Pengembangan Diri

Cuma Seribu Rupiah, Tapi Membawa Berkah!

Posted on Updated on

“Ambillah hikmah dari mana pun!” Seruan ini berlaku pula untuk barang-barang “kurang berharga” yang “nilainya cuma seribu rupiah”. Nilai hikmahnya bisa jutaan, trilyunan, … bahkan tak terhingga. Kisah di bawah ini contohnya.

Semalam kami sekeluarga (aku + istri + anak2) jalan2 malam sabtuan ke pameran buku2 islam di Gedung Mandala Bakti Wanitatama, Jogja (Yogyakarta). Kesan pertama: Ini pameran buku ataukah peragaan busana? Judul pamerannya “book fair”, tapi gedungnya dipenuhi dengan stand busana. Aneh!

Eh, tapi mungkin juga nggak aneh. Aku jadi ingat cerita istriku. Katanya, setiap kali dia ketemu ibu-ibu orangtua/wali murid di sekolah anak kami, yang dibicarakan selalu kerudung, jilbab, busana muslim, pakaian, busana, pakaian lagi, busana lagi, … duuuh capek deh. Nggak ada yang ngomongin soal buku.

Eh, sori, ngelantur.

Mari kita kembali ke pameran buku. Begitu masuk, aku amati para penjaga stand buku. Kebanyakan mereka kelihatannya kurang bergairah gitu. Apakah karena buku jualannya kurang laku? Ataukah karena honornya kekecilan? Ataukah karena lelah bin letih lantaran sudah malam? Ingin rasanya aku bertanya, tapi nggak tega. Aku takut mendapat jawaban negatif. (Dasar penakut, ya.)

Berhubung aku merasa kasihan, okelah aku beli beberapa buku. (Hehe, sok dermawan. Padahal yang kubeli yang murah-murah saja.) Tapi kuputuskan, tiap stand cukup satu saja buku yang kubeli, supaya ada pemerataan. (Sok sosialis ni ye.)

Baca entri selengkapnya »

Mengapa Kita Senang Menyaksikan Aib Orang Lain

Posted on Updated on

Diam-diam kita senang menyaksikan tersebarnya aib orang lain. (Misalnya, aib selebritis atau tokoh masyarakat yang tertimpa skandal video mesum porno.) Mengapa? Ada banyak kemungkinan. Manakah kemungkinan jawaban yang paling sesuai dengan diri Anda? Silakan pilih salah satu dari tujuh kemungkinan jawaban berikut ini.

Baca entri selengkapnya »

Karena kurang tidur, aku akan cepat mati; nggak pa pa, 'kan?

Posted on Updated on

Orang yang tidur kurang dari enam jam, memiliki kemungkinan 12% mati lebih cepat dibandingkan mereka yang tidur selama 6 hingga 8 jam. Studi dari University of Warwick dan Federico II University Medical School, Italia menyediakan bukti langsung antara durasi tidur yang pendek serta peningkatan kemungkinan mati muda.

Penelitian ini juga mencatat bahwa tidur terlalu lama (lebih dari 9 jam tiap malam) dapat menyebabkan kekhwatiran serupa. Namun, tidak seperti tidur dalam jumlah waktu sedikit, tidur dalam jumlah yang banyak tidak langsung menyebabkan risiko kematian, namun kenaikan signifikan dari penyakit yang serius dan fatal.

Demikian laporan berita dari inilah.com, “Awas, Tidur Kurang dari 6 Jam Cepat Mati!”

Oh ya, begitukah? Selama ini berapa lamakah aku tidur setiap harinya? Aku hampir tak pernah menghitungnya. Selaku orang yang bekerja di dalam rumah secara menyendiri, aku tidak terikat oleh jam kerja. Tidurku jadi tak menentu. Pokoknya, aku tidur hanya bila merasa mengantuk, kelelahan, atau sakit. Bila tubuh terasa segar, pikiran polosku mengatakan bahwa lebih baik aku menggunakannya untuk kegiatan yang produktif.

Kadang tidurku 6 jam, kadang 3 jam, kadang 30 menit. Sesekali aku tidak tidur sampai dua atau tiga hari, tapi pernah pula sekali tidur sampai 10 jam.

