Cerita Lucu

Cerpen: Calon Menantu Yang Gugup

Posted on Updated on

cerpen islami | hikmah di balik kisah | humor sufi | khitbah, proses melamar calon istri |

Bagaimana rasanya bila kita melamar si dia berkali-kali tapi selalu ditolak? Kalau sudah 16 kali ditolak, masih perlukah mengajukan lamaran yang ke-17? Silakan merenungkannya setelah menyimak cerpen yang lucu dan menarik berikut ini.

Calon Mertua Usil vs Calon Menantu Gugup

Baca entri selengkapnya »

Iklan

“Pak Dosen, saya bersedia melakukan apa pun agar lulus ujian,” ujar si Mahasiswi

Posted on Updated on

SEORANG mahasiswi seksi yang terancam gagal ujian mendatangi kantor dosennya yang masih muda. Dia melirik ke sekelilingnya sebentar, menutup pintunya, dan langsung berlutut di hadapan sang dosen sambil memohon.

“Pak Dosen, saya bersedia melakukan apa pun juga agar lulus ujian….”, ujarnya sambil melirik genit.

Baca entri selengkapnya »

[Foto Lucu] Beginilah kalau sang ayah menyusui bayinya

Posted on Updated on

with a newborn babyPernahkah kita menyaksikan seorang ayah menyusui bayinya? Dalam film fiksi atau kenyataan? Tentulah yang bisa menyusui bayi secara alamiah itu ya wanita, terutama ibunya. Kalau sang ayah “menyusui” bayinya, paling-paling yang dia berikan adalah susu sapi atau….. gas beracun dari knalpot sepeda motor! (Eits, jangan ditiru!) Nih, sejumlah foto lucu (unik tapi nyata) tentang bagaimana sang ayah “menyusui” bayinya:

baby milk bottle

like father like son

baby milk bottle

Parenting Fail

Ketika cewek ABG pamer payudara di jalan raya, …

Posted on Updated on

Ini jangan ditiru dan jangan harap terjadi lagi, ya! Bukan hanya di jalan raya, di tempat lain pun jangan pamer payudara! Kalau ABG pamer payudara di tengah jalan raya, maka … (Tebaklah! Yang pasti, kejadiannya benar-benar di luar dugaan si ABG.) Ini dia berita di luar dugaan tersebut, di bawah gambar:

abg cantik cari tumpangan di jalan raya
ilustrasi: abg cantik cari tumpangan di jalan raya

Pamer Dada Berujung Celaka

Rabu, 16 Desember 2009 | 20:39 WIB

KOMPAS.com – Cherelle Dudfield menuai celaka lantaran dada. Soalnya, cewek 18 tahun ini malah tersambar mobil yang melaju kencang di tengah jalan di kotanya, Invercargill.

Ceritanya begini, ABG itu punya niat iseng. Ia melangkah ke tengah jalan. Tak cuma itu, aih..aih…, ia membuka kancing bajunya, ia menyibakkan bajunya…, dan ia memamerkan dadanya!

Maksud hati, siapa tahu, ada pengendara mobil nan ganteng berhenti dan memberi tumpangan. Tapi, hasrat itu tak kesampaian.

Sebuah mobil sedan yang melaju kencang justru menyambarnya. Kontan, Dudfield jumpalitan di atas kap dan menghantam kaca depan mobil itu. Untung, cuma luka ringan yang didapatnya!

Jadilah, seperti The Sun mewartakan, Rabu (16/12/2009), pengadilan mengkategorikan tindakan Dudfield sebagai berbahaya. Ganjaran untuknya, denda 120 poundsterling.

XVD

Editor: primus

Cerita Lucu: Sandal yang Berlainan Warna

Posted on Updated on

Seorang bapak pergi dengan anaknya untuk berjalan-jalan menghirup udara segar. Belum berapa jauh berjalan, sang bapak sadar bahwa sandal yang dipakainya berlainan warna, yang kanan merah dan yang kiri berwarna biru.

Karena malas untuk kembali, ia menyuruh anaknya untuk pulang mengambilkan sandal yang betul, dan sementara itu ia menunggu di bawah pohon yang rindang. Setelah berapa lama, sang anak kembali dengan tangan kosong ….

