Membaca terjemahan Al-Qur’an tidak berpahala?

Posted on Updated on

Jangan Hanya Memahami Al Qur’an dari Terjemahan

Harian Republika, Senin, 31 Juli 2006

Kalau pemahaman hanya berdasarkan terjemahan, jangan mudah menyalahkan orang lain.

KENDARI — Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al Qur’an (PTIQ), Nasaruddin Umar, menilai saat ini banyak masyarakat yang merasa tahu Al Qur’an dengan hanya berlandaskan pada terjemahan Al Qur’an dalam Bahasa Indonesia. Padahal, kata dia, pemahaman seperti itu berpotensi menimbulkan kesalahan penafsiran…

Salah penafsiran dan kekeliruan pemahaman akibat hanya bersandar pada Al Qur’an terjemahan itu, kata Nasaruddin Umar, bisa terjadi akibat kelemahan kosakata Bahasa Indonesia. Satu kata dalam Al Qur’an, kata dia, bisa memiliki banyak arti yang tidak semuanya bisa diartikan ke dalam Bahasa Indonesia. ”Kalau pengetahuan kita hanya berdasar terjemahan, janganlah kita bersikap angkuh dan mudah menyalahkan pendapat orang lain. Apalagi jika yang disalahkan adalah ulama yang menguasai Bahasa Arab,” Nasaruddin Umar mengingatkan.

Meski demikian, Nasaruddin Umar juga meminta para ulama tidak memonopoli penafsiran Al Qur’an. ”Jangan karena merasa diri menguasai Bahasa Arab lalu kita memonopoli Al Qur’an,” pesannya. Menurut Nasaruddin Umar, yang paling pertama harus dilakukan untuk membangun karakter bangsa yang berlandaskan nilai Qurani adalah dengan memahami ulang Al Qur’an.

Peringatan

http://www.bicarasufi.com/bscweb/Quran/quran-base.html

Al-Quran tetap Al-Quran.
Terjemahan adalah cuma terjemahan.

Jangan disamakan Al-Quran dengan terjemahan.

Firman Allah s.w.t pada Surah Yusoff, ayat 2 :

yang diterjemahankan ke dalam Bahasa Melayu kepada:

Sesungguhnya Kami menurunkan kitab itu sebagai Quran yang dibaca dengan bahasa Arab, supaya kamu (menggunakan akal untuk) memahaminya.

Justeru, yang dibaca dalam Bahasa Melayu itu adalah terjemahan erti yang paling dekat dan sesuai untuk umum kepada maksud Al-Quran yang sebenar dan bukan Al-Quran itu sendiri.

Ahmad Sarwat: “Terjemahan itu sama sekali bukan Al-Quran”

http://www.ustsarwat.com/search.php?id=1213090888

Anda boleh saja membaca terjemahan Al-Quran, kalau memang anda tidak mampu mengeja tulisan arab, atau kalau anda tidak paham bahasa Arab.

Memang terjemahan itu dibuat untuk membantu orang-orang yang buta bahasa Arab, untuk mengetahui sedikit sekali tentang isi kandungan yang terdapat dalam suatu ayat.

Kok sedikit sekali?

Ya, terjemahan itu adalah informasi yang bersifat darurat, sekedar untuk mengatasi masalah dari pada tidak paham sama sekali.

Tetapi jangan sekali-kali berpikir bahwa terjemahan itu adalah Al-Quran itu sendiri. Tidak, terjemahan itu sama sekali bukan Al-Quran. Terjemahan adalah sekedar interpretasi para penerjemah tentang apa yang mereka pahami dari ayat Quran.

Dan secara hukum, terjemahan itu bukanlah ayat Al-Quran. Sehingga kalau dibaca tidak mendatangkan pahala. [Pahala yang didapatkan adalah pahala membaca terjemah Al-Qur’an, bukan pahala membaca al-Qur’an.] Terjemahan itu juga buka mukjizat yang turun kepada Rasulullah SAW. Terjemahan itu sama sekali tidak mengandung kekuatan bahasa, balaghah, dan juga hukum syariah.

Terjemahan Al-Quran tidak lain hanyalah sandi atau morse yang digunakan dalam keadaan darurat saja. Informasi yang terkandung di dalam terjemahan tentu sangat terbatas dan fungsinya sangat minim.

Berbeda dengan teks asli Al-Quran dalam bahasa Arab. Teks itu sendiri adalah mukjizat, karena asalnya dari lauhil mahfuz di langit sana. Turun secara berangsur-angsur selama 23 tahun dengan tidak berarturan awal dan akhirnya.

Dibawa oleh malaikat yang palig mulia, yaitu Jibril alaihissalam. Disampaikan kepada nabi yang paling mulia, yaitu Muhammad SAW. Dan ditalqinkan kepada para shahabat beliau yang umumnya juga langsung menghafalnya. Dan diriwayatkan secara mutawatir dari generasi ke generasi hingga sampai ke generasi kita. Dihafal oleh orang berjuta di luar kepala.

Yang dibawa itu bukan teks yang terdiri dari huruf-huruf, melainkna suaranya. Kira-kira seperti file mp3, bukan doc atau txt.

Jangankan membacanya, mendengarkan lantunan ayat Quran aslinya itu saja sudah memberikan pahala. Bahkan saat mendengarkan, kita wajib memperhatikan, tidak boleh berisik atau ngobrol sendiri. Kalau kita bunyikan dengan mulut kita, maka tiap hurufnya akan diganjar dengan satu kebajikan yang lalu dilipat-gandakan menjadi sepuluh kali lipatnya.

Sehingga begitu kita mengucapkan lafadz alif laam miim, kita sudah mendapat pahala 30 kali. Dan itulah Al-Quran dalam bahasa aslinya.

Paham atau tidak paham, Al-Quran itu bacaan mukjizat. Apalagi kalau dibaca dan paham, maka tentunya keutamaannya akan berkali lipat.

Alangkah menyedihkan kalau kita menyaksikan ada orang mengaku muslim, lahir dari keluarga muslim, KTP-ya tertulis beragama Islam, tetapi lidahnya kelu tidak bisa mengucapkan ayat-ayat Al-Quran. Ini merupakan malapetaka terbesar dalam sejarah. Mengaku muslim tapi tidak bisa membaca Al-Quran.

Lalu berlari kepada terjemahan dengan alasan bahwa berpegang kepada Al-Quran itu kan yang penting paham, bukan bagaimana membaca. La haula wala quwwata illa billah.

Dosa apa yang menimpa umat ini sampai bisa lahir generasi yang anti dengan Al-Quran seperti ini? Dosa apa yang dilakukan oleh orang tua kita sampai punya anak yang sampai tua pun tidak mau belajar membaca Al-Quran?

