Cinta Sejati

Dialog Cinta

Posted on Updated on

Di suatu malam, tepatnya malam 13 bulan Ramadhan 1430/2009 ada seorang sarjana alumnus universitas ternama di Surabaya menghubungi penulis melalui hanphone. Diantara dialog kami pokok bahasannya adalah cinta.

Penelpon : Saya mengetahui identitas anda melalui shodiq.com dimana posisi anda adalah seorang Redaktur Misteri Cinta, saya ingin bertanya, apakah cinta itu?

Penulis : Terima kasih sebelumnya telah berkenan menghubungi kami yang dipercaya oleh Ustad Muh.Shodiq untuk mengembangkan Redaksi Misteri Cinta. Sebelum saya menjawab saya minta maaf apabila jawaban saya nantinya kurang berkenan dan kurang memuaskan hati saudara. Apakah saudara pernah membaca tulisan kami di Misteri cinta tentang cinta?

Penelpon : Saya belum sempat membacanya, yang jelas saya ingin langsung mendengarnya dari anda. Karena yang saya ketahui ketika kata manis melayang kepada lain jenis dengan segudang janji itu bukan cinta tetapi adalah rayuan. Saat tangan mulai meangkul dan memeluk pasangan dengan mesranya, itu pula bukan cinta tetapi karena takut kehilangan. Ketika rasa takut kehilangan telah semakin menghantui perasaan, itu juga bukan cinta melainkan ingin bersama. Saat kecupan mendarat di pipi dan bibir pasangan kita, itu juga bukan cinta tetapi telah mengikuti langkah dan jejak syetan, lalu apakah cinta?

Penulis : Rupanya saudara adalah seorang puitikus. Pertanyaan anda pun sangat menarik dan bagus walau initinya hanya satu yaitu apa itu cinta. Kalau saudara ingin mengetahui makna cinta dari versi saya, mungkin saya bias memberikan sedikit diskripsi tetapi bukan memberikan difinisi. Memberikan difinisi sama halnya dengan memberikan batasan ruang dan waktu terhadap sesuatu. Begitu pula dengan cinta, memberikan difinisi tentang cinta, sama halnya dengan memberikan batasan terhadap makna cinta, padahal setahu saya bahwa cinta tidak terbatas.

Penelpon : Lalu menurut anda apa itu cinta?

Penulis : Sebagaimana jawaban saya diatas, saya tidak akan menjawab dengan arah difinitif tetapi kea rah diskriptif saja. Perlu juga anda ketahui bahwa posisi saya di mesteri cinta bukan karena kemampuan tetapi karena keinginan untuk belajar. Selama ini kita pahami sebagai hasrat untuk bersama dan memiliki, ketika ada seseorang mengatakan kepada lain jenis “I Love You” maka mereka akan memahami dengan isyarat saya mencintaimu. Pertanyaan saya apakah kita tidak tertipu dengan kalimat tersebut atau kita berusaha menipu diri kita lantaran ikut alur pemahaman yang belum jelas tentang cinta? Saya piker anak kelas enam SD juga bias mengatakannya, apakah perkataan itu beda?

Penelpon : Ya, pasti beda. Anak kecil dengan orang dewasa kan pasti beda dan kalau anak kelas enam SD yang mengatakan pasti tidak akan dipercaya tetapi kalau orang dewasa, pastilah dipercaya.

Penulis : Kalau saya memahami ucapan itu sama saja hanya lain subjek saja. Masalah kita kana pa yang dikatakan bukan siapa yang mengatakan, sebagaimana pertanyaan saudara, apa itu cinta bukan siapa yang bercinta atau siapa itu cinta. Kalau saudara bertanya tentang difinisinya, saya jawab kalau saya tidak mampu menjawab pertanyaan yang agung itu.

Penelpon : Mengapa anda mengatakan itu pertanyaan agung, bukankah pertanyaan yang saya ajukan adalah pertanyaan yang sudah biasa terutama dikalangan para pemuda dan pemudi.

Penulis :  Cinta adalah sesuatu yang suci, kita terlahir karena cinta. Semestinya kita memiliki prioritas awal dalam cinta. Objek yang paling penting untuk mendapatkan prioritas tertinggi dalam cinta kita. Dan semestinya cinta terlahir dari hati yang suci, tulus ikhlas. Rabi’ah al-adawiyah yang kita pahami sebagai sosok yang berpahamkan cinta hanya mampu memberikan gambaran bukan difinisi tentang cinta. Khalil Gibran sosok manusia yang menghias hidupnya dengan syair-syair cinta juga tidak pernah memberikan pengertian mutlak tentang cinta. Mereka hanya merasakan dan menikmati serta menggambarkan saja itulah cinta.

Penelpon : Maaf mas waktu saya habis lain kali saya akan menghubungi lagi seputar cinta.

Penulis : Ok. Terima kasih atas silaturrahimnya melalui telpon. Kalau Allah berkehendak, saya juga akan memberikan jawaban seputar cinta karena apa yang kita bahas mulai tadi hanyalah appersepsi belum masuk ke pokok bahasan.

Pada dialog diatas, kita tidak menemui kepuasan makna tentang cinta, karena memang selama ini cinta hanya digambarkan dengan yang indah-indah saja, bagaimana kalau misalnya ada seorang pria mencintai gadis yang dinikahkan dengan orang lain sementara si gadis juga mencintai pria tersebut, Apakah itu cinta hakiki, cinta yang tidak harus memiliki atau bukan cinta melainkan hanya hasrat ingin bersama yang tidak tercapai?

Diatas juga telah dicontohkan dengan perkataan I Love You yang berasal dari seorang dewasa dan anak di bawah umur. Dikatakan oleh penelpon kalau perkataan yang diucapkan anak kecil tersebut beda dengan yang dikatakan orang dewasa. Kalau ucapan saja ya sama hanya makna yang mengatakan mungkin berbeda.

