Manakah agama yang benar?

Posted on Updated on

Sejak lahir, tahu-tahu aku “sudah beragama” sesuai dengan agama yang dianut oleh orangtuaku. Apakah beragama dengan cara begini dapat kupertanggungjawabkan? Tidak. Aku harus mencari agama yang benar dengan akal sehatku dan hati nuraniku. Mungkin saja agamaku selama ini sudah benar, mungkin pula belum benar. Aku perlu menyelidiki semua agama, membandingkannya satu sama lain dengan seobjektif mungkin, sebelum kupilih agama yang paling tepat bagiku. Untuk itu, aku perlu tahu lebih dahulu akan kriteria agama yang benar.

Dari hasil googling, aku jumpai sebuah artikel yang mengandung lima “kriteria agama yang benar”. Marilah kita periksa kriteria-kriteria tersebut satu demi satu, dengan akal telanjang kita.

1. Apakah agama yang anda anut memberikan keselamatan yang pasti, bukan mudah-mudahan, atau mungkin, dan sebagainya?

religion salesman
Ada lagi -- Kalau Anda berpindah agama HARI INI, Anda berhak atas tawaran-awal kami yang istimewa, yaitu diampuni dari segala dosa dan dijamin hidup abadi!
Berhubung “keselamatan” yang dimaksud adalah “keselamatan pada akhirnya”, pertanyaan pertama ini mengingatkanku pada keadaan setiap kali aku hendak bepergian. Apakah hendak menggunakan bus ataukah kereta api ataukah kendaraan lainnya? Bila naik bus, bus yang mana? Apakah bus A, bus B, bus C, …? Begitu pula untuk kendaraan lainnya. Aku dihadapkan dengan banyak alternatif.

Terhadap berbagai alternatif itu, keselamatan merupakan faktor utama dalam pertimbanganku. Nah, kendaraan manakah yang “memberikan keselamatan yang pasti”? Tidak ada! Kita tidak tahu pasti, manakah kendaraan yang akan mengantarkan kita selamat sampai ke tujuan. Dalam pengalamanku, tidak ada yang berani menjamin 100% bahwa ada kendaraan tertentu yang “memberikan keselamatan yang pasti”. Bahkan, seandainya ada yang menjamin begitu, maka aku sangat meragukannya.

Begitu pula dalam hal agama. Menurut akal telanjangku, tidak ada agama yang “memberikan keselamatan yang pasti”. Memang sih, ada agama tertentu yang mengklaim mampu “memberikan keselamatan yang pasti”. Namun, klaim tersebut tanpa bukti sama sekali, persis seperti dalam gambar kartun di samping ini. (Tentu saja, kita tidak bisa menjumpai bukti tentang klaim tersebut selama hayat dikandung badan. Hanya setelah matilah kita dapat mengetahui dengan pasti, apakah pada akhirnya kita selamat ataukah tidak.)

Jadi, menurut pikiran polosku, pertanyaan pertama tersebut TIDAK dapat kita jadikan sebagai kriteria agama yang benar.

2. Apakah dasar dari pembentukan agama berasal dari sumber yang kuat atau yang memiliki kriteria ke-Agungan?

Menurut pikiran polosku, pengetahuan-pengetahuan kita “yang benar” TIDAK selalu berasal dari “sumber yang kuat atau agung”. Memang, metode penelitian kuantitatif mengandalkan “sumber yang kuat atau agung” untuk menghasilkan sains “yang benar”. Namun, metode penelitian KUALITATIF (terutama Studi Kasus) sering menggunakan “sumber yang [sepintas lalu] tampaknya biasa-biasa saja” untuk menghasilkan wawasan baru “yang benar”. Padahal menurut akal telanjangku, agama itu lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif. Dengan demikian, mungkin saja agama yang benar itu berasal dari “sumber yang [sepintas lalu] tampaknya biasa-biasa saja”.

Jadi, pertanyaan kedua itu pun TIDAK dapat kita jadikan sebagai kriteria agama yang benar.