Sebegitu jahatkah Al-Quran sehingga sejak kecil sampai kakek-kakek, kita masih membencinya dan tidak punya waktu untuk belajar membacanya?

Apa dosa Al-Quran kepada kita sehingga kita sebegitu tega menjauhinya, anti pati untuk bisa melafazkannya, tidak punya keinginan untuk menghafalnya?

Bukankah nanti di alam barzakh yang dingin dan gelap serta penuh siksa itu, justru Al-Quran lah yang akan menjadi pemberi syafaat buat orang yang membacanya? Tentu yang membaca lafadznya dalam bahasa arab, bukan yang membaca terjemahannya.

66 thoughts on “Membaca terjemahan Al-Qur’an tidak berpahala?

    agorsiloku said:
    7 Agustus 2010 pukul 15:59

    😀 catatan menarik !

    agorsiloku said:
    7 Agustus 2010 pukul 16:29

    Bukankah nanti di alam barzakh yang dingin dan gelap serta penuh siksa itu, justru Al-Quran lah yang akan menjadi pemberi syafaat buat orang yang membacanya? Tentu yang membaca lafadznya dalam bahasa arab, bukan yang membaca terjemahannya.
    (Ini catatan terakhir, sejumlah pembahasan, di surgapun kelak hanya ada bahasa Arab).

    Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para ahli bahasa Arab (khususnya bahasa Al Qur’an) dan sekaligus ahli bahasa Ibu.

    Betapa malangnya pula yang memberikan penerjemahan bahasa Al Qur’an, karena membuat mereka menjadi tidak beriman, karena tidak akan beriman seseorang yang tidak menguasai bahasa Arab, cuma bisa membaca AQ tanpa mengerti isinya…..

    Namun, lebih malang lagi orang-orang beragama, tapi tidak pernah mengecap pendidikan sampai masa usia tuanya.

    (jangan dikomentari lagi), dihapuspun tidak apa-apa.

      M Shodiq Mustika responded:
      7 Agustus 2010 pukul 19:31

      @ agorsiloku
      Maaf, saya tidak menghapus komentar mas agor, tetapi justru mengomentarinya.
      Komentar saya:

      Konteks artikel saya ini adalah sebagai tanggapan terhadap komentar sdr. boni di artikel terdahulu yang menduga saya “membuat pemahaman baru”.

      Pada artikel di atas, saya mengemukakan kutipan dari tiga sumber dari tiga kelompok kaum mukminin yang berbeda. Pertama dari “kontekstualis”, kedua dari “sufi”, dan ketiga dari “tekstualis”. Diantara ketiga kelompok ini, kelompok ketigalah yang cenderung menuding dua kelompok lainnya “membuat pemahaman baru”. Karena itulah sumber dari kelompok ketiga ini saya masukkan ke artikel di atas untuk meyakinkan sdr. boni (dan kalangan tekstualis) bahwa saya TIDAK “membuat pemahaman baru”.

      Sungguhpun demikian, seperti mas agor, saya juga merasa bahwa suara dari ust. Ahmad Sarwat (yang mewakili kelompok “tekstualis”) terlalu keras. Karena itulah, sebelum saya sampaikan suaranya, saya sampaikan lebih dahulu suara dari kelompok lain yang agak lebih lembut (walau tetap berpemahaman bahwa terjemahan Alquran tidaklah identik dengan Alquran itu sendiri).

      Posisi saya, sebagaimana biasanya, adalah mendorong kita semua untuk tidak secara mentah-mentah menerima (atau pun menolak) segala pengetahuan yang kita terima. Adanya komentar dari mas agor di atas menunjukkan bahwa tujuan saya dengan artikel ini telah tercapai. Inilah sebabnya mengapa saya tidak menghapus komentar mas agor ini. Bahkan, saya justru berterima kasih. Seandainya komentar dari mas agor ini tidak muncul dan tidak ada orang lain yang mengatakan hal yang seperti itu, maka mungkin saya akan “menodong” mas agor untuk menuliskannya.🙂

      Dan Allah sajalah yang Mahatahu.

        حَنِيفًا said:
        8 Agustus 2010 pukul 08:09

        @Mas M. Shodiq Mustika
        Dan Allah sajalah yang Mahatahu.
        Apa pendapat sampean jika saya yakin setelah membaca terjemaah ini ?!
        Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. (QS 99:7)

        Ngapain sampean ngeblog, kan tidak dapat pahala tuh… hehehe….

        Bukankah nanti di alam barzakh yang dingin dan gelap serta penuh siksa itu, justru Al-Quran lah yang akan menjadi pemberi syafaat buat orang yang membacanya? Tentu yang membaca lafadznya dalam bahasa arab, bukan yang membaca terjemahannya.

        @Haniifa : Dasar Ahlul kitab idiot…

        Sampean gunakan ayat ini (QS 43:3) , untuk mengelabui umat ISLAM ?!

        Bawa konco-konco sampean yang paling fasih bahasa Arab dan sayah tunggu komentarnya disinih,… itupun kalau sampean berani.
        http://haniifa.wordpress.com/2009/11/30/mujizat-muhammad/

        Astaghfirullah…

          M Shodiq Mustika responded:
          8 Agustus 2010 pukul 09:30

          @ haniifa
          Untuk berdiskusi dengan mas haniifa, cukuplah saya “bawa” mas agorsiloku. Saya tidak tahu apakah beliau fasih bahasa Arab, tetapi saya yakin bahwa sudut pandang beliau itu dekat dengan sudut pandang akhi. Itu sudah cukup. Jadi, silakan lanjutkan diskusinya dengan mas agor.

            "Pembunuh Missionaris" said:
            13 April 2011 pukul 14:30

            Nge-leesss Om..

            Jangan hnya menulis artikel doang Pak..

            Klo Anda memang betul, knapa Takut di ajak diskusi??

            apa takut gk bisa jawab??

            Nevo said:
            25 April 2013 pukul 20:10

            Maaf saya ikut nimbrung ya Hanifa & M Shodiq Mustika, nama saya Nevo domisili di kota Yogyasaya bersedia untuk ikut diskusi guna membahas permasalahan diatas maupun bahasan lainnya, tapi langsung ketemuan (bertemu langsung) , kapan bisa direalisasikan ini no. hp saya 0817278663

        ilham aulia said:
        1 November 2015 pukul 17:27

        Jangan berdebat???
        Al quran, di baca, di pahami, lalu dijalani, itulah yang benar, masuklah islam secara kaffah..

      purnawira said:
      29 Agustus 2010 pukul 12:39

      inilah gobloknya umat islam.ngoceh ga ada juntrungannya.

        mualaf said:
        15 Agustus 2014 pukul 21:48

        itulah gobloknya orang yang mengumpat. kata umat itu bisa berarti seluruh penganut, kalo penganut islam dikatakan suka mengoceh ga ada juntrungannya, berarti tidak ada kebaikan di dunia ini. Itu krn umat lainnya tidak hanya mengoceh, tapi de el el juga (sensor)!

      rudi said:
      17 November 2015 pukul 09:12

      nga’ akan selesai….
      semua udah pinter….

    someone said:
    7 Agustus 2010 pukul 17:04

    Berarti Al-Qur’an dikhususkan untuk orang arab saja dan yang bisa bahasa arab. Padahal Al Quran bersifat universal buat siapa yang mengimaninya. Alangkah naifnya kalo kita berpendapat hanya yang bisa berbahasa arablah yang mendapat pahala, bagaimana dengan orang yang tidak menguasai bahasa arab? Apalah artinya bisa membaca Al Quran tapi tidak mengetahui arti dan maknanya.

