Manakah Islam yang sebenarnya?

Posted on Updated on

Di sini Islam, di sana Islam, di mana-mana ada Islam. Tapi, manakah pengertian Islam yang benar? Manakah Islam yang sebenarnya?

Ali Sina mengatakan, “Pelajarilah Alquran, [maka] kamu akan tahu Islam yang sebenarnya!” Benarkah begitu?

Tunggu dulu! Perhatikanlah bahwa mempelajari buku apa pun, tidak hanya Al-Qur’an, akan menghasilkan pengertian yang berlainan di antara orang yang berbeda. Bahkan, pengertian yang diperoleh itu bisa berlawanan.

Untuk contoh sederhana, marilah kita saksikan orang-orang yang telah membaca buku karya Ali Sina, Why I Left Islam (*Mengapa Aku Meninggalkan Islam*). Apakah dari buku tersebut, semua pembacanya memperoleh pelajaran yang sama? Tidak! Pembaca yang pernah merasakan “ketidaknyamanan lantaran Islam” akan cenderung memaklumi mengapa Ali Sina meninggalkan Islam. Namun pembaca yang setiap hari merasakan “kenyamanan di dalam Islam” justru cenderung menganggapnya aneh atau tidak masuk akal. Mereka tidak habis pikir mengapa Ali Sina meninggalkan Islam. Jadi, dari membaca buku Ali Sina itu, pengertian yang ditangkap oleh para pembacanya bisa berlainan dan bahkan bertentangan mengenai mengapa Ali Sina meninggalkan Islam.

Begitu pula terhadap Al-Qur’an atau pun kitab-kitab suci agama lainnya. Pelajaran yang diperoleh pembaca dari kitab suci bisa berlainan, bahkan dapat bertentangan, diantara pembaca yang berbeda.

Dari mempelajari Al-Qur’an, orang-orang Syiah mengatakan bahwa orang-orang Islam yang sebenarnya adalah yang mencintai keluarga Nabi melebihi cinta kepada orang lain.

Dari mempelajari Al-Qur’an, kaum Salafi mengatakan bahwa orang-orang Islam yang sebenarnya adalah yang bersikap dan berperilaku seperti para sahabat Nabi yang telah meneladani Nabi.

Dari mempelajari Al-Qur’an, para teroris yang mengatasnamakan Islam mengatakan bahwa orang-orang Islam yang sebenarnya adalah yang memerangi orang-orang kafir di mana pun.

Dari mempelajari Al-Qur’an, Ali Sina dan para pengikutnya mengatakan juga bahwa orang-orang Islam yang sebenarnya adalah yang memerangi orang-orang kafir di mana pun dan kapan pun. (Walau tidak sama persis, pengertian Islam menurut Ali Sina dkk itu sangat mirip dengan pengertian Islam menurut para teroris yang mengatasnamakan Islam.)

Dari mempelajari Al-Qur’an, sejumlah muslim liberal mengatakan bahwa orang-orang Islam yang sebenarnya adalah yang pasrah kepada Tuhannya, apa pun agamanya.

Dari mempelajari Al-Qur’an, aku katakan bahwa Tuhan sajalah yang benar-benar tahu siapa sajakah orang-orang Islam yang sebenarnya. Kita sekarang, di dunia, mungkin saja mengklaim “inilah Islam yang sebenarnya”. Namun klaim manusia bisa saja salah. Kelak di akhiratlah baru dapat kita ketahui dengan pasti, mana sajakah Islam yang sebenarnya.

Oleh karena itu, aku kurang tertarik untuk memperdebatkan manakah Islam yang sebenarnya. Aku lebih suka mengatakan: “Inilah agama yang pasti benar [bagiku].

61 thoughts on “Manakah Islam yang sebenarnya?

    Vulkanis said:
    18 Juni 2010 pukul 11:28

    wah berat sangat nih pertanyaan kudu dijawab

    sunarnosahlan said:
    19 Juni 2010 pukul 08:13

    kalau yang beginian tak berani ikutan urun rembug

    ryo said:
    19 Juni 2010 pukul 11:44

    kykna klw membaca dan menafsirkan sendri sih emang susah..
    pasti banyak perbeda-an pendapat.
    perlu renungan untuk mengetahui makna sebenarna…

    Travelhaji said:
    19 Juni 2010 pukul 16:24

    Kalau saya Islam yang benar menurutku adalah ketika itu semakin menjadikan aku orang yang berserah diri sesuai dengan arti islam itu sendiri yang berarrti berserah diri kepadaNYA, jika pemahaman itu bisa menjauhkanku dariNYA maka aku tolak ..just my 2cent