Saudara dan teman sekalian, janganlah terlalu mudah membuka jendela hati untuk mempercayai lisan yang mengatakan I Love You kepada kita karena itu belum tentu benar. Bisa saja itulah permainan dalam hidup yang harus disikapi, bisa juga hanya sebatas uji coba. Tetapi percayalah kepada hati yang mengatakan I Love You sebab sebentar lagi saudara akan tersenyum dalam ketenagan dan kebahagiaan bukan dalam tangis memilukan.

Harapan Bercinta Dengan Tuhan

Posted on Updated on

Agama adalah iman, maka sangat sulit diakui adanya agama tanpa adanya iman. Dengan lain istilah bisa kita katakan bahwa adanya agama karena adanya sebuah keyakinan. Sedangkan iman dalam perspektif religi bukan sekedar pengakuan tentang adanya Tuhan, tetapi selayaknya iman itu dibangun atas dasar pengalaman yang yang intens berhubungan langsung denga Tuhan, yang pernah dialami seseorang.  (Musa Asy ‘Arie. Filsafat islam. 2002)

Adakalanya juga apa yang pernah dialami seseorang tidak menjadikannya menjadi lebih beriman walaupun telah diperlihakan dengan kenyataan yang benar-benar nyata bukan sekedar kamuflasi. Bahkan ada baiknya kita mengakui apa yang terjadi dengan diri kita dalam kaitannya dengan masalah iman, apakah iman yang ada dalam diri ini mampu menumbuhkembangkan kita menjadi pribadi yang penuh cinta akan Allah atau Allah hanya kita jadikan sandaran manakala kita merasa butuh saja?

Pada hakekatnya, selamanya kita akan butuh dengan Allah. tidak ada waktu yang tidak butuh kepadanya. Dari pagi, siang, malam, sampai pagi lagi bahkan sampai matipun kita tetap sangat butuh bukan sekedar butuh kepada Allah.

Bisakah kita membayangkan, kalau saja rahmat Allah dicabut dari kita dalam hitungan detik saja? Kira-kira apakah yang akan terjadi? Misalnya saja nikmat nafas dari unsur terkecil yang kita butuhkan, akan tetapi disisi lain ingatan kita akan kasih sayang Allah yang begitu besar selalu saja NOL BESAR, Bagaimana tidak? anda saja kita ukur bukti penghambaan kita dengan nikmat Allah, setetespun tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rahmat-Nya.

Mungkin tulisan ini dapat mengingatkan kita semua, minimalnya kepada saya pribadi sebagai penulis sekaligus penyampai peringatan yang ada dalam kalam suci Al-quran untuk semua golongan, baik orang awam, pelajar, para guru sekaligus para sesepuh, marilah kita adakan makna dalam hidup menuju kehidupan ini, Agar malaikat tidak sempat mengucapkan salam sebagai isyarat perintah Allah.

Semoga tulisan ini dapat memberikan perubahan yang dapat mengingatkan kita kepada makna hidup yang sebenarnya, bukan sekedar hidup lebih-lebih mampu menghidupkan yang hidup.

Semoga Allah senantiasa memberikan bimbingan-Nya kepda kita dalam perjalanan menuju keabadian-Nya.

Strukturalisasi dalam cinta

Posted on Updated on

Ternyata masih banyak dari kalangan muslim dan muslimah yang belum mengetahui struktur cinta dalam aturan main agama. Hal ini mungkin salah satu penyebab mengapa cinta itu kadangkala dianggap sebagai permainan belaka. Adakalanya juga dilain sisi menganggap cinta sebagai kamuflase bagi lain jenis.

dibawah ini kita baca dan kita teliti beberapa kisah yang terkait dengan cinta secara struktural. Memang tidak ada formalisasi struktural dalam cinta tetapi ketanggapan terhadap dogma agama seharusnya harus kita teliti dengan jeli sehingga agama bukan dijadikan sebagai formalitas identitas dalam beragama, namun sebagai pegangan, jalan sebagaimana makna agama itu sendiri.

Pada suatu hari Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai  Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.”

Rasulullah   shallallahu  ‘alaihi  wa   sallam pun  menjawab,   “Tidak,  demi  Allah,  hingga  aku  lebih engkau cintai  daripada dirimu sendiri.” Maka berkatalah Umar,   “Demi  Allah,  sekarang engkau lebih aku cintai  daripada diriku sendiri!”  (HR.  Al-Bukhari  dalam  Shahih-nya,   lihat  Fath al-Bari [XI/523] no: 6632)

Di   lain   kesempatan,  Rasulullah  shallallahu  ‘alaihi  wa   sallam  menegaskan,  “Demi  Allah,   salah seorang dari kalian tidak akan dianggap beriman hingga diriku lebih dia cintai dari pada orang tua, anaknya dan seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [I/58] no: 15, dan Muslim dalam Shahih-nya [I/67 no: 69])

Banyak sekali hadits-hadits yang senada dengan dua hadits di atas, yang menekankan wajibnya mencintai  Nabi  shallallahu  ‘alaihi  wa sallam,  karena hal   itu merupakan salah satu  inti  agama, hingga keimanan seseorang tidak dianggap sempurna hingga dia merealisasikan cinta tersebut. Bahkan seorang muslim tidak mencukupkan diri dengan hanya memiliki rasa cinta kepada Nabi shallallahu  ‘alaihi  wa sallam  saja, akan  tetapi dia dituntut untuk mengedepankan kecintaannya kepada Rasulullah  shallallahu  ‘alaihi  wa sallam  -tentunya setelah kecintaan kepada Allah- atas kecintaan dia kepada dirinya sendiri, orang tua, anak dan seluruh manusia.

Potret Kecintaan Para Sahabat Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Bicara masalah cinta Rasul  shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa diragukan lagi adalah orang terdepan dalam perealisasian kecintaan mereka kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengapa? Sebab cinta dan kasih sayang merupakan buah dari perkenalan,  dan para sahabat  merupakan orang yang paling mengenal  dan paling mengetahui kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak mengherankan jika cinta mereka kepada Beliau jauh lebih besar dan lebih dalam dibandingkan kecintaan orang-orang yang datang sesudah mereka.