      M Shodiq Mustika responded:
      7 Agustus 2010 pukul 19:39

      @ someone
      Pertanyaan anda bagus.🙂 Pertanyaan serupa bisa diajukan mengenai shalat: mengapa (menurut MUI dan hampir semua ulama lainnya) shalat hanya boleh dilakukan dengan bahasa Arab. Semoga para ulama itu dapat menyampaikan jawaban yang “masuk akal” bagi kita.

        peter said:
        1 Februari 2013 pukul 23:36

        @ M Shodiq Mustika
        Untuk yang belum bisa membaca huruf Arab udah ada translasi ke tulisan latin, adanya terjemahan untuk membantu pemahaman arti kandungan ayat dalam Al-Quran…

        mualaf said:
        15 Agustus 2014 pukul 21:57

        Sodara ‘someone’ maaf, kira2 ada pertanyaan yg lebih berbobot tidak!? Saya perlu bertanya seperti itu, krn Alquran dan sunnah Nabi itu bisa menjawab semua persoalan hidup dan mati manusia, anda tinggal membacanya, pasti menemukan jawabannya. Jadi tolong tanyakan dengan pertanyaan yg belum ada jawabannya di kedua kitab itu ya!

      manusia said:
      14 Oktober 2013 pukul 17:25

      I agree with you on this. Plus, which ayah actually says when we recite the quran in arabic, we will be granted with pahala? None, i believe. Allah itu maha adil.

      punto dewo said:
      20 Agustus 2014 pukul 06:33

      Makanya aku ingin keluar dari islam

    Yari N K said:
    10 Agustus 2010 pukul 07:13

    Saya setuju kalau dikatakan bahwa membaca al-Qur’an dalam bahasa atau lafadz Arab lebih berpahala daripada terjemahan ataupun tafsirannya, dengan catatan tentu ia mengerti apa yang dibacanya.

    Saya juga setuju bahwa dalam Bahasa Arab banyak kata-kata yang tidak ada padanan katanya dalam Bahasa Indonesia, namun begitu bukan berarti Bahasa Arab lebih unggul daripada Bahasa Indonesia ataupun bahasa2 lainnya karena dalam banyak hal Bahasa Indonesiapun mempunyai banyak kata-kata yang tidak ada padanannya dalam Bahasa Arab. Apalagi kata-kata dalam Bahasa Inggris, banyak yang tidak ada padanannya dalam Bahasa Arab.

    Nah, walaupun begitu biarpun suatu kata mungkin tidak ada padanannya dalam bahasa lainnya, namun untuk menjadikan sebuah kata tersebut valid, kata tersebut harus mempunyai definisi, kalau tidak maka kata tersebut adalah kata yang tidak sah. Dan definisi inilah yang bisa diartikan secara universal ke dalam bahasa-bahasa lain secara baik. Lagipula jikalau ada sebuah kata dalam Bahasa Arab yang tidak bisa didefinisikan, misalnya, maka kata tersebut tetaplah merupakan kata tafsiran yang tidak ada bedanya dengan tafsiran menggunakan bahasa2 lainnya….😉

      M Shodiq Mustika responded:
      10 Agustus 2010 pukul 08:51

      @ Yari NK
      Subhaanallaah… Bagus sekali masukannya. Terima kasih.
      Saya cuma mau tanya satu saja. Mas Yari bilang, “Lagipula jikalau ada sebuah kata dalam Bahasa Arab yang tidak bisa didefinisikan, misalnya, maka kata tersebut tetaplah merupakan kata tafsiran yang tidak ada bedanya dengan tafsiran menggunakan bahasa2 lainnya.” Bagaimana dengan istilah diin dan agama? Lihat https://muhshodiq.wordpress.com/2010/08/03/sebagai-pengganti-islam-tiga-nama-sedang-kupertimbangkan/

        Yari N K said:
        10 Agustus 2010 pukul 14:38

        Nah… mengenai kata diin (دين )tentu kita harus mengetahui secara tepat definisinya. Dari artikel yang ada buat, anda sudah menjabarkan arti kata diin secara komprehensif. Menurut saya, definisi tersebut cukup tepat dan saya juga tidak heran karena mungkin saja kata diin tersebut (kata tersebut mungkin sudah ada jauh sebelum agama Islam ada) telah mengalami perluasan sehingga menjadi kata dengan definisi yang ada pada artikel anda tersebut, atau bisa saja sebuah kata berkembang karena sebuah penafsiran yang berbeda dari seseorang atau sekelompok orang yang kemudian menjadi populer. Hal tersebut juga bisa saja terjadi dengan kata “agama” yang ada pada bahasa kita ataupun kata-kata lainnya.

        Namun begitu, saya tidak mempersoalkan apakah definisi diin pada artikel anda tersebut benar atau salah. Yang saya ingin katakan di sini adalah andaikan kata “diin” tersebut telah dapat kita definisikan dengan baik (seperti definisi yang anda tuliskan di artikel anda), maka tidak menjadi persoalan serius apakah kita mengertinya dari bahasa Arabnya langsung ataupun melalui terjemahannya (sekali lagi: asal definisinya tepat!), kalau perlu kita serap aja kata “diin” menjadi Bahasa Indonesia (misalnya) biar kita tidak keliru menafsirkannya dengan kata “agama”, seperti Bahasa Arab yang menyerap kata “هيدروجين” untuk hidrogen karena dalam Bahasa Arab nggak ada padanan katanya untuk hidrogen (ini hanya contoh saja, dan sebagai catatan Bahasa Indonesiapun juga menyerap kata hidrogen ini dari bahasa asing).🙂