      Diva Ardie said:
      20 Juni 2011 pukul 14:03

      Islam itun pasti nggak benar krn ajarannya menjiplak dari Bible dan syariat yg di jalankan itu niru org2 Yahudi

        wahyudi said:
        9 Februari 2014 pukul 08:48

        oooh justru terbalik brooo!

        aziz said:
        7 April 2014 pukul 21:36

        Islam adlah agama yg diridhoi Allah subhanahu wata’ala…

    cipunx said:
    19 Juni 2010 pukul 16:58

    subkhanallah.. Maha Suci Allah Dialah yg tahu mana yg haq mana yg batil, Dia pula yg membolak balikkan hati manusia, Ya Allah, tuntunlah aku agar selalu lurus dalam jalanMu, tetapkanlah iman di hatiku.. agar ku selalu taqwa kepadaMu Amin amin ya rabbal ‘alamin..

    nurrahman said:
    21 Juni 2010 pukul 08:28

    renungan pagi bagi saya🙂

    Rental Proyektor Terbaik said:
    21 Juni 2010 pukul 13:30

    Menurut saya islam yang benar adalah dimana nilai dan prilakunya dapat membawa rahmat bagi seluruh makhluk lainya,serta dapat menyatukan semua manusia seluruhnya, tidak dalam perpecahan yang terjadi ,hanya Allah menjadi sandaran Hidupnya dan mampu menepis fitnah-fitnah yang terjadi ,sehingga Din hanya mutlak milik Allah SWT

    mutiara said:
    21 Juni 2010 pukul 16:01

    yang penting ikuti saja apa yang sudah dituntunkan oleh Rasulullah. maka jalan selamat sudah didepan mata. bener kan?

    livestreamfree said:
    24 Juni 2010 pukul 00:06

    wah susah kalo gini

    zakki said:
    26 Juni 2010 pukul 18:46

    sering baca alquran dan hadist makannya

    selly said:
    27 Juni 2010 pukul 07:54

    sulit juga untuk memberikan argumen…

    alghienka said:
    27 Juni 2010 pukul 08:00

    setuju dengan mas Zakki..

    selly said:
    27 Juni 2010 pukul 08:01

    renungan pagi untuk sy🙂

    alghienka said:
    27 Juni 2010 pukul 08:04

    berpegang teguh pada pedoman umat islam..

    utari said:
    28 Juni 2010 pukul 00:14

    ikuti yg bener aja, eh tapi semuanya bener, ya mungkin ikuti petunjuk al-quran dan sunnah rosul itu sudah cukup..

      san said:
      8 Juli 2010 pukul 19:45

      setuju..

    medhi said:
    1 Juli 2010 pukul 02:02

    pertanyaannya bagaimana dengan orang yang berKTPkan islam, tapi dalam kesehariannya jauh dari ajaran islam itu sandiri. mereka hanya menumpang kesenangannya di atas islam.

    nara_zzi said:
    3 Juli 2010 pukul 18:40

    wao……islam yang sebenarnya adalah mengikuti, alquran, sunah, dan nabi muhammad saw.
    sedangkan umatnya ada juga yang taat dan ada yang tidak padahal sudah sama-sama ikut pengajian, bingung sendiri nih…….

      edo said:
      11 Oktober 2014 pukul 17:21

      mengikuti pengajian dan mempelajari al-quran sesuatu yang sangat berbeda

    Oeban said:
    5 Juli 2010 pukul 17:51

    … tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat , kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Alloh menciptakan mereka”.

    ardhan said:
    11 Juli 2010 pukul 10:13

    waduh berat juga neh pendapatnya

    Kojeje said:
    17 Juli 2010 pukul 15:51

    Ketika kita dekat sama TUHAN kita,
    sangat erat, AGAMA bukan lagi penting, tetapi HUBUNGAN PRIBADI KITA dengan TUHAN yg jauh lebih penting..

    AGAMA hanya sebuah entitas….

