Kontroversi Pengosongan Kolom Agama KTP

Posted on Updated on

Kini kita bisa bernapas lega. Pemerintah, DPR, dan MA secara resmi telah membolehkan kita untuk tidak memilih agama-agama yang ada sebagai IDENTITAS kita. Sekarang kita boleh, dan bahkan sebaiknya, mengosongkan kolom agama di KTP kita. (Lihat halaman Pilih “Golput Agama”, kosongkan kolom agama di KTP.)

Sebagaimana diduga, terjadi kontroversi pro-kontra. Kalangan yang sering mendominasi di bidang keagamaan cenderung menentang pengosongan kolom agama di KTP. Sedangkan kalangan minoritas yang biasanya merasa tertindas, beserta para pembela mereka, cenderung menyambut gembira pengosongan kolom tersebut.

Dari kalangan dominan yang menentang itu, mereka mengemukakan alasan yang kurang meyakinkan. Ada yang mempertanyakan bagaimana pemakaman orang yang kolom agama di KTP-nya dikosongkan. Padahal solusinya sederhana, sebagaimana sudah lazim terjadi: serahkan kepada keluarganyta.

Alasan yang barangkali lebih cerdas adalah mempertanyakan data kependudukan. Misalnya, bagaimana kita bisa tahu data keagamaan di suatu daerah pada jangkan waktu tertentu. Meski tidak lagi sederhana, solusinya juga tidak sulit: Selama ini sudah ada Sensus Penduduk, Survei Nasional. Bila masih kurang, adakan penelitian ilmiah sesuai dengan keperluan.

Dari kalangan minoritas dan pembela mereka, anehnya, ada pula yang kurang mendukung pengosongan kolom agama di KTP. Alasannya, hal ini tidak menjamin penghapusan diskriminasi. Mereka khawatir kalau-kalau yang melakukan pengosongan ini akan juga mengalami diskriminasi. (Lihat artikel Tolak Manuver PKS Siasati Kolom Agama KTP beserta komentar-komentarnya.)

Entah bagaimana seharusnya aku menanggapi kontroversi pengosongan kolom agama KTP. Saat ini, aku cuma teringat pada sebuah dongeng tentang hasil rapat suatu perkumpulan tikus. Para tikus bersepakat untuk berdamai dengan kucing. Tapi, tidak ada tikus yang berani mendekati kucing.

Bagaimana dengan dirimu? Tidak setakut tikus-tikus itu, ‘kan?😉

10 thoughts on “Kontroversi Pengosongan Kolom Agama KTP

    tejo said:
    27 Desember 2013 pukul 13:41

    bagimana mngkin ada diskriminasi sdngkan klompok anda scara ekonomi di untungkan jls alasan yg dicari2 .jadi selesai pengosongan agama,anda dg mudah masuk menyebarkan agamamu dg cara licik menukar dg indomie&beras yg jlas sdh kebaca maksd dan tjuannya.jika itu yg anda inginkan alamat indonesia susah untuk maju motif nya tak jauh beda ktika belanda menguasai negri ini bgitulah slama ini yg trjadi di indonesia

    Tozca Leather said:
    27 Desember 2013 pukul 22:11

    artikel yang menarik mas..banyak yang harus di perbaiki lagi.

    Istanamurah said:
    3 Juli 2014 pukul 09:42

    Masa bisa ya di KTP tidak ada Agamanya? kayak aneh soalnya,

    Santri Figuran said:
    10 November 2014 pukul 14:24

    Sekarang berita ini menyeruak lagi ke permukaan. Kirain, baru tahun ini. Ternyata udah booming sejak era Pak SBY.

    nurhafiz zunat said:
    10 Juni 2015 pukul 15:20

    artikel bagus, semoga menjadi pembelajaran tersndiri bagi pembaca dan penulisnya . amin🙂

    Dety said:
    11 Oktober 2015 pukul 08:58

    yang terpenting antara penganut agama salih menghormati,menghargai dan saling menjaga keyakinnnya masing masing, yang salah ketika ada orang yg berusaha merubah keyakinan orang lain dengan cara cara licik dan jahat contohnya bagi bagi sembako, menghamili diluar nikah yang kemudian mau dinikahi dengan catatan harus mengikuti agamanya si lelaki yg menghamilinya dll nah hal inilah yang harus dicegah bersama.

