Pacaran

Abis telponan ama pacar, bagian kelamin jadi basah; ngapain hayoo…!

Posted on Updated on

pak shodiq.. saya langsung aja ya.. saya cewek.. saya punya pacar tapi kami jarang ketemu.. kami cuma sering telponan.. tiap abis telponan ma dia saya selalu merasa basah di bagian kewanitaan saya..dan saya meras risih, kadang2 saya ragu apa saya harus mandi atau nggak.. yang ingin saya tanyakan.. apa saya harus mandi besar? dan yang keluar dari kewanitaan saya itu apa?

Jawaban M Shodiq Mustika: Baca entri selengkapnya »

Pacaran backstreet, salahkah?

Posted on Updated on

p’ sy mw nanya..?? gni dari dulu orang tua sy melarang keras sy pacaran. alasannya mereka takut terjadi sesuatu dengan sy. tapi selama ini saya tetap saja menjalin hubungan dengan se2orang. dan smua itu sy lakukan juga masih di batas kewajaran. sy sudah dewasa , sudah tahu mana yang benar dan mana yang tidak. yach bisa dibilang kalau sy backstreet lah…
yang mw sy tanyakan apakah sy salah melakukan semua ini ?? apa yang harus sy lakukan ?? sementara kalau di suruh meninggalkan dy sy g’ mungkin bisa…

Jawaban M Shodiq Mustika:

Di dunia ini, kita jarang menjumpai urusan yang 100% baik atau pun 100% buruk. Mungkin pacaran backstreet (tersembunyi) tanpa setahu orangtua seperti pada kasusmu ini tergolong itu. Semua segi-seginya yang penting perlu kita pertimbangkan. Jika kadar buruknya besar, maka sebaiknya kita menghindarinya, bukan?

Aku sendiri belum tahu siapa dirimu, berapa umurmu, sudahkah kamu siap menikah, bagaimana keadaanmu, dan sebagainya. Dengan demikian, aku belum bisa menilai apakah pacaranmu yang backstreet ini baik ataukah buruk. Namun, aku percaya bahwa dirimu sudah dewasa. Aku pun percaya bahwa kalian mampu memenuhi hari-hari kalian dengan kebaikan dan menghindari berbagai keburukan. Karena itu, aku ajukan lima tantangan kepada dirimu untuk membuktikan kedewasaanmu sebagai berikut.

1. Kembalikan “pacaran” ke makna aslinya!

Istilah “pacaran” berasal dari kata “pacar” dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno) yang berarti “calon pengantin”. Jadi, makna asli “pacaran” ialah aktivitas calon pengantin, yaitu persiapan untuk menikah. (Lihat “Definisi & Bentuk Nyata “Pacaran Islami”“) Nah, kalau kalian memang telah menyusun rencana (bukan sekadar harapan) hendak menikah dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, maka pacaran kalian tidaklah salah. Namun seandainya kalian “pacaran” berdasarkan rasa saling suka saja, apalagi hanya ingin bersenang-senang, maka itu bukanlah tergolong perilaku yang dewasa.

2. Kenalkan semua teman lain-jenismu dengan orangtuamu!

Pepatah mengatakan, “Siapa tak kenal, maka tak sayang.” Kekhawatiran orangtuamu mungkin disebabkan oleh belum tahunya beliau mengenai bagaimana kamu bergaul dengan lawan jenis. Karena itu, tunjukkanlah di depan beliau betapa baiknya dirimu bergaul dengan lawan-jenis. Sering-seringlah juga menceritakan kepada beliau berbagai kebaikan yang kau peroleh dari pergaulanmu dengan lain-jenis.

3. Akrabkan si dia dengan orangtuamu!

Untuk lebih menyadari pentingnya poin ketiga ini dan poin kedua tadi, silakan simak postingan “Kalau sampai ketahuan, awas kamu!” dan “Akrabilah keluarga si dia sedini mungkin!

4. Carilah pengawasan dari orang dewasa yang berwibawa!

Jangan sampai tak seorang pun mengetahui hubungan kalian. Sebab, kalau terjadi masalah, maka kalian sendirilah yang akan merugi tanpa mendapat bantuan. Bagaimanapun, manusia adalah makhluk sosial, bukan? Jadi, carilah pengawasan dari beberapa orang dewasa yang berwibawa dan bisa kalian percaya. Aktivitas kalian harus senantiasa terpantau, sehingga terjaga dari berbagai keburukan. (Diantaranya, Jangan berduaan, kecuali bila terawasi!)

