Aneh! Ngakunya muslim, tapi tidak beriman kepada Al-Qur’an!

Posted on Updated on

Benarkah kita beriman kepada Al-Qur’an dan bukan kepada terjemah/tafsirnya? Ini saja pertanyaanku. Berdasarkan saran mas agor, kata-kataku di bawah ini kucabut dan mohon dianggap tidak ada!

Ketika aku tunjukkan beberapa nama pengganti Islam sebagai agama menurut Al-Qur’an (dan Al-Hadits), sejumlah muslim menolaknya berdasarkan terjemahan Al-Qur’an: “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam.” Aneh! Mereka lebih beriman kepada terjemahan Al-Qur’an daripada kepada Al-Qur’an itu sendiri.

Kalau mereka sungguh-sungguh beriman kepada Al-Qur’an, mestinya mereka memeriksa Al-Qur’an (dan bukan sekadar mengajukan terjemahannya), apakah memang ada nama-nama selain islam sebagai agama menurut Al-Qur’an. Apa pun kata Al-Qur’an, termasuk nama-nama selain islam sebagai agama, mestinya kita menerimanya, bukan?

Sementara itu, ada pula sejumlah muslim yang “memerangi” muslim lain hanya karena tafsirannya berbeda dengan tafsiran mereka. Ini menunjukkan, mereka lebih beriman kepada tafsiran mereka terhadap Al-Qur’an daripada kepada Al-Qur’an itu sendiri.

Kalau kita sungguh-sungguh beriman kepada Al-Qur’an (dan bukan kepada tafsirnya atau apalagi terjemahnya), mestinya kita menyadari bahwa Allah sajalah yang Mahatahu mengenai apa yang sebenarnya Dia maksudkan dengan firman-firmanNya dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, daripada takabur dengan merasa diri paling benar, marilah kita berserah diri setotal-totalnya kepada Sang Mahatahu!

22 thoughts on “Aneh! Ngakunya muslim, tapi tidak beriman kepada Al-Qur’an!

    حَنِيفًا said:
    6 Agustus 2010 pukul 17:01

    @Mas M. Konyol Mustika😀
    Sampean ini memper masalahken kata “Diin”.. lalu sampean mengotak-atik kata “ISLAM”… hehehe, saya mau tanya diin sampean apa ?!

      M Shodiq Mustika responded:
      6 Agustus 2010 pukul 17:13

      @ mas agor
      @ mas haniifa

      Posisi saya saat ini adalah terbuka terhadap hikmah dari mana pun, termasuk dari mas agor dan mas haniifa.
      Maaf, pertanyaan-pertanyaan terkini dari mas haniifa tidak saya jawab. Sebab, selain diam (tidak menjawab), saya tidak tahu lagi bagaimana caranya menghindari debat kusir di antara kita lantaran perbedaan sudut pandang.
      Daripada saya, mas agor lebih tepat untuk berdiskusi dengan mas haniifa. Jadi, silakan mas haniifa lanjutkan diskusinya dengan mas agor.
      Terima kasih. Wassalam..

        حَنِيفًا said:
        6 Agustus 2010 pukul 17:18

        Mohon maaf @Mas Shodiq, bisa sampean jawab nggak pertanyaan sayah… kalau tidak bisa jawab, tutup ajah blog-nya ….
        Lucu… baru dikasih satu pertanyaan oleh satu orang sudah nyebut debat kusir…

        Sampean ini nggaku Muslim tapi loyo……. hehehe

          M Shodiq Mustika responded:
          6 Agustus 2010 pukul 17:30

          @ haniifa
          Ya, saya maafkan.

          Saya tidak mengatakan bahwa “sudah ada debat kusir” antara kita. Yang saya katakan adalah “menghindari debat kusir”.
          Pertanyaan akhi di artikel ini memang baru satu, tapi di artikel2 terdahulu yang relevan dengan artikel ini, yang akhi pertanyakan sudah banyak.

          Kalau akhi mau memberi saya hikmah atau tausiyah, silakan. Tapi kalau mau bertanya-tanya atau mau berdiskusi, silakan dengan Mas Agor saja.
          Sekian dan terima kasih. Wassalam.

    agorsiloku said:
    6 Agustus 2010 pukul 17:31

    😀
    Mas Shodiq, saya kok merasa “aneh” dengan postingan ini. Sungguh !. Tidak biasanya lho

      M Shodiq Mustika responded:
      6 Agustus 2010 pukul 17:40

      @ agorsiloku
      Anehnya di mana, ya? Apakah terlalu keras? Bisa beri petunjuk supaya lebih lembut?
      Atau yang lain? Silakan beri tausiyah kepada saya.

    agorsiloku said:
    6 Agustus 2010 pukul 17:49

    Ya… betul Mas.. terlalu keras untuk saya, saya khawatir kita tidak mendapatkan hikmahnya, malah menimbulkan perasaan tidak enak di hati… Alangkah ruginya kalau saya kalau ini terjadi.
    Di dalam arena berpikir saya, dipahami manapun Diin, esensinya akan sama. Jadi malah saya bingung, memang ada apa ya di balik pemikiran ini. Dalam komentar saya, malah saya tidak mau membahas sama sekali, karena saya tidak berhasil menemukan signifikan perbedaannya yang membuat kita harus berbeda pemahaman, mau dari bahasa dari suku Arab aslinya atau dari sisi bahasa terjemahan manapun. Tidak ada yang merisaukan, untuk ummat untuk pengertian ini.
    Sekali lagi, maaf ya Mas Shodiq, terlalu dangkal pengetahuan saya tentang ini. Jangan ambil hati ya…