Kalau memang selama ini ketidakteraturanku dalam tidur itu membuat diriku cepat mati, aku rela. Daripada berumur panjang tapi merepotkan orang lain, cepat mati tapi produktif nggak pa pa, ‘kan?

Bila air susu dibalas dengan air tuba

Posted on

Pernahkah kau menolong orang, lalu orang itu tidak berterima kasih, tapi malah “air susu”-mu dengan “air tuba”? Kurasa pernah. Mungkin malah sering. Tapi kita tak perlu kecewa. Watak manusia pada umumnya memang begitu. “… dan manusia itu [pada umumnya] selalu tidak berterima kasih.” (QS al-Israa’ [17]: 67) Tak sedikit pula yang lisannya mengucap “terima kasih”, tapi sikapnya malah memandang rendah jasa orang yang membantunya. Na’uudzu billaahi min dzaalik.

Topik ini mengingatkanku pada saran dari Dale Carnegie, Mengatasi Rasa Cemas & Depresi, hlm. 183:

  • Mari kita ingat bahwa Nabi Isa telah menyembuhkan sepuluh orang penderita lepra dalam satu hari–dan hanya seorang di antara mereka yang berterima kasih kepadanya. Mengapa kita harus mengharapkan lebih banyak sikap berterima kasih daripada yang telah diterima oleh Nabi Isa?
  • Mari kita ingat bahwa satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan adalah dengan tidak mengharapkan sikap berterima kasih, tapi dengan memberi demi kebahagiaan memberi.

Dalam kaitannya dengan dakwah, misalnya, apakah kita mengharapkan sikap terima kasih dari orang-orang yang kita dakwahi? Apakah kita merasa sakit hati manakala mereka tidak berterima kasih kepada kita? Kalau iya dan iya, mungkin itu pertanda bahwa amal kita kurang ikhlas. (Dan jika tidak ikhlas, maka sia-sialah amal kita, bukan?)

Panggilan di Malam Pertama

Posted on Updated on

Di malam pertama sewaktu kembali berhijrah ini, aku seolah mendapat panggilan berupa seruan dari dekat, “Menulislah!”
Aku membantah dalam hati, “Aku tidak mampu menulis.”

Lalu seruan dari dekat itu seolah datang lagi, “Allah takkan membebani makhluk-Nya melebihi kemampuannya. Jadi, menulislah sesuai dengan kemampuanmu!”

“Tapi aku tidak mampu lagi menulis,” bantahku lagi.

“Allah takkan menciptakanmu sia-sia. Dia sudah memberimu sedikit-banyak kemampuan menulis. Jadi, menulislah lagi dan lagi.”

“???”

“Menulislah dengan mengingat bahwa Penciptamu ini Maha Pemurah dan Maha Penyayang.”

***

Baiklah. Dengan mengingat bahwa Penciptaku ini Maha Pemurah dan Maha Penyayang, aku menulis… …….

***

Kini aku ingin menulis dan terus menulis. Semangatku kurasa sedang tinggi-tingginya. Bagaimana dengan dirimu? Apakah kau pernah/sering/selalu merasa “terpanggil” seperti yang sedang kurasakan saat ini?

Kusangka berhati malaikat, ternyata munafiq

Posted on

“Selamat menempuh hidup baru,” kataku kepada diriku di pagi hari ini. Alhamdulillah, aku bersyukur bahwa Allah telah menjauhkan diriku dari orang-orang munafiq yang selama ini kusangka berhati malaikat. Mereka ternyata hanya mau menjadi “teman dalam suka”, tak mau menjadi “teman dalam duka”.

Alhamdulillah, aku pun bersyukur bahwa Allah telah menunjukkan kepada diriku beberapa gelintir hamba-Nya yang tulus dalam menempuh jalan-Nya. Mereka menyodorkan diri untuk menjadi saudara seperjuangan, baik dalam suka maupun dalam duka. Mudah-mudahan aku bisa menjalin tali ukhuwah dengan orang-orang yang tulus ini.

Meskipun kini temanku tak sebanyak kemarin-kemarin, aku pun bersyukur. Alhamdulillaah… Satu orang sahabat yang tulus lebih berharga daripada seribu orang “teman” yang munafiq dan egois, bukan?

