Fiqih Wanita

Pesan Allah kepada wanita hamil

Posted on Updated on

Wanita hamil ternyata mendapat perhatian besar dari Allah. Sampai-sampai Dia menyampaikan pesan spesial kepada wanita melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an. Tahukah Anda ayat Qur’an yang manakah yang berisi pesan Allah kepada wanita hamil? Ini dia:

“Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. … Maka makan minumlah dan senangkanlah hatimu. …” (QS Maryam [19]: 24-26)

Melihat Cewek Bugil Itu Halal Apabila…

Posted on Updated on

Menurut Imam Abu Dawud, kita boleh melihat cewek nonmuhrim bugil apabila bermaksud hendak meminangnya untuk dijadikan istri. Setujukah dirimu dengan fatwa sang imam hadits tersebut? Silakan simak kutipan berikut ini.

Apa Saja Yang Boleh Dilihat?

Mohammad Fauzil Adhim

Pertanyaan yang sering muncul ketika berbicara tentang nazhar [melihat dengan saksama] adalah “apa saja yang boleh dilihat”. Insya Allah saya akan menjelaskan bagian-bagian yang boleh dilihat, sehingga Anda dapat mempertimbangkannya saat akan meminang. Namun, alangkah lebih baiknya kalau terlebih dahulu kita mendengar penuturan Jabir bin Abdillah tentang masalah ini, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud.

Dari Jabir bin Abdillah r.a., dia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Apabila salah seorang di antara kamu melamar wanita, jika bisa melihat sesuatu yang menarik untuk dinikahi, lakukanlah.’ Maka aku melamar seorang gadis. Aku bersembunyi untuk memperhatikannya, sehingga aku melihat sesuatu padanya hal yang menarikku untuk menikahinya dan mengawininya.

Berdasarkan hadits ini —begitulah sejauh yang saya pahami— Imam Abu Dawud mengambil kesimpulan hukum. Tentang peminang yang akan melihat calon istrinya, Imam Abu Dawud mengemukakan, “Ia boleh melihat seluruh tubuhnya.”

Pakar hadits ini bahkan menegaskan bahwa seorang peminang boleh melihat wanita yang dipinang dalam keadaan bugil. Pendapat Imam Abu Dawud dan para ulama lainnya yang sepaham, mengambilnya dari keumuman makna “apa saja yang membuatnya tertarik untuk menikahi”. Artinya, tidak ada pembatasan tentang bagian yang boleh dilihat dan bagian yang tidak boleh dilihat. Tidak adanya pembatasan tentang bagian yang [boleh] dilihat, berarti seluruh bagian tubuh wanita halal dilihat oleh peminangnya. Jika ada bagian-bagian yang tidak diizinkan, tentu Rasulullah saw. akan menyebutkan.

Berkenaan dengan masalah melihat calon istri ini, Ibnu Hazm berkata, “Boleh melihat bagian depan dan belakang wanita yang hendak dilamarnya.”

Singkatnya, apa yang dapat membuat kita lebih bersemangat untuk segera menikahinya, sekalipun itu merupakan aurat bagi mahramnya, boleh kita lihat. Jika hanya bagian-bagian yang diperbolehkan bagi mahram untuk melihatnya, mengapa Muhammad bin Maslamah radhiallahu ‘anhu sampai perlu mengintip dengan mata melotot dari loteng rumahnya ketika akan menikah dengan Tsaniyyah binti Dhahhak? Jika yang dibolehkan hanya bagian yang diizinkan bagi mahram wanita tersebut untuk melihatnya, maka Muhammad bin Maslamah cukup mendatangi rumah Tsaniyyah binti Dhahhak sebagaimana yang dilakukan oleh Mughirah bin Syu’bah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Pendapat yang dianut oleh Imam Abu Dawud dan ulama yang sepaham tidak sepenuhnya bisa diterima oleh kalangan ulama lainnya. Sebagian berpendapat, jika dalam hadits-hadits tentang nazhar tidak disebutkan larangan secara pasti tentang bagian yang tidak boleh dilihat, maka itu berarti bahwa kebolehan melihat bagi peminang disamakan dengan kebolehan melihat bagian-bagian tubuh yang diizinkan bagi mahramnya. Sebagian kalangan mengambil pendapat kedua ini sebagai langkah ikhtiyat ‘hati-hati’ agar tidak terjerumus kepada sikap berlebihan dan menggampangkan perkara agama. Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani berpendapat bahwa pendapat inilah yang lebih dekat dengan kebenaran dan lebih sesuai dengan praktek yang dilakukan oleh para sahabat. Al-Auza’i berkata, “Boleh melihat pada bagian-bagian yang dikehendaki, kecuali aurat.”

