Salahkah berdakwah dengan cara yang jujur?

Posted on Updated on

Dalam berdakwah, hampir tak pernah aku mengatakan “Menurut Allah SWT, …” atau pun “Menurut Rasulullah SAW, …” Sebab, aku hanya berusaha jujur. Sejujurnya, aku tidak tahu pasti apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya dan oleh Rasulullah dalam sabda beliau. (Lihat artikel “Pencari Kebenaran Agama Yang Jujur” dan “Mampukah kita memahami Al-Qur’an (dan kitab lainnya)?“) Oleh karena itu, aku biasanya mengatakan, “Menurut saya, …” Salahkah berdakwah dengan cara jujur begini?

24 thoughts on “Salahkah berdakwah dengan cara yang jujur?

    Yari N K said:
    20 Agustus 2010 pukul 16:56

    Nggak ada yang salah, pak Shodiq. Hanya saja, alangkah baiknya jika frasa “Menurut saya….” di”upgrade” sedikit menjadi misalnya: “Menurut apa yang saya baca….”, “Menurut apa yang saya pelajari……”. “Menurut apa yang saya tafsirkan…..”, “Menurut apa yang saya interpretasikan….” dan sebagainya agar mengurangi potensi kesalahfahaman, karena ini menurut saya pribadi jikalau hanya “Menurut saya….” berpotensi untuk mengundang kesalahfahaman seolah-olah apa yang didakwahkan pak Shodiq nanti disangkanya murni pemikiran pak Shodiq bukan berdasarkan Al-Quran. However, it is just a suggestion, of course it has always been your privilege to turn it down!😉

      M Shodiq Mustika responded:
      20 Agustus 2010 pukul 20:47

      @ Yari NK🙂 Thank you. Semoga kita bisa sering-sering mengamalkan saran mas Yari ini.

      supanji said:
      12 Oktober 2011 pukul 09:46

      ADA saatnya kita mengatakan.. “MENURUT ALLAH” , jika hal yang kita sebutkan itu benar-benar dari ALLAH secara nash. artinya jelas-jelas tersebut dalam Al Quran atau hadits yang shahih dan pemahaman tersebut tidak ada bias. to the point. jika dalam hal-hal yang merupakan pemahaman terhadap al quran ataupun hadits yang mungkin membawa makna bias.., kita merujuk dulu kepada pendapat mereka yang telah mempunyai otoritas besar dalam memahami al Quran atau hadits nabi saw. tidak mudah kita berkata, “menurut saya”! sebaiknya kita merujuk saja. menurut Imam Ibnu Katsir,,, atau menurut Imam Syafii dst. dalam hal-hal tertentu… boleh aja “menurut saya” tapi kita harus sadar bahwa agama ini warisan. bukan karangan. kita tdk boleh mengada-ada dalam hal-hal paten agama ini. wallahu a’alam
      gan kita.

    bolehngeblog said:
    21 Agustus 2010 pukul 12:15

    sudah tepat, adalah benar jika kita berdakwah HANYA berdasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah…

      M Shodiq Mustika responded:
      21 Agustus 2010 pukul 18:47

      @ bolehngeblog
      Mungkin Anda salah paham.
      Masalahnya bukanlah “berdasarkan pada apa saja”, melainkan “apakah yang kita sampaikan sudah sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Allah dan Rasul-Nya”. Mungkin saja ada orang yang mengklaim bahwa dia “berdasarkan hanya pada Al-Qur’an dan al-Hadits”, padahal pemahamannya TIDAK sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya.

    mantan BIDAH said:
    31 Agustus 2010 pukul 15:05

    hati-hati dengan artikel ini bagi umat muslim yang belum paham tentang agama,,, bertanyalah kalian pada ustadz-ustadz yg terpercaya…

      bajoel said:
      30 Desember 2010 pukul 15:35

      kebanyakan ustadz itu cuma lulusan SMP bung. hanya bisa baca ali-ba-ta aja ??

