Pandangan Agama

Aneh! Ngakunya muslim, tapi tidak beriman kepada Al-Qur’an!

Posted on Updated on

Benarkah kita beriman kepada Al-Qur’an dan bukan kepada terjemah/tafsirnya? Ini saja pertanyaanku. Berdasarkan saran mas agor, kata-kataku di bawah ini kucabut dan mohon dianggap tidak ada!

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Seandainya Al-Qur’an sekarang tidak asli, maka…

Posted on Updated on

Pernah aku merenung: Seandainya Tuhan tidak pernah berfirman, manakah kitab/buku “karangan” manusia sebagai referensi utamaku untuk menerima petunjuk Tuhan?

Pikiran polosku menjawab: Al-Qur’an (yang ada saat ini). Mengapa? Karena Al-Qur’anlah yang kupandang paling mampu “membawaku” menuju jalan Tuhan.

Sejak itu, aku tidak begitu mempedulikan perkataan sejumlah ilmuwan tertentu yang meragukan keaslian Al-Qur’an. Apa pun hasil penelitian mereka, itu tidak akan menggoyahkan sikapku untuk berpegang pada Al-Qur’an sebagai referensi utama. Satu-satunya yang dapat menggoyahkan imanku terhadap Al-Qur’an hanyalah bila ada yang dapat menunjukkan bahwa ISI Al-Qur’an itu sesat.

Untuk memahami isi Al-Qur’an, aku sendiri merasa bahwa kemampuan pikiran polosku sangatlah jauh dari memadai. Karena itu, aku bersandar pada ilmu-ilmu “alat” seperti kaidah-kaidah dari ilmu ushul fiqih (terutama Fiqh Prioritas-nya Yusuf Qardhawi) dan filsafat mawas untuk memahami isi Qur’an.

Mau mengadili Nabi Muhammad?

Posted on Updated on

Mesir sedang digegerkan berita seputar buku berjudul “The Trial of Prophet Muhammad” (Pengadilan terhadap Nabi Muhammad). Selama ini, “pengadilan terhadap” seringkali dimaknai sebagai “pengungkapan bukti kesalahan dan penetapan hukuman terhadap” seseorang. Pantesan, dengan menganggap bahwa Nabi Muhammad itu maksum (bebas dari dosa), upaya trial itu dipandang oleh sekelompok umat Muhammad sebagai penghinaan terhadap beliau. Namun, sebagian kaum mukminin lainnya menganggap bahwa buku tersebut “sangat bagus” dan “tidak ada unsur penghinaan terhadap nabi”.

Aku belum tahu isi buku tersebut, sehingga belum berani mengomentarinya. Aku hanya berpikiran bahwa sebagaimana kriteria aliran sesat telah diumumkan oleh MUI, mungkin perlu ada pengumuman rumusan kriteria tentang sikap dan perilaku apa saja yang tergolong menghina Nabi Muhammad. Dengan demikian, kita bisa tercegah dari penghinaan tersebut, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

Baca entri selengkapnya »

Kisah Nyata Pemurtadan yang Gagal (Senjata Makan Tuan)

Posted on Updated on

Ketika aku membuka diri selebar-lebarnya terhadap hikmah dari mana pun, seorang Kristen berusaha memurtadkan diriku. Mulanya dia mengemukakan adanya ayat Qur’an dan hadits Rasul yang “kejam”, misalnya perintah “memenggal kepala orang kafir”. Tanggapanku adalah bahwa kita tidak bisa menelan mentah-mentah perintah dalam ayat atau peristiwa dalam hadits. Kita perlu melihat konteksnya untuk memahami teks-teks rujukan utama itu, antara lain dengan menggunakan “filsafat mawas” (penafsiran kontekstual). Untuk ilustrasi, aku paparkan Kisah seorang idola yang mengejar seorang perempuan.

Dalam kisah ilustratif tersebut, aku kemukakan kemungkinan kesalahpahaman dalam melihat suatu peristiwa, sehingga dibutuhkan penggunaan filsafat mawas (penafsiran kontekstual). Akan tetapi, dia menganggap bahwa seharusnya kitab suci itu “sempurna”, dalam arti bahwa teks-teksnya bermakna tunggal, sehingga bersifat mutlak (tekstual) dan tidak memerlukan filsafat mawas (penafsiran kontekstual). Menolak filsafat mawas untuk memahami teks kitab suci itulah “senjata” andalannya. Lalu sebagai “amunisi”, dia menunjukkan beberapa ayat kitab suci agamanya (Kristen) yang katanya “sempurna”, tidak membutuhkan sudut pandang lain apa pun, termasuk filsafat mawas. Dia mengatakan: Baca entri selengkapnya »

Marilah kita berserah-diri setotal-totalnya kepada Tuhan!