5. Lebih mendekatlah kepada Sang Maha Penyayang!

Supaya hubungan kalian tetap berada di jalan yang benar+baik dan tidak sampai berlebihan, lebih cintailah Sang Maha Penyayang! Jadikanlah surat-Nya (firman-Nya) sebagai pegangan kalian. (Lihat “Menghunus Qur’an, Menyorong Cinta“)

Wallaahu a’lam.

Sudahkah kita mendalami Islam, khususnya mengenai pra-nikah?

Posted on Updated on

Saya mau tanya bagaimana cara mencari seorang pendamping hidup yang soleh? dulu saya pernah punya pacar, tapi setelah saya lebih mendalami tentang Islam saya jadi tau bahwa di Islam itu tidak ada yang namanya pacaran, dan sudah 4 tahun saya tidak punya pacar dan usia saya sudah 21 tahun. ibu saya selalu bertanya mana pacarnya? terkadang saya sedih kalau ditanya seperti itu, dan kalaupun saya punya pacar saya takut akan berbuat zina. bagaimana solusinya?

Jawaban M Shodiq Mustika:

Benarkah kamu “lebih mendalami tentang Islam”? Maaf, aku meragukan pernyataanmu. Sebab, orang yang benar-benar sudah mendalami Islam tentu akan menyadari betapa dia belum banyak tahu tentang Islam. Lain halnya dengan orang yang baru mempelajari Islam sebatas “kulit”-nya saja. Ia mengira sudah tahu, padahal banyak hal yang belum diketahuinya.

Pernyataanmu bahwa kamu “jadi tau bahwa di Islam itu tidak ada yang namanya pacaran” itu menunjukkan bahwa kamu belum memahami ilmu ushul fiqih. Kamu tampaknya belum tahu bahwa menurut kaidah dari ushul fiqih, semua hubungan antarmanusia (termasuk pacaran) itu boleh, kecuali yang terlarang secara qath’i. (Dalam kaitannya dengan pacaran, yang terlarang secara qath’i adalah mendekati zina. Jadi, selama tidak mendekati zina, pacaran itu tidak terlarang.)

Kalau sekarang kamu mau mengakui bahwa kamu belum begitu mendalami ajaran Islam tentang pranikah, sehingga mau mempelajarinya lagi dan lagi, aku persilakan dirimu menyimak “konsep mencari jodoh secara islami” dan postingan-postingan di sini yang ber-tag “pacaran islami”: https://muhshodiq.wordpress.com/tag/pacaran-islami/

7 Cara Pacaran Islami ala Khadijah-Muhammad

Posted on Updated on

Saya belum begitu paham dengan postingan yang satu ini [yaitu: “Nabi Muhammad pun pernah pacaran (tetapi secara islami)“]. Tidak dijelaskan bagaimana Rasulullah SAW menjalin hubungan dengan Khadijah r.a. Emang, “pacaran”-nya beliau kayak apa?

Jawaban M Shodiq Mustika:

Postingan tersebut memang hanya menjawab pertanyaan apakah Nabi Muhammad saw. pernah pacaran ataukah tidak. Untuk membahas pacaran beliau kayak apa, kita membutuhkan penjelasan tersendiri seperti di bawah ini:

Seperti telah kita ketahui bersama, makna asli “pacaran” adalah “persiapan nikah”. (Lihat “Definisi & Bentuk Nyata Pacaran Islami“.) Dengan definisi tersebut, di bawah ini hendak aku paparkan pengamatanku mengenai bagaimana berlangsungnya proses yang menjadikan Khadijah-Muhammad siap menikah:

1. TA’ARUF PASIF: Khadijah mulai “naksir” Muhammad lantaran mendengar kabar mengenai kemuliaan akhlak beliau.

Saat itu, masyarakat Makkah sedang ramai membicarakan Muhammad bin Abdullah, seorang pemuda yang bisa menjaga kejujuran dan keluhuran hati, sementara para pemuda pada umumnya suka berfoya-foya. Khadijah naksir itu bukan lantaran ketampanan atau pun kekayaannya. Malah, saat itu Muhammad saw. merupakan pemuda yang miskin.

2. TA’ARUF AKTIF: Khadijah menyaksikan sendiri kemuliaan akhlak Muhammad melalui perbincangan dalam tatap muka langsung.

Pada mulanya, ketertarikan Khadijah kepada Muhammad bukanlah dalam rangka kepentingan asmara, melainkan bisnis. Kita tahu, Khadijah ialah seorang pengusaha kaya. Lantas, Khadijah pun memanggil Muhammad dan mengajaknya berbincang-bincang mengenai perdagangan. Dengan perbincangan seperti ini, Khadijah bisa mulai mengecek apakah benar bahwa Muhammad berakhlak mulia.

