Suami-Istri

Suami bersedekah tanpa setahu istri, halal atau haramkah?

Posted on Updated on

… bagaimana hukumnya seorang suami … melayani (atau memberi) pertolongan (pada) seorang gadis non muhrim tanpa sepengetahuan istrinya. Apa hukumnya berdosa … Sedang gadis tersebut sangat memerlukan sekali pertolongan tersebut yang berupa uang guna keperluan sekolahnya yang dia memang masih sekolah…

Menurut Islam ala Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah:

Hendaklah pengeluaran harta tersebut diketahui dan dimusyawarahkan dengan istri Anda. Libatkanlah istri dalam hal pemberian yang bisa dikatakan beasiswa kepada gadis yang anda tolong tersebut.

Perlu diingat bahwa harta yang anda peroleh [sejak awal pernikahan hingga perceraian] disebut harta bersama (suami-istri). Jika pengeluarannya [untuk bersedekah atau pun keperluan lain] tanpa sepengetahuan istri, maka demikian termasuk berdosa.

Iklan

Bolehkah suami melarang istri pulang menyambut lebaran di rumah orangtuanya?

Posted on Updated on

Bagaimana kalo isteri nga’ diizin pulang menyambut lebaran di rumah orangtuanya atau meraikan majlis2 kerai’an seperti majlis perkahwinan sodaranya atau adik2nya? Apa bole dikira isteri menuntut hak untuk bersama keluarga atau wajib patuh jika dilarang suami?

Jawaban M Shodiq Mustika:

Kita senantiasa wajib memelihara hubungan kekeluargaan dan haram memutuskannya, termasuk setelah menikah. Jika ketidakhadiran dalam acara-acara keluarga itu akan merenggangkan hubungan kekeluargaan, maka istri sebaiknya (atau bahkan harus) menuntut hak untuk bersama keluarga pada acara-acara tersebut jika dilarang suami.

Suami yang melarang istri memelihara hubungan kekeluargaan itu akan dilaknati Allah dan tidak akan masuk surga. “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikanNya telinga mereka, dan dibutakanNya penglihatan mereka.” (QS Muhammad 47:22-23). Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan” (Muttafaq ‘Alaih).

Jadi, seharusnya suami mengizinkan istri memelihara hubungan kekeluargaan tersebut. Bahkan, lebih baik lagi bila suami mengantar istri ke acara-acara tersebut.

Artikel-artikel terkait:

Benarkah istri tak boleh keluar rumah tanpa izin suami, bahkan walau ayahnya sekarat?

Posted on Updated on

Asslamualaikum Pak Shodiq. Saya pernah terbaca satu hadis, tapi nga’ ingat di mana… lebih kurang katanya, seorang isteri itu nga’ bisa keluar rumah kalo tanpa izin suami. Meskipun bapanya meninggal atau sakit kuat.

Saya butuh hadis itu, tapi puas nyari’in di internet kok ngak bisa muncul . Pak, tolong ya… kalo2 bapak pernah terbaca hadis itu, saya butuhkannya untuk tau apa taraf hadis itu shahih?

Jawaban M Shodiq Mustika:

Walaupun populer, derajat hadits tersebut DHA’IF (lemah). Kutipannya adalah sebagai berikut.

Artinya: Dari Anas bin Malik (ia berkata): Bahwa seorang suami pernah keluar (rumah) dan ia perintahkan istrinya agar tidak keluar dari rumahnya. Dan bapak dari si istri itu tinggal di bawah rumah sedangkan ia tinggal di atasnya. Lalu sakitlah bapaknya, lalu dia mengirim utusan kepada Nabi Shalallahu alaihi wasallam menerangkan keadaannya (ia dilarang keluar rumah oleh suaminya sedangkan bapaknya saat ini sedang sakit).

Bersabda Nabi Shalallahu alaihi wasallam, “Taatilah perintah suamimu.” Lalu matilah bapaknya, ia pun mengirim utusan kembali menerangkan keadaannya (ia dilarang keluar rumah oleh suaminya sedangkan bapaknya saat ini telah wafat).

Bersabda Nabi Shalallahu alaihi wasallam, “Taatilah perintah suamimu.” Lalu Nabi Shalallahu alaihi wasallam mengirimkan utusan kepadanya (menyampaikan sabda beliau), “Sesungguhnya Allah telah mengampuni bapaknya karena ketaatannya kepada suaminya.”