Jika Anda sependapat dengan pendapat kedua ini, Anda dapat melihat bagian tubuh yang diizinkan untuk dilihat oleh mahramnya, yakni leher, betis, tangan, dan bagian lainnya. Tentu saja termasuk wajah dan telapak tangan. Kebolehan melihat betis wanita yang akan dipinang ini antara lain berdasarkan praktik yang dilakukan oleh Umar bin Khaththab terhadap Ummi Kultsum, putri Sayyidina Ali yang kala itu akan dinikahinya. Ketika itu, Umar bin Khaththab menyibakkan kain yang menutup betis Ummi kultsum untuk melihatnya.

Pendapat lain yang merupakan pendapat jumhur ulama adalah yang mengatakan bahwa bagian yang boleh dilihat oleh pelamar adalah wajah dan telapak tangan. Terlebih, Fadhilatusy-Syaikh Muhammad al-Hamid mengatakan, “Pendapat yang mengatakan boleh melihat selain muka dan kedua telapak tangan, sama sekali tidak benar.” Begitu Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani menukil kitab Rudud ala Abathil ‘Bantahan terhadap Pendapat-Pendapat yang Tidak Benar’. Sedangkan, dalam Risalah Aktual —aslinya berjudul Majmuu’atur Rasaail— Muhammad al-Hamid berkata, “Menurut konsepsi Islam, memandang yang diperbolehkan itu hanyalah sebatas muka dan kedua telapak tangan, sedangkan rambut dan anggota badan yang lain, tidak boleh dilihat. Wajah menampilkan kecantikan, sedangkan kedua telapak tangan merupakan petunjuk kesuburan badan.”

Wallahu a’lam bish-shawab.

Dikutip dari Mohammad Fauzil Adhim, Saatnya untuk Menikah (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hlm. 119-122.

Wanita di Surga mendapatkan apa?

Posted on Updated on

Syukron jiddan atas update2 artikel islami di situs shodiq.com, alhamdulillah banyak manfaatnya terkhusus buat sya yang tiada memiliki banyak pengetahuan ini..

Pak ustadz, dalam kesempatan ini saya ingin bertanya sesuatu yang mungkin ustadz ada pengetahuan tentangnya, pagi ini tausiah mengenai syurga dari seorang ustadz lain merisaukan hati saya, beliau mengatakan bahwasanya wanita dari dunia yang masuk syurga akan dipilihkan oleh Allah swt 1 orang lelaki dari dunia yang ada di syurga untuk menjadi suaminya (jadi bukan lelaki bidadari, karena tidak diciptakan Allah), tetapi lelaki dari dunia yang masuk syurga akan Allah berikan untuknya isteri2 dari bidadari minimal 2..
Yang menjadi pertanyaan, apakah ada dalil yang mendukung hal tersebut? kalau benar adanya, maka wanita pada hakikatnya akan selalu dipoligami kah ustadz? jikalau memang ada mohon penjelasannya ustadz, karena meski saya tidak anti poligami di dunia, tetap saja hal tersebut dipahami sungguh tak adil oleh saya yang tak berilmu ini..
Demikian, semoga ustadz berkenan memberi jawaban atau nasihat..