Di  antara bukti  perkataan di  atas,  adalah suatu kejadian yang  terekam dalam sejarah yaitu:

Perbincangan yang terjadi antara Abu Sufyan bin Harb ?sebelum ia masuk Islam- dengan sahabat Zaid   bin   ad-Datsinah  rodhiallahu   ‘anhu  ketika   beliau   tertawan   oleh   kaum musyrikin   lantas dikeluarkan oleh penduduk Mekkah dari tanah haram untuk dibunuh. Abu Sufyan berkata,  “Ya Zaid,  maukah posisi  kamu sekarang digantikan oleh Muhammad dan kami  penggal   lehernya,  kemudian engkau kami bebaskan kembali ke keluargamu?” Serta merta Zaid menimpali,  “Demi  Allah, aku sama sekali tidak rela jika Muhammad sekarang berada di rumahnya tertusuk sebuah duri,   dalam  keadaan   aku   berada   di   rumahku   bersama   keluargaku!!!”  Maka  Abu  Sufyan   pun berkata,  “Tidak pernah aku mendapatkan seseorang mencintai orang lain seperti cintanya parasahabat Muhammad kepada Muhammad!” (Al-Bidayah wa an-Nihayah, karya Ibnu Katsir [V/505],

Katakan Cinta Kalau Memang Cinta

Posted on Updated on

Sifat Munafik (Pribadi munafik) kerap kali tidak disadari oleh seseorang. Mereka tidak sadar kalau sebenarnya dalam dirinya telah memelihara tanaman penusnah yang sangat berbahaya dan membahayakan. Bukan hanya ini, tidak jarang mereka semakin hari semakin memupuk tanaman tersebut sehingga tumbuh dan berkembang.

Salah satu contoh dari hal diatas adalah berpura-pura mencintai lain jenis padahal dusta, bohong hanya dalam rangka ingin mewujudkan niat yang tersembunyi.  Bisa jadi memiliki niat yang kurang baik terhadap pasangan sehingga tertutupi kata dan kalimat manis yang diucapkannya sehingga pasangan pun meng-ya-kannya.

Tidak  jarang kalau kita tanyakan kepada sebagian orang yang kita kenal dengan pengakuannya mereka akan menjawab BUKAN atas dasar CINTA  melainkan harta, tahta atau rupa. sehingga kalau ketiga hal tersebut sudah terpenuhi, maka orang tersebut (subyek) akan langsung meninggalkan obyeknya, mujur kalau masih sempat mengucapkan selamat tinggal.

Pribadi Munafik tidak usah dipelihara. Hanya lantaran niat yang tidak benar, banyak orang menerlantarkan makna kesucian cinta. menyamaratakan makna demi tercapainya nafsu materialisnya. Alangkah lebih baiknya kalau kita memang ada rasa cinta katakan jangan dipendam. Karena cinta bukan untuk dipendam atau disembunyikan melainkan untuk dirasakan dan dijalani.

Ada hal yang harus kita ingat dalam kehidupan cinta, CINTA bukanlah sebuah permainan yang harus ada kalah menangnya. Masalah kalah menang dalam bercinta bukan permainan tetapi hiasan dari makna firman Allah, bahwa Allah menciptakan segala sesuatu selalu berpasang-pasangan. Ada suka ada duka, ada tangis ada tawa, begitu selanjutnya.

Jadi katakanlah cinta kalau memang cinta, jangan mengatasnamakan yang lain dengan cinta.  Berani mengatasnamakan yang lain dengan cinta, sama halnya dengan bersiap-siap menghadapi tangtangan hidup selanjutnya.

Takwil Mimpi: Bertemu Mantan Calon Mertua

Posted on Updated on

Selamat pagi pak ustadz shodiq, saya tertarik dengan judul [takwil mimpi] ini, karena beberapa hari yang lalu saya mengalaminya..

kisah sebelumnya seperti ini (berhubungan dengan mimpi saya):
dahulu saya memiliki pacar yang berinisial D yang menjadi pacar saya selama 7 tahun sejak kami masih kelas 3 SMP. kami putus lantaran ternyata dia dijodohkan dengan seseorang pilihan bapak nya. saat kami masih menjalin hubungan, tidak ada tanda2 bahwa orang tua D berencana menjodohkan D dengan seseorang, bahkan cenderung mendukung kami, misalnya dengan usulan2 undangan nya seperti apa, nanti kalau belum ada rumah kita disuruh nyicil salah satu rumahnya yang dikontrakkan dsb.
Saat itu saya masih kuliah semester 5, saya mempunyai pekerjaan freelance sebagai programmer yang sungguh memakan waktu banyak karena dikejar target (saya kerjakan siang-malam dirumah), waktu itu saya masih pemula dalam dunia pemrograman dan bukan jurusan kuliah saya, sehingga saya mengerjakan sambil belajar dan program yang saya buat selesai dalam waktu 1 tahun (kuliah 100% alfa). saat proyek selesai, ternyata kawan saya (leader proyek) menipu saya dengan hanya memberikan 1% dari hasil yang seharusnya saya terima (saya tidak meminta perjanjian, dikarenakan saya kenal dengan orang tsb, dan ini adalah pengalaman kerja pertama saya). Alhasil kuliah saya terbengkalai dengan percuma dan kelulusan kuliah saya telat 2,5 tahun dari yang seharusnya (yang 1 tahun saya agak frustasi karena hal pekerjaan tersebut, jadi malas kuliah – 90% alfa).
saat D wisuda, status saya masih mahasiswa. saya datang ke kotanya, disitulah orang tua D mulai agak berbeda dalam sikap terhadap saya, malah bapak nya terlihat sinis terhadap saya. dalam benak saya mungkin orang tua D berfikir bahwa saya berbohong masalah kerja (untuk menutupi kuliah saya yang belum selesai dan tanpa hasil/bukti dari pekerjaan – dan dikarenakan saya cenderung pendiam, maka tidak banyak penjelasan saya untuk membela diri). hingga akhirnya, beberapa bulan setelah kelulusan D, kami pun putus. dan adik D yang memberitahu saya bahwa D dijodohkan dengan orang lain & dipaksa putus dari saya (D tidak mau menjelaskan alasannya kepada saya). sekedar catatan, saat ini kami sudah 3,5 tahun berpisah, dan pertemuan terakhir sekitar 1 tahun yang lalu (karena dia memilih kota saya untuk meneruskan study, dan saya membantu persiapan2 awal untuk D tinggal di kota ini – bertemu tidak lebih dari 15x).