      ANAK BODO said:
      11 November 2010 pukul 10:42

      enak dong jadi ngak usah sholat ya………….

      nol ganol said:
      4 Februari 2012 pukul 11:29

      yg lebih mak nyus kalau bung Kojeje berkenan sharing ttg pengalamannya berdekat-dekat dg TUHAN …
      japri aja bung ke gmandalan@yahoo.com

    Khizer said:
    18 Juli 2010 pukul 10:52

    Islam yang sebenarnya adalah Al Qur’an dan As Sunnah …. orang Islam yang sebenarnya adalah 1 golongan diantara 73 golongan umat Islam yang ada …. dan juga Al Jamaah ( bukan Ahlul Sunnah wal Jamaah )

    Momo said:
    18 Juli 2010 pukul 12:25

    wah.. ini wajib dijadikan renungan..
    terima kasih.

    tedted said:
    20 Juli 2010 pukul 15:18

    islam adalah sebenar-benar agama

    mashon said:
    28 Juli 2010 pukul 22:26

    sing penting sekarang lebih dekat dengan yang maha kuasa dan menjauhi laranganya…sulit untuk mengatakan seperti itu klo pun ulama besar kayakny tdak bisa memvonis seseorang islam atau bukan…..

      wul said:
      4 Februari 2012 pukul 11:33

      mantabs surantabs …

    Alasan Murtad Yang Masuk Akal « Mau Murtad? said:
    1 Agustus 2010 pukul 14:31

    […] Daripada mempertanyakan kesempurnaan Al-Qur’an, aku lebih cenderung mempertanyakan kesempurnaan semua orang dalam memahami Al-Qur’an atau pun kitab lainnya. (Lihat “Manakah Islam yang sebenarnya?“) […]

      rizal said:
      10 Agustus 2014 pukul 00:04

      setuju
      sip
      padat

    sugeng said:
    2 Agustus 2010 pukul 09:08

    coba buka al-Qur’an surat al-Baqoroh ayat 97
    97. Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

    Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Abdullah bin Salam mendengar akan tibanya Rasulullah di saat berada di tempat peristirahatannya. Lalu ia menghadap kepada Rasulullah SAW dan berkata: “Sesungguhnya saya akan bertanya kepada tuan tentang tiga hal, yang tidak akan ada yang mengetahui jawabannya kecuali seorang Nabi. 1. Apa tanda-tanda pertama hari kiamat, 2. Makanan apa yang pertama-tama dimakan oleh ahli syurga, dan 3. Mengapa si anak menyerupai bapaknya atau kadang-kadang menyerupai ibunya?” Jawab Nabi SAW: “Baru saja Jibril memberitahukan hal ini padaku.” Kata Abdullah bin Salam: “Jibril?” Jawab Rasulullah SAW: “Ya.” Kata Abdullah bin Salam: “Dia itu termasuk malaikat yang termasuk musuh kaum Yahudi.” Lalu Nabi membacakan ayat ini (S. 2: 97) sebagai teguran kepada orang-orang yang memusuhi malaikat pesuruh Allah.
    (Diriwayatkan oleh Bukhari yang bersumber dari Anas.)

    Keterangan:
    Menurut Syaikhul Islam al-Hafidh Ibnu Hajar dalam kitab Fathulbari: “Berdasarkan susunan kalimatnya, ayat yang dibacakan (S. 2: 97) oleh Nabi ini, sebagai bantahan kepada kaum Yahudi, dan tidak seharusnya turun bersamaan dengan peristiwa tersebut di atas. Dan inilah yang paling kuat. Di samping itu keterangan lain yang syah, bahwa turunnya ayat ini pada peristiwa lain, dan bukan pada peristiwa Abdullah bin Salam.”

    Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa serombongan kaum Yahudi telah datang menghadap Nabi SAW dan mereka berkata: “Hai abal Qasim! Kami akan menanyakan kepada tuan lima perkara. Apabila tuan memberitahukannya, maka tahulah kami bahwa tuan seorang Nabi.” Selanjutnya hadits itu menyebutkan yang isinya antara lain bahwa mereka bertanya: 1. Apa yang diharamkan bani Israil atas dirinya, 2. tentang tanda-tanda kenabian, 3. tentang petir dan suaranya, 4. tentang bagaimana wanita dapat melahirkan laki-laki dan dapat juga wanita, dan 5. siapa sebenarnya yang memberi kabar dari langit. Dan dalam akhir hadits itu dikatakan mereka berkata: “Siapa sahabat tuan itu?” yang dijawab oleh Rasulullah SAW: “Jibril.” Mereka berkata: “Apakah Jibril yang biasa menurunkan perang, pembunuhan dan siksaan? Itu musuh kami. Jika tuan mengatakan Mikail yang menurunkan rahmat, tanam-tanaman dan hujan, tentu lebih baik” Maka turunlah ayat ini (S. 2: 97) berkenaan dengan peristiwa tersebut
    (Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan Nasa’i dari Bakr bin Syihab, dari Sa’id bin Jubair yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

    Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa pada suatu hari Umar datang kepada Yahudi, yang ketika itu sedang membaca Taurat. Ia (Umar) kaget, karena isinya membenarkan apa yang disebut di dalam Al-Qur’an. Ketika itu lalulah Nabi SAW di hadapan mereka. Dan berkatalah Umar kepada Yahudi. “Aku minta agar engkau menjawab pertanyaanku ini dengan sungguh-sungguh dan jujur. Apakah kamu tahu bahwa sesungguhnya beliau itu Rasulullah?” Guru mereka menjawab: “Memang benar kami tahu bahwa sesungguhnya beliau itu Rasulullah.” Umar berkata: “Mengapa kamu tidak mau mengikutinya?” Mereka menjawab: “Ketika kami bertanya tentang penyampai kenabiannya, Muhammad mengatakan “Jibril”. Dialah musuh kami yang menurunkan kekerasan, kekejaman, peperangan dan kecelakaan.” Umar bertanya: “Malaikat siapa yang biasa diutus kepada Nabimu?” Mereka menjawab: “Mikail, yang menurunkan hujan dan rahmat.” Umar bertanya: “Bagaimana kedudukan mereka itu di sisi Tuhannya?” Mereka menjawab: “Yang satu di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.” Umar berkata: “Tidak sepantasnya Jibril memusuhi pengikut Mikail, dan tidak patut Mikail berbuat baik kepada musuh Jibril. Sesungguhnya aku percaya bahwa Jibril, Mikail dan Tuhan mereka akan berbuat baik kepada siapa yang berbuat baik kepada Mereka. Dan akan berperang kepada siapa yang mengumumkan perang kepada Mereka.” Kemudian Umar mengejar Nabi SAW untuk menceriterakan hal itu. Tetapi sesampainya pada Nabi, Nabi SAW bersabda: “Apakah engkau ingin aku bacakan ayat yang baru turun kepadaku?” Umar menjawab: “Tentu saja ya Rasulullah.” Kemudian beliau membaca: “Man kaana ‘aduwwal li Jibrila fainnahu nazzalahu ‘ala qalbika ……sampai al-kaafirin.” Ayat tersebut di atas (S. 2: 97, 98). Umar bekata: “Ya Rasulullah! Demi Allah, saya tinggalkan kaum Yahudi tadi dan menghadap tuan justru untuk menceriterakan apa yang kami percakapkan, tetapi rupanya Allah telah mendahului saya.”
    (Diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahawaih, dalam musnadnya dan Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Syu’bi. Sanad ini shahih sampai as-Syu’bi, hanya as-Syu’bi tidak bertemu dengan Umar. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber selain dari as-Syu’bi. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari as-Suddi dan Qatadah yang bersumber dari Umar yang kedua-duanya munqathi karena didalam satu sanad, jika gugur nama seorang raqi, lain dari Shahabi, atau gugur dua orang rawi yang tidak berdekatan, yakni gugurya berselang. ) 3)

    Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa seorang Yahudi berkata ketika bertemu dengan Umar bin Khaththab: “Sesungguhnya Jibril yang disebut-sebut oleh shahabatmu itu (Rasululllah) adalah musuh kami.” Maka berkatalah Umar: “Barangsiapa yang memusuhi Allah, Malaikat-Nya, para Rasul-Nya, Jibril dan Mikail, sesungguhnya Allah memusuhinya.” Maka turunlah ayat ini (S. 2: 97, 98) bersesuaian dengan apa yang diucapkan Umar.
    (Diriwayatkan oleh Ibnu abi Hatim yang bersumber dari Abdurrahman bin Laila. Sumber ini saling menguatkan dengan yang lainnya.)

    Keterangan:
    Menurut Ibnu Jarir sebab-sebab yang diceriterakan dalam hadits-hadits tersebut di atas merupakan sebab-sebab turunnya ayat ini (S. 2. 97, 98).