    yaumil perdana putra said:
    25 Februari 2016 pukul 12:04

    Berikut ada sekelumit cerita analogi yang bisa ditarik benang merahnya, namun agar dicermati bahwa yang bisa melihat benang merahnya adalah mereka yang sudah keluar dari sikap kejahiliyahan. Buat yang masih NONI besar kemungkinan banyak yang masih jahiliyah. Tapi jangan lupa yang muslim pun masih banyak yang jahiliyah.

    yang tidak jahiliyah biasanya berusaha mencari makna tersirat dari sesuatu yang tersurat, dia selalu berusaha mencari makna tersirat yang paling dalam, yang ujung-ujungnya akan membawa dia pada hakekat keberadaan dan kepatuhan terhadap hanya Allah bukan illah – illah yang lainnya.

    Komentar2 yang muncul atas tulisan ini dapat dikategorikan menjadi dua yaitu mereka yang sudah mendapat hakekat Illah yang satu atau mereka yang masih lekat dengan illah-illah yang lain. Dan sekali lagi hanya yang sudah keluar dari kejahiliyahanlah yang bisa melihat perbedaanya.

    Yang sudah tidak jahiliyah hanya akan tersenyum dan setuju tanpa ada keinginan untuk berkomentar.

    Yang masih jahiliyah, dari dalam dirinya ada dorongan untuk menunjukan bahwa dirinya lebih tahu dan lebih benar dari si penulis dan isi tulisannya, sehingga yang masih jahiliyah akan berapi-api mengkomentari, menjatuhkan, mendiskreditkan, menghina, menyindir, merendahkan dan me-me lain yang bersifat negatif terhadap penulis maupun isi tulisannya.

    mari kita lihat kelanjutannya.

    silahkan dinikmati.

    Diskusi antara Si Liberal dan Kyai

    Liber: Ki, ada orang baek banget, anti korupsi, bangun mesjid, rajin sedekah sampe hidupnya sendiri dikorbanin buat nolongin orang banyak, trus meninggal dan dia bukan Muslim, masuk mana?

    Kyai: Neraka.

    Liber: Lah? Kan dia orang baek. Kenapa masuk neraka?

    Kyai: Karena dia bukan Muslim.

    Liber: Tapi dia orang baek Ki. Banyak orang yang kebantu karena dia, bahkan umat Islam juga. Malah Bangun Masjid Raya segala. Jahat bener dah Tuhan kalau orang sebaek itu dimasukin neraka juga.

    Kyai: Allah tidak jahat, hanya adil.

    Liber: Adil dari mane?

    Kyai: Kamu sekolahnya apa?

    Liber: Ane mah Master Sains lulusan US Ki, kenape?

    Kyai: Kenapa bisa kamu dapat titel Master Sains dari US?

    Liber: Yaa karena kemaren ane kuliah disana, diwisuda disana.

    Kyai: Namamu terdaftar disana? Kamu mendaftar?

    Liber: Ya jelas dong Ki, ini ijazah juga masih basah.

    Kyai: Sekiranya waktu itu kamu tidak mendaftar, tapi kamu tetap datang kesana, hadir di perkuliahan, diam-diam ikut ujian, bahkan kamu dapat nilai sempurna, apakah kamu tetap akan dapat ijazah?

    Liber: Jelas enggak Ki, itu namanya mahasiswa ilegal, sekalipun dia pintar, dia nggak terdaftar sebagai mahasiswa, kampus ane mah ketat soal aturan gituan.

    Kyai: Berarti kampusmu jahat dong, ada orang sepintar itu tak dikasih ijazah hanya karena tidak mendaftar?

    Liber: *terdiam*

    Kyai: Gimana?

    Liber: Ya nggak jahat sih Ki, itu kan aturan, salah si mahasiswa kenapa nggak mendaftar, konsekuensinya ya nggak dapat ijazah dan titel resmi dari kampus.

    Kyai: Nah, kalau kampusmu saja ada aturan, apalagi dunia dan akhirat. Kalau surga diibaratkan ijazah, dunia adalah bangku kuliah, maka syahadat adalah pendaftaran awalnya. Tanpa pendaftaran awal, mustahil kita diakui dan dapat ijazah, sekalipun kita ikut kuliah dan mampu melaluinya dengan gemilang. Itu adalah aturan, menerapkannya bukanlah kejahatan, melainkan keadilan.

    […] sumber: Indonesia Hot […]

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s