3. Apakah Tuhan yang anda sembah itu adalah benar-benar Tuhan yang hidup yang selalu berada dalam hati anda? “Ingat iblis bisa menyamar sebagai malaikat terang” artinya iblis juga bisa menyamar sebagai Tuhan dan menciptakan agama yang disukai manusia bukan disukai Tuhan.

Nah! Justru karena “iblis bisa menyamar” itulah maka pertanyaan ketiga ini juga TIDAK dapat kita jadikan sebagai kriteria agama yang benar. Mungkin saja ada orang yang mengaku sebagai tuhan atau utusan tuhan, tetapi kita tidak bisa betul-betul membuktikan apakah pengakuannya itu benar ataukah keliru. Bahkan, iblis pun bisa saja berpura-pura baik dengan mengatakan, “Awas! Iblis bisa menyamar sebagai tuhan”, sebagaimana penipu pun dapat berpura-pura baik dengan menyatakan, “Awas! Jangan sampai Anda tertipu!”

4. Apakah ritual keagamaan yang anda jalankan memang berasal dari Tuhan? Sebab Tuhan tidak menginginkan penyembahan yang diatur oleh suatu ritual dan kegiatan yang monoton. Tuhan ingin manusia menyembah Dia dengan segenap hati tanpa paksaan dan yang terpenting, baik tubuh, jiwa dan roh manusia bebas dalam menyembah Tuhan.

Apakah kebiasaan ritual yang “monoton” pasti tidak benar? Ada banyak penelitian mutakhir yang menunjukkan bahwa kebiasaan kita yang “monoton” telah menghemat energi untuk aktivitas sel-sel otak kita. Apabila tidak ada kebiasaan kita yang “monoton”, maka otak kita akan begitu kewalahan, sehingga diri kita malah akan kehilangan nyawa dalam sekejap. Sebaliknya, ke-“monoton”-an itu bisa menjadikan otak kita melakukan berbagai aktivitas mental dengan lebih produktif!

Akan tetapi, menurut akal telanjangku, ritual yang monoton tidak selalu benar pula. Apabila terlalu monoton, maka bisa-bisa kita menyembah Dia tidak dengan segenap hati. Oleh karena itu, pertanyaan keempat itu pun TIDAK bisa kujadikan sebagai kriteria agama yang benar.

5. Apakah Firman yang tertulis dalam kitab suci anda bercerita tentang surga dan hukum-hukum surgawi. Bukan mengenai hukum-hukum duniawi dan hukum itu terlalu banyak memberikan dispensasi terhadap manusia? “ingat Tuhan itu penghuni surga bukan dunia ini. Iblislah penghuni dunia ini”.

Menurut akal telanjangku, tidak ada bukti bahwa “Tuhan itu penghuni surga, bukan dunia ini” dan bahwa “Iblislah penghuni dunia ini”. Jadi, pertanyaan terakhir ini juga TIDAK bisa kujadikan sebagai kriteria agama yang benar.

6 thoughts on “Manakah agama yang benar?

    […] Manakah agama yang benar? […]

    Kingwongso said:
    27 April 2010 pukul 08:33

    Ingin bukti? Gampang Bro, mati dulu baru bisa membuktikan klaim kebenaran itu. Berani nggak Bro?

      M Shodiq Mustika responded:
      27 April 2010 pukul 13:32

      Postingan di atas justru menolak klaim kebenaran orang-orang yang menggunakan kriteria-kriteria yang disebut di situ. Jadi, saya tidak perlu membuktikan klaim kebenaran mereka. Orang-orang yang menggunakan kriteria itu sendirilah yang perlu membuktikan kebenaran klaim mereka.

        mas ex said:
        3 Februari 2012 pukul 23:14

        padat dan berisi perlu berulang2 untuk benar2 paham

    Kingwongso said:
    29 April 2010 pukul 16:40

    Oh, sorry Bos, emang tulisan di atas bikin bingung. Tapi sekarang jelas, Sang penulis ternyta tidak berpihak pada orang-orang yang anti kebenaran al-Islam. Oke, semoga nggak ada yang salah paham lagi….

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s