3. TANAZHUR (TA’ARUF INTERAKTIF): Khadijah dan Muhammad menjalin kerja sama pengembangan karir.

Melalui perbincangan tersebut tadi, Khadijah menganggap bahwa Muhammad adalah sosok yang ia butuhkan untuk berdagang ke negeri Syam. Muhammad pun menerima tugas itu dengan senang hati. Dengan interaksi seperti ini, Khadijah dapat me-recheck atau melakukan pengujian terhadap Muhammad sebelum benar-benar yakin bahwa Muhammad memang berakhlak mulia.

4. TANAZHUR LANGSUNG: Khadijah mengalami sendiri indahnya menjalin kebersamaan dengan Muhammad yang berakhlak mulia.

Sepulangnya Muhammad saw. dari negeri Syam, Khadijah menerima laporan langsung dari beliau mengenai penunaian tugas berdagang tersebut tadi. Khadijah sangat gembira dan terlihat antusias sekali menyimak laporan tersebut. Secara demikian, tumbuhlah rasa cintanya kepada beliau. Dari hari ke hari, cintanya semakin mendalam.

5. TANAZHUR BERJARING: Khadijah memanfaatkan jaringan (network)-nya untuk memperlancar interaksinya dengan Muhammad.

Maisarah ialah orang kepercayaan Khadijah yang menyertai Muhammad berdagang ke Syam. Ia pun menceritakan pengalaman-pengalaman yang ditemuinya selama perjalanan. Laporan-laporannya mengenai kemuliaan Muhammad menjadikan Khadijah semakin berhasrat untuk menjadi istri beliau.

6. TANAZHUR BERMEDIA: Khadijah mengerahkan “agen cinta” untuk memperlancar hubungannya dengan Muhammad.

Dalam tradisi Arab ketika itu, bila seorang perempuan kaya mendatangi seorang pemuda untuk meminta menikahinya, maka itu dipandang memalukan. Untuk menyiasatinya, Khadijah pun mengutus Nafisah, seorang kepercayaannya lainnya, untuk membujuk Muhammad supaya mau melamar dirinya.

7. KHITBAH: Muhammad melamar Khadijah untuk menjadi istri beliau.

Di depan keluarga Khadijah, Muhammad saw. melamarnya. Maharnya 20 ekor unta. Lamaran pun diterima. Pernikahan itu sendiri dilaksanakan pada waktu 2 bulan 15 hari setelah Muhammad datang dari Syam. Usia Muhammad saat itu 25 tahun, sedangkan Khadijah 40 tahun.

Wallaahu a’lam.

Konsultasi: Pilih menikah ataukah bekerja?

Posted on Updated on

Saya seorang gadis berusia kurang dari 30 tahun. Saya bekerja sebagai pegawai tetap di sebuah bank bumn dengan gaji pokok “lebih dari cukup”, belum termasuk tunjangan dsb. Saya kos karena penempatan kerja di luar kota tempat tinggal. Saat ini saya berpacaran dengan salah seorang teman satu perusahaan, usia lebih dari 30 tahun. Saya sudah berpacaran sekitar 5 th. Karena kesibukan masing2, walaupun satu kota tapi kami hanya bertemu seminggu sekali. Peraturan perusahaan melarang pernikahan satu atap, salah satu harus mengundurkan diri. Pembicaraan antara saya dan dia sepakat saya yg mengundurkan diri dengan pertimbangan usia saya masih banyak kesempatan untuk mencari kerja lagi. Supaya tidak kena denda (yg jumlahnya cukup besar) karena resign sebelum menyelesaikan ikatan dinas selama 5 th, maka kami sepakat untuk menyelesaikan ikatan dinas tsb. Saya sampaikan kepada orang tua dan keluarga saya jika saya menikah maka saya harus resign. Mereka keberatan karena saya adalah kebanggaan keluarga & keluarga besar dan bisa dikatakan saya penyumbang dana terbesar dalam keluarga (saya ikhlas). … Saya sangat memahami ortu, … punya anak pegawai bank adalah kebanggaan luar biasa menurut mereka. Gaji tiap bulan saya gunakan untuk keperluan saya, membantu keluarga, dan menabung. Ikatan dinas saya habis tahun ini, saya persiapkan diri untuk bisa menikah:
1. nglamar kerja kesana sini untuk dapat kerjaan baru. Syarat ortu, saya boleh keluar dari kerjaan dan boleh menikah jika sudah dapat kerjaan baru (kerja kantoran kalo bisa yang selevel dengan perusahaan sekarang). saya tidak boleh nganggur…
2. karena rumah dekat dengan kampus, saya membuat kosan untuk ortu saya, dengan pertimbangan jika saya menikah dan ortu sudah tidak bisa kerja, maka mereka tetap dapat uang tiap bulan dari uang pembayaran kos…
3. sekarang saya berusaha hemat & menabung untuk persiapan biaya menikah (tabungan sebelumnya habis untuk membuat kosan)
4. saya lakukan pendekatan supaya keluarga bisa menerima jika saya keluar dari pekerjaan dan menikah
sampai sekarang keluarga tetap merasa keberatan. pada dasarnya secara pribadi mereka setuju saya menikah dengan pacar saya. mereka cocok dengan pacar saya, tapi mereka tetap keberatan jika saya keluar dari kerjaan.
5. sejujurnya saya sangat bingung antara keluarga atau pacar=menikah atau bekerja?
saya berusaha untuk sholat tahajud, istikaroh, memperbanyak sedekah dan konsultasi kesana kemari untuk masalah saya. skitar 2 bulan ini keinginan saya untuk menikah semakin besar dan merasa mantap, saya tidak tau apakah ini napsu untuk memiliki ataukah petunjuk dari alloh atas doa saya. mohon saran dan pendapat pak shodiq.
6. kami pernah putus nyambung lagi. gak tau kenapa, sulit mencari pacar baru. saya dan dia benar-benar merasa cocok.. walaupun sedikit kami sudah memahami kekurangan dan kelebihan masing2.
7. saya sekolah lagi dengan biaya sendiri, agar lebih mudah dpt pekerjaan. alhamdulillah sudah selesai jadi sarjana. (ayah tambah bangga) dulu ayah menyekolahkan saya d3.