Posted on Updated on

[Perhatian: Artikel ini perlu dibaca dengan hati-hati. Pahami konteksnya dan jangan memahaminya secara sepotong-sepotong!] Sewaktu aku membuka diri terhadap kemungkinan murtad, banyak orang yang salah paham. Mereka menyangka bahwa aku meragukan kebenaran agama Islam. Padahal, saat membuka diri itu, aku hanya berusaha untuk berserah-diri kepada Tuhan setotal-totalnya tanpa memikirkan benar-sesatnya Islam. Aku memohon kepada-Nya untuk diberi petunjuk tentang manakah agama yang benar untuk diriku. Apa pun petunjuk-Nya, aku bersedia menerimanya. Bahkan bila petunjuk-Nya itu mengarahkan diriku untuk murtad keluar dari Islam, aku pun akan menerimanya. Ini bukan karena aku meragukan kebenaran Islam, melainkan karena aku mau berserah-diri setotal-totalnya kepada Sang Mahatahu. (Aku jadi ingat pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam berserah diri setotal-totalnya. Rasa-rasanya pengorbananku belum sebanding dengan mereka.)

Aku yakin bahwa Dia pasti akan memberiku petunjuk tentang manakah agama yang benar untukku. Mengapa aku yakin begitu? Karena aku yakin bahwa doa yang sungguh-sungguh pasti dikabulkan Tuhan. Dan untuk menunjukkan kesungguhanku kepada Tuhan, aku membuka diri selebar-lebarnya. Dan untuk menunjukkan kesungguhanku pula, secara terbuka aku mempertanyakan (bukan meragukan): Sesatkah agama Islam? Perlukah aku murtad?

Baca entri selengkapnya »

Inilah nama agamaku yang BARU

Posted on Updated on

Kemarin aku mempertimbangkan “pengganti Islam sebagai agama“. Semula, yang kupertimbangkan hanya tiga nama. Namun seiring dengan diskusi yang berlangsung, muncul nama-nama lain. Kini, aku siap mengumumkan nama agamaku yang baru.

Dalam mengumumkan keputusan ini, aku memperhitungan hal-hal berikut ini.

  1. Pengertian setiap orang tentang agama sangat berlainan. Definisi agama menurut si A berbeda dengan si B, Si C, … dst. Karena definisi mereka berlainan, aku pun perlu menyebut nama yang berlainan pula, sesuai dengan definisi mereka masing-masing.
  2. Persepsi setiap orang tentang setiap agama berlainan. Contoh: menurut si A, “Islam agama sederhana, Kristen agama membingungkan”; menurut si B, “Islam agama perang, Buddha agama damai”; dan sebagainya. Karena itu, aku perlu menyebut nama yang bercitra baik, sesuai dengan persepsi mereka masing-masing.
  3. Lantaran perbedaan definisi dan perbedaan persepsi tersebut, penggunaan satu nama saja akan membuat diriku cenderung disalahpahami. Jadi, aku memerlukan banyak nama untuk menyebut agamaku.
  4. Penggunaan banyak nama sekaligus dalam satu waktu tertentu pun akan cenderung disalahpahami. Orang bisa saja menyangka bahwa aku mencampur-adukkan berbagai agama dan isme-isme menjadi satu. Jadi, untuk menyebut apa nama agamaku, aku perlu menyesuaikannya dengan konteks yang sedang kuhadapi.
  5. Untuk mengurangi kemungkinan salah-paham, ada kalanya kita tidak cukup dengan sekadar mengatakan “agamaku A”, tetapi perlu menjelaskan apa yang dimaksud dengan “A” itu.

Baca entri selengkapnya »

Inilah PENGGANTI ISLAM sebagai Agama Menurut Al-Qur’an!