Jawaban M Shodiq Mustika:

1) Aku belum pernah menjumpai dalil shahih yang menunjukkan bahwa “wanita dari dunia yang masuk syurga akan dipilihkan oleh Allah swt 1 orang lelaki dari dunia yang ada di syurga untuk menjadi suaminya”. Mengenai hal ini, yang pernah aku jumpai adalah sebuah hadits yang DHA’IF (lemah, tidak cukup kuat untuk dijadikan dalil) walaupun populer sebagai berikut:

Ummu Salamah r.a. berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita diantara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu dia meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka masuk surga pula. Siapakah diantara laki-laki itu yang menjadi suaminya di surga?” Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu dipersilakan memilih siapa diantara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata, ’Wahai Tuhanku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”

2) Kriteria adil bukanlah pada kesamaan jumlah. Contohnya, tidaklah adil memberi hak cuti dengan jumlah hari yang sama kepada buruh lelaki dan buruh perempuan. Yang adil adalah bila perempuan diberi tambahan hak hari cuti untuk hamil, melahirkan anak, dan menyusui anak.

Kenikmatan pun bukan tergantung pada jumlah. Contohnya: membaca seribu halaman buku belum tentu lebih nikmat daripada membaca seratus halaman saja. Kenikmatan itu seringkali lebih dipengaruhi oleh kualitas daripada kuantitas.

Dalam kasus poligami, belum tentu seorang wanita yang bersuami lebih dari satu akan merasakan kenikmatan yang setara dengan pria yang beristri lebih dari satu. Contohnya: istriku. Kami pernah berbincang-bincang perihal seandainya Islam membolehkan wanita bersuami lebih dari satu. Namun kata dia, bila dia dipersilakan memilih bersuami satu ataukah lebih dari satu, maka dia akan memilih bersuami satu saja. Dengan kata lain, bagi dia, bersuami satu orang itu lebih nikmat daripada bersuami lebih dari satu orang.

3) Bila amalnya setara, maka kenikmatan yang diperoleh pria dan wanita yang masuk surga itu setara pula. Dalilnya adalah keumuman ayat-ayat:

“Dan bagi kamu di dalamnya segala yang kamu inginkan dan bagi kamu di dalamnya segala yang kamu minta, sebagai hidangan dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat [41]: 31-32)

“Dan di dalam [surga] itu terdapat segala yang diingini oleh hati dan sedap [dipandang] mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 71)

Bahkan, kenikmatan yang diperoleh di surga itu bukan hanya segala yang diinginkan hati. Dalilnya adalah sebuah hadits shahih yang menyebutkan firman Allah SWT kepada seorang penghuni surga yang paling rendah derajatnya, “Engkau mendapatkan segala yang kau angan-angankan, ditambah sepuluh kali lipatnya.” (HR Muslim [188])

4) Dalil pada nomor tiga tersebut juga menunjukkan bahwa bidadara tidaklah mustahil diciptakan oleh Tuhan bagi para wanita penghuni surga. Bila kau mengharapkan satu bidadara saja untuk menjadi suamimu di surga, yang [dalam angan-anganmu] kualitasnya setara dengan seribu orang pria terbaik, maka itu dapat terwujud. Begitu pula kalau yang kau harapkan adalah bersuami sejumlah seribu bidadara, itu pun tidak mustahil. Sebab, Dia berjanji, “Engkau mendapatkan segala yang kau angan-angankan, ditambah [minimal] sepuluh kali lipatnya.”

Demikianlah jawabanku. Wallaahu a’lam.

Bolehkah suami melarang istri pulang menyambut lebaran di rumah orangtuanya?

Posted on Updated on

Bagaimana kalo isteri nga’ diizin pulang menyambut lebaran di rumah orangtuanya atau meraikan majlis2 kerai’an seperti majlis perkahwinan sodaranya atau adik2nya? Apa bole dikira isteri menuntut hak untuk bersama keluarga atau wajib patuh jika dilarang suami?