agar bisa segera menikah pacar saya juga berusaha menabung untuk pra & pasca menikah, pendekatan dengan ortunya (malah ortunya sudah pengin ngelamar saya) & ortu saya, nyari info kerjaan buat saya, nganter saya tes kerja dll. dia bersedia tetap menunggu saya menyelesaikan ikatan dinas dan menunggu sampai dapat pekerjaan. saya sangat menghargai penantiannya.. kadang saya merasa kasian karena dia sudah didesak keluarganya untuk segera menikah. dia bersikeras tetap menikah dengan saya dan tidak mau dengan orang lain. menurut dia apa yang dia cari ada pada diri saya. dia sepakat untuk tidak menikah selama belum ada restu dari ortu saya. dia tetap ingin saya bekerja seperti keinginan ortu saya agar kebanggaan keluarga saya tidak hilang. dia merasa karena dialah saya jadi keluar dari kerjaan.
oiya, pada dasarnya saya senang wirausaha, saya punya warung lesehan dan punya bisnis distributor kecil-kecilan. saya tidak senang bekerja pada orang lain. tapi menurut ortu itu bukan pekerjaan itu cuma sampingan. dalam pikiran mereka yang namanya bekerja ya di kantor (saya sangat maklum dengan pendapat mereka).

melalui email ini saya mohon saran pak shodiq atas masalah saya :
1. apa yang harus saya lakukan, saya takut berbuat dosa karena pacaran terlalu lama. bukankah menikah adalah mulia dan ladang amal? tetapi mengapa keluarga saya merasa keberatan karena alasan materi dan kebanggaan? saya takut jadi anak durhaka dan tidak tau terima kasih. saya takut mengecewakan ortu saya. saya takut berbuat sesuatu yang tidak diridhoi ortu saya.
2. saya juga takut dan bingung, jika saya keluar dari pekerjaan apakah berarti saya tidak bersyukur pada alloh yang telah memberikan pekerjaan yang bagus untuk saya saat ini?
dan jika saya tidak menikah dengan pacar saya, apakah saya menyianyiakan kesempatan yang alloh berikan pada saya yang telah mempertemukan saya dengan pacar saya? walaupun saya tidak tau apakah dia jodoh saya.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Seperti pada kasus “Ingin Nikah Tapi Dibutuhkan Keluarga“, kamu dihadapkan dengan dua alternatif yang sama enaknya. Kalau kau segera menikah, maka kau menjalankan sunnah Nabi yang berupa pernikahan. Sedangkan bila kau tunda dulu pernikahanmu demi memenuhi keinginan keluarga, maka kau pun menjalankan sunnah Nabi pula yang berupa berbakti kepada orangtua dan kerabat dekat. Oleh karena itu, jawabanku:

1. Pilihlah keduanya: menikah dan sekaligus bekerja. Dalam keadaanmu yang terikat oleh ikatan dinas, pacaran kamu tidaklah tergolong terlalu lama. Apalagi pacarmu bersedia menunggumu hingga memperoleh pekerjaan baru. Jadi, dapatkanlah pekerjaan baru setelah masa ikatan dinas selesai supaya kamu dapat menikah dengan pacarmu.