DHOIF. Diriwayatkan oleh Imam Ath Thabany dalam kitabnya Mu’jam Al Ausath yang di sanadnya ada seorang rowi dhoif bernama Ishmah bin Mutawakkil sebagaimana dikatakan oleh Al Imam Al Haitsami di kitabnya, Al Majmauz Zawaa’id (4/313). Dan syaikhul Imam Al Albani telah melemahkan hadits di atas dalam Irwaul Ghalil (no 2014), karena kelemahan Ishmah bin Mutawakkil dan gurunya, yaitu Zaafir bin Sulaiman.

(dikutip dari kitab Hadits-Hadits Dhoif dan Maudhu’ karya Ustadz Abdul Hakim Abdat, penerbit Darul Qolam).

Kamal bin Hummam dalam Fath al-Qadir berfatwa bahwa bila istri bermaksud menuntut hak atau memenuhi kewajiban terhadap orang lain, seperti merawat orang sakit atau pun memandikan mayat, maka dia diperbolehkan keluar, baik dengan izin suaminya maupun tidak. Menurutnya, hal-hal seperti itu tergolong fardhu kifayah (kewajiban kolektif) yang tidak dapat dibatalkan oleh larangan suami. Karena itu, keluar rumah lantaran memenuhi kewajiban kolektif itu dapat dibenarkan menurut Syari’at.

Jadi, bila dalam rangka memenuhi kewajiban (baik fardhu ‘ain maupun fardhu kifayah), maka seorang istri boleh keluar rumah tanpa izin suami. Wallaahu a’lam.

“Istriku Bidadariku”

Posted on Updated on

– Menurut Pak Shodiq, apa arti dari Pernikahan?

Pernikahan adalah penyatuan jiwa-raga antara seorang pria dan seorang wanita untuk membangun keluarga baru yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Sakinah bermakna tenteram dan bertahan lama. Mawaddah berarti penuh dengan cinta kasih antara istri dan suami. Sedangkan rahmah mengandung makna penuh dengan karunia dari Allah Sang Maha Penyayang.

– Bagaimana Pak Shodiq memandang suatu pernikahan?

Menikah itu bagaikan menanam bibit pohon buah-buahan. Bila pengelolaannya baik, maka baik jugalah buah yang dihasilkannya. Begitu pula sebaliknya. Seandainya pengelolaannya buruk, maka buruk jugalah buah yang dihasilkannya.

– Pernikahan yang ideal menurut Pak Shodiq itu bagaimana?

Yang ideal adalah bila sang suami dan sang istri sama-sama merasa seolah-olah berada di surga sejak akad nikah hingga akhir hayat. Suami merasa, “Istriku bidadariku.” Begitu pula sebaliknya. (“Suamiku bidadaraku.”) Sementara itu, sebagaimana di surga, masing-masing tidak merasa takut akan kehilangan. (Apabila yang menonjol adalah rasa takut akan kehilangan pasangan, maka penderitaannya hampir bagaikan di neraka.)

– Menurut Pak Shodiq, apa yang dimaksud dengan relasi suami istri?

Pola hubungan antara suami dan istri dalam kaitannya dengan posisi masing-masing. Pandangan suami bisa berbeda dengan pandangan istri mengenai hubungan antara mereka ini.

– Dalam suatu pernikahan, biasanya relasi apa saja yang terjalin antara suami dan istri?

Dalam suatu pernikahan, segala kemungkinan relasi dapat terjadi. Faktor kepribadian dan latar belakang budaya masing-masing biasanya berpengaruh besar. Dalam pengamatan pribadi saya, relasi suami-istri yang paling banyak terjadi pada masa kini adalah relasi kepemilikan. Pola pikir suami pada umumnya adalah “saya memiliki istri”. Sedikit sekali yang berpikiran “saya dimiliki oleh istri”. Namun, pola pikir istri pada umumnya adalah “saya memiliki suami” dan sekaligus “saya dimiliki oleh suami”.

– Apakah relasi suami istri di Indonesia ini sudah berjalan dengan baik?

Relasi kepemilikan bukanlah relasi yang baik. Yang baik menurut saya diantaranya adalah relasi penyatuan (atas dasar cinta). Mestinya, pola pikir yang dominan pada kedua pihak adalah “Kami suami-istri saling mencintai bagaikan sepasang mempelai di surga“.

– Biasanya, permasalahan apa saja yang terjadi di dalam rumah tangga menyangkut relasi suami istri?

Relasi kepemilikan menumbuhkan akar masalah berupa “rasa takut kehilangan”. Sebab, hanya orang yang merasa memiliki sajalah yang bisa kehilangan. (Sebaliknya, orang yang merasa tidak memiliki apa-apa takkan merasa kehilangan apa-apa.)