Dalam mimpi saya :
bapak D meminta saya untuk menikahi putrinya. background dalam mimpi itu tidak begitu jelas (hanya abu2), dan suasananya seperti di dalam pesta. disitu saya tidak melihat dimana D (entah melihat atau tidak, sekilas2 saya melihat bayangan wanita berjilbab putih sedang menunduk cemas, dan dari wajahnya sangat jelas itu adalah D), hanya melihat bapak D secara jelas, dan ibu nya samar2 dibelakang bapak. kami (saya dan bapak) berbicara tentang D (bapak yg memulai pembicaraan). bapak berbicara panjang lebar dan banyak hal (namun saya tidak bisa mengingat satupun), dan berakhir dengan pertanyaan “masih kah ada keinginan nak Fz menikahi anak saya?”. dalam mimpi saya merasa sangat gembira mendapatkan pertanyaan seperti itu. saya berpikir lama, dan sebelum sempat menjawab, saya terbangun dari mimpi.

saya ingin menanyakan kepada bpk shodiq, apakah artinya D sudah dinikahkan dengan pilihan orangtuanya atau bagaimana?. karena untuk menutupi perasaan kecewa (melupakan), saya tidak lagi menghubungi D ataupun keluarganya, beberapa kali D menghubungi saya sekedar menanyakan kabar (terakhir 5 bulan yang lalu), tetapi tidak pernah saya tanggapi sekalipun.. (sebuah usaha yang bisa saya lakukan untuk menuju ikhlas).

catatan :
*. saya belum pernah memimpikan D setelah putus.
*. saya belum memiliki pengganti D, dan belum ada keinginan untuk mencari (mungkin karena awalnya saya “yakin” dengan D, sehingga mindset saya ter setting bahwa “tak ada wanita lain yang bisa memasuki hati saya” – saya pernah mencoba membuka hati sebanyak 2x, tetapi saya mundur lagi karena tetap tidak ada feel & tidak mau menyakiti wanita2 tsb pada akhirnya, padahal wanita tersebut sudah membuka hatinya).
*. bapak adalah orang yg keras, sehingga saya tidak pernah berfikir bahwa pertanyaan seperti itu akan terjadi di dunia nyata.

terima kasih, mohon jawaban dan masukan2 untuk saya..

Jawaban M Shodiq Mustika: Baca entri selengkapnya »

