.. entahlah ALLAH menjadi nomer berapa😦

    KangBoed said:
    12 Oktober 2009 pukul 06:18

    kapan yaaa.. nyang namanya Pak Shodiq sekali kali main ke tempat saya hehehehe..

    creativesimo said:
    12 Oktober 2009 pukul 07:46

    kangboed dan pak shodiq juga kapan maen ke tempat saya?🙂

    iip albanjary said:
    12 Oktober 2009 pukul 08:57

    ada kalanya bentuk penghambaan itu dinilai dengan kualitas kekhusyukannya. Dan kualitas yang baik seringkali tidak bisa dihitung dengan hitungan detik atau jam

    iip albanjary said:
    12 Oktober 2009 pukul 08:58

    kang sodik, ada kalanya bentuk penghambaan itu dinilai dengan kualitas kekhusyukannya. Dan kualitas yang baik seringkali tidak bisa dihitung dengan hitungan detik atau jam

    jagoane said:
    12 Oktober 2009 pukul 10:42

    ya.. itu hanya lah persepsi dalam mengartikan sebuah gabungan kata… untuk hal ini kita harus lebih bijak.

    sesamaislam said:
    12 Oktober 2009 pukul 18:31

    Menarik Tajuknya…”hamba Allah atau hamba Internet”

    Setuju dengan pendapat (iip albanjary) namun berapa ramaikah tergolong dalam kumpulan ini? Internet ‘mengasyikkan’ membuat kita terlupa siapa diri kita!!

    http://jutawanklik.com/?a_aid=f7ff7bd5

      tsania said:
      12 Oktober 2009 pukul 19:25

      Pak Shodiq, tak sll org yg mengakses intrnt 1 jam 2 jam tiap hari bs dsbt sbg hamba intrnt…bhkn mungkin dia adl hamba Allah yg sbnrx. Jd untuk menilai kita lht sj apa aktivitasx dlm mengakses intrnt itu. Apakah mbawa kemudharatan ataukah kbaikan. Apakah menjauhkanx dr keimanan ataukah mdekatkan kpdNya. Apakah menghambur2x uang ataukah sbg sumber penghdpn. Btlkah bgt?

        barok said:
        14 Oktober 2009 pukul 05:54

        etuju
        bisa saja khan hamba allah yang kerjaannya ngenet., hahah
        selama kegiatan ngnetnya tidak melupakan kewajiban kepada allah sah-sah saja kan?

    torik said:
    12 Oktober 2009 pukul 22:52

    betul juga tuh… di internet seharian juga kuat tapi pas baca Al-quran 5 menit ajah udah mabok…

    KangBoed said:
    13 Oktober 2009 pukul 12:08

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
    ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaaaank
    I Love U fuuulllllllllllllllllllllllllllll

      KangBoed said:
      13 Oktober 2009 pukul 12:17

      🙄 ngelindur nulis url bisa salah.. nasib hahaha..😆

        KangBoed said:
        13 Oktober 2009 pukul 12:18

        🙄 ngelindur nulis url bisa salah.. nasib hahahaha..😆

    KangBoed said:
    13 Oktober 2009 pukul 12:21

    Manstaaaaaaaaaaaaaaaaaabbbbsss.. SUDAHKAH ALLAH MENJADI NOMER SATU dalam HIDUP..

    el said:
    14 Oktober 2009 pukul 06:00

    memang kadang kita ketika asyik internetan suka lalai terhadap kewajiban allah seperti mengakhirkan waktu sholat.. heheh
    sebuah pengakuan

    nurrahman18 said:
    14 Oktober 2009 pukul 07:13

    benar pak….saya jadi malu ^_^

    tero said:
    14 Oktober 2009 pukul 15:22

    sEMUAx KITA KEMBALIKAN KEPADA nIAT DARI APA YANG KITA LAKUKAN

    cHiMoUtS said:
    20 Oktober 2009 pukul 19:02

    . . . . . . aKu JaDi mALu nEcH . . . . . .

    , , , , HE. ., hE. ., He. .,

    akmalhasan said:
    21 Oktober 2009 pukul 09:19

    Internet kan hanya media aja Om…
    mbok ya jangan dibikin pengkotak-kotakan, nanti ada hamba fesbuk, hamba PS3, hamba BB🙂
    Lha mo ngaku or nggak ngaku, dari sononya kita kan dah dilantik jd hamba Allah, malahan kita njawab ‘Ya. Engkau Tuhanku’. Kitanya aja yang pura-pura gak inget🙂

    Salam,
    Akmal

    dwiky Arizona said:
    21 Oktober 2009 pukul 20:05

    Subhanallah….mungkin orang2 seperti itu ber keinginan menjadi Hamba Allah, namun masih berat hatinya untuk melakukan sesuatu agar mendapat julukan Hamba Allah dengan tepat….semoga kita semua termasuk orang2 yang benar2 merupakan Hamba Allah yg sesungguhnya…amin…🙂
    http://zonacellular.co.cc/
    http://zonatampan.blogspot.com/

    heryn said:
    23 Oktober 2009 pukul 07:54

    Ya.. yang sering kita lihat, pada saat kondisi terjepit,
    katakan sedang kesulitan ekonomi, atau kesulitan lainnya,
    manusia mengaku “hamba Allah”, namun begitu kesulitan berlalu,
    ekonominya mapan, kembali menghambakan diri pada “harta dan kemewahan lainnya”.
    Astaghfirullah , semoga kita tetap konsisten menghambakan diri padaNya.

    erfiz said:
    13 November 2009 pukul 03:45

    wahh ini salah satu pstingan yang menyindir saya juga

    Irawan Danuningrat said:
    30 Desember 2009 pukul 21:17

    Menurut hemat saya, benar sekali jika seorang muslim menyebut dan mengaku dirinya sebagai “Hamba Allah”. Selain kenyataannya (diakui ataupun tidak) kita semua adalah hamba Allah, kita juga memang seyogianya selalu ingat dan sadar atau setidaknya ingatkan diri sendiri bahwa kita adalah hamba Allah (meski mungkin terkadang lupa dan lebih ingat bahwa kita adalah “pejabat”, “dosen”, “ustad”, “mahasiswa” dll). Saya kira salah satu sebab mengapa umat islam diwajibkan mengucap dan mendengar Syahadat berulang-ulang lebih dari 19 x dalam sehari (dlm shalat, adzan, qomat dll) antara lain agar kaum muslimin bener-bener sadar bahwa dirinya adalah Hamba Allah dan bangga mengaku dirinya sebagai hamba Allah. Dalam kesempatan ini selaku pribadi saya juga heran pd umat Islam cenderung gunakan kata “yang diatas” dibanding kata “Allah” padahal kata “yg diatas” bukan salah satu asmaul husna dan Allahpun menyebut diri-Nya Allah…. Saya pribadi “angkat topi” kpd mereka yg menyebut dirinya “Hamba Allah” saat beramal jariah karena dia jelas tidak menonjolkan sosok diri dan identitas dirinya sbg penyumbang, melainkan semata Hamba Allah yg tidak perlu dipublikasikan.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s