          M Shodiq Mustika responded:
          11 Agustus 2010 pukul 02:36

          @ Yari N K
          Ya, saya mengerti dan sepakat dengan pandangan mas Yari. Dengan demikian, kita bisa menjalankan dua alternatif sekaligus:
          1) tetap menerjemahkan kata “diin” sebagai “agama”, asalkan ditegaskan bahwa makna “agama” itu lebih dari sekadar “hubungan manusia dengan Tuhannya” (sebagaimana yang dipahami oleh orang2 sekarang pada umumnya), melainkan “hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan manusia lain, dan dengan makhluk lainnya, melalui kekuasaan, ketundukan, aturan, dan pembalasan yang adil
          2) menyerap kata “diin” ke dalam bahasa Indonesia (tanpa diterjemahkan) supaya lebih mudah dipahami bahwa makna “diin” itu lebih dari sekadar “agama” (sebagaimana yang dipahami oleh orang2 sekarang pada umumnya).🙂🙂

    […] ← Membaca terjemahan Al-Qur’an tidak berpahala? Mampukah kita memahami Al-Qur’an (dan kitab lainnya)? […]

    cepot said:
    14 Agustus 2010 pukul 21:32

    Mas didunia ini tidak ada manusia yang sempurna, termasuk SAMPEYAN. anda tidak bisa menyalahkan orang tua, menyalahkan al-qur’an dan anda tidak bisa memfonis kalau yang tidak bisa bahasa arab lantas tidak mendapat pahala, anda sudah mendahului kekuasaan ALLAH SWT. Ingat ALLAH MAHA MENGETAHUI maksud tujuan umatnya, walaupun ia membaca Al-qur’an dalam terjemahannya. Yang PENTING disini orang tersebut mau belajar membacanya, dengan niat seperti itupun Insya Allah dia mendapat pahala, saya pikir blog SAMPEYAN kurang bermanfaat karena menyudutkan kaum yang kurang paham tentang Al-qur’an. Ma’af serahkan saja semua itu pada ALLAH SWT untuk menilainya jangan anda yang memfonisnya, anda bukan siapa-siapa di muka bumi ini…..

      M Shodiq Mustika responded:
      15 Agustus 2010 pukul 05:52

      @ cepot
      Anda salah paham.
      Yang mengatakan “membaca terjemahan Alquran tidak berpahala” adalah ust. Ahmad Sarwat. Kalau Anda menganggapnya salah, silakan mendakwahi beliau.
      Yang saya katakan adalah bahwa pahala membaca terjemah Al-Qur’an tidaklah sama dengan pahala membaca Al-Qur’an. Untuk penjelasan lebih lanjut, silakan simak https://muhshodiq.wordpress.com/2010/08/08/amal-manakah-yang-lebih-utama-membaca-al-quran-ataukah-membaca-terjemahan-al-quran/

      mualaf said:
      15 Agustus 2014 pukul 22:11

      ada sebuah hadist yg meririwayatkan, Nabi bercerita jika amalan baik seluruh manusia dan dirinya disatukan, itu pun belum cukup untuk ditukar dengan tiket masuk surga. Yang saya pahami, hal tersebut dikarenakan, amalan2 baik seluruh manusia tsb. tidak akan menambah kebesaran Allah sedikitpun. Dengan kata lain, cukup ridha Ilahi lah yg bisa menghantar individu manusia masuk ke surganya. Bisa jadi amalan baik nulungin kucing masuk air, ato buang satu paku di jalanan juga bisa menghantar manusia islam masuk surga, dan tidak mencicipin neraka sekejappun walau org tsb. tidak pernah baca qur’an dan sholat seumur hidupnya. Walahualam.

    Antonym said:
    2 September 2010 pukul 21:28

    sudah2 jangan pada saling menyalahkan…
    yang terpenting kita ambil yang terbaiknya saja.
    mampu atau tidak mampunya seseorang dalam menguasai Al-Quran secara tafsiran dalam bahasa arab ataupun terjemahannya itu tergantung dari kemampuan individu itu sendiri.
    Manusia diciptakan dengan kemampuannya masing-masing
    tapi ya tidak ada salahnya jika di latih… ya toh..? =)

    by junior man.

    syifa aulia said:
    4 Desember 2010 pukul 00:43

    Assalammu’alaikum wr.wb
    sukron atas artikelnya.
    tapi ada sesuatu yg menggelitik saya
    1. belajar bahasa arab yg baik..biar kalau baca al-qur’an ndak perlu terjemahan ^^
    2. membaca terjemahan (bila masih blm bisa) dan yang paling terpenting adalah “MENGAMALKAN KANDUNGAN AL-QUR’AN
    3. ndak perlu ngeributin masalah pahala, itu urusan Alloh SWT,yg ptg perintahNYA membaca al-qur’an (krn pecinta Al-qur’an punya surga,), dan niatnya jgn cari pahala tapi Ridho Alloh SWT
    wallahu a’lam bishshowab ^^
    mari saling mencerahkan…

      hamba Allah said:
      20 September 2011 pukul 11:59

      komentar yang cantik… secantik namanya

    sedolf said:
    12 Juni 2011 pukul 22:33

    wah saya dpt tambahan ilmu gratis ni,… hehehe

    Thalut said:
    23 Juli 2011 pukul 21:04

    kalau menurut saya sih, Terjemahan Al Qur’an sebenarnya memang IDENTIK dengan Al Qur’an itu sendiri… ^_^
    Buktinya:
    *Ketika saya memperhatikan makna/maksud dari ayat2 Al Qur’an melalui terjemahannya pun rasanya apa yang terdapat di dalamnya memang benar2 identik dgn Al Qur’an (bhs. Arab) itu sendiri. yang berbeda hanyalah bahasanya, isinya tetap SAMA. Allah pun telah
    berjanji akan menjaga kemurnian Alquran. Mula2
    Alquran diturunkan dalam bahasa Arab, itu karena Rasul adalah orang Arab.
    Di dalam Al Qur’an (terjemahan) pun terdapat unsur2/ajaran sebagaimana yang disampaikan oleh ayat2 di dalam bhs aslinya.
    Diantaranya:
    1. Hukum2 (perintah & larangan)
    2. Kisah2 teladan (para nabi/rasul, sholihin, dsb)
    3. Nasihat
    4. Nubuwat
    5. Peristiwa2 kehidupan Rasul
    (tahun gajah, perang badar,dll)
    6. Perumpamaan
    7. Perihal keadaan surga dan neraka
    8. Pemberitahuan tentang pahala (bagi orang mukmin) dan azab (bagi orang kafir)
    9. Al Asmaulhusna
    10. Dan masih banyak lagi hal2 pokok ajaran lainnya…

