Filsafat

Kisah Nyata Pemurtadan yang Gagal (Senjata Makan Tuan)

Posted on Updated on

Ketika aku membuka diri selebar-lebarnya terhadap hikmah dari mana pun, seorang Kristen berusaha memurtadkan diriku. Mulanya dia mengemukakan adanya ayat Qur’an dan hadits Rasul yang “kejam”, misalnya perintah “memenggal kepala orang kafir”. Tanggapanku adalah bahwa kita tidak bisa menelan mentah-mentah perintah dalam ayat atau peristiwa dalam hadits. Kita perlu melihat konteksnya untuk memahami teks-teks rujukan utama itu, antara lain dengan menggunakan “filsafat mawas” (penafsiran kontekstual). Untuk ilustrasi, aku paparkan Kisah seorang idola yang mengejar seorang perempuan.

Dalam kisah ilustratif tersebut, aku kemukakan kemungkinan kesalahpahaman dalam melihat suatu peristiwa, sehingga dibutuhkan penggunaan filsafat mawas (penafsiran kontekstual). Akan tetapi, dia menganggap bahwa seharusnya kitab suci itu “sempurna”, dalam arti bahwa teks-teksnya bermakna tunggal, sehingga bersifat mutlak (tekstual) dan tidak memerlukan filsafat mawas (penafsiran kontekstual). Menolak filsafat mawas untuk memahami teks kitab suci itulah “senjata” andalannya. Lalu sebagai “amunisi”, dia menunjukkan beberapa ayat kitab suci agamanya (Kristen) yang katanya “sempurna”, tidak membutuhkan sudut pandang lain apa pun, termasuk filsafat mawas. Dia mengatakan: Baca entri selengkapnya »

Pertanyaan PENTING Yang Jawabannya Pasti Benar

Posted on Updated on

Jika saat ini Tuhan memberi daku kesempatan untuk mengajukan satu pertanyaan saja yang akan Dia jawab, sedangkan jawaban-Nya pasti benar, maka pertanyaan apakah yang mestinya aku ajukan?

Baca entri selengkapnya »

Prinsip Hidupku: Bukan lagi Pancasila, tapi Saptasila

Posted on Updated on

Saptasila: tujuh titik seimbangAsyik juga ternyata, kalau kita bisa merumuskan prinsip hidup kita. Dengan adanya rumusan prinsip hidup kita, hidup kita jadi lebih terarah. Walhasil, kita bisa menjalani hidup dengan lebih lancar dan lebih bermakna.

Baca entri selengkapnya »

Karena kurang tidur, aku akan cepat mati; nggak pa pa, 'kan?

Posted on Updated on

Orang yang tidur kurang dari enam jam, memiliki kemungkinan 12% mati lebih cepat dibandingkan mereka yang tidur selama 6 hingga 8 jam. Studi dari University of Warwick dan Federico II University Medical School, Italia menyediakan bukti langsung antara durasi tidur yang pendek serta peningkatan kemungkinan mati muda.

Penelitian ini juga mencatat bahwa tidur terlalu lama (lebih dari 9 jam tiap malam) dapat menyebabkan kekhwatiran serupa. Namun, tidak seperti tidur dalam jumlah waktu sedikit, tidur dalam jumlah yang banyak tidak langsung menyebabkan risiko kematian, namun kenaikan signifikan dari penyakit yang serius dan fatal.

Demikian laporan berita dari inilah.com, “Awas, Tidur Kurang dari 6 Jam Cepat Mati!”

Oh ya, begitukah? Selama ini berapa lamakah aku tidur setiap harinya? Aku hampir tak pernah menghitungnya. Selaku orang yang bekerja di dalam rumah secara menyendiri, aku tidak terikat oleh jam kerja. Tidurku jadi tak menentu. Pokoknya, aku tidur hanya bila merasa mengantuk, kelelahan, atau sakit. Bila tubuh terasa segar, pikiran polosku mengatakan bahwa lebih baik aku menggunakannya untuk kegiatan yang produktif.

Kadang tidurku 6 jam, kadang 3 jam, kadang 30 menit. Sesekali aku tidak tidur sampai dua atau tiga hari, tapi pernah pula sekali tidur sampai 10 jam.