Dari akar masalah tersebut, bisa tumbuh berbagai masalah “keserakahan” seperti perselingkuhan, kecemburuan yang berlebihan, merasa kebutuhan diri kurang terpenuhi, merasa kurang dihargai, merasa kurang dicintai, dan sebagainya. Masalah KDRT (kekerasan dalam rumahtangga) pada umumnya pun mungkin berakar di situ pula, terutama karena suami merasa sepenuhnya “memiliki” si istri, seolah-olah istri adalah budak yang dimiliki oleh suami.

– Apa saja hak dan kewajiban seorang suami?
– Apa saja hak dan kewajiban seorang istri?

Pembicaraan hak dan kewajiban itu berarti menggunakan sudut pandang hukum normatif (misalnya: hukum Islam dan hukum negara). Saya bukan ahli hukum normatif dan jarang pula menggunakan sudut pandang tersebut. Karena itu, saya mungkin kurang mampu menjelaskan apa saja hak dan kewajiban seorang suami atau pun istri.

Sebagaimana saya sebut di atas, saya memandang bahwa menikah itu bagaikan menanam bibit pohon buah-buahan. Jika kita melakukannya dengan berlandaskan cinta, maka segala yang kita lakukan dalam rangka penanaman dan perawatan pohon itu tidak kita rasakan sebagai kewajiban (atau apalagi beban). Kita juga tidak perlu menuntut hak kepada si pohon untuk memberi buah kepada kita. Bila kita menanam dan merawat pohon buah-buahan itu dengan penuh cinta, maka pohon tersebut akan menghasilkan buah yang sebagus-bagusnya “dengan sendirinya” (sesuai dengan sunnatullah).

– Bagaimana pandangan Pak Shodiq mengenai sepasang suami istri yang nekat menikah muda namun mereka tidak memiliki bekal yang cukup (baik dari segi mental maupun finansial)? Apakah hal tersebut akan berpengaruh dalam relasi suami istri pada pasangan tersebut?

Buru-buru menikah padahal belum siap itu mungkin menunjukkan “keserakahan”. Bolehjadi mereka terlalu bernafsu ingin “memiliki” sesuatu yang belum waktunya untuk “dimiliki”. Padahal, “keserakahan” itu merupakan salah satu unsur utama dalam pola “kepemilikan” seperti yang saya sebut di atas. Secara demikian, relasi kepemilikan pada pasangan semacam itu mungkin lebih menonjol.

Akibatnya, akar masalah yang akan mereka hadapi, yakni “rasa takut kehilangan”, akan lebih besar pula. Padahal, kemampuan mereka untuk mengatasi rasa takut ini masih amat kurang. Walhasil, bisa-bisa rumahtangga mereka (dan bahkan diri mereka sendiri) menjadi “layu sebelum berkembang”.

Hukum Mencintai Pria Lain Padahal Bersuami

Posted on Updated on

saya mau tanya kalo ada wanita pezina tp keluarganya tidak tahu truz dia selalu menuruti keinginan laki2 pezina itu sampai kemudian dia menikah dengan laki2 yang berzina dgn dia karna untuk menjaga nama baik keluarganya tanpa rasa cinta sedangkan dia mencintai orang lain itu hukumnya gmn?dan apa yang harus dilakukannya??

Jawaban M Shodiq Mustika: Baca entri selengkapnya »

Pengalaman Memalukan: “Kaya” Mendadak, Malah Hilang Ingatan walau hanya sesaat

Posted on Updated on

Kisah nyata ini sebetulnya membuat malu istriku dan juga diriku selaku suaminya. Sebab, kejadian “hilang ingatan” ini terjadi pada dia. Namun supaya kita semua bisa mengambil hikmah dari pengalaman ini, nggak pa pa deh, aku ungkapkan ceritanya di sini. Dirimu mau membacanya dan mengambil hikmahnya, ‘kan?

Baca entri selengkapnya »

Demi Istri Muda, Pak Haji Hajar Istri Tua Sampai Kepala Bocor

Posted on Updated on

Kasus kekerasan dalam rumah tangga ini mungkin dapat mencemarkan nama baik para haji, para kepala sekolah, juga para lelaki yang berpoligami. Bagaimana tidak? Pelakunya ialah seorang kepala SMA di Aceh Timur. Dia “bergelar” haji. Dia pun beristri lebih dari satu. Mungkin saja masyarakat akan [semakin] memandang negatif kepada poligami, ibadah haji, dan juga jabatan di dunia pendidikan. Mau tahu bagaimana beritanya?