    sugeng said:
    2 Agustus 2010 pukul 09:10

    coba pelajari al-qur’an surat 2:97

    97. Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

    Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Abdullah bin Salam mendengar akan tibanya Rasulullah di saat berada di tempat peristirahatannya. Lalu ia menghadap kepada Rasulullah SAW dan berkata: “Sesungguhnya saya akan bertanya kepada tuan tentang tiga hal, yang tidak akan ada yang mengetahui jawabannya kecuali seorang Nabi. 1. Apa tanda-tanda pertama hari kiamat, 2. Makanan apa yang pertama-tama dimakan oleh ahli syurga, dan 3. Mengapa si anak menyerupai bapaknya atau kadang-kadang menyerupai ibunya?” Jawab Nabi SAW: “Baru saja Jibril memberitahukan hal ini padaku.” Kata Abdullah bin Salam: “Jibril?” Jawab Rasulullah SAW: “Ya.” Kata Abdullah bin Salam: “Dia itu termasuk malaikat yang termasuk musuh kaum Yahudi.” Lalu Nabi membacakan ayat ini (S. 2: 97) sebagai teguran kepada orang-orang yang memusuhi malaikat pesuruh Allah.
    (Diriwayatkan oleh Bukhari yang bersumber dari Anas.)

    Keterangan:
    Menurut Syaikhul Islam al-Hafidh Ibnu Hajar dalam kitab Fathulbari: “Berdasarkan susunan kalimatnya, ayat yang dibacakan (S. 2: 97) oleh Nabi ini, sebagai bantahan kepada kaum Yahudi, dan tidak seharusnya turun bersamaan dengan peristiwa tersebut di atas. Dan inilah yang paling kuat. Di samping itu keterangan lain yang syah, bahwa turunnya ayat ini pada peristiwa lain, dan bukan pada peristiwa Abdullah bin Salam.”

    Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa serombongan kaum Yahudi telah datang menghadap Nabi SAW dan mereka berkata: “Hai abal Qasim! Kami akan menanyakan kepada tuan lima perkara. Apabila tuan memberitahukannya, maka tahulah kami bahwa tuan seorang Nabi.” Selanjutnya hadits itu menyebutkan yang isinya antara lain bahwa mereka bertanya: 1. Apa yang diharamkan bani Israil atas dirinya, 2. tentang tanda-tanda kenabian, 3. tentang petir dan suaranya, 4. tentang bagaimana wanita dapat melahirkan laki-laki dan dapat juga wanita, dan 5. siapa sebenarnya yang memberi kabar dari langit. Dan dalam akhir hadits itu dikatakan mereka berkata: “Siapa sahabat tuan itu?” yang dijawab oleh Rasulullah SAW: “Jibril.” Mereka berkata: “Apakah Jibril yang biasa menurunkan perang, pembunuhan dan siksaan? Itu musuh kami. Jika tuan mengatakan Mikail yang menurunkan rahmat, tanam-tanaman dan hujan, tentu lebih baik” Maka turunlah ayat ini (S. 2: 97) berkenaan dengan peristiwa tersebut
    (Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan Nasa’i dari Bakr bin Syihab, dari Sa’id bin Jubair yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

    Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa pada suatu hari Umar datang kepada Yahudi, yang ketika itu sedang membaca Taurat. Ia (Umar) kaget, karena isinya membenarkan apa yang disebut di dalam Al-Qur’an. Ketika itu lalulah Nabi SAW di hadapan mereka. Dan berkatalah Umar kepada Yahudi. “Aku minta agar engkau menjawab pertanyaanku ini dengan sungguh-sungguh dan jujur. Apakah kamu tahu bahwa sesungguhnya beliau itu Rasulullah?” Guru mereka menjawab: “Memang benar kami tahu bahwa sesungguhnya beliau itu Rasulullah.” Umar berkata: “Mengapa kamu tidak mau mengikutinya?” Mereka menjawab: “Ketika kami bertanya tentang penyampai kenabiannya, Muhammad mengatakan “Jibril”. Dialah musuh kami yang menurunkan kekerasan, kekejaman, peperangan dan kecelakaan.” Umar bertanya: “Malaikat siapa yang biasa diutus kepada Nabimu?” Mereka menjawab: “Mikail, yang menurunkan hujan dan rahmat.” Umar bertanya: “Bagaimana kedudukan mereka itu di sisi Tuhannya?” Mereka menjawab: “Yang satu di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.” Umar berkata: “Tidak sepantasnya Jibril memusuhi pengikut Mikail, dan tidak patut Mikail berbuat baik kepada musuh Jibril. Sesungguhnya aku percaya bahwa Jibril, Mikail dan Tuhan mereka akan berbuat baik kepada siapa yang berbuat baik kepada Mereka. Dan akan berperang kepada siapa yang mengumumkan perang kepada Mereka.” Kemudian Umar mengejar Nabi SAW untuk menceriterakan hal itu. Tetapi sesampainya pada Nabi, Nabi SAW bersabda: “Apakah engkau ingin aku bacakan ayat yang baru turun kepadaku?” Umar menjawab: “Tentu saja ya Rasulullah.” Kemudian beliau membaca: “Man kaana ‘aduwwal li Jibrila fainnahu nazzalahu ‘ala qalbika ……sampai al-kaafirin.” Ayat tersebut di atas (S. 2: 97, 98). Umar bekata: “Ya Rasulullah! Demi Allah, saya tinggalkan kaum Yahudi tadi dan menghadap tuan justru untuk menceriterakan apa yang kami percakapkan, tetapi rupanya Allah telah mendahului saya.”
    (Diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahawaih, dalam musnadnya dan Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Syu’bi. Sanad ini shahih sampai as-Syu’bi, hanya as-Syu’bi tidak bertemu dengan Umar. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber selain dari as-Syu’bi. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari as-Suddi dan Qatadah yang bersumber dari Umar yang kedua-duanya munqathi karena didalam satu sanad, jika gugur nama seorang raqi, lain dari Shahabi, atau gugur dua orang rawi yang tidak berdekatan, yakni gugurya berselang. ) 3)

    Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa seorang Yahudi berkata ketika bertemu dengan Umar bin Khaththab: “Sesungguhnya Jibril yang disebut-sebut oleh shahabatmu itu (Rasululllah) adalah musuh kami.” Maka berkatalah Umar: “Barangsiapa yang memusuhi Allah, Malaikat-Nya, para Rasul-Nya, Jibril dan Mikail, sesungguhnya Allah memusuhinya.” Maka turunlah ayat ini (S. 2: 97, 98) bersesuaian dengan apa yang diucapkan Umar.
    (Diriwayatkan oleh Ibnu abi Hatim yang bersumber dari Abdurrahman bin Laila. Sumber ini saling menguatkan dengan yang lainnya.)

    Keterangan:
    Menurut Ibnu Jarir sebab-sebab yang diceriterakan dalam hadits-hadits tersebut di atas merupakan sebab-sebab turunnya ayat ini (S. 2. 97, 98).

    […] Tidak. Bukan itu yang membuatku bingung. Aku sudah memaklumi dualisme Alquran dengan cara menganut Filsafat Mawas. Yang membuat aku bingung adalah keterbatasan kita manusia dalam memahami apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Allah dan Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. (Lihat “Manakah Islam yang sebenarnya?“) […]

    […] Karena kecewa menyaksikan orang-orang muslim yang menurutku kurang islami, aku mempertanyakan “Manakah Islam yang sebenarnya?” Dari sini, kemudian tiba-tiba aku mempertanyakan: “Apakah Islam agama sesat? Perlukah aku […]

      edo said:
      11 Oktober 2014 pukul 17:10

      kan jawabannya mempelajari al-quran…bukan mempelajari orang-orang muslim yang kurang islami, gak mungkin ketemu deh jawabannya.

      learnNlearn said:
      18 Juli 2016 pukul 00:18

      Keputusan Anda Dimaklumi karena Anda sudah menyatakan sejujurnya bahwa ” Manakah Islam Sesebenarnya ” yang mengartikan bahwa Anda memang benar-benar belum menemukan Islam yang Sebenarnya.

    lanang said:
    3 Agustus 2010 pukul 08:07

    Saya ketika kecil hingga remaja belajar agama kristen dan bersekolah di sekolah kristen. namun ketika dewasa, saya juga belajar agama-agama lain dan keyakinan saya terhadap islam justru menguat dan meyakinkan saya bahwa islam-lah agama yang tepat bagi saya karena hanya islam yang mengajarkan bahwa Tuhan itu Esa, tidak agama lain. Bagi saya itu mempermudah keyakinan saya dibanding ketika saya harus percaya bahwa ada banyak tuhan. Adapun pengamalan sebagai orang islam, menurut saya yang bodoh ini adalah daripada saya menghabiskan umur saya hanya untuk mempertanyakan Islam benar atau Islam salah lebih baik saya menghabiskan waktu dengan berbuat amal kebaikan yang disempurnakan dengan ibadah. Ibadah saja tanpa berbuat amal kebaikan adalah percuma dan sia-sia. Memperbanyak berbuat amal kebaikan dalam Islam, itulah yang saya yakini akan membuat saya punya kesempatan menikmati surga.