Konsultasi: Supaya Si Dia Kembali untuk Selama-Lamanya

Posted on Updated on

Alhamdulillah saya menemukan situs ini,banyak sekali hal positif yg saya dapat dan banyak mendapat jawaban dari banyak pertanyaan saya. Tadinya saya ragu untuk bertanya [konsultasi] langsung karena malu. Tapi masih banyak hal yg saya ingin langsung pak shodiq jawab atas masalah saya.
Bismillahirahmaanirahiim,,
saya berumur 20 th,seorang anak yatim sejak 10thn lalu dan banyak sekali kesedihan yg saya alami setelah itu. bisa dibilang saya ini dewasa tanpa banyak campur tangan orang tua, saya mencari kedewasaan saya sendiri sehingga banyak kesalahan yg saya perbuat dalam hidup saya.
dalam berpacaran saya berusaha berhati2 tapi saya juga lugu atau mungkin bodoh dalam hal ini, saya sangat ingin ada orang yang menyayangi saya dan untuk hal itu saya membutuhkan kenyamanan terlebih dahulu. banyak teman yang bilang klo banyak cowok yang suka sama saya, tapi mungkin mereka takut mendekati karena saya cenderung pendiam dan menjauh dengan orang yang saya tau suka sama saya tapi saya tidak suka. waktu umur 15-16thn saya pernah berpacaran dan berzina dengan pacar saya itu, sejauh dia memasukan tangannya ke ****** saya. kami hanya berpacaran 4 bulan dan long distance. saat itu saya tidak terlalu sedih karena kehilangan dia, tetapi saya sangat menyesal atas apa yg telah saya perbuat dengannya. Alhamdulillah waktu itu ada kesempatan untuk saya ikut pesantren kilat ke darut tauhid Aa Gym, saya bertaubat dan setelah itu saya sakit usus buntu dan dioperasi, saya berharap saat Allah SWT telah mengampuni dosa saya dengan sakit saya itu.
masuk kuliah, saya melihat banyak perbedaan orang dalam berpacaran. tahun pertama kuliah saya ditaksir oleh 2 orang senior yang berteman, keduanya berani mendekati saya tapi saya menerima salah satunya (A) karena yang lain sudah punya pacar (B) walaupun secara finansial dia jauh(tapi saya paling anti bahagia di atas penderitaan orang lain) saat terakhir saya pergi dengan B dia mencium bibir saya. saat itu juga saya marah, menyesal dan tidak mau lagi bertemu dengannya. saat berpacaran dengan A saya juga melakukan kegiatan bermesraan dari berciuman (A berciuman pun belum pernah saat itu tapi koleksi film birunya banyak) saya mau berciuman dengannya karena saya merasa bersalah telah dicium temannya yang akhirnya hal itu saya akui dan A awalnya marah karena itu. bulan2 pertama kami berpacaran sangat menyenangkan dan penuh canda, cerita, lelucon, seperti yang saya tebak sebelumnya A juga mempunyai masalah keluarga yang pelik seperti saya jadi kami pun seperti teman curhat.
di bulan2 pertama itu juga kami mulai berhubungan cukup jauh, bermesraan kami kelewat batas (dia g tau masa lalu saya) dan dia berjanji walaupun ga sampe ML dia akan menikahi saya. sampai saya memutuskan untuk ngekos dekat kampus (dekat jg dengan tempat kosnya) dan saat itu kami sering bermesraan bahkan di bulan puasa (tapi kami tidak meninggalkan shalat).
kami dekat sekali, hampir setiap bertemu atau sekedar sms dan telpon. tapi semakin lama kami semakin sering bertengkar. saya jadi sering membesar2kan hal kecil, hal itu sebenarnya dikarenakan hati saya sudah merasa khawatir karena dia semakin cuek dan saya takut ditinggalkan, saya takut dia ingkar janji. tapi kemarahan saya menjadi bumerang untuk saya karena dia semakin cuek.
setelah 10 bulan akhirnya kami putus (saya yang memutuskan) tapi saya sedih sekali karena dia seperti tenang saja dan tidak mengajak saya balik. akhirnya saya yang meminta dia kembali dengan memaksa, tentu hanya bertahan 3 bulan karena tidak ada hal yang menjadi tambah baik, dia seperti mau tidak mau, dia bilang masih khawatir sama saya. tapi akhirnya kami putus juga. saya sedih sekali seperti kehilangan pegangan hidup dan saya sedih karena orang yang saya percapa untuk menjaga lahir batin saya malah menyakiti saya, saya juga shock tiba harus kehilangan dia dalam hari2 saya. saya kejar dia berbulan2 tapi justru dia semakin menjauh dan mengatakan hal2 yang menyakitkan juga begitu jual mahal, dia bilang saya ga bisa dikasih harapan dan ngelunjak. di saat say mengejarnya dia pernah bilang kalau dia kembali sama saya dia akan membahagiakan saya (entah kapan). dia pernah bilang saya terlalu pintar untuknya (dalam akademik dan kedewasaan), memang dalam banyak hal saya merasa saya jauh lebih dewasa darinya. sampai akhirnya saya menyerah. saya fokus sama diri saya, bertekad ga hubungin dia lagi, saya bertaubat, Alhamdulillah Allah bukakan banyak jalan, saya dapat hidayah untuk menggunakan jilbab dan dipertemukan dengan guru ngaji yang begitu syar’i yang berpegang hanya pada Al-Quran dan hadis sehingga Insya Allah jauh dari perkara2 yang bid’ah. suatu hari A menghubungi saya mungkin karena kangen dan kesepian, dia mulai memberikan perhatian2 saat saya ada masalah atau waktu saya mau sidang lulus kuliah,dia bilang kita udah bukan pacaran bukan berarti ga memikirkan lagi. walaupun tidak setiap saat semua tergantung moodnya dan saya sudah tidak merasakan kehangatan seorang kekasih darinya. sejak saat itu hubungan kami jadi cukup baik, silaturahmi kami jadi terjalin walaupun mungkin karena hati kecil saya masih sangat sakit pernah juga kami kembali bertengkar karena saya tersinggung dia tidak membalas sms saya waktu saya ucapin ultah.saya sedih dia hadir kembali hanya sebagai teman.
saya sangat mencintainya (Insya Allah ga melebihi cinta saya pada Allah), belum sedikitpun melupakannya walaupun saya bisa menahan diri untuk tidak menghubunginya. saya sangat merindukannya, puisi2 cintanya, pujiannya, ajakannya dalam kesabaran, rayuannya saat saya marah dan segala hal saat dia begitu mencintai dan memuji saya. dia senang punya pacar yang cantik dan bangga punya pacar pintar saat itu. dia juga sopan sekali pada keluarga saya sehingga keluarga saya cukup simpatik dengannya, walaupun saya belum bertemu ibunya tapi hubungan kami cukup baik karena pernah tukar2 makanan dan ibunya pernah menelpon saya.
sebenarnya saya kasihan sama dia, dia kurang kasih sayang dan ajaran yang benar dari keluarganya (dalam hal agama dan kehidupan). perlu diketahui kami putus juga karena masalah finansial,walaupun kami kuliah di tempat yang mahal tapi sebenarnya dia dari keluarga yang pas2an sedangkan keluarga saya sendiri sedang banyak masalah keuangan.
saya juga sebenarnya mau dia kembali sama saya tapi dalam keadaan dia lebih dewasa dan serius. saya tidak khawatir dia dengan perempuan lain akan lebih solid dari hubungan saya dengannya dulu, karena dia cukup tertutup pada masalah keluarganya, tapi saya mampu membuatnya begitu terbuka. dia pun jarang sekali pacaran serius dan tidak pernah pacaran lama, sebelumnya dia berpacaran 4 tahun sebelum dengan saya dan setelahnya hanya dekat2 biasa. tapi hanya bisa berdoa untuk itu, saya tidak mau berbuat apa2 lagi. yang mau saya tanyakan:
Apa yang harus saya lakukan agar dia kembali pada saya??
saya sudah tidak mau bicara langsung tentang perasaan saya, tapi saya ingin setiap dia menghubungi saya, saya bisa memberi kesan padanya sehingga dia jatuh cinta lagi.
saya pernah tau kalo doa itu bisa merubah takdir, doa apa yang sebaiknya saya baca untuk dia kembali sama saya dan berjodoh dengannya??
saya berharap dia kembali sama saya selamanya sampai menikah, saya juga ga mau dia kembali sama saya hanya karena perasaan bersalah karena pernikahannya tidak akan langgeng.
tapi saya juga belum ingin menikah saat ini, saya masih banyak cita-cita untuk membahagiakan ibu saya. tapi saya ingin saling menemani lagi sama dia dalam suka dan duka sampai saat kami menikah seperti dulu lagi. saya sendiri dalam proses mendewasakan diri, meningkatkan kesabaran agar tidak gampang emosional dan dalam setiap doa saya saya berjanji jika dia kembali sama saya, saya akan bersyukur dan akan menjaga diri saya sendiri untuk tidak melakukan perbuatan yang sama dengan iman yang Insya Allah lebih baik dibanding dulu. saya ga akan lagi percaya sama dia, tapi saya hanya akan percaya pada Allah untuk menjaga hubungan kami dengan tidak akan henti2nya beribadah dan berdoa. saya sering memimpikannya, kadang mimpi itu karena saya begitu rindu tapi kadang juga seperti firasat dia akan kembali. saya tidak mau shalat istikharah lagi karena bagi saya jawabannya tidak nyata, jadi lebih baik saya beribadah dan berdoa di saat yang baik dalam banyak kesempatan saya benar2 merindukannya sampai saya sering menangis dan saya lelah, tolong beri saya petunjuk, Insya Allah saya bisa dapat petunjuk atas harapan saya ini dari pak shodiq.