“Kenapa kamu tidak bawa sandalnya ….?!!” ujar sang bapak gusar.

“Percuma, Pa … soalnya sandal yang di rumah juga berlainan warna.”

Begitulah. Cara pikir yang sepenggal-sepenggal seringkali menghadirkan cerita lucu. Contohnya diantaranya adalah kisah humor di atas tadi. Semoga cerita humor tersebut bukan hanya menghibur kita, melainkan juga dapat mendorong kita untuk lebih utuh dalam memandang persoalan apa pun.

Hasil Penelitian: Peringatan bahaya rokok pada bungkus rokok justru tingkatkan pemakaian rokok

Posted on Updated on

peringatan bahaya merokok pada bungkus rokokSudah cukup lama, pemerintah mengharuskan pencantuman peringatan “Merokok dapat menyebabkan kangker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin” pada setiap bungkus rokok. Demikian pula di luar negeri. Pada bungkus rokok harus dicantumkan peringatan maut seperti pada gambar di sebelah kiri ini. Peringatan maut seperti itu diyakini (entah atas dasar apa) merupakan cara yang cukup ampuh untuk mengurangi tradisi merokok. Namun, benarkah cara begitu itu efektif?

Mungkin TIDAK. Menurut suatu penelitian ilmiah yang hasilnya diterbitkan di Journal of Experimental Social Psychology, cara peringatan maut seperti itu seringkali tidak ampuh, tetapi justru meningkatkan pemakaian rokok. Yang lebih efektif adalah peringatan yang tidak terkait dengan kematian. Misalnya, “Merokok menjadikan Anda tidak menarik lagi.

Ini dia beritanya: (Maaf, berita berikut ini masih berbahasa Inggris. Kalau dirimu sudah temukan versi Indonesia-nya, tolong kasih tahu, ya!)

Cigarettes kill, but don’t tell smokers?

SINGAPORE (Reuters) – Cigarette pack warnings that remind smokers of the fatal consequences of their habit may actually make them smoke more as a way to cope with the inevitability of death, according to researchers.

A small study by psychologists from the United States, Switzerland and Germany showed that warnings unrelated to death, such as “smoking makes you unattractive” or “smoking brings you and the people around you severe damage,” were more effective in changing smokers’ attitudes toward their habit.

This was especially the case in people who smoked to boost their self-esteem, such as youth who took up the habit to impress or fit in with their peers and others who thought smoking increased their social value, the researchers said.

“In general, when smokers are faced with death-related anti-smoking messages on cigarette packs, they produce active coping attempts as reflected in their willingness to continue the risky smoking behavior,” the study said.

“To succeed with anti-smoking messages on cigarette packs one has to take into account that considering their death may make people smoke.”

The study was based on 39 psychology students, aged between 17 and 41, who said they were smokers.

Participants filled in a questionnaire to determine how much their smoking was based on self-esteem, were then shown cigarette packs with different warnings on them, and then after a 15-minute delay, the students were asked more questions about their smoking behavior that included if they intended to quit.

“One the one hand, death-related warnings were not effective and even ironically caused more positive smoking attitudes among smokers who based their self-esteem on smoking,” the study said.

“On the other hand, warning messages that were unrelated to death effectively reduced smoking attitudes the more recipients based their self-esteem on smoking.”

The researchers said this finding can be explained by the fact that warnings such as “smoking makes you unattractive” may be particularly threatening to people who believe that smoking makes them feel valued by others or boosts their self-image.

The study was published in the Journal of Experimental Social Psychology.

(Writing by Miral Fahmy; Editing by Alex Richardson)

Mobil Beli, Bukan Hasil Korupsi?

Posted on

SEBUAH proyek rekanan antara pihak swasta dan pemerintah selesai dibangun. Pihak rekanan (swasta) pun merasa perlu berterima kasih kepada pejabat terkait atas selesainya proyek tersebut. Maka, wakil dari perusahaan rekanan pemenang tender proyek pun datang ke rumah sang pejabat untuk memberikan sekadar hadiah.