Posted on Updated on

Karena kecewa menyaksikan orang-orang muslim yang menurutku kurang islami, aku mempertanyakan “Manakah Islam yang sebenarnya?” Dari sini, kemudian tiba-tiba aku mempertanyakan: “Apakah Islam agama sesat? Perlukah aku murtad?” Lalu terhadap pertanyaan ini, aku diberi saran yang sama oleh pihak yang hendak mencegahku murtad dan pihak yang berusaha membuatku murtad. (Lihat artikel ‘Aneh! Aku Diminta “Kembali ke Alquran” Supaya Murtad!‘)

Dini hari tadi, ketika aku merenung dalam rangka mengikuti saran mereka tersebut, aku merasa mendapat ilham dari Tuhan karena mendapat jawaban yang baru. Dengan kembali ke Al-Qur’an dan Al-Hadits, kutemukan agama pengganti Islam. Kini, sudah kutemukan tiga nama yang lebih baik dan lebih sempurna daripada Islam sebagai agama. Tiga nama itulah yang kini sedang kupertimbangkan sebagai nama agamaku yang baru. Dapatkah kau menebaknya?

Kurasa tidak. Aku sendiri sebelumnya tak menduganya, apalagi orang lain, bukan?

Dari perenungan kembali ke Alquran dan Alhadits itu, aku menjumpai 10 kenyataan sebagai berikut:
Baca entri selengkapnya »

Aneh! Aku Diminta “Kembali ke Alquran” Supaya Murtad!

Posted on Updated on

Orang-orang muslim yang berusaha agar aku tidak murtad menyarankan diriku agar “kembali ke Al-Qur’an dan Al-Hadits”. Mereka yakin bahwa bila aku sungguh-sungguh mendalami Al-Qur’an dan Al-Hadits, maka akan aku temukan kesempurnaan Islam. Anehnya, orang-orang nonmuslim yang berusaha memurtadkan aku ternyata memberi saran yang sama persis, yaitu “kembali ke Al-Qur’an dan Al-Hadits”. Mereka yakin bahwa bila aku sungguh-sungguh mendalami Al-Qur’an dan Al-Hadits, maka akan aku temukan kesesatan Islam. Jadi, manakah yang benar diantara kedua pandangan yang bertolak belakang ini?

Seandainya aku “kembali ke Al-Qur’an dan Al-Hadits” dengan cara menelannya mentah-mentah, terutama dualismenya, maka aku akan menjadi muslim yang “berkepribadian ganda” (yang baik dan sekaligus yang jahat) seperti “muslim” teroris atau justru akan menjadi murtad seperti Ali Sina karena memuntahkan kembali sesuatu yang tadinya ditelan mentah-mentah dalam rangka “menjadi orang yang baik sepenuhnya”. … Read More

via Mau Murtad?

Berita Bohong mengenai Penelitian tentang Poligami di Malaysia

Posted on Updated on

Hari-hari belakangan ini, sejumlah situs dan blog yang tidak menyukai Islam sedang gencar memberitakan sebuah hasil penelitian tentang poligami di Malaysia, yang katanya dilakukan oleh Sisters in Islam (SIS). Mereka mengatakan, “Studi di Malaysia: Poligami Membuat Keluarga Tidak Bahagia”. Namun setelah memeriksa berita tersebut di situs resmi SIS, aku simpulkan bahwa berita tersebut BOHONG!

Letak kebohongannya: Baca entri selengkapnya »

Orang Yang Murtad Pun Bisa Masuk Surga !!

Posted on Updated on

Setelah membaca kesaksiannya selengkapnya, aku memaklumi alasan mengapa Hafidha Acuay murtad keluar dari Islam. Alasan murtadnya itu masuk akal menurut pikiran polosku; aku pun berpikiran bahwa dia tergolong nonmuslim yang bisa masuk surga. (Lihat “NonMuslim Yang Masuk Surga Menurut Ulama Muhammadiyah“.)

Dalam beberapa bulan terakhir ini, aku menyimak beberapa ratus kesaksian (dalam bahasa Inggris dan Indonesia) dari sejumlah orang murtad mengenai mengapa mereka keluar dari agama Islam. Dalam pengamatanku, kebanyakan dari kesaksian mereka bersifat "emosional". Hal ini aku rasakan dari betapa menggebu-gebunya mereka menjelek-jelekkan Islam dalam kesaksian mereka. Sedikit sekali diantara mereka yang alasan murtadnya masuk akal menurut pikiran polos … Read More

via Mau Murtad?