Perlu diketahui banyak juga hal positif yang saya lakukan dengannya,kami selalu saling memberi motivasi dalam banyak hal dan berbagi wawasan, saya juga sangat merindukan hal tersebut. saya senang wawasan kami saling bertambah, saling mengisi. saya ingin kembali dengannya karena juga ingin dia jadi orang yang lebih baik juga dalam hal agama bersama saya. saya juga mengkhawatirkan dia dan masa depannya, dia membutuhkan seorang motivator, dan saya ingin jadi motivator untuknya. saya ingin merintis kehidupan bersama dengannya sampai kami menikah. saya juga ingin Allah SWT memberikan kesempatan untuk saya membutikan kalo cinta saya sama dia tulus, bukan sekedar nafsu. saya juga berdoa dia seperti itu pada saya, seperti waktu pertama dulu, saat cinta kami masih begitu suci. dengan niat saya yang baik untuk kembali dengannya, sebagai perempuan muslimah apa yg sebaiknya saya lakukan tanpa kehilangan harga diri lagi??

Terima kasih sebelumnya.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Aku memaklumi betapa mendalamnya rasa cintamu kepadanya. Aku tidak bisa asal-asalan menjawab. Aku perlu waktu untuk merenungkannya. Kini, aku sudah siap menjawab pertanyaanmu.

Begini, terus terang, aku agak kerepotan untuk menjawab pertanyaanmu. Sebab, kamu bertanya dengan mengajukan batasan-batasan yang membuatku kurang leluasa untuk menjawabnya.

Yang jelas, kamu menanyakan doa untuk mengubah takdir, tapi kamu tidak mau istikharah. Padahal, doa istikharahlah yang dituntunkan oleh Rasulullah saw. untuk mengubah takdir.

Inti pertanyaanmu, kamu ingin tahu apa yang harus kau lakukan agar dia kembali kepadamu, tetapi kamu juga mengajukan keinginan agar kamu berjodoh dengan dia untuk selama-lamanya. Padahal, yang bisa menjadikan berjodoh selama-lamanya itu pun juga istikharah.

Untuk berjodoh selama-lamanya, prasyaratnya adalah bahwa motivasi cinta pada kedua pihak adalah “kebaikan sejati”, bukan semata-mata demi manfaat. Pada percintaan kalian, aku menduga bahwa motivasi kalian yang utama adalah manfaat. Padahal, setiap kali masing-masing dari kalian menjumpai bahwa hubungan kalian kurang bermanfaat, maka merengganglah hubungan kalian. Dengan keadan begini, bagaimana kita bisa berharap bahwa kalian akan berjodoh selama-lamanya?

Untuk berjodoh demi “kebaikan”, prasyaratnya (yang menyertai istikharah) adalah tawakkal kepada Sang Mahakuasa. Hanya Dialah yang Mahatahu siapakah jodoh yang baik bagi dirimu dan bagi dirinya.

Untuk bercinta demi “kebaikan”, kalian perlu menghayati rasa kesatuan disamping keterpisahan antara kalian. Dalam pengamatanku terhadap kata-katamu, kulihat kau terlalu terfokus pada masing-masing dari kalian secara individual, sendiri-sendiri, bukan sebagai satu kesatuan. (Salah satu indikasinya, jumlah kata “aku” dan “dia” yang gunakan dalam curhatmu itu jauh lebih banyak daripada kata “kami”. Indikasi lain, pemutusan hubungan dilakukan sepihak, bukan atas dasar musyawarah berdua.)

Itulah diantara yang perlu kau pelajari. Intinya, aku menyarankan dirimu untuk “belajar mencintai” dengan cinta sejati yang seoptimal mungkin. Tentu saja, cinta sejati itu bukanlah terbatas pada asmara. Kamu perlu lebih mencintai banyak orang, terutama orang-orang yang dekat denganmu. Semakin tinggi kualitas kamu dalam mencintai banyak orang, maka akan semakin tinggi pula kualitas cinta kamu terhadap dirinya. Selanjutnya biarlah Allah yang menentukan ganjaran apa yang pantas untuk kualitas cintamu itu. Apakah ganjaran itu termasuk berjodoh dengan dirinya ataukah tidak, bertawakkal sajalah.

Untuk “belajar mencintai” dengan cinta sejati yang seoptimal mungkin, aku merekomendasikan bagi dirimu buku Erich Fromm, The Art of Loving dan Scott Peck, The Road Less Traveled. (Kedua buku ini cukup populer di Indonesia, sehingga versi terjemahannya pun ada lebih dari satu penerbit.)

Adapun supaya dia kembali berhubungan cinta denganmu, saranku: “Manfaatkan Agen Cinta“. Untuk saranku lainnya, lihat “Konsultasi: Putus cinta karena kurang apa?” dan “Supaya Si Dia Tidak Marah-Marah Lagi“. Untuk penjelasan yang lebih rinci, aku sarankan kau baca buku best-sellerku, Istikharah Cinta dan Doa & Zikir Cinta, khususnya pada bab-bab yang relevan.

Begitulah tanggapanku terhadap persoalanmu. Semoga Allah senantiasa membimbing perjalanan cintamu. (Aamiin.) Wallaahu a’lam.

Konsultasi: Sudah Terlanjur Menyerahkan Segalanya

Posted on Updated on

Saya sangat mengharapkan solusi terbaik untuk hidup saya. Saya seorang wanita muslim yang sudah 4 tahun memilih untuk berjilbab, meskipun saya bukan seorang yang sangat mendalami ilmu agama islam karena saya terlahir dari keluarga yang bermacam2 agama. Tapi saya sgt yakin bahwa berjilbab adalah pilihan yang terbaik. Saat ini saya sedang menjalin hubungan dengan sahabat saya, kami bersahabat hampir 5 tahun dan dia sangat baik pada saya selama bersahabat. Sampai akhirnya kami pacaran.