Rekanan: Pak, ada hadiah dari kami untuk Bapak. Ya, sekadar mobil ala kadarnya, saya parkir di bawah.

Pejabat: Anda mau menyuap saya? Apa-apaan itu? Tender sudah kelar, kok. Jangan begitulah, bahaya.

Rekanan: Tolonglah Pak, diterima. Kalau nggak, saya dianggap gagal membina relasi oleh atasan saya.

Pejabat: Ah, jangan begitu, dong. Saya berkeberatan.

Rekanan (berpikir): Begini saja, Pak. Bagaimana kalau Bapak beli saja mobilnya.

Pejabat: Mana saya ada uang beli mobil (mahal) begitu!

Wakil dari rekanan itu pun menelepon atasannya.

Rekanan: Saya ada solusi, Pak. Bapak beli mobilnya dengan harga Rp 10.000 saja.

Pejabat: Benar, ya? Oke, saya mau. Jadi, ini bukan suap. Pakai kuitansi ya.

Rekanan: Tentu, Pak.

Rekanan menyiapkan dan menyerahkan kuitansi, sang pejabat membayar dengan uang 50.000-an. Mereka pun bersalaman.

Rekanan (sambil membuka dompet): Oh, maaf, Pak. Ini kembaliannya Rp.40.000.

Pejabat: Nggak usah pakai kembalian segala. Tolong kirim 4 mobil lagi ke rumah saya ya.

Rekanan: ?????????

***

Ket.: Cerita di atas dikutip (dan diubah seperlunya) dari sini.

Mengikhlaskan Uang Yang Hilang

Posted on

Di suatu sore di sebuah desa di pinggiran kota, terdengar kabar menggemparkan masyarakat setempat. Uang kas yang dikumpulkan warga untuk honor pengajian akbar yang diadakan rutin seminggu sekali raib digondol maling tadi malam.
Pak Dodon sebagai Kepala RW di desa tersebut merasa bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Begitu juga dengan Urip dan Udin mereka seharian resah dan nampak kehawatiran di wajah mereka. Bagaimana tidak Udin dan Urip adalah dua pemuda yang kebagian menjaga tadi malam, malam di mana raibnya uang kas tersebut. Setelah berunding dengan pak Dodon dan beberapa aparat desa setempat, akhirnya diambil keputusan untuk menemui seorang Ustad yang kebetulan semalam mengisi pengajian tersebut untuk dimintai pendapat.

Di rumah ustad,
Udin & urip : Assalamu’alaikum
Pak Ustad : Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarkatuh
Udin & urip : Maaf pak ustad bila kedatangan kami mengaggu
Pak Ustad : Oh tidak, tidak sama sekali, silahkan masuk.
Setelah sampai di dalam rumah perbincanganpun dimulai,
Urip : Sebenarnya tujuan kami kesini adalah ingin memint wejangan sedikit dari pak ustad
Pak Ustad : Ya gak papa, akan saya usahakan sebisa mungkin. Kata pak ustad dengan sungguh-sungguh.
Urip :Kami kehilangan uang dengan jumlah yang lumayan besar pak ustad.
Pak Ustad : Innalillahi wainna ilahi raji’un, kita sebagai umat yang bariman tidak sepatutnya mengeluh dan suu’dzon kepada Allah, alhamdulillah kita hanya kehilangan uang, yaitu harta yang bisa dicari, bagaimana kalau kita sampai kehilangan aqidah wahai saudaraku, naudzubillahimindalik.
Udin & urip : Tapi pak ustad………..(barsamaan dan saling pandang dengan perasaan lega).
Pak Ustad : Kita haarus mantaplan niat dan keyakinan bahwa uang itu bukan rizqi kita, kita harus mengikhlaskannya.
Udin : Ternyata pak ustad sangat bijak, awalnya kami bingung entah bagaimana cara menyelesaikan masalah ini.
Pak Ustad : Maksudnya?
Udin & urip : Karena uang tersebut adalah honor yag akan diberikan kepada pak ustad
Pak Ustad : ?????????????? (TERTEGUN TANPA SUARA)