Adapun supaya kalian tidak tergoda untuk berbuat dosa, khususnya zina, maka hendaklah kalian lebih menjaga diri. Diantaranya dengan mengerahkan jurus-jurus penangkal zina dan tidak bertatap muka, kecuali bila dalam keadaan terawasi, sehingga tak mungkin berzina.

2. Jika informasimu itu sudah relatif lengkap (tidak ada yang kau tutup-tutupi), maka aku yakin bahwa pacarmu ini adalah jodoh terbaik bagimu. Seandainya kau meninggalkannya demi “pekerjaan yang bagus saat ini”, maka menurutku kau menyia-nyiakan jodoh yang telah disediakan Allah untukmu.

Bagaimanapun, mencari jodoh sebaik dia itu jauh lebih sulit daripada mencari pekerjaan baru yang juga bagus. Dengan ijazah dan pengalaman kerjamu, kamu akan lebih mudah mencari pekerjaan baru yang juga bagus. Apalagi, syarat dari orangtuamu juga tidak terlalu kaku, yaitu asalkan kantoran dan “kalo bisa yang selevel”. Jadi, syarat minimalnya hanyalah kerja kantoran. Dengan syarat ini, aku yakin kamu mampu memenuhinya.

Demikianlah jawaban dan saranku. Wallaahu a’lam. Semoga Dia senantiasa membimbing langkah kalian dan menjauhkan kalian dari segala dosa. Aamiin.

Bagaimana Meluluhkan Hati Orangtua

Posted on Updated on

Pak Shodiq… Saya sangat senang sekali bisa menemukan website bapak ini.. Saya bisa mendapatkan informasi – informasi yang sangat berharga, yang kebetulan juga saya sedang menghadapi masalah tentang percintaan. Saya harap bapak tidak keberatan untuk menyumbangkan saran bapak..

Begini Pak…

Saya berumur 25 thn, dan saat ini sedang menjalin hubungan dengan seorang pria yang perbedaan usianya 8 taun lebih tua dari saya. Kami telah melakukan pacaran jarak jauh hampir 1 taun, karena saya kerja di Jakarta dan dia kerja di Jogja. Pertemuan kami pun tidak menentu. Kadang 2 bulan sekali ato bahkan lebih. Komunikasi kami (telpon, SMS, dan email), Alhamdulillah lancar. Saya sangat menikmati hubungan ini.. Walo kata orang susah.. namun saya berusaha untuk menikmatinya.. dan Alhamdulillah.. hingga saat ini.. kami belum pernah bertengkar… Dan kami berusaha untuk pacaran yang biasa – biasa saja.. sperti pacaran Islami..

Namun, Pak.. masalah datang dari keluarga saya.. Orang tua saya kurang menyetujui hubungan kami dengan beberapa alasan, yaitu pekerjaan, umur, latar belakang keluarga. Mungkin akan saya jelaskan satu persatu..

– Mengenai pekerjaan
Pacar saya bekerja di perusahaan leasing, sudah hampir 3 taun, dengan penghasilan tetap, dan gaji yang lumayan (menurut saya), karena dia sudah bisa membeli kebutuhannya sendiri. Namun menurut orang tua saya, pacar saya belum mapan. Karena perusahaannya yang kurang bonafid, tidak memberikan kesejahteraan di hari tua nanti sperti tunjangan kesehatan, pensiun, dll. Maklum orang tua saya adalah pensiunan BUMN, dimana sampai saat ini masih mendaptkan pensiun dan dana kesehatan. Dan juga.. terkadang orang tua saya menyinggung soal gaji. Menurut mereka.. gaji pacar saya lebih kecil dari saya.. Dan mereka khawatir, jika suatu saat kami menikah, sayalah yang akan menanggung semua biaya hidup rumah tangga kami.
Saya sudah membicarakan masalah ini kepada pacar saya.. Dan dia akan berusaha untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, yang sesuai dengan keinginan orang tua saya. Paling tidak, pacar saya ingin membuktikan kepada kedua orang tua saya, jika dia akan bertanggung jawab atas saya.
Namun.. saat saya mencoba membicarakan hal ini kepada ibu saya.. Ibu saya malah mengatakan “Iya kapan usaha nya.. kapan suksesnya.. Nanti aja kalo uda sukses baru deket – deket lagi. Kalo sekarang ga usah deket deket dulu…”
Pak.. saya harus bagaimana?