Baca entri selengkapnya »

Konsultasi: Mau cerai karena beban berat

Posted on Updated on

Saya seorang laki-laki berumur 26 tahun telah menikah 1 tahun dan saya mempunyai persoalan mohon dibantu dengan sangat. Saya ingin bercerai dengan istri saya dikarenakan saya tidak cinta dengan istri saya dan saya ingin fokus ke karir dulu serta ingn membuat hidup saya dan Orang tua saya bisa hidup dengan layak. Saya menikahi istri saya dikarenakan rasa tanggung jawab saya terhadap istri saya dikarenakan waktu pacaran saya sangatlah bebas sekali sekali-kali kita bercinta walaupun begitu istri saya tidaklah hamil dan kita bepacaran hampir 4 tahun. Saya menikahi dia karena desakan dari orang tua istri saya dan juga dari istri. Sekarang saya sangat menyesali perbuatan masa lalu saya karena saya dari keluarga tidak mampu orang tua saya juga sudah sangat tua, kakak2 saya juga tidak mampu membantu orang tua karena hidup merekapun juga susah dan mereka semuanya tenlah berkeluarga hanya saya yang jadi tumpuan orang tua saya di karenakan saya lulusan S1 dengan biaya sendiri tapi sayang saya telah mengecewakan mereka. Hidup saya sekarang sangatlah susah hutang bertumpuk walaupun saya mempunyai gelar Sarjana, tapi itu tidaklah mencukupi saya pun masih numpang di mertua saya. Saya ingin sekali bercerai dengan istri saya namun saya tidak tega menceraikan istri saya sekarang istri saya sudah baik kepada saya namun jika saya melihat kondisi orang tua saya sekarang saya sangatlah kasihan terhadap mereka sesenpun uang saya tidak bisa membantu mereka. Tolonglah saya saya didera dilema yang membingungkan. Saya mohon bantuannya.

Jawaban M Shodiq Mustika:

Baca entri selengkapnya »

Satu-satunya buku zikir untuk solusi masalah cinta

Posted on Updated on

Cara zikir untuk atasi segala masalah CintaSampai saat ini, sepanjang pengetahuan kami, inilah satu-satunya buku yang berisi pedoman doa & zikir untuk mengatasi segala masalah cinta. Cakupannya meliputi cinta dalam arti luas seperti cinta antara orangtua dan anak maupun cinta dalam arti sempit, yakni asmara antarlawan jenis, baik pranikah maupun antara suami-istri. Sebelum ini, belum ada satu pun buku (atau bahkan artikel) karya orang lain yang mengemukakannya.

Baca entri selengkapnya »

Dzikir untuk Atasi Masalah Rumah-Tangga

Posted on

Berikut ini adalah kutipan naskah buku M Shodiq Mustika, Dzikir Cinta Islami, Bab 20, “Atasi Masalah Rumah-Tangga”. Isinya: cara dzikir [1] supaya suami bertanggung jawab, [2] supaya nafkah lahir-batin memuaskan, [3] supaya tidak kewalahan mengurusi rumah-tangga.

20

Atasi Masalah Rumah-Tangga

Saya ibu rumah tangga biasa dengan 3 anak. Sudah menikah 15 tahun dan sampai sekarang belum mendapat pekerjaan, meski lulusan sarjana pendidikan. Beda umur kami besar (suami 50 tahun, saya 35 tahun). Dulu saya memilih dia dengan harapan dapat hidup damai, sekarang saya rasakan seperti dalam neraka. Ada beberapa persoalan pokok yang saya hadapi.

  • 1. Ketat. Dia hanya memberikan separo dari gajinya pada saya. (Dia dosen golongan IIID). Jika memberikan, sudah dengan rincian tetek bengek, yang hanya pas untuk makan dan keperluan anak. Kalau ada keperluan lain, saya harus mengemis. Status saya seperti PRT saja.
  • 2. Ketidakpercayaan suami. Selalu dimulai dengan keuangan. Kalau ada yang harus dibeli di luar rencana, harus dicatat, misalnya ember pecah.
  • 3. Hubungan pasutri. Sebab jiwa saya tertekan, otomatis saya jadi malas dalam urusan ranjang. Kalau sudah begitu, voltasenya naik tinggi; ia jadi cepat tersinggung, lalu marah-marah.

Yang saya takutkan, saya jadi kurang cinta padanya, sebab banyaknya pertengkaran. Kekurangan biaya sehari-hari, selalu menjadi biang pertengkaran. Tolong jawab surat saya ini sebab banyak teman-teman saya menghadapi soal sama.

–Ny. D di Jabar

Nyonya D di Jabar, dengan senang hati saya jawab persoalan Anda, yang saya kaitkan dengan topik dzikir. Baca entri selengkapnya »