Ujian Terberat di Dunia Cinta

Posted on Updated on

Bagi sejumlah orang, ujian terberat di dunia cinta barangkali adalah dicueki kekasih. Bagi sebagian orang, ujian terberatnya mungkin dikhianati si dia. Bagi sebagian lainnya, ujian terberatnya mungkin adalah mengendalikan nafsu birahi. Ya, ujian kita berbeda-beda.

Bagiku, ujian terberatnya adalah bersikap tegas atau berkata “tidak” kepada orang yang aku sayangi atau kepada orang yang menaruh harapan kepadaku. Ingin rasanya aku memuaskan hati semua orang, tetapi seringkali aku gagal dan tak berdaya. Aku pun merasa tak tega mengetahui betapa terlukanya hati orang-orang yang aku tegasi. Terkadang aku sampai menangis dalam hati saat memikirkannya… apalagi ketika keraguan menerpa dengan sepatah tanya: inikah keputusan terbaik dalam pandangan Tuhan?

Ya Allah, kepadaMu lah aku mohon pilihan terbaik, mohon ditakdirkan yang terbaik, dan dimudahkan dalam ujian berat ini. Engkau takkan membebani kami melebihi kemampuan kami, bukan?

Maka bertanyalah….

Posted on Updated on

“…Maka bertanyalah kepada yang tahu jika kamu tidak mengetahui.” (QS an-Nahl: 43)

Masalahnya, bukankah banyak orang yang seringkali sok tahu? Mereka mengira dirinya sudah tahu, padahal sebenarnya belum tahu. Ciri khasnya, mereka gemar menjawab dan membantah daripada bertanya dan bertanya. Apakah kita tergolong orang yang seperti ini? Na’udzubillah min dzalik.

Maka bertanyalah,
bertanyalah,
bertanyalah,
bertanyalah,
bertanyalah,
bertanyalah,
bertanyalah…….

Kesedihanku Sebagai Seorang Lelaki

Posted on

Sudah lama aku tak menulis tentang kesedihan, khususnya kesedihanku. Kenapa, ya? Apa karena aku sudah selalu bahagia? Enggak juga. Jangan-jangan karena aku sudah mati-rasa, tak mampu merasakan lagi. Eh, ini juga enggak. Yang lebih pas barangkali karena seperti lelaki pada umumnya, kesibukan kerja membuatku diriku cenderung lupa pada perasaanku, termasuk perasaan sedih selaku penulis.

Selaku penulis, apa sih yang membuatku sedih? Sedih karena beberapa pembaca mengolok-olok diriku, melecehkan diriku, baik secara terang-terangan maupun diam-diam? Enggak, ah. Aku bukan tergolong lelaki yang menjunjung tinggi harga diri. (Jangan-jangan diriku emang nggak ada harganya, ya!)

Setelah kupikir-kupikir, aku berpandangan bahwa salah satu kesedihanku belakangan ini mirip dengan kesedihan yang dialami oleh Rasulullah Musa a.s ketika umatnya kurang memahami kata-katanya. Tadi sore, Dik Sekar (salah seorang perempuan yang kini menjadi salah satu tim co-writer-ku yang bernama Aura Saphira) berkata, “Laki-laki pada umumnya kurang pandai mengungkapkan segala sesuatu melalui kata-kata.

Kalau begitu, aku perlu menempuh solusi yang pernah ditempuh oleh Musa a.s, yaitu berdoa:

Wahai Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku. … Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui [keadaan] kami.” (QS Thaahaa [20]: 25-28, 35)

Simpang Siur Soal Keampuhan Tamiflu

Posted on

Kutipan dari rnw.nl

Para pakar meributkan khasiat peredam virus flu, Tamiflu. Satu fihak bilang itu obat ampuh melawan H1N1, sedangkan lainnya justru meragukan bukti khasiatnya.

Dampak obat peredam virus Tamiflu belum diteliti secara mendalam, ungkap epidemiolog Luc Bonneux dari Lembaga Kajian Interdisipliner Demografi Belanda. Menurutnya belum ada bukti bahwa pil peredam virus itu berkhasiat mencegah komplikasi pada flu Meksiko. Tetapi Jaap van Dissel dari Pusat Medis Universitas Leiden, yakin pil ini ampuh.