    […] tanpa memikirkan benar-sesatnya Islam. Aku memohon kepada-Nya untuk diberi petunjuk tentang manakah agama yang benar untuk diriku. Apa pun petunjuk-Nya, aku bersedia menerimanya. Bahkan bila petunjuk-Nya itu […]

    krupukcair said:
    5 Agustus 2010 pukul 10:46

    saya ingat ketika bertamu pada salah seorang yang lulus SMA namun pernah menjadi dosen karena kemampuan intelektualnya yang sangat luar biasa. Beliau bilang, “jika kamu ingin tahu bahwa apa yang kamu yakini itu benar menurut Tuhan, maka panjatlah pohon kelapa tertinggi di kampungmu. Selanjutnya terjunlah dengan kepala dibawah. Tidak hanya kebenaran yang akan kamu temukan, tapi kamu mungkin juga akan bertemu dengan Tuhan”

      حَنِيفًا said:
      5 Agustus 2010 pukul 15:49

      😀

      .... said:
      4 Februari 2012 pukul 11:40

      ini baru kelas atas …

    […] kecewa menyaksikan orang-orang muslim yang menurutku kurang islami, aku mempertanyakan “Manakah Islam yang sebenarnya?” Dari sini, kemudian tiba-tiba aku mempertanyakan: “Apakah Islam agama sesat? Perlukah aku […]

    fanani said:
    29 September 2010 pukul 11:21

    Saya tidak akan mempertanyakan, “Manakah Islam yang sebenarnya?” karena Islam hanya satu. Di dalamnya, terdapat perkara pokok yang satu (yang harus sama, tidak boleh berbeda), dan terdapat pula perkara yang memungkinkan berbeda dan bercabang-cabang. Menyikapi perkara dalam Islam yang bercabang-cabang adalah dengan memilih cabang yang paling kuat. Menyikapi cabang-cabang lain yang masih bersumber dari pokok yang sama, adalah dengan menyebutkan kelemahannya sehingga harus ditinggalkan. Wallahu’alam

    say anjing to yesus said:
    2 Desember 2010 pukul 08:05

    HAI PAK MUSTIKA ANJING
    ^_^

    […] Tidak. Bukan itu yang membuatku bingung. Aku sudah memahami dualisme Alquran dengan cara menganut Filsafat Mawas. Yang membuat aku bingung adalah keterbatasan kita manusia dalam memahami apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Allah dan Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. (Lihat “Manakah Islam yang sebenarnya?“) […]

      learnNlearn said:
      18 Juli 2016 pukul 00:25

      Batasan mana yang sedang ingin coba Anda Pahami.

    corrie niami said:
    2 September 2011 pukul 21:12

    barang siapa kan tau dirix. di kan tau tuhanx

      copas said:
      4 Februari 2012 pukul 11:42

      katanya begitu …!

    izwandi said:
    3 Mei 2012 pukul 15:56

    banyak perdebatan yang saya dapati di sini . .padahal yang saya ketahui debat ialah hanya mengeraskan hati saja ,
    maka apabila kalian ingin mendapatkan hati yang lemah lembut yaitu :
    1. banyak bergaul dengan orang miskin
    2. jangan bergaul dengan org mati/org kaya yg sombong akan hartanya
    3. hindari perdebatan
    4. jauhi tertawa terbahak bahak . .

    jadi,menurut saya uruslah diri sendiri saja dan berkasih sayang sesama muslim.
    karena anas r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda kepada sekumpulan sahabat r.a : “.tidaklah masuk surga hingga kalian beriman dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling menyayangi ,”maukah saya tunjukkan amalan yg apabila kalian kerjakan kalian akan saling menyayangi.. maka sebarkanlah salam sebanyak banyaknya.”

    jazakumullah khair

    .