      M Shodiq Mustika responded:
      6 Agustus 2010 pukul 18:04

      @ agor
      Oke. Saya mengerti. Nanti saya pikirkan bagaimana caranya menyampaikan kritikan seperti di atas itu secara tidak terlalu keras.
      Memang benar bahwa kritikan yang terlalu keras justru membuat orang yang kita kritik menjauh, sehingga kita tidak mendapatkan hikmahnya.
      Terima kasih.

    agorsiloku said:
    6 Agustus 2010 pukul 18:30

    Segala puji, bagi Allah. Dicoret kata lebih beriman pada terjemahan dari pada Al Qur’an sendiri dan seterusnya. Kasihan saya dan rekan-rekan yang tidak mengerti bahasa aslinya dan sehari-hari memahami AQ dari apa yang para ahli terjemahkan ke dalam bahasa ibu mereka, menjadi tidak dianggap beriman karena tidak bisa berbahasa arab, apalagi bahasa “arab gundulnya”, apalagi dialek aslinya…. Karena saya akan merasa sangat berduka, digolongkan sebagai orang tidak beriman karena memahami dari tafsir tarjamah juga, bukan dari bahasa leluhurnya.

    Terimakasih Mas Shodiq untuk pengertiannya. Terimakasih pula untuk kesediaan mencoret bagian di akhir kalimat, merasa takabur dan paling benar.

    Semoga saya, dan semuanya dijauhkan dari asa takabur dan paling benar.

    boni said:
    7 Agustus 2010 pukul 13:35

    @ admin

    maaf…kalau saya boleh koment, kayaknya malah anda membuat pemahaman baru lagi nieh..!!! ..itu kalau menurut pandangan saya…! (maaf)
    Kalau boleh saya tahu menurut anda, muslim yang beriman kepada AL’QURAN,harusnya bagaimana…?…

      M Shodiq Mustika responded:
      7 Agustus 2010 pukul 15:10

      @ boni
      Terima kasih atas komentar & pertanyaannya.
      Yang saya kemukakan itu bukanlah suatu pemahaman yang baru. Lihat Membaca terjemahan Al-Qur’an tidak berpahala?

        boni said:
        8 Agustus 2010 pukul 01:15

        @ M Shodiq

        Kalu menurut saya itu pemahaman baru…kalau menurut anda tidak…ya itu hak anda …?!!!?..bagaimana kita akan mengerjakan yang di perintahkan AllaH…kalau kita tidak tahu apa arti dari ayat itu…?…untuk bisa mengerjakan maka selain tahu baca maka kita pun harus melihat(membaca) terjemahannya…????…agar apa yang di maksud dari ayat2 dalam ALQURAN bisa kita laksanakan,karena dengan membaca terjemahannya maka pasti kita akan lebih paham(ini bagi orang2 di luar bangsa arab).
        Jadi kalau menurut saudara bahwa membaca terjemahan Alquran tidak berpahala bagi saya itu kesalahan mas..??.. bagi saya termasuk berpahala apabila membaca terjemahan(Alquran), sebabnya seperti penjelasan saya di atas tadi.

    SOLIM HARAHAP said:
    11 Agustus 2010 pukul 09:57

    udah di baca blum mas shidiq berita yg kukirim! …

    http://trulyislam.blogspot.com/2009/01/kehancuran-islam-telah-tiba.html
    baca ini mas lalu liat ja yg paling bawah ” BERANDA “!!

    coba anda ikutin ceritanya!lalu sesuai kan dgn kehidupan skrg ini, dan sesuaikan dgn ciptaan sang khalik, kita diciptakn Otak,pikiran,hati, dan naluri utk digunakan, pake akal sehat, krna kita TUHAN membuat itu ada pada kita spya kita pakai thanx
    coba dipahamin

    […] Meski demikian, Nasaruddin Umar juga meminta para ulama tidak memonopoli penafsiran Al Qur’an. ”Jangan karena merasa diri menguasai Bahasa Arab lalu kita memonopoli Al Qur’an,” pesannya. Menurut Nasaruddin Umar, yang paling pertama harus dilakukan untuk membangun karakter bangsa yang berlandaskan nilai Qurani adalah dengan memahami ulang Al Qur’an. […]

    Najieb said:
    30 November 2010 pukul 09:43

    Menurut saya nih,
    justru yang baca quran ga ngerti karena bahasa Arab, itu yang tidak akan dapat pahala ???

      Seminar Bandung said:
      8 Februari 2011 pukul 17:59

      Hmmh,, itu tetap mendapatkan pahala,, yang membacanya,, kalau kita mengkaji nya juga mendapat pahala,,, langkah selanjutnya adalah mengamalkan al-quran.

    dony said:
    10 Februari 2012 pukul 14:22

    wahai anak cucu adam kenapa kalian selalu berbantah – bantahan apalagi mengenai ..diin. sudah hebatkah diri kalian masing-masing . sehingga kalian berbantah- bantahan. tentang diin, bukankah nabi Muhammad SAW sudah mengatakan, sepeninggalku nanti akan ada 72 golongan. hanya satu golongan yang masuk surga, selebihnya masuk neraka. pernahkah kalian berfikir dimana posisi kalian… dari pada sok tahu, pura-pura tahu, baru tahu sedikir udah merasa banyak mengetahui . lebih baik selamat kan diri kita. banyaklah bertafakur, shujut, melakukan amalan-amalan yang baik. mudah-mudahan kita termasuk dalam satu golongan penghuni surga…

    wassallam.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s