Jawaban M Shodiq Mustika:

Kita senantiasa wajib memelihara hubungan kekeluargaan dan haram memutuskannya, termasuk setelah menikah. Jika ketidakhadiran dalam acara-acara keluarga itu akan merenggangkan hubungan kekeluargaan, maka istri sebaiknya (atau bahkan harus) menuntut hak untuk bersama keluarga pada acara-acara tersebut jika dilarang suami.

Suami yang melarang istri memelihara hubungan kekeluargaan itu akan dilaknati Allah dan tidak akan masuk surga. “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikanNya telinga mereka, dan dibutakanNya penglihatan mereka.” (QS Muhammad 47:22-23). Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan” (Muttafaq ‘Alaih).

Jadi, seharusnya suami mengizinkan istri memelihara hubungan kekeluargaan tersebut. Bahkan, lebih baik lagi bila suami mengantar istri ke acara-acara tersebut.

Artikel-artikel terkait:

Panduan Ramadhan untuk Muslimah

Posted on Updated on

A. PANDUAN UMUM
1. Wanita sama dengan pria ia juga disyariatkan untuk banyak beribadah seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an, dzikir, doa, sedekah dan lain-lain..
2. Mengajarkan kepoada anak-anak akan pentingnya Ramadhan bagi umat islam, dan membiasakan mereka berpuasa secara bertahap serta menerangkan hokum-hukum puasa yang bisa mereka cerna dengan tingkat kefahaman yang mereka miliki.
3. Tidak menghabiskan waktunya hanya di dapur, dengan membuat variasi makanan untuk berbuka. Beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah juga mutlak dilakukan.

B. HAID DAN NIFAS
Wanita yang haid dan nifas boleh tidak berpuasa. Jika haid atau nifas keluar meskipun sekejap sebelum Maghrib, ia wajibmembatalkan puasanya dan menggantinya di waktu lain. Jika ia suci di siang hari, maka untuk hari itu ia tidak boleh berpuasa, sebab pada pagi harinya ia tidak dalam keadaan suci. Jika ia suci pada malam hari, maka ia wajib berpuasa disiang harinya meskipun ia suci sesaat sebelum fajar dan baru sempat mandi setelah terbit fajar.

C. HAMIL DAN MENYUSUI
Jika wanita hamil itu takut akan keselamatan kandungannya, ia boleh berbuka. Jika kekhawatirannya terbukti dengan pemeriksaan secara medis dari dua dokter yang dipercaya, hukumnya menjadi wajib demi keselamatan sang janin. Jika ibu hamil atau menyusui khawatir akan kesehatan dirinya, bukan anak atau janin, mayoritas ulama membolehkan ia untuk mengganti puasanya. Ia diqiyaskan seperti orang sakit. Jika ibu hamil atau menyusui khawatir akan keselamatan janin atau anaknya, ia boleh berbuka. Setelah itu apakah ia wajib mengganti atau membayar fidyah ulama berbeda pendapat. Dalam Tarjih Muhammadiyah cukup dengan membayar fidyah tidak perlu mengganti di hari lain.

D. WANITA BERUSIA LANJUT
Jika puasa menyebabkan kondisinya sakit ia tidak boleh puasa. Secara umum orang yang berusia lanjut tidak bisa diharapkan lagi untuk mengganti puasanya. Maka ia hanya wajib membayar fidyah.

E. WANITA DAN TABLET PENGENTAS HAID
Syaikh Ibnu Utsaimin, salah seorang ulama terkemuka Arab Saudi mengatakan bahwa penggunaan obat yang dapat menunda haid tidak dianjurkan. Bahkan bisa berakibat tidak baik bagi kesehatan wanita. Karena haid adalah hal yang telah ditakdirkan bagi wanita, dan kaum wanita masa Nabi tidak pernah melakukanya. Persoalannya jika ada wanita yang melakukan hal ini maka:
1. Jika darah benar-benar berhenti, maka puasanya sah
2. Jika ia ragu maka hukumnya seperti wanita haid.

F. MENCICIPI MAKANAN
Para ulama memfatwakan tidak mengapa wanita mencicipi rasa masakannya, asal sekedarnya dan tidak sampai ke tenggorokan. Hal ini diqiyaskan dengan berkumur-kumur.