    Decaller said:
    18 September 2010 pukul 08:40

    Ya, salah

    Bukankah para rasul telah menerangkan maksud dari perkataan Allah?
    Kemudian diteruskan para sahabat sampai akhirnya menjadi buku tafsir?
    Anda bukan ustad kalau gak pernah baca buku tafsir Ibnu Katsir dan ulama besar lainnya.
    Bukankah Imam Bukhari sudah merangkum hadis kemudian para ulama telah menerangkannya dengan gamblang??
    Ustad seperti apa anda jika belum pernah membaca fathul bari?
    apakah anda hanya menggunakan akal yang lemah untuk menafsirkan perkataan yang maha kuasa?? Memang sebagaian gampang tuk diterjemah alias gampang mendapatkan maksud yang diinginkan, tapi sebgaimana Allah pun mengatakan dalam salah satu ayatnya (kalau tidak salah di surat Al-A’raf)
    “dan beberapa ayat mutasyabihat (tidak jelas maknanya), maka dan tidak lah yang mengetahui maksudnya kecuali Allah, dan orang-orang yang berilmu mengatakan ini dari Allah” silahkan liat tafsir mengenai ayat ini di tafsir ibnu katsir
    (jangan membuka tafsir misbah!!)
    kecuali setelah anda banyak belajar kemudian ditanya tentang sesuatau yang anda tidak ketahui maka diam itu lebih baik, atau seperti perkataan bernada fatwa anda.

      bajoel said:
      30 Desember 2010 pukul 15:38

      komentar anda koq kayak ustadz aja bung???
      mana sudah berani menyalahkan org lain lagi!! ckckckck….
      hebat juga anda ya…??? hahahahha

        Decaller said:
        3 Januari 2011 pukul 17:44

        hehehe, ya gak papa kan
        selama berkata di atas ilmu
        soalnya ini yang saya pelajari di pesantren

        kalo memang ada yang salah mohon dikoreksi juga

        oh iya
        ayat diatas itu di surat Al-imron ayat2 awal

    sedolf said:
    12 Juni 2011 pukul 22:27

    klo kita berpegang pada al-Quran dan alhadis insya Allah Aman,… ^_^

    jagatbiru said:
    3 November 2011 pukul 18:17

    bahaya banget nich orang….sudah di tetapkan dan di jelaskan segala ketentuan2 dan urusan2 serta penyelesaiannya di Al-Quran dan As-Sunnah…masih mau ngorek2 lagi pake penyelesaian dan penjabaran jalur yang lain

    indra ludiana said:
    11 Mei 2012 pukul 15:12

    sip gan sangat bermanfaat

    nur syifa said:
    21 Juni 2012 pukul 02:41

    waduh ribet juga nieh yg di bahas soal nya yg kalian bahas ini adalah panduan manusia untuk memfungsikan diri sebagai mana ketetapan Nya.saya ingatin aja kalau kalian pengen memahami nya. satu syarat yg harus nada ta atti.lepas kan pikiran anda dari semua belenggu,aturan saran dan juga pengetahuan yg di buat oleh manusia,kalau anda ingin penjelasan tentang ayat carilah di dalam kataballah
    jangan menurut ustad guru atau kiya i,karna alqur an adalah ahsanul haddist

    semmy azzy said:
    17 September 2012 pukul 10:35

    sut udh jngn pd debat ak tkut ahir ny sltrhim umat islam renggang
    NB.kalau mau brtanya tntang agma?pd ahli agma…jngn k dokter hewan..ha

    Jasa SEO said:
    28 Mei 2013 pukul 14:57

    memang harus yang seperti itu, menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi dan sesuai ajrannya yang benar pastinya.

    Jasa SEO

    San Diego Hills said:
    11 Desember 2014 pukul 14:39

    Terima kasih atas informasinya.

    Istanamurah said:
    18 Mei 2015 pukul 10:37

    kata orang tua kita jujur itu sangatlah penting diatas segalanya, karena dengan jujur kita akan merasa lebih damai dan nyaman dalam menjalani hidup. jadi berdakwah memang harus jujur..🙂

    Jasa SEO said:
    23 Juli 2015 pukul 13:56

    Info yang sangat menarik.

    Raden said:
    11 Oktober 2015 pukul 08:44

    ketika kita BERDAKWAH maka apa yang kita DAKWAHKAN harus kebenaran yang dilandasi oleh aturan Allah dan Rosulnya bukan kebenaran menurut pribadi, karena kalau ada 100 orang berDAKWAH dan menurut pendapat nya masing masing maka akan berpotensi akan adanya aturan baru tentang syariat islam padahal yg berhak membuat syariat hanya Allah danRosulnya.

    Dety said:
    22 Oktober 2015 pukul 08:43

    Ketika berbicara dan untuk meyakinkan orang lain kita harus menyampaikan sumbernya. tentunya sumber yang telah pasti kebenarannya seperti firman Allah dalam Al quran dan perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad…

    Bali wedding videographers said:
    15 Juli 2016 pukul 09:52

    terimaksih untuk artikelnya..

    perawatan kolam renang said:
    15 Juli 2016 pukul 15:44

    di tunggu info berikutnya..

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s