Inilah PENGGANTI ISLAM sebagai Agama Menurut Al-Qur’an!

Posted on Updated on

Karena kecewa menyaksikan orang-orang muslim yang menurutku kurang islami, aku mempertanyakan “Manakah Islam yang sebenarnya?” Dari sini, kemudian tiba-tiba aku mempertanyakan: “Apakah Islam agama sesat? Perlukah aku murtad?” Lalu terhadap pertanyaan ini, aku diberi saran yang sama oleh pihak yang hendak mencegahku murtad dan pihak yang berusaha membuatku murtad. (Lihat artikel ‘Aneh! Aku Diminta “Kembali ke Alquran” Supaya Murtad!‘)

Dini hari tadi, ketika aku merenung dalam rangka mengikuti saran mereka tersebut, aku merasa mendapat ilham dari Tuhan karena mendapat jawaban yang baru. Dengan kembali ke Al-Qur’an dan Al-Hadits, kutemukan agama pengganti Islam. Kini, sudah kutemukan tiga nama yang lebih baik dan lebih sempurna daripada Islam sebagai agama. Tiga nama itulah yang kini sedang kupertimbangkan sebagai nama agamaku yang baru. Dapatkah kau menebaknya?

Kurasa tidak. Aku sendiri sebelumnya tak menduganya, apalagi orang lain, bukan?

Dari perenungan kembali ke Alquran dan Alhadits itu, aku menjumpai 10 kenyataan sebagai berikut:

  1. Ayat “innad diina ‘indallaahil islaam” (QS Ali Imran: 19) kurang tepat bila diterjemahkan “sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam.” Sebab, kata din tidaklah identik dengan agama (religion), tetapi mencakup makna yang jauh lebih luas. (Lihat “Makna Kata Ad-Diin“.) Dengan demikian, sebagaimana istilah islam, mungkin akan lebih baik bila istilah din di ayat tersebut tidak diterjemahkan.
  2. Kata iman dan takwa disebutkan lebih dahulu daripada kata islam dalam ayat: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah [dengan] sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.(QS Ali Imran: 102)
  3. Firman Allah: “Janganlah kamu merasa lemah, jangan pula bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi [derajatnya] jika kamu beriman.” (QS Ali Imran: 139)
  4. Firman Allah: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan berkelompok/ kabilah supaya kamu saling ta’aruf. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS al-Hujurat: 13)
  5. Nama Islam pada saat ini mengandung citra buruk karena seringkali diidentikkan dengan terorisme atau kekerasan. Padahal, citra buruk itu mempersulit dakwah menuju jalan Allah.
  6. Citra buruk itu ibarat aurat; nama yang baik itu ibarat pakaian yang menutupi aurat. Sedangkan firman Allah: “Hai anak-anak Adam! Kami telah menyediakan pakaian bagi kamu untuk menutupi aurat dan sebagai perhiasan kamu. Tetapi pakaian berupa ketakwaan itulah yang lebih baik. Demikianlah diantara tanda-tanda Allah, supaya mereka terima sebagai peringatan. ” (QS al-A’raf: 26)
  7. Rukun Iman (kepada Allah, malaikat, rasul, kitab, takdir, akhirat) perlu lebih diutamakan daripada Rukun Islam (syahadat, shalat, puasa, zakat, haji). Dasarnya, “Bukanlah menghadapkan wajahmu [dalam shalat] ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, …” (QS al-Baqarah: 177)
  8. Penggunaan nama Islam mungkin telah mengakibatkan umat Nabi Muhammad mengagungkan Syariat. Padahal, “Aqidah [yang berkenaan dengan iman] adalah masalah pokok, sedangkan syari’ah [Islam] adalah perkara cabang.” Dan akidah itu perlu lebih diutamakan daripada syariat, sebagaimana Rukun Iman perlu lebih diprioritaskan daripada Rukun Islam. (Lihat artikel Dr. Yusuf al Qardhawy, “Prioritas Perkara Pokok atas Perkara Cabang“.)
  9. Istri-istri Nabi Muhammad di kalangan sahabat lebih populer dengan julukan ummul mu’minin (ibu orang-orang beriman), bukan ummul muslimin (ibu orang-orang Islam).
  10. Para khalifah pengganti Nabi Muhammad lebih dikenal dengan julukan amirul mu’minin (pemimpin orang-orang beriman), bukan amirul muslimin (pemimpin orang-orang Islam)

Atas dasar itu, tiga nama yang sedang kupertimbangkan sebagai nama agamaku yang baru adalah “Iman“, “Takwa”, dan “Iman Takwa”. Secara demikian, aku bukan keluar dari Islam, melainkan naik ke tingkat yang lebih tinggi daripada Islam, yaitu iman dan/atau takwa.

Demikianlah menurut pikiran polosku. Bagaimana menurut sampeyan? Manakah nama agama yang paling tepat? Mengapa?

Laman: 1 2 3

96 thoughts on “Inilah PENGGANTI ISLAM sebagai Agama Menurut Al-Qur’an!

    qifhan said:
    6 Oktober 2015 pukul 22:21

    Terlalu polos untuk menjadi manusia yang cerdas mas… kalo mau membicarakan hal yang berkualitas seperti ini kalo memang tujuannya baik,bikin grup pemikir aja.. nulis diblog kan beda-beda pembacanya.. ada yang gak baca langsung komen, ada yang baca tapi gak faham, ada yang faham tapi menutup kebenaran.. tergantung manusianya. Maaf saya yang terlalu polos dan tak tahu apa apa hehe

    Dety said:
    13 Oktober 2015 pukul 06:46

    kalau beragama landasannya menurut saya, menurut pemikiran saya tetapi dari sisi keilmuan anda tidak mumpuni maka akan berbahaya, kalau ada 100 orang yg seperti anda maka akan ada nama nama baru agama yang kurang lebih berjumlah 100 juga .

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s