======
Sumber: http://www.pdmbontang.com/cetak.php?id=1859

Tidak perlukah istri bekerja?

Posted on Updated on

Ustad, ada sepasang suami istri yang menikah di usia muda, sang suami berpenghasilan pas2an. KArena kondisi itulah, orang tua sang istri menginginkan sang istri melanjutkan pendidikan (universitas) yang lebih tinggi lagi dengan alasan kelak bisa membantu suami mencari nafkah, dan kelak jika terjadi apa2 dengan suami , sang istri tidak jatuh ( down ) secara mental dan materi, dan bisa berdiri sendiri. Namun pada saat sang istri menjalani kehamilan ke 2, justru hati kecilnya terpanggil untuk menjadi ibu rumah tangga saja, karena sang istri tidak ingin menghabisan waktu dengan hal lain dan mengorbankan perhatian dan kasih sayang yang pastinya nanti terbagi2.
JIka mengingat dengan kondisi perekonomian dan kata2 orang tua, sang istri bimbang lagi, ketika dia bertanya kepada teman2nya meminta saran, teman2nya bila sang istri harus melanjutkan pendidikannya sambil mengurus rumah tangga. Bukan ketenangan yang didapatkan, sang istri malah semakin ragu dengan saran2..karena dalam hatinya justru berkata, ini lah yang harusnya seorang istri lakukan ..mengurus rumah tangga, menjadi ibu yang baik…bukan menyamakan kedudukan seperti suami yang mencari nafkah…..
Terus dan terus pikiran itu membuat sang istri bingung, hatinya belum mantap..belum lagi membayangkan bagaimana menjelaskan keteguhan hatinya pada orang tua yang cemas dengan keadaan hidupnya yang pas2an atau mungkin kurang..

Menurut ustad, apa tindakan bijak yang harus di ambil sang istri??

Jawaban M Shodiq Mustika: Baca entri selengkapnya »

Abis telponan ama pacar, bagian kelamin jadi basah; ngapain hayoo…!

Posted on Updated on

pak shodiq.. saya langsung aja ya.. saya cewek.. saya punya pacar tapi kami jarang ketemu.. kami cuma sering telponan.. tiap abis telponan ma dia saya selalu merasa basah di bagian kewanitaan saya..dan saya meras risih, kadang2 saya ragu apa saya harus mandi atau nggak.. yang ingin saya tanyakan.. apa saya harus mandi besar? dan yang keluar dari kewanitaan saya itu apa?

Jawaban M Shodiq Mustika: Baca entri selengkapnya »

Berjilbab = shalihah?

Posted on Updated on

Hari-hari belakangan ini, sebagian ibu-ibu pengajian diramaikan dengan perbincangan mengenai penampilan istri-istri capres-cawapres. (Lihat “PKS Tidak Memihak Capres-Cawapres Yang Istrinya Pakai Jilbab“.) Kebanyakan mendukung istri-istri itu berjilbab, sebagian lainnya tidak mempersoalkannya. Kini, isu yang tidak lagi samar-samar ini dimanfaatkan betul oleh para pendukung pasangan JK-Wiranto, antara lain dengan cara seperti yang diberitakan di bawah ini.

Buku Saku Istri Shalihah Beredar di Mangunsarkoro
Jumat, 29 Mei 2009 | 08:48 WIB
Laporan wartawan Persda Network Ade Mayasanto

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketakutan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) perihal daya pikat jilbab yang melekat pada istri-istri pasangan JK-Wiranto menjadi modal kemenangan tersendiri bagi duet JK-Wiranto pada pemilihan presiden 2009.

Modal yang tidak dimiliki pasangan lainnya ini dimanfaatkan sebagai bahan kampanye untuk mendongkrak perolehan suara pada pasangan JK-Wiranto. Sebuah buku saku bertajuk Istri Shalihah Pasangan Pemimpin Bangsa, menampilkan foto bersama Mufidah Jusuf Kalla dan Uga Wiranto di sampul depan, kini beredar di Slipi II, Jalan Ki Mangunsarkoro, Jakarta, Kamis (28/5).