Bonneux tidak setuju dengan apa yang disebut penelitian ilmu pengetahuan. Dalam tulisannya di Majalah Medis Belanda ia menyebut bahwa hasil penelitian tentang kinerja zat oseltamivir yang terkandung dalam Tamiflu dilakukan dan didanai oleh perusahaan farmasi Swiss, Roche. Kebetulan perusahaan ini yang juga membuat Tamiflu.

Diragukan
Pakar epidemi asal Belgia punya banyak pertanyaan soal penelitian itu. Bonneux meragukan apakah hasil penelitian di Roche cukup memberikan dasar untuk mengambil kesimpulan. Roche diduga mempublikasikan hasil penelitian yang paling menguntungkan. Untuk itu Bonneux mengusulkan penelitian yang lebih luas dan akurat untuk mendapatkan kesimpulan yang jelas.

Penelitian Rumit
Profesor Jaap van Dissel, guru besar penyakit infeksi di Pusat Medis Universitas Leiden dan anggota Dewan Kesehatan Belanda menila “Penelitian kinerja Tamiflu memang sangat rumit.” Dua kelompok orang yang dipakai percobaan diharapkan mengembangkan gejala flu ringan. Satu kelompok mendapatkan obat dan lainnya tidak. Akan tampak apakah obat itu bekerja dengan baik. Situasi paling ideal. “Sebab gejala flu tidak selalu akan menular”, kata Van Dissel. “Kalau orang yang jadi kelinci percobaan tidak menderita demam, maka Tamiflu juga tidak berdampak.”

Menurut guru besar Universitas Leiden, untuk situasi pandemi sekarang itu Tamiflu jelas efektif. “Dalam situasi ini, kita yakin ini itu adalah flu. Terbukti 80 persen orang di sekeliling pasien terlindungi. Apalagi kalau langsung digunakan. Lebih cepat lebih baik.”

Ribut
Bukan pertama kalinya pakar Belgia, Bonneux meragukan khasiat Tamiflu. Dalam tajuk opini harian Belgia “De Tijd” ia menulis bahwa obat peredam virus untuk melawan demam, seperti flu H1N1 sebenarnya hanya menguntungkan produsen obat itu sendiri. Bukti bahwa Tamiflu bisa diperlambat satu hari, menurutnya hanyalah ada di dunia khayalan saja.

“Kami terus menerima banyak telepon”, ungkap Bonneux, karena tulisan itu. “Padahal saya tidak menceritakan hal baru. Ketika Dinas Pangan dan Obat Amerika Serikat (FDA) merekomendasikan Tamiflu pada 1999, juga meragukan dampaknya.” FDA menilai bahwa khasiat obat itu belum terbukti pada pasien yang memiliki sistem imuninasasi lemah atau penyakit jantung serta pembuluh darah.

Pertimbangan Matang
Selain itu Tamiflu harganya mahal, dan banyak orang yang harus memakai pil ini untuk bisa mencegah penularan di sekeliling. Selain itu perlindungannya juga terbatas. “Dosis anti biotik pencegahan, lebih ampuh”, kata Luc Bonneux.

“Komplikasi yang muncul dari demam menimbulkan masalah lebih besar daripada penyakit itu sendiri. Infeksi paru-paru cukup bisa ditangani dengan anti biotik. Tidak perlu pakai Tamiflu sama sekali.” Selain itu ia tidak menutup kemungkinan bahwa obat ini bermanfaat bagi kelompok berisiko, seperti lansia dan penderita penyakit kronis.

“Justru itulah kebijakan di Belanda, jadi saya tidak faham apa masalah dia,” kata Profesor Van Dissel dari Universitas Leiden. Soal Tamiflu, Belanda lebih ketat daripada umpamanya Britania Raya yang membolehkan penjualan lewat internet. “Di Belanda hanya orang-orang dari kelompok berisiko saja yang mendapat resep dokter. Sudah tentu untuk anak-anak, dokter harus melakukan pertimbangan dengan matang.”

Van Dissel tidak punya banyak pilihan. “Kita tidak berbicara soal flu ringan, tetapi ini influensa yang tidak semua orang memiliki kekebalan. Kami tahu bahwa ini membutuhkan penanganan luas untuk mencegah penyebaran epidemi. Tetapi harus berbuat dan berpikir positif. Bonneux menyebut gelasnya setengah kosong, kami melihatnya gelasnya sudah setengah penuh.”