    Daripada orang2 yang membanggakan dirinya hafal seluruh Alquran (bhs. Arab),
    akan tetapi ternyata mereka tidak mengetahui isinya…😦
    Artinya, selama ini mereka hanya mampu membaca tanpa tahu artinya… Yaa percuma saja… ‘kan tujuan Allah SWT menurunkan ‘Al Furqaan’ itu sebagai pedoman bagi keselamatan manusia di dunia dan di akhirat. Lantas, kalau tdk tahu isinya bagaimana mengamalkannya??! Itu sama
    saja mereka tidak mengenal Alquran….
    *saya pun merenungkan:
    Para mualaf di seluruh dunia kebanyakan saat pertama kali mengetahui isi Alquran juga
    melalui TERJEMAHANnya…
    Bukan bahasa Arabnya…
    Mereka kagum terhadap isi Alquran, mereka mempercayai kebenarannya, dan lantas mereka ingin menjadi seorang MUALAF…
    *Alquran itu Kitab Universal.
    Artinya untuk seluruh umat manusia. Jadi sifatnya harus fleksibel. Sebagaimana halnya kitab2 lainnya pun diterjemahkan ke seluruh dunia, TERLEBIH LAGI SEHARUSNYA bagi AL QUR’AN, suatu Kitab yang tiada keraguan padanya… berasal dari Tuhan Semesta Alam, untuk seluruh umat manusia.
    Ingatlah!! Mu’jizat Wahyu Allah tidak dapat dibatasi oleh perbedaan bahasa. Semua bahasa adalah milik-Nya. Dia memberi Hidayah kepada barangsiapa yang dikehendaki-Nya….
    (sebab, Dia memang Maha Kuasa lagi Maha Besar, pula Maha Mengetahui. Cobalah anda fikirkan, langit dan bumi ciptaan-Nya ini sangat luas sekali…
    Terdiri atas milyaran galaksi yang masing2nya terdiri atas milyaran bintang pula… Matahari, yang diameternya berukuran sekitar 109x diameter bumi, ternyata ukurannya masih termasuk golongan bintang2 kecil.
    Apalagi kita… Sungguh kita tidak berarti apa2 di hadapan-Nya.) Masa’ kita dgn seenaknya
    saja mengatakan Al Qur’an yang telah di’translate’ itu lantas kehilangan mu’jizatnya begitu saja, lalu dikatakan bukan sebagai Al Qur’an lagi? Betapa piciknya hati kita, tidakkah kita menyadari bahwa mu’jizat Allah itu tiada taranya? Bukankah Al Qur’an itu mu’jizat Nabi Muhammad SAW yang terbesar?! Masa’ hanya dibatasi oleh bahasa Arab saja??
    Janganlah anda merendahkan Hakikat Firman Allah. Firman Allah SWT itu sungguh agung. Tdk dapat dibatasi oleh bahasa apa saja.
    Jadi, dalam bahasa apapun wahyu tsb. disampaikan/diteruskan, IA TETAPLAH AL QUR’AN.
    Subhanallah… Allahu akbar…^^

      Mualaf said:
      22 Oktober 2012 pukul 04:38

      @Thalut
      Yup, saya setuju 100% dgn pernyataan anda..😀

        viie said:
        21 September 2015 pukul 12:39

        setuju..

    hamba Allah said:
    20 September 2011 pukul 11:53

    jadi… tidak boleh membaca Al Qur’an terjemahan?
    padahal… sangat banyak orang yang tidak bisa bahasa Arab…
    Jadi kalau begitu… kita berhukum pada apa?
    Apa orang seperti saya yang tidak bisa bahasa Arab batal menjadi Muslim?
    Apa harus ikut-ikutan amalan orang yang belum tentu itu amalan dari agama Islam?
    Saya sulit mengikuti amalan-amalan agama orang-orang yang sangat ribet…
    Apa itu bukan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah?

    hamba Allah said:
    20 September 2011 pukul 11:55

    Kalau tidak tahu artinya… itu namanya bukan membaca… tapi membunyikan Al Qur’an

    hamba Allah said:
    20 September 2011 pukul 12:02

    Jangan menganggap Al Qur’an sebagai mantra seperti orang Hindu….

    hamba Allah said:
    20 September 2011 pukul 12:15

    Guru Madrasah pun mayoritas tidak bisa bahasa Arab…
    Mereka hanya mengajarkan huruf Arab…
    Hanya bisa sedikit sekali bahasa Arab… sebatas menyebutkan sedikit nama-nama benda…
    menyebutkan wahid, isnain, tsalatsa….
    Silahkan disurvey…

    hamba Allah said:
    20 September 2011 pukul 12:17

    TKI di Arab pun yang sehari-harinya berbahasa Arab kesulitan menterjemahkan Al Qur’an

    pelawak said:
    26 September 2011 pukul 13:11

    kalo segala sesuatu harus pakai bahasa Arab, itu namanya Islam adalah agama bagi semesta ARAB…🙂
    AL-QUR’AN adlh Kitab bagi semesta ARAB… ( bukan semesta alam🙂 )

      Mualaf said:
      22 Oktober 2012 pukul 04:49

      @pelawak
      Saya setuju dgn anda.. Kalau Al-Qur’an hanya dalam bahasa Arab (tdk diterjemahkan; atau kalaupun diterjemahkan, terjemahannya ngaco… seperti versi Depag..😀 8)), maka Al-Qur’an akan kehilangan ‘Power’-nya sebagai “Peringatan (Dzikr) bagi semesta alam.”

    Dian Rosiana (@DianRosiana1) said:
    13 Juli 2012 pukul 13:35

    Assalamu’alaikum wr wb.

    Diskusi yang sangat bagus sebenarnya, tetapi tolong jangan di barengi dengan emosi, seperti halnya nabi menganjurkan kita untuk belajar sampai ke negeri china, itu mengisyaratkan bahwa kita dianjurkan untuk menguasai ilmu, karena dengan ilmu kebenaran akan terungkap, dan kita tidak salah langkah dalam mengimplementasikan al qur’an. Maka kenapa kita diwajibkan untuk membaca al qur’an ? karena didalamnya terkandung berbagai aturan hidup, ilmu pengetahuan, tata cara ibadah dan lain sebagainya. Islam mengajarkan kita untuk belajar secara benar dan berkesinambungan, bagi kita mau tidak mau harus belajar bahasa arab melalui al qur’an, agar tidak salah dalam pemahaman… Jadi semua yg diperdebatkan tidak ada yang salah, semuanya benar … bahwa yang membaca terjemahan tidak sama dengan yang membaca al qur’an. Terjemahan adalah penafsiran dari si Penerjemah yang bisa saja salah Tetapi Al Qur’an adalah Mutlak TIDAK ADA (AKAN) SALAH ! Silahkan anda pilih yang mana ? Mau yang pasti atau yang meragukan ?

      Mualaf said:
      22 Oktober 2012 pukul 04:33

      Terjemahan tetaplah Al-Qur’an…
      Anda salah besar kalau menganggap bahwa hanya teks yang berbahasa Arab yang dapat disebut AL-QUR’AN.. Asalkan Terjemahannya sesuai makna Arabnya, maka itu tetaplah Al-Qur’an. Contoh, ayat pertama dalam susunan Mushaf (QS. 1:1) :
      “Bismillaahir-rohmaanir-rohiim.”
      Terjemahan (per kata-nya):

      “Dengan nama Allah; Maha Pengasih, Maha Penyayang.”

      Ini Terjemahan asli dari ayat tsb. Dengan demikian dapatlah disebut sebagai ayat Al-Qur’an.. Bandingkan dgn versi Depag:
      “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
      jelas, bahwa yang versi Depag bukan ayat terjemahan yang asli, karena makna yang menyimpang dari teks aslinya. Oleh sebab itu, maka versi terjemahan Depag tidak bisa disebut sebagai ayat Al-Qur’an.

    Ardi ansyah said:
    7 Februari 2013 pukul 13:55

    Ternyata lgi ngeributin masalah bacanya.
    Untuk kamu yg sudah mampu membaca alquran dalam bahasa arab amalkan dan teruskan,dan untuk kamu yg dlm hidupnya saat ini,belum mampu membaca alquran dengan huruf arab,jngn berkecil hati,karena segala sesuatunya hanyalah allah yg maha pemberi keputusan.
    Bahasa alquran tidak hanya milik pribadi manusia apa lagi,hanya khusus bagi orang arab saja.
    Andai pun memang berlakunya ketentuan hukum allah tentang bahwa alquran yg sebenarnya adalah alquran yg berbahasa arab sedangkan yg alquran yg di terjemahan ke dlm bahasa lain bukan alquran,kita kembalikan saja kepada allah,.
    Allah menurunkan alquran dalam bahasa arab adalah karena Rosulloh nabi muhamad saw,.pada saat itu berada di negri yg berbahasa arab,.coba bayangkan seandainya,alquran itu turun di negara indonesia,dan nabi muhamad saw,berbahasa arab,.tetapi beliau tinggal di indonesia .?

    Tito Pramulyono said:
    10 Juni 2013 pukul 19:25

    Assalamu’alakum,,,,,,,,
    mohon maaf sebelumnya bahwa saya hanya awam,,maksud saya..bagaimana dengan keterangan dalam Surat Yaasiin ayat 69 : “Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan”

    PENERANGAN/PETUNJUK/PEDOMAN HIDUP,,,,,,,,..??

    pertanyaannya….apakah kita merasa sudah terang, jelas, tentang bagaimana menjalani hidup sesuai yg dikehendaki oleh Allah,,hanya dengan membaca tulisan huruf arab yg maknanya saja banyak yg tidak tahu?

    Tito Pramulyono said:
    10 Juni 2013 pukul 19:26

    maaf lanjut………
    kecuali dengan membaca terjemahannya……………

    joni jengkol said:
    19 Juni 2013 pukul 17:22

    yang penting sholat 5 waktu, sedekah, beramal sholeh jgn sampe ketinggalan

    Abdul Rohman said:
    28 Juni 2013 pukul 14:24

    assalaamu alaikum mendingan baca AL qur an dan terjemah , tapi kita terus sambil belajar bahasa arab melalui pesantren mungkin ini insya Allah baik wassalaam

    Aris Harrist said:
    24 Juli 2013 pukul 01:59

    klo soal pahala sich siapa yang tau! kecuali klo pahala itu emang kelihatan dan ada bentuknya .
    tapi gw rasa sich baca terjemahan alquran itu lebih baik ketimbang gak mau baca dan gak mau tau, tapi emang ada benernya juga terkadang baca terjemahan alquran agak2 tricky, artinya klo kita gak ada basic tafsir, bisa agak kebingungan dan menyalah artikan isi alquran, sebagai contoh bule2 yang baca alquran menganggap bahwa islam itu kejam, karena ada ayat yang memperbolehkan membunuh tanpa ampun orang2 kafir/non muslim, hingga akhirnya dia bertanya ke suatu forum apakah islam itu agama yg memperbolehkan kekerasan dan membunuh? untungnya ada ahli tafsir yang menjelaskan dengan sangat gamblang, dan lebih reasonable, dan ahli tafsir itu bilang, klo membaca alquran jangan membaca sebagian saja, akan tetapi harus keseluruhan.

    intinya sich klo mempelajari sesuatu itu jangan setengah2 aja, dan ngambil yang enak2nya sesuai dengan keinginan kita, kalo niatnya mau enaknya doang gw rasa sich sulit untuk memahami alquran.tapi klo emang niatnya baik dan ikhlash, gw rasa baca terjemahan alquran adalah langkah awal yang baik, setidaknya lebih baik dari orang2 muslim yang gak mau baca dan gak mau tau ttg agamanya sendiri

    Referensi: my common sense

    Aris Harrist said:
    24 Juli 2013 pukul 02:49

    ampe lupa nich ane gara2 banyak koment sinis sich ! sebenernya artikel republika itu bener adanya, bagi orang2 yg baca terjemahan, itu jangan ngerasa sok pinter, dan juga para ulama jg jangan memonopoli, dan ane rasa emang harus gitu,saling bantu biar pemahaman gak keluar jalur.

    yang salah itu sebenrnya yang punya blog ini, soalnya judulnya agak2 menginggung pembaca alquran non arab.

    tapi ane gak heran juga sich emang kalo yahudi akalnya pinter2😀

    wakwkwkakkwka

    Nadio said:
    31 Juli 2013 pukul 22:22

    Kalau tentang pahala biar lah ALLAH yg tahu . . .
    Tpi jika sperti itu anda menyampaikan pendapat, anda termasuk orang yang sombong . . .
    Memang Al Quran d turunkan dalam bahasa arab, tapi dengan kata2 anda di atas orang2 yang ingin memahami Al Quran dngan bhasa yang mereka mengerti itu merasa yang mereka lakukan itu sia2 . . .
    Tau kah anda itu ?

    gigik said:
    22 September 2013 pukul 12:19

    @hamba allah
    Anda mengatakan “Jangan menganggap Al Qur’an sebagai mantra seperti orang Hindu…”

    Apa hak anda dalam membuat kalimat itu ?? Itu kepercayaan mereka .. Suka suka merekalah, itukan urusan mereka bukan urusanmu..
    Agama hindu cinta damai hening dan tentram, tak pernah membuat masalah

    deba boseh said:
    15 Oktober 2013 pukul 21:00

    Mulia mana di sisi Allah seorang pemulung yg bisa pergi berhaji walau hanya bisa baca terjemah Alquran atau sekumpulan Ustad yg pandai baca Alquran, macam Ustad Fathonah, Luthfi Hasan Ishaaq dan Zulkarnain Djabar? Terima kasih jawabannya.

    fulan said:
    3 Februari 2014 pukul 09:48

    lebih penting tadabur Al Quran drpd pandai bahasa arab. toh Al Quran rahmat seluruh alam bukan cm buat bangsa arab yg punya bahasa arab. bukankah Al Quran diturunkan menggunakan bahasa Arab Agar umat islam yg berawal di arab memahami dan mengerti. jadi yg lebih penting memahami. Alquran mana mungkin mau bisa di amalkan kl artinya saja ga ngerti.

    ‘Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami (nya).’ (QS 43:3)

    jadi yang ditekankan adalah memahami bukan indah2an dalam membacanya. memahami kemudian mengamalkan.

    muhammad Anwar said:
    13 Februari 2014 pukul 01:43

    Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, [QS.Al Baqarah.2]

    Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang membaca sebuah huruf dari kitabullah -yakni al-Quran-, maka ia memperoleh satu kebaikan, sedang satu kebaikan itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang seperti itu. Saya tidak mengatakan bahwa alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif adalah satu huruf, lam satu huruf dan mim juga satu huruf.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.

    Dengan membaca Al Quran kita akan mendapat pahala, memahami maknanya akan menjadi petunjuk.

    beginilah said:
    18 Maret 2014 pukul 22:36

    beginilah orang-orang yg mendahului pikirannya diatas petunjuk Allah itu sendiri. bisa-bisanya membaca artinya tidak mendapatkan pahala, sangat-sangat mendahului dari Allah itu sendiri. hati-hati dengan faham-faham yg mendatangkan syubhat seperti ini.
    ingat anda bukanlah Tuhan tetapi anda adalah makhluk. jangan anda mendahului perkara Ghaib dengan akal anda sendiri atau anda termasuk dari golongan fir’aun.
    nabi muhammad pun yg pandai membaca Alquran pun dan fasih Alquran pun, tidak seperti anda. yg menjelaskan hakikat Alquran pun Allah sendiri kepada nabi muhammad. jibril hanya menyampaikan teks Alquran kepada nabi muhammad tetapi Allah sendiri yg menjelaskan hakikat dan makna dari Alquran tersebut.
    nabi muhammad sahaja seperti itu apalagi anda wahai pembuat blog. lebih baik anda banyak-banyaklah dahulu istighfat, banyak-banyaklah minta ampyun kepada Allah agar Allah Ridho memberikan ilmu-Nya kepada anda. Ingat ya, Alquran itu ilmu dari Tuhan itu sendiri, maka seberapa fasih pun anda mengerti bahasa Arab, tidak akan anda mendapatkan isinya jika Tuhan semesta Alam belum berkehendak. pelajarilah dahulu Alquran dan Assunnah dengan banyak bertasbih, bertahmid dan meminta ampyun kepada Allah dengan bersungguh-sungguh. mudah-mudahan Allah memberikan anda ilmu-Nya walau setetes air hujan. bersyukurlah anda dengan pemberian daripada Allah kepada anda.
    ingat sekali lagi, Allah adalah Tuhan semesta alam. dimanapun anda berada dan bahasa apapun anda bahkan apa yg ada didalam hati anda, Allah mengetahui, karena mulailah sungguh kepada Allah dari diri sendiri, kenallah Allah, jangan anda jadikan Allah sebagai kedok atas kepentingan golongan anda. jangan berbuat fasik diri anda.
    semoga dibukakan anda pintu hidayah, jikalau, Allah berkehendak. berdoalah sajalah anda dan perbaiki dahulu amalan anda yg rusak sampai kepada sempurna karena Allah Al-‘aalamiin.

    sok tahu luw said:
    3 Januari 2015 pukul 00:04

    ini nih tipe2 manusia yang bikin islam sempit , bgitu mudah nya meng cap orang ini itu, tuhan maha tahu kalau elu min sok tahu, sana lu tobat sblum di azab kamu ma allah, allah itu tidak menyukai orang yang berlebih lebihan

    moh shodiq said:
    9 Januari 2015 pukul 12:52

    membaca terjemahan alqur an beda dng mmbaca alquran,,klo mmbaca terjemahan niat belajar ,,asal jangan mudah berfatwa dng hnya mmbaca terjamahan alquran,,http://daarussholihin.blogspot.com/

    HAMBA ALLAH said:
    14 Februari 2015 pukul 17:35

    bismillahirahmanirohim,
    lebih baik kita semua introspeksi diri. Allah itu mengenal maksud/niat dari setiap makhluknya. saya bukannya sok tahu. akan tetapi, alangkah lebih baik kita belajar dari bahasan semua ini.

    yaitu:

    JANGANLAH KITA MENGKLAIM SESEORANG, KARENA SIAPA TAHU ANDA LEBIH BURUK DARI ORANG YANG ANDA KLAIM.

    sekali lagi, saya bukannya sok tahu, sok menasihati, tetapi yang sudah jelas (ALLAH ITU JAUH LEBIH MENGETAHUI SEGALA HAL DIBANDINGKAN ANDA, SAYA DAN SEMUA ORANG DIMUKA BUMI INI)

    pada intinya di dunia ini kita berusaha, bukan mencari salah/benar. karena benar/salahnya itu Allah yang menentukan.

    orang biasa said:
    2 Mei 2015 pukul 10:41

    kita berusaha saja didunia ini, masalah pahala ALLAH SWT yang menentukannya. kenapa kita ribut dengan orang orang ini yang merasa bisa menilai pahala seseorang seperti ALLAH. Astagfirullah, semoga kita tidak terjebak dalam orang orang seperti ini yang merasa seperti ALLAH, yang bisa menilai pahala seseorang.

    Joheun Chingu said:
    5 Juli 2015 pukul 19:55

    Sahabat ALLAH tidak mencari pahala, karena tanpa dicari dengan memahami Al-Hikmah itu saja sudah merupakan anugerah yang patut disyukuri (Al-Bakarah 269). Dahulupun orang Arab tidak bisa membaca Firman ALLAH yang ditulis dalam bahasa Ibrani dan Yunani (Al-Anam 156). Ada tertulis di dalam Al-Quran bahwa “ALLAH memudahkan kedalam bahasamu” agar bisa “mendapat pelajaran” (Ad-Dukhan 58). Pertanyaannya: apakah anda mau membaca Al-Quran untuk mendapat pelajaran atau anda ingin melantunkan Al-Quran agar dapat pahala? (Al-Qaram 17,22,32,40). Kita diminta oleh ALLAH untuk “membaca FirmanNya” agar mendapat pelajaran bukan “melantunkan syair” (Al-Alaq 1; Yasin 69)

    anurdo said:
    7 Oktober 2015 pukul 21:21

    Iqra’.. sy tidak tau artinya, menurut ahli bahasa arab artinya bacalah, kenapa Nabi Muhammad di suruh baca klo Beliu buta huruf……
    karena Al Quran itu qalam, dan bukan teks dan juga bukan file mp3. Dan sy yakin setiap manusia sudah di bekali piranti lunaknya untuk bisa memahami Al qur*an. Bukan kan membaca hanyalah proses fisik semata.

    Nabi Muhammad adalah seorang manusia yang dari lahirnya dan sampai di angkat menjadi nabi memiliki suku, bahasa dan kebangsaan arab. Bagaimana jadinya Nabi Muhammad di kasih qalam dalam bahasa yunani misalnya. Di dalam riwayat bahkan menolak membaca sampai 3 kali karena beliau tidak bisa membaca. Dan lebih parahnya andaikata Nabi Muhammad fasih bahasa yunanipun dan di sampaikan pada masyarakat Arab saat itu terutama orang2 kafir, pasti tidak akan ada yang beriman, Allah sendiri yang berfirman demikian silahkan baca sendiri Al quran.

    Jika anda seorang arab sekalipun dan dan ilmu tata bahasa arab anda sudah level jenius sekalipun sy yakin anda tetap tidak bisa memahami Al quran seratus persen seperti yang di kehendaki Allah.

    Kenapa Allah mengeklaim Al Quran adalah petunjuk bagi seluruh umat manusia. Sekalilagi Al quran itu bukan teks dan juga file mp3. Allah pun sendiri yang menyertakan piranti untuk memahami itu yang berupa qalam yang menurut ahli bahasa arab adalah pena atau alat tulis. Jangan merendahkan Allah karena Allah pastilah sudah tau Al quran nantinya akan di terjemahan dengan berbagai bahasa, sebagai mana Al quran di bukukan bukan jaman Nabi masih hidup. Klo ada yang ga sepakat Al quran di terjemahan harusnya juga tidak sepakat kalo Al quran jadi buku, dan siapa anda arab bukan arab ngerti bahasa arab ataupun tidak mengerti bahasa arab, jangan khawatir anda akan kebagian Al Quran”, bagi yang Allah kehendaki. Sebagai mana sy yang dulu belajar bahasa arab juga dari alif ba’ ta’.

    Jadi kesimpulannya ” tidak perlu ada kesimpulan” karena kita ini sama2 makluk. Kalau terkait dengan ilmu kewajiban kita hanya belajar dan terus belajar sampai Liang lahat, yang belum gerti huruf arab silahkan belajar huruf arab, yang sudah fasih jangan sombong. Kalau soal pahala bersabarlah, di yaumul hisab nanti tidak ada satupun yang terlewatkan, demikianlah janji Allah, yang jelas jangan sakit hati pada orang yang belajar Alquran dari terjemahanya dan dia amalkan dalam hidupnya jika Allah tetap memberikan dia ganjaran. Ya Allah ampunilah diriku dan orang2 muslim sedunia, dari kebodohan dan kezalimanya sendiri.. karena engkaulah yang Maha Pengampun… aamiin…

    rima said:
    16 Oktober 2015 pukul 07:27

    saya setuju urusan pahala urusan Allah. kalau saya ingin tahu isi Al-Quran apa saya harus nunggu saha mahir bahasa arab ?. membaca tulisan tentang agama saja sudah berpahala…apalagi terjemahan…….itu logika saya yang orang awam. maksudnya bagus biar semua umat musllim belajar bahasa arab. aku faham itu.

    Jalal said:
    27 November 2015 pukul 23:33

    Padi itu tidak bisa langsung dimakan, tapi harus di tumbuk dulu jadi beras, setelah beras di masak menjadi nasi,, barulah bisa di santap,, apalah jadinya jika kita langsung makan padi,,,???? jika kita lapar di hadapkan dua pilihan pilih padi yg masih berupa gabah atau nasi yg sudah matang tinggal santap?????,,, alquran itu tidak bisa dngan mudah. Di terjemahkan jangan sembarangan mennterjemahkan alquran,, ada ilmu2 untuk memahami alquran,, nahwu, sorof, bilagah,,, dll,, jika kita tidak bisa mengolah padi jadi nasi,,, carilah nasi yang sudah mTang yang tinggal santap,,, yakni para alim ulama pewaris nabi, carilah ilmu di pesantren, dekatilah para ulama dan belajarlah,,,, untuk yang biasa baca terjemah tapi tidak bisa baca alquran(arab)apa alasannya tidak bisa baca??? ada alquran, hadis, qias, dan izma….

    al gojo said:
    5 Desember 2015 pukul 21:18

    semua org arab yg bahasa ibunya adalah bhs arab sendiri saja tdk akan mampu menerjemahkan al quran secara tepat apalagi menafsirkannya kecuali org arab dan bukan org arab yg belajar ttg tafsir al quran. tafsir al quranpun masih sulit dipahami oleh sebagian besar org awam. akhirnya umat islam di indonesia karakter agamanya dibentuk oleh para ulama/ustazd yg terdiri dr berbagai paham NU, muhammadiyah, naqsabandiah, syiah,wahabi,aswaja,islam nusantara, JIL, bahkan ahmadiyah. ini menyedihkan bahkan mengerikan….!!!!!!!!!!!!

    nurdin setiawaan said:
    25 Agustus 2016 pukul 21:34

    Assalamualaikum,
    saudara saya pengusaha berpenghasilan bagus, dari tahun 2009 uangnya selalu dihab iskan di tempat maksiat, bulan mei 2016 dia berangkat umroh ats anjuran saya,
    ketika pulang dia mulai membaca alquran ( terjemahnya saja)
    ajaib, setiap dia berbuat kesalahan selalu ada teguran langsung dari Allah,
    cntoh, ketika dia membaca surat alfalaq, ( mmaf alat vitalnya seperti ditusuk2 jarum, sejak saat itu dia ga pernh ketinggalan sholat, dia tinggalkan semua perbuatan maksiat, bahkan dia selalu bercerita kepada temen2nya utk memulai membaca alquran,
    jadi siapa yg bilang baca terjemah nggak berpahala, siapa billang baca terjemah bisa menyesatkan, berarti dia sudah mendahului Allah,
    Boleh bangga dengan hapidz quran, boleh bangga dengan hatam quran, tapi tolong jangan memandang sebelah mmata kepada saudara kita yang hanya mampu membaca terjemah saja,

    nana said:
    6 November 2016 pukul 22:11

    Saya punya Al Quran halaman Cover depan & belakangnya ada Asmaul Husna tapi disertai arti dalam bahasa Indonesia sedangkan isi Al Qurannya tanpa terjemahan ataupun tafsir, kalau yg seperti ini disebut tetap Al Quran atau terjemahan?kalau dibaca tetap berbahaya atau tidak? mohon dijawab terima kasih

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s