Kalau memang selama ini ketidakteraturanku dalam tidur itu membuat diriku cepat mati, aku rela. Daripada berumur panjang tapi merepotkan orang lain, cepat mati tapi produktif nggak pa pa, ‘kan?

Inilah Agama Yang Pasti Benar

Posted on Updated on

Manakah agama yang pasti benar? Dengan kata lain, berdasarkan kriteria agama yang benar, manakah agama yang mendorongku untuk senantiasa bersungguh-sungguh mencari kebenaran? Apakah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Kong Hu Chu, Yahudi, Humanisme, Agnotisisme, Universalisme Tauhid, atau apa?

Untuk lebih memahami jawabanku, engkau perlu menyimak lebih dahulu artikelku terdahulu, “Akhirnya, kutemukan agama yang pasti benar“. Kalau sudah, baiklah. Berikut ini jawabanku terhadap pertanyaan tadi.

Baca entri selengkapnya »

Akhirnya, kutemukan agama yang pasti benar

Posted on Updated on

religions symbols Untuk menemukan seseorang, kita perlu tahu lebih dahulu ciri-ciri khasnya. Untuk menemukan agama yang benar, kita perlu tahu lebih dahulu kriteria agama yang benar. (Lihat “Manakah agama yang benar?“. Untuk alternatif lain, lihat “Kisah Nyata: Mencari Jalan Hidup Yang Benar dengan Hati Nurani“.)

Setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun mencari, aku sudah menemukan “kriteria” agama yang benar. Sudah pula kujumpai agama yang memenuhi kriteria tersebut. Dengan kata lain, sudah kutemukan agama yang pasti benar. Berikut ini penjelasanku.

Baca entri selengkapnya »

Manakah agama yang benar?

Posted on Updated on

Sejak lahir, tahu-tahu aku “sudah beragama” sesuai dengan agama yang dianut oleh orangtuaku. Apakah beragama dengan cara begini dapat kupertanggungjawabkan? Tidak. Aku harus mencari agama yang benar dengan akal sehatku dan hati nuraniku. Mungkin saja agamaku selama ini sudah benar, mungkin pula belum benar. Aku perlu menyelidiki semua agama, membandingkannya satu sama lain dengan seobjektif mungkin, sebelum kupilih agama yang paling tepat bagiku. Untuk itu, aku perlu tahu lebih dahulu akan kriteria agama yang benar.

Dari hasil googling, aku jumpai sebuah artikel yang mengandung lima “kriteria agama yang benar”. Marilah kita periksa kriteria-kriteria tersebut satu demi satu, dengan akal telanjang kita. Baca entri selengkapnya »

Tidak ada bukti tentang tuhan, lantas bagaimana dong?

Posted on Updated on

is there a GodMenurut akal telanjangku, tidak ada bukti bahwa Tuhan itu ada. Namun, tidak ada bukti pula bahwa Tuhan itu tidak ada. Jadi, mungkin saja Tuhan itu ada, mungkin pula tidak ada. Oleh karena itu, diriku perlu terbuka terhadap dua kemungkinan ini.

[1] Seandainya tidak ada sesuatu yang bisa kusebut sebagai “tuhan”, bagaimana kujalani hidupku supaya hidupku bermakna? Baca entri selengkapnya »

Perbedaan antara Jenius dan Tolol

Posted on Updated on

Apa komentar yang paling cerdas?

Yang paling cerdas, Baca entri selengkapnya »

Berfilsafat melalui lagu dan karya sastra

Posted on Updated on

saya cukup tertarik dengan filsafat. walaupun tidak begitu faham secara mendalam. by the way pernah dengar band rock progresif ” Dream Theater”?, tuh liriknya bertemakan filosofi gitu. musik rock/metal tapi memiliki nuansa keindahan. mungkin karena pengaruh liriknya yang berusaha mereka sesuaikan.
Saya cuma pengen tau. filsafat cinta ada gak? klo ada jelasin donk. atw kalo ada bukunya kasih infonya .kalau sastra milik kahlil gibran itu apakah mengandung unsur filosofi?

Jawaban M Shodiq Mustika:

Baca entri selengkapnya »