– Mengenai umur
Orang tua saya mengatakan bahwa pacar saya terlalu tua untuk saya. Bagaimana nanti jika kami punya anak yang masih keci, dan ayahnya sudah berumur banyak. Yah memang sih.. masuk akal.. Tapi.. apakah iya.. itu merupakan patokan?

– Mengenai latar belakang keluarga
Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, ayah saya adalah pensiunan BUMN. Dan pernah suatu saat, saya bersitegang dengan kedua org tua saya tentang hal ini… Mereke mengatakan bahwa saya harus dapat jodoh yang setara.. Setara keluarganya dengan kita dan juga setara pekerjaannya. Terus terang.. saya tidak pernah mengorek lebih dalam tentang keluarga pacar saya itu. KArena saya pikir itu privacy keluarga nya dia. Namun secara garis besar saya tau, karena saya sudah dekat dengan keluarganya, terutama ibunya. Alhamdulillah. Mereka adalah keluarga yang utuh, sederhana, dan tidak pernah neko – neko. Memang jika dilihat dari segi materi.. orang tua saya lebih dari orang tua pacar saya… Tapi.. apa iya.. itu yang dijadikan patokan… toh keluarga pacar saya adalah keluarga baik – baik..

Pernah suatu hari.. saya mendengar dari sepupu saya.. klo orang tua saya pernah berfikir saya dipelet. Ya Allah.. Pak Shodiq… sedih rasanya..

Begitu juga klo saya pulang ke Jogja, dan pacar saya main ke rumah saya.. Orang tua saya lebih sering mengabaikan dia. Terkadang dicuekin.. Dan pacar saya bilang kalau dia merasa tidak nyaman maen ke rumah saya… Namun dia berusaha positif thinking.. dan ingin pelan – pelan mendekati kedua orang tua saya.. dan itulah yang membuat saya terharu, Pak.

Pak.. saya bingung.. di satu sisi.. saya sayang kepada orang tua saya.. dan saya tidak ingin menjadi anak durhaka. Kalaupun menikah, saya ingin mendapat restu dari keduanya. Namun di sisi lain, Pak.. Saya juga sayang dengan pacar saya.. Karena dia sangat mengerti saya.. saya merasa nyaman saat bersama dia.. Dan dalam diri saya.. ada keyakinan bahwa dia akan menjadi suami yang baik & bertanggung jawab, serta ayah yang baik bagi anak – anak kami kelak. Apakah boleh pak, saya berfikir demikian?

Pak Shodiq.. menurut pak Shodiq saya harus bagaimana?

Pacar saya slalu kasi support kepada saya untuk selalu tetep berusaha dan bersabar. Juga berdoa kepada Allah untuk minta petunjuk dan dibukakan jalan untuk masalah kami.. Itu lah pak.. kesabaran dan usaha gigih dia yang membuat saya jadi semakin semangat untuk siap mengarungi bahtera rumah tangga bersama dia.

Saya pribadi tidak masalah, Pak, kalau orang tua saya tidak setuju dan menyuruh saya meninggalkan pacar saya. Tapi itu pun jika alasannya jelas. Misalnya pacar saya nakal atau narkoba, dan lain sbg nya. Namun permasalahannya, mereka tidak suka dengan pacar saya karena status sosial.. karena pekerjaan.. yang menurut saya.. semua itu akan bisa didapat jika kita mau berusaha, karena itu kan hanya bersifat duniawi… Toh pacar saya juga sudah pegawai tetap. Tapi mereka tetap tidak bisa terima dengan alasan perusahaannya tidak ada masa depan..

Pak Shodiq.. harap bapak tidak bingung ya membaca curhatan saya yang menggebu gebu ini.. Hehehehehe..

Smoga Bapak tidak keberatan untuk memberikan saran… Terima kasih..

Tanggapan M Shodiq Mustika: Baca entri selengkapnya »

Saat Akhwat Kewalahan Menahan Syahwat

Posted on Updated on

Pak Shodiq, saya ingin mencari jalan keluar. Dulu, pertama kali saya pacaran, saya tidak bisa mengontrol diri. Begitu banyak setan yang menggoda. Saya mulai mengenal ciuman, saling raba, dan jadi ketagihan. Saya merasa tidak tenang karena tahu itu salah. Akhirnya saya memutuskan hubungan.

Lalu setelah menjadi aktivis tarbiyah, ada lagi yang mendekati saya. Dia sesama kader tarbiyah. Kami pun diam-diam pacaran sampai beberapa bulan. Lagi-lagi saya tidak dapat menahan gejolak muda, bahkan lebih parah. Kami pun putus karena merasa sangat tidak nyaman. Itu yang kedua.

Tidak lama berselang, saya mulai didekati lagi oleh seorang aktivis dakwah. Awalnya saya hanya kagum, namun kemudian saya pacaran juga dengannya. Ternyata dia pun termasuk orang yang susah menahan nafsu syahwat, sehingga kami melakukan perbuatan yang sangat memalukan sebagai aktivis dakwah. Saya akhirnya putus dengannya. Itu yang ketiga.

Beberapa waktu kemudian, saya didekati oleh teman saya. Saya pun menerima cintanya, tetapi lagi-lagi perbuatan memalukan itu terjadi, bahkan mencapai “puncak” (hampir melakukan hubungan seksual, namun urung karena saya takut). Kami pun jadi ketagihan. (Saya tidak ingin mendekskripsikan apa yang saya lakukan. Saya sendiri malu untuk mengingatnya. Saya merasa benar-benar berlumur dosa yang menggunung.) Akhirnya, saya juga putus dengannya. Itu yang keempat.

Setelah empat kali mengalami pengalaman memalukan itu, saya sempat berfikir tidak mau menikah karena kasihan dengan suami saya nanti. Namun entah mengapa, gejolak ingin menikah begitu besar dalam diri saya. Saya pun tidak tenang, lalu memberanikan diri untuk berta’aruf dengan seorang ikhwan melalui bantuan murobbi.

Tak lama kemudian, alhamdulillah, si ikhwan mengatakan ingin menjadikan saya istrinya secepatnya. Saya merasa senang. Saya tidak ingin melakukan hal yang sama seperti dulu, Pak. Saya takut pacaran. (Memang dari dulu saya diberi pemahaman bahwa pacaran itu tidak boleh, tapi saya tetap saja melakukannya secara diam-diam.)

Meskipun ingin menikah secepatnya, ternyata si ikhwan masih membutuhkan waktu untuk persiapan nikah. Saya jadi bimbang. Di tengah kebimbangan, saya menemukan blog bapak yang menulis mengenai pacaran islami. Lantas saya mengusulkan kepada si ikhwan untuk pacaran secara islami sebagai langkah persiapan menuju pernikahan.

Dia sependapat dengan saya. Bismillah, jadilah dia imam saya dalam pacaran islami ini.

Dia tidak pernah dan tidak mau menyentuh saya sedikit pun sebelum “waktunya”. Saya jadi merasa dihargai.

Kami jarang ketemu. Saat dilanda kerinduan, kami hanya mengobatinya dengan komunikasi melalui handphone. Saya pikir, kalau ketemu langsung saat kangen, bisa-bisa terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

Menurut bapak, apakah yang saya lakukan terakhir itu sudah tepat? Saya benar-benar ingin bertobat, pak.

Semoga Allah memberi bapak kelapangan waktu sehingga berkenan membaca dan membalas email ini. Alhamdulillah, saya sering membaca postingan bapak. Banyak hikmah yang saya peroleh sebagai bahan pembelajaran dan evaluasi diri. Terima kasih, pak.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Pertama, aku pun berterima kasih telah dipercaya untuk turut menyampaikan pendapat dalam rangka menyelesaikan persoalanmu. Kedua, aku mohon dimaklumi bahwa eMailmu yang kukutip di sini telah aku edit seperlunya. Aku hapus informasi-informasi tertentu yang dapat menunjukkan identitas dirimu. Dengan demikian, aku yakin kehormatanmu tetap terjaga.

Aku mengasumsikan bahwa curhatmu sudah lengkap, tak ada yang kututup-tutupi. Dengan asumsi ini, jawabanku atas pertanyaanmu adalah: Ya, sikapmu yang terakhir itu sudah tepat. (Lihat “Mengapa Sengaja Jauh di Mata“.) Namun, jawaban “sudah tepat” itu belum memadai. Aku masih perlu menambahkan beberapa catatan yang perlu kau perhatikan:

  1. Ketika kalian berkomunikasi dengan media, utamakanlah media tulisan (SMS, eMail, dsb.) daripada audio-visual (telepon, video calling, dsb.). Sebab, nafsu birahi lebih mudah terangsang melalui audio-visual daripada tulisan.
  2. Karena kau kewalahan menahan syahwat, janganlah bersentuhan dengan pria nonmuhrim, baik dengan pacarmu maupun dengan orang lain. (Lihat “Mengapa Wanita Mudah Terangsang…“)
  3. Karena kau kewalahan menahan syahwat, janganlah bertemu dengan pacar, kecuali kalau ada orang lain yang mengawasi kalian, sehingga kalian tak mungkin bersentuhan.
  4. Mohonlah bantuan kepada Allah supaya terjaga dari zina, misalnya dengan berdoa/berzikir yang relevan seperti yang kupaparkan dalam Bab 18 di buku Doa & Zikir Cinta.
  5. Kerahkanlah jurus-jurus penangkal zina.
  6. …. (yang ini bersifat pribadi, lewat eMail aja, ya!)