    abdi said:
    9 Desember 2012 pukul 17:53

    sami’naa wa atho’naa

    ashoy said:
    15 Januari 2013 pukul 18:40

    Apakah anda yakin dengan cerita ketika muhammad naik ke surga dia turun bolak-balik ketika mendapat saran dari nabi Musa agar meminta keringan dengan ALLAH agar sholat menjadi 5 waktu??? apakah itu tidak melecehkan kebesaran kehebatan ALLAH, coba anda pikirkan, bukankah ALLAH maha baik???saat ini banyak contoh, agar orang dikatakan hebat dan agar orang menghargai dia maka orang itu cerita ke tetangga atau ke temannya apa yang dilakukannya seperti memberikan uang kepada pengemis. saya rasa muhammad itu sama seperti Hitler dia bukan nabi akan tetapi seorang pysikopat, perampok, penindas dan gila sex. coba apa yang didapat dari cerita muhammad dengan istri2nya???apakah menurut anda ini baik???bukankah lebih baik menyumbang uang ke orang miskin tanpa harus memiliki anaknya yg cantik atau istrinya???coba anda pikirkan bagaimana perasaan anda ketika kecil ketika ayah anda pergi untuk menikah dengan istri lain dan anda melihat ibu kandung anda menangis, apakah anda rela ketika anda cinta dengan seorang pria dan pria itu menikah lagi dengan gadis muda yang cantik, sedangkan anda sudah tua dan renta??? anda pasti tidak akan rela, karena ajaran Agung mengatakan manusia diciptakan berpasang-pasangan, bukan bertiga-tigaan.apakah itu ajaran ALLAH apa ajaran Seitan???seitan datang melalui raga Muhammad dan memberikan ajaran yang bertentangan dengan ajaran kasih ALLAH, apakah surga harus ada makan dan minum???dan sex dan bidadari???mengapa muhammad mengatakan wanita menjadi bidadari di surga agar istri terus menjadi pelayan pria, dan istri muhammad menjadi kebingaran haus sex muhammad walau istri2 muhammad sedang sakit muhammad mengatakan istri wajib melayani suami karena akan menjadi bidadari, bukankah pikiran muhammad hanya sex,uang dan kekuasaan.

      edo said:
      11 Oktober 2014 pukul 17:16

      cerita lo gak ada di al-quran…lu bikin cerita karangan sendiri

    duleg said:
    15 Maret 2013 pukul 21:13

    Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa seorang Yahudi berkata ketika bertemu dengan Umar bin Khaththab: “Sesungguhnya Jibril yang disebut-sebut oleh shahabatmu itu (Rasululllah) adalah musuh kami.” Maka berkatalah Umar: “Barangsiapa yang memusuhi Allah, Malaikat-Nya, para Rasul-Nya, Jibril dan Mikail, sesungguhnya Allah memusuhinya.” Maka turunlah ayat ini (S. 2: 97, 98) bersesuaian dengan apa yang diucapkan Umar.
    (Diriwayatkan oleh Ibnu abi Hatim yang bersumber dari Abdurrahman bin Laila. Sumber ini saling menguatkan dengan yang lainnya.)

    Aku mau cari Allah yang mengasihi dan menyayangi siapapun di alam semesta ini. Ga mau ah kalo aku dekat sama Allah yg punya sifat memusuhi seperti kutipan riwayat di atas.

    Tidak sepantasnya manusia memberikan predikat negatif pada Allah.
    Pada setanpun Allah tidak memusuhi, kalau Allah memusuhi setan maka sejak setan mulai membangkang pasti sudah dibinasakan. Lantas kenapa Umar bin Khatab berani berkata seperti itu?

    Aku juga ingin ikut Nabi yang bisa mendoakan aku dan melindungiku serta memberiku jaminan keselamatan, bukan Nabi yang minta didoakan pengikut2nya.
    Dimanapun pemimpin yg kita anut haruslah yg bisa memberikan kita jaminan keselamatan .

      learnNlearn said:
      18 Juli 2016 pukul 00:37

      Jaminan Keselamatan Bagaimanakah..?? Keselamatan Lalu-Lintas..??

    RYE said:
    10 Juli 2013 pukul 16:01

    Ini yang buat Blog edan…Logika manusia gak akan mampu mencerna tp hati dan keyakinan kita sama allah SWT… ht2 bung anda berusaha menjelek2an Islam.. Anda ini apa belajar islam jangan dilihat dr satu sisi aja,

    klo anda berfikir menggunakan logika manusia,,, mana yang lebih bodoh !!!!
    Masa Tuhan mempunyai anak bahkan disama seperti mahluk ciptaannya…org gila ada manusia yang mengaku dirinya Tuhan

    “Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”.”

    “Mereka (orang-orang kafir) berkata: “Allah mempunyai anak”. Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”. Lalu jadilah ia.” (QS. Al-Baqarah: 116-117)

    “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)-nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maidah: 116-117)

    “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72)

    wahyudi said:
    9 Februari 2014 pukul 08:52

    BAGI YANG MAU BERPIKIR LOGIS TENTANG KEHIDUPAN, dan asal usul alam semesta seisinya, maka IMAN sungguh teruji .. apakah kita bagian dari yang taqwa kerna Allah atau yang INGKAR karena kemewahan dunia bak PERAWAN AYU YANG BERSOLEK !

      edo said:
      11 Oktober 2014 pukul 16:52

      dari judul di atas bukannya jawabannya sudah terjawab awal2. MEMPELAJARI AL-QURAN. kok pada pusing sih!!

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s