Tapi saat pacaran perilakunya mulai berubah,dia mulai menunjukkan sifat yg keras pd saya. Tapi saya selalu berusaha untuk bersabar sampai pada suatu hari saya diajak kerumahnya untk dikenalkan ortunya, saya diajak ke kamarnya. Kemudian dia memaksa saya untuk melakukan hubungan selayaknya suami istri, saya sudah berusaha untuk menolak tapi dia sangat marah dan dia berjanji akan menikahi saya setelah itu atau dia akan memutuskan saya kalau saya menolaknya. Waktu itu saya sudah benar2 mencintainya dan ingin sekali menikah dengannya. Sehingga saya merelakan kesucian saya diambil olehnya. Tapi setelah itu terjadi keesokan harinya dengan teganya dia meragukan kesucian saya, padahal seluruh tanda kesucian itu sudah dia lihat sendiri. Saya selalu berusaha untuk meyakinkan dia, tapi pada akhirnya saya menyerah dan berpikir semua terserah padanya saya sudah sangat lelah dgn semuanya.

Saya pernah sangat takut kalau saya akan hamil waktu itu pastilah saya akan sangat malu, karena selama ini saya yang selalu berusaha menegakkan Islam dalam lingkungan keluarga sampai akhirnya saya bisa membuat ortu saya luluh dan megerjakan sholat. Alangkah malunya jika mereka samapai tau kalau saya telah berbuat di luar koridor agama Islam. Saat saya mengatakan pada pacar saya kalau saya takut hamil, dia bilang dia akan bertanggung jawab menikahi saya. Tapi ternyata saya tidak hamil waktu itu, dan sampai sekarang dia terus berusaha mengulur waktu untuk menikahiku dengan alasan dia kan melanjutkan kuliah S2 lg dan aku harus mau menunggunya.

Pernah suatu hari dia mengajakku untuk berbuat lagi, tapi saya mengatakan kalau saya takut hamil, dia bilang pakai pengaman. Tapi saya tetap bilang kalau saya takut, apalagi dia punya rencana untuk naik haji di tahun itu. Saya selalau berdo’a sama Allah agar diberikan ketakutan juga dihatinya agar dia tidak lagi ingin berbuat hal itu lagi dan memohon untuk diberikan jalan terbaik bagi saya jika memang dia jodoh saya. Alhamdulillah akhirnya dia juga mengaku kalau dia juga takut melakukan hal itu lagi.

Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi, kami hanya telephone atau smsan saja apalagi ortunya juga sedang sakit jadi dia sibuk mengurus ortunya. Saya pikir ini jalan terbaik bagi kami. Tapi akhir2 ini, dia mulai menunjukkan perilaku yang keras yang kadang tidak bisa mengerti karena terkadang dia manis tapi beberapa jam kemudian bisa sebaliknya. Pernah saya berpikir saya sudah tidak kuat untuk bertahan dan mengerti tentang dia lagi, apalagi jika kami benar2 menikah nanti, tapi saya sudah terlanjur menyerahkan semua padanya. Kadang saya juga berpikir mungkin sebenarnya dia tidak pernah ingin menikahi saya, karena dia juga melarang saya untuk bertemu dengannya dengan alasan dia sibuk.

Saya sangat meminta jawaban atas pertanyaan ini…

1. Apakah dia tidak benar2 mencintai saya ?

2. Apakah dia memang hanya menginginkan kesucian saya saja ?

3. Apakah dia tidak benar2 ingin menikahi saya ?

4. Apakah saya harus bertahan karena saya sudah terlanjur menyerahkan segalanya padanya, tapi hati saya selalu tersiksa ?

5. Apakah saya harus menunggunya sampai dia menikahi saya, bagaimana jika pada akhirnya dia tidak menikahi saya apakah saya masih mungkin mendapatkan jodoh laki2 yg baik untuk saya ?

6. Saya sgt takut dia akan meninggalkan saya dan tidak akan menikahi saya, tapi disisi lain saya terkadang tidak kuasa bertahan dengan sikapnya yang sangat keras dan kadang sangat melukai perasaan saya. Saya harus bagaimana ?

7. Jika dia memang benar2 berniat menikahi saya sejak lama tapi kenapa sampai sekarang dia tidak menunjukkan usaha itu pada keluarga saya ?

8. Saya tidak boleh menjenguk ortunya yang sedang sakit karena alasan terlalu jauh, kadang saya berpikir mungkinkah dia udah ada orang lain di sana yang dia tidak ingin saya tau.

Sya mohon tolong saya, beri saya solusi terbaik…

Sejujurnya lebih dari semua itu saya sudah berserah sepenuhnya sama Allah dengan segala kemungkinan yang paling buruk dalam hidup saya termasuk menerima jika memang di bukan jodoh saya, sekalipun jika nantinya tak akan ada laki2 yang akan mau memperistri saya. Karena lebih dari semua itu, ada perasaan berdosa yang sangat besar sama Allah yang saya takut tidak akan terampuni lagi. Selain itu rasa bersalah pada ortu saya yang sudah sangat percaya pada saya selama ini, karena melihat perjuangan saya untuk diijinkan berjilbab oleh ortu saya sampai alhamdulillah membuka hati ortu saya utk mulai menjalankan perintah agama islam. Lalu apa yang harus saya lakukan ?

Jawaban M Shodiq Mustika: Baca entri selengkapnya »

Menghunus Qur’an, Menyorong Cinta

Posted on Updated on

Wahai Cinta! Maafkan kami, ya! Selama ini, hampir tak pernah kami balas panggilanmu. Padahal, giat sekali kausapa kami lewat Surat Cinta Terindah dari-Nya. Amboi! Dalam format hubb, kau hadir di 83 tempat. Di 27 lokasi, kau muncul selaku mawaddah. Sebagai rahmah, kau berbicara 321 kali.[i] Subhaanallaah… Bagaimana mungkin kami jadi sahabat karibmu bila kehadiranmu yang serajin itu kami anggap angin lalu? Baca entri selengkapnya »

Kisah Nyata: Bahagia Walau Cinta Tak Berbalas

Posted on Updated on

–Kutipan dari Dan Baker & Cameron Stauth, Pergulatan Cinta dan Rasa Takut (Bandung: Kaifa, 2006), hlm. 158-166:

Berpuas diri adalah ibarat membuat bangunan dengan menumpuk kartu remi, karena kalaulah hidup ini mengajarkan sesuatu, pelajarannya adalah bahwa kita tidak dapat menghindari masalah dan kehilangan. Kebahagiaan bukanlah seni membangun kehidupan yang bebas dari masalah. Kebahagiaan adalah seni untuk merespons dengan baik ketika masalah menghampiri kita.

Saya sendiri mengalami patah hati ketika usia dini. Waktu itu saya masih muda dan jatuh cinta, [saya] seorang doktor di bidang psikologi yang sedang menanjak, baru saja berkeluarga, dan merasa kurang lebih sudah mapan. Lalu, dunia saya terasa runtuh. Baca entri selengkapnya »

Sosok Wanita Paling Sempurna

Posted on Updated on

Sosok Wanita Paling Sempurna
Jawa Pos, 13 April 2009
Oleh : Yason Taufik Akbar, mahasiswa Unair

Ibu, aku mencintaimu seperti tumbuhan yang urung mekar dan membawa jiwa bunga-bunga itu di dalam dirinya. Karena cintamu, aroma bumi yang pekat tumbuh diam-diam dalam tubuhku.

Saat aku menulis naskah ini, hujan tiba-tiba turun dengan dahsyat. Rumahku yang atapnya hanya berlapis seng tentu menjadi sangat ribut. Sangat kontras dengan alunan musik instrumen yang aku dengar dari radio bututku.

Konsentrasiku memang pecah. Tapi, angin semilir yang merembet melalui celah kapiler dinding rumahku membantuku tetap fokus. Bagaimana tidak menembus, dindingnya saja terbuat dari anyaman bambu.

Korneaku lalu berputar. Mencari, lalu meraih titik pandang terkecilnya menuju sebuah kertas kusam. Aku melindunginya dengan badanku agar bocoran air hujan tidak jatuh ke atas kertas ini.

Ya, karena saat ini aku hanya ingin menceritakan tentang ibuku di atas kertas ini. Ibu yang punya sejuta kasih sayang untukku. Ibu yang selalu dengan ikhlas memberi -dan seperti kata lagu-, beliau tak pernah mengharap kembali.

Aku seorang bocah laki-laki yang dilahirkannya 12 tahun silam. Beliau merawatku dengan ketulusan hatinya. Dia selalu memberikan kasih sayang tersempurna padaku.

Masih kuingat jelas, saat dia menggandengku sendirian pada suatu malam. Saat itu bapak sedang merantau ke negeri orang. Aku masih berusia tujuh tahun. Rumah kami luluh lantak dengan tanah karena kena gusur.

Kami berjalan kaki jauh sekali. Di tengah malam yang sunyi dan hujan lebat itu, dia masih sempat menutupiku dengan selimut kami satu-satunya. Kami pergi tanpa arah. Guratan wajahnya sayu. Dari caranya berjalan, dia tampak sangat letih. Buntalan besar berisi pakaian kami memberatkan punggungnya yang tegar.

Ibu berbisik lembut kepadaku. ”Sabarlah Nak. Kita akan segera berteduh. Berhentilah menangis. Ibu akan selalu melindungimu,” katanya lalu menitikkan air mata. Air mata itu sebenarnya sudah tidak kentara. Sebab, pipinya basah terguyur air hujan.

Suara ibu lembut sekali. Menenangkan setiap relung jiwaku. Hingga dinginnya malam pun tak dapat menusukku. Perutku yang sedari pagi hanya terisi makanan sisa pun jadi mendadak kenyang. Aku hanya tak ingin melihat ibu menangis lagi.

Jauh sekali kami berjalan hingga hujan telah berhenti. Karena terlalu capai, ibu memutuskan untuk beristirahat di sebuah masjid kecil. Entah sekarang ini kami berada di mana. Yang jelas, di masjid itu, kami membersihkan diri.

Setelah bersih, ibu meraih mukenah milik masjid. Dia melaksanakan salat. Sementara itu, aku tertidur di sampingnya. Dalam sayup-sayup, kudengar ibu berdoa untuk keselamatan bapak di negeri orang. Ibu juga berdoa untuk kami.

Kalau aku diizinkan berbicara oleh Allah, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sayang ibu. Aku tak ingin melihat ibu menangis lagi. Aku hanya ingin ibu mendapatkan yang terbaik. Tanpa terasa, air mataku pun jatuh. Aku menutupinya karena aku tak ingin ibu sedih melihatku.

Aku memang seorang tunawicara. Tuhan memberiku anugerah seperti ini sejak lahir. Hanya ibu yang selalu membangkitkan semangatku. Ibu yang selalu mengajakku berinteraksi sehingga aku tahu bahwasannya dunia amatlah luas.

Usapan lembut di kepalaku mengusik tidurku. Ternyata itu adalah tangan bapak. Ah..ternyata lagi-lagi aku bermimpi. Bapak berkata kepadaku, ”Sudahlah, Nak. Tak usah kau menangis lagi. Biarkan ibu tersenyum karena melihatmu tersenyum di sini.”

Ibu meninggal dua tahun lalu. Dia mengalami kecelakaan saat hendak membeli makanan untukku. Begitu ayah mendengar kabar itu, dia bergegas pulang. Kini aku tinggal bersama ayahku.

Kuraba wajahku, mataku sembap. Ternyata aku menangis lagi. Sedangkan kertas yang hendak kugunakan untuk menceritakan tentang ibuku masih kosong. Kulihat pensilku terjatuh di bawah meja.

Aku sangat ingin menulis tentang ibu. Menuangkan kisah ini untukmu, kawan. Namun, aku tak mampu. Aku buta huruf. Kertas ini menjadi kusam karena tiap malam kuhujani air mata.

Sekarang aku hanya dapat menggumam. Menangis lagi menerima kenyataan ini.