Wallaahu a’lam.

Konsultasi: Pacar nonmuslim bagaimana?

Posted on Updated on

saya sedang menjalani hubungn dengan seorang pria….pada awalnya saya menerima dia karena kasihan saja..tetapi pada akhirnya saya sayang dengan dia…akan tetapi masalahnya adalah dia non muslim…awalnya saya menerimanya juga karena dy begitu tertarik dengan islam, dan ketika kami menjalin hubungan ini dy ingin menikahi ku dan akan masuk islam, saya belum membicartakn hal ini pada orang tua saya, tetapi kakak saya sudah tau..dan ia marah besar,, kami sempat putus karena diriku masih mempermasalahkan perbedaan agama itu, tetapi sekali lagi dia meyakinkan saya kalau dia akan masuk islam…saya harus bagaimana ustadz…dia berkata tolong dukung dia dan membimbingnya dalam islam….setiap saya berdoa saya berdoa tolong berikan yang terbaik buat saya apakah ini jodoh yang terbaik..kenapa saya tidak bisa jauh dari dia….apa yang harus saya lakukan??

Jawaban M Shodiq Mustika: Baca entri selengkapnya »

MUI: Wajib Tes HIV/AIDS Sebelum Menikah

Posted on Updated on

Akhir-akhir ini, sedang diwacanakan keharusan untuk menjalani tes HIV/AIDS bagi pasangan yang hendak menikah. Setujukah dirimu dengan “kewajiban” ini? Untuk pertimbangan, silakan simak sejumlah berita terkait berikut ini:

  • MUI mengusulkan pemerintah hendaknya membantu biaya cek HIV/AIDS. Terlebih jika sudah ada kesepakatan mengenai cek HIV/AIDS sebagai syarat menikah, maka sudah semestinya dokter ahli dan peralatan pendukung cek kesehatan menyebar merata di pelosok nusantara. “Kalaupun tidak ada, negara harus bertanggung jawab mengadakan demi masa depan bangsa dan keturunan yang berkualitas. Karena kalau tidak maka penularan HIV/AIDS akan terus berlangsung.” (Baca berita selengkapnya: “MUI Bengkulu setuju tes HIV/AIDS jadi syarat nikah“)
  • Bebas penyakit HIV/AIDS sebelum menikah perlu didukung dan disambut baik, karena pemikiran tersebut cukup cemerlang dalam upaya menyelamatkan kehidupan masyarakat dari penyakit yang menakutkan itu. Hal tersebut ditegaskan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Abdullah Syah ketika diminta pendapatnya mengenai cek penyakit HIV/AIDS sebagai syarat nikah tersebut di Medan, Senin (8/6). (Baca berita selengkapnya: “MUI SumUt: Tes HIV/AIDS Pra Nikah Perlu Didukung“)
  • Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku setuju adanya persyaratan surat keterangan bebas penyakit HIV/AIDS bagi setiap pasangan yang akan melangsungkan pernikahan. “Secara keagamaan harus didukung. Rencana itu sangat positif karena bertujuan mencegah bahaya penyebaran virus HIV/AIDS yang hanya akan menyengsarakan pasangan mau menikah,” kata Latuconsina kepada ANTARA di Ambon, Selasa. (Baca berita selengkapnya: “MUI Maluku Setuju Bebas AIDS untuk Syarat Nikah“)

Konsultasi: Mencintai cowok yang sudah punya pacar

Posted on Updated on

aku lagi suka atau lebih pastinya, aku ge jatuh cinta sama seorang cowok. aku deket sama dia. bahkan kami sering jalan bareng. aku sering beri perhatian lebih sama dia, dan aku rasa dia tau kalau aku suka sama dia. yang aku pusingin, cowok itu udah punya cewek. tapi hubungan mereka udah mau putus. apakah aku jahat, kalau men doakan mereka putus. dan aku harus kaya gimana…..???
cowok itu juga sering memeberi perhatian lebih sama aku. bahkan, terkadang aku di perlakukannya seperti cewek nya. aku haruz kaya gimana……..??>?

Jawaban M Shodiq Mustika: Baca entri selengkapnya »