Buku yang hanya memuat delapan halaman ini menampilkan Mufidah Jusuf Kalla dan Uga Wiranto yang tampak mesra dengan gaun muslim berwarna putih yang dipadu jilbab dan selendang berwarna merah.

Tidak hanya itu, buku saku juga mencatat beberapa kalam Allah SWT dan sejumlah hadis perihal wanita berjilbab.

Sumber : Persda Network

Ada kesan, jilbab itu diidentikkan dengan keshalihahan wanita. Yang berjilbab dianggap shalihah, yang tidak berjilbab dianggap tidak shalihah. Apakah benar demikian? Jawabku, “Bisa iya, tapi bisa pula tidak.” Maksudku, jilbab bisa diidentikkan dengan keshalihahan apabila jilbab itu wajib, tetapi tidak demikian apabila tidak wajib.

Mengenai hukum jilbab itu, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang mewajibkannya. Namun, ada pula yang tidak mewajibkannya (tetapi mensunnahkannya). (Lihat “Hargailah perbedaan pendapat masalah aurat!“)

Bagaimanapun, apa pun hukum jilbab itu, jilbab bukanlah perkara yang perlu lebih diprioritaskan daripada perkara-perkara lain yang lebih penting. (Lihat “Benarkah penggunaan jilbab harus ditekankan?“) Karena itu, aku bisa memahami mengapa partai-partai Islam justru mendukung pasangan capres-cawapres yang istrinya tidak berjilbab. (Lihat “PKS Tidak Memihak Capres-Cawapres Yang Istrinya Pakai Jilbab“) Namun aku pun juga memaklumi bila massa Islam lebih mendukung pasangan capres-cawapres yang istrinya berjilbab.

Aku sendiri akan memilih pasangan capres-cawapres berdasarkan kriteria yang ditentukan oleh Muhammadiyah. (Lihat “Capres-Cawapres Pilihan Muhammadiyah“)

Berita Yang Benar Mengenai Fatwa Pengharaman Facebook & Friendster

Posted on Updated on

Mas Shodiq, pa kabar? Mg rahmat & ridlo Allah sll menyertai. Mas, sy mau tnya. Gmn pendapat Mas tentang di haramkannya facebook oleh 800 Kyai se-Jatim. Jujur Mas, sy seneng sx dgn adanya fb sy bs menemukan temen2 lama sy. Klo d haramkan yaaa…. sedikit kecewa. Klo menurut Mas sdr gmn?? Minta pertimbangannya ya…

Makasih, & hormat sll.

Tanggapan M Shodiq Mustika: Baca entri selengkapnya »

Bagaimana Mendidik Wanita

Posted on Updated on

Dalam pengamatan dan pengalamanku, yang paling membuat wanita terpikat-lekat-erat terhadap pria adalah ketika si pria “menerima apa adanya“. Artinya, si pria tidak banyak menuntut, tidak banyak mengkritik, tidak banyak mengarah-arahkan, dsb.

istri-penulis-romantis.jpgApakah istriku “tergila-gila” padaku? Wah, kalau ada yang mengatakan begitu, dia pasti marah besar. Tapi yang jelas, sebelum dia jadi istriku, dia pernah mengatakan kepadaku bahwa hanya kepada akulah dia merasa bisa menjadi diri sendiri tanpa takut akan kukritik dan juga (yang terpenting) tanpa takut akan kucampakkan. Sampai-sampai dia mengatakan bahwa kalau tidak denganku, dia tidak mau menikah. Nah, kalau itu tidak tergolong “tergila-gila”, kita menyebutnya apa? Silakan menilainya sendiri. (Aku sendiri nggak mau GR. Aku tahu bahwa bahasa perempuan itu bermakna ganda.)

Terhadap pernyataanku itu, seorang pembaca mengkritik: Baca entri selengkapnya »