Jiwa Cantik

Bila air susu dibalas dengan air tuba

Posted on

Pernahkah kau menolong orang, lalu orang itu tidak berterima kasih, tapi malah “air susu”-mu dengan “air tuba”? Kurasa pernah. Mungkin malah sering. Tapi kita tak perlu kecewa. Watak manusia pada umumnya memang begitu. “… dan manusia itu [pada umumnya] selalu tidak berterima kasih.” (QS al-Israa’ [17]: 67) Tak sedikit pula yang lisannya mengucap “terima kasih”, tapi sikapnya malah memandang rendah jasa orang yang membantunya. Na’uudzu billaahi min dzaalik.

Topik ini mengingatkanku pada saran dari Dale Carnegie, Mengatasi Rasa Cemas & Depresi, hlm. 183:

  • Mari kita ingat bahwa Nabi Isa telah menyembuhkan sepuluh orang penderita lepra dalam satu hari–dan hanya seorang di antara mereka yang berterima kasih kepadanya. Mengapa kita harus mengharapkan lebih banyak sikap berterima kasih daripada yang telah diterima oleh Nