Mampukah kita memahami Al-Qur’an (dan kitab lainnya)?

Posted on Updated on

Pertanyaan yang menurutku terpenting saat ini adalah: Mampukah manusia memahami firman Tuhan? Kalau manusia tidak mampu memahami, mengapa Tuhan menurunkan kitab suciNya? Kalau manusia mampu memahami firmanNya, mengapa ada banyak pemahaman? Mana yang Benar?

Terhadap pertanyaan semacam itu, aku menjumpai sebuah jawaban yang menarik sebagai berikut:

Kenapa Al-Qur’an tidak jelas sistematikanya?

oleh Herry Mardian
http://suluk.blogsome.com/2007/03/31/kenapa-al-quran-tidak-jelas-sistematikanya/

Qur’an, memang tidak mudah dipahami. Ayat-ayatnya tampak tidak sistematis dan melompat-lompat, jika instrumen untuk memahami Qur’an kita menggunakan pikiran atau rasio, paradigma sistematika yang dalam standar kita, teratur. …

Mampu berbahasa ‘arab pun belum menjamin seseorang bisa menjangkau makna Qur’an, karena qur’an pada dasarnya adalah bahasa Qur’an, bukan bahasa ‘arab untuk berkomunikasi (contoh kita tidak akan akurat memahami qur’an jika hanya menggunakan bahasa ‘arab biasa ada di artikel ini dan artikel ini). Demikian banyak orang yang berbahasa ‘arab tapi juga tidak mengerti makna-makna ayat Qur’an. Tapi tentu, bisa berbahasa ‘arab (qur’ani, bukan bahasa komunikasi sehari-hari) akan jauh lebih mudah memahaminya daripada tidak bisa sama sekali.

Tapi hal yang terpenting adalah, bahwa kita mulai jujur pada diri kita sendiri dalam beragama ini. Kita berhenti mengindoktrinasi diri bahwa kita memahami Qur’an, bahwa Qur’an adalah kitab teragung, bahwa Qur’an mencakup jawaban bumi dan langit, dan sebagainya. Hal itu memang benar, tapi ‘dari sisi mana?’-nya kita sama sekali tidak paham.

Pelan-pelan, kita mulai semakin jujur bahwa: kita tidak mampu menjangkau Qur’an. Kita tidak memahami shalat dan gerakan-gerakannya. Tidak memahami makna puasa. Makna zakat. Makna rakaat-rakaat shalat dan waktu-waktunya. Makna haramnya minuman keras, diizinkannya poligami, hukum waris yang ‘aneh’ karena lelaki mendapat dua kali bagian wanita, dan lain sebagainya. Ternyata, kita tidak memahami diin kita. Tidak memahami hidup kita, sejarah diri kita, kenapa bertemu si A dan tidak B, kenapa bagian ini ada musibah dan bagian itu ada keberuntungan. Kita lama kelamaan akan menyadari bahwa kita bahkan tidak memahami diri kita sendiri. Selama sekian puluh tahun hidup, kita bahkan tidak kenal siapa kita!

Ini adalah awal kita mulai memahami hakikat ‘hamba’ pada diri kita: bahwa kita adalah makhluk yang lemah, yang bodoh, yang perlu bimbingan. Kita adalah ‘makhluk’, yang akan senantiasa butuh Rabb-nya, setiap saat. Tidak semua orang mampu mengerti, merasakan dan memahami hal ini, merasakan hakikat ‘hamba’ ini. Padahal,

“Wamaa khalaqtul jinna wal insa illa li ya’buduun.” (Q. S. 51 : 56)

‘Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka ‘ya’bud’,” ‘abid, meng-’abdi’, meng-hamba. —Bukan— diciptakan cuma untuk ‘beribadah’ dalam pengertian untuk shalat, puasa, zakat, dan seterusnya. Tapi meng-abdi. Meng-hamba. Bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Total.

Ini penting. Selama kita masih yakin akan kemampuan kita sendiri, entah itu di sisi agama, penghasilan, ilmu, kecerdasan, dan lain sebagainya; selama kita masih yakin bahwa ada kemampuan diri kita yang membuat kita mampu melalui hari esok dengan selamat, hakikat ‘penghambaan’ tidak akan pernah muncul dari dalam diri kita.

Jika kita sudah mulai menyadari bahwa ‘kita ternyata nggak bisa apa-apa sama sekali!’, maka insya Allah itu adalah saat bahwa kita benar-benar butuh Allah. Kelak sebelum menghadapi setiap hal, kita tidak akan pernah berhenti memohon pada-Nya untuk dibimbing, diajari dan dituntun oleh Tuan kita, sebaik-baik majikan bagi para hamba-Nya. Dengan demikian, mulai saat itu setiap peristiwa dalam hidup kita justru akan menjadi rangsangan untuk mengingat-Nya. Saat itu, setiap saat kita ada dalam kondisi memohon. Saat itu, setiap saat kita ada dalam kondisi zikir pada-Nya….

13 thoughts on “Mampukah kita memahami Al-Qur’an (dan kitab lainnya)?

    Pencari Kebenaran Agama Yang Jujur | Pikiran Polos said:
    8 Agustus 2010 pukul 23:20

    […] yang nampak agamis tapi sebenarnya tidak memahaminya. Mereka jujur bahwa mereka sebenarnya —tidak memahami— ritual […]

    AREK INDONESIA said:
    9 Agustus 2010 pukul 10:35

    pikiran bukaN segalanya, tapi agama tanpa pikiran adalah kesesatan…

      M Shodiq Mustika responded:
      9 Agustus 2010 pukul 11:20

      @ arek indonesia
      Ya, saya setujuuuuuuuu……..

    :( Kesedihanku karena disalahpahami | Pikiran Polos said:
    9 Agustus 2010 pukul 13:10

    […]😦 Aku saat ini merasa sedih… Maksud hati mau cari tahu dengan tanya2 tentang makna ayat2 Qur’an kepada orang yang kuanggap lebih tahu, apa daya.. aku malah dianggap meng-olok2 & me-rong2 agama kita. Aku jadi merindukan masa2 kuliahku di IAIN Jogja dulu. Saat itu, para mahasiswa bisa bertanya dengan se-polos2nya, dan sang dosen mau mendengar (dan menjawab) dengan penuh kesabaran. […]

    Resty said:
    10 Agustus 2010 pukul 09:28

    Hmm,…
    Mungkin karna itulah manusia di wajibkan to terus belajar,..

      M Shodiq Mustika responded:
      10 Agustus 2010 pukul 09:45

      @ Resty
      Betul… marilah kita terus belajar.

    […] dalam sabda beliau. (Lihat artikel “Pencari Kebenaran Agama Yang Jujur” dan “Mampukah kita memahami Al-Qur’an (dan kitab lainnya)?“) Oleh karena itu, aku biasanya mengatakan, “Menurut saya, …” Salahkah […]

    AL said:
    13 September 2010 pukul 13:55

    Mengenai sistematika itu, Pak. Saya ingat Karen Armstrong pernah membahas di salah satu bukunya (tentu saja buku KA kan memang diperuntukkan kepada pembaca non muslim yg ingin tahu mengenai Islam) begini kalo gak salah: Pembahasan di Al Qur’an tidak seperti buku yang dipisah berdasarkan bab. Satu ayat bisa membahas banyak hal. Sehingga umat islam, setiap kali membaca atau mendengar ayat suci-nya, walaupun hanya satu ayat, akan diingatkan kepada banyak atau seluruh aspek dalam agamanya.

    Decaller said:
    18 September 2010 pukul 08:55

    inilah iman!!
    ketika kita tidak paham maksudnya kita melakukannya
    (contoh: mengusap khouf –yang diusap bagian atas sepatu bukan bawahnya–)
    ketika kita menemukan hikmahnya maka iman kita bertambah
    jika belum, kita tetap beriman

    abah uKi said:
    7 Desember 2010 pukul 09:00

    susah-susah gampang. susah…………… bisa karena serakah (kalo mo ikut anjuran “membaca, memahami dan mengamalkan”), otak bisa amburadul alias mumet sendiri.
    kecuali bagi hambaNya yang diberi hidayah. saya ingat ucapan guru “kalian kerjakan 40 hadits shahih secara kaffah, insya Allah masuk surga” atau hadits “membaca alif lam mim itu tiga huruf, dan setiap satu huruf …………. “. hal memahami, ya belajar Nahwu, Sharaf dan Balaghah sama ahlinya, insya Allah. Lalu berkumpullah bersama para ahli Tafsir. bagi saya pribadi, cukup memahami sedikit saja, amalkan secara kaffah.

    Seocetek said:
    23 April 2011 pukul 15:11

    yang penting saya melakukan yang diperintahkan dan menjauhi larangan karena belum bisa untuk ketahap selanjunya mas

    sedolf said:
    12 Juni 2011 pukul 22:37

    saya masih jauh dengan ilmu ginian,…. tapi saya akan terus belajar

    Armandy said:
    17 Maret 2015 pukul 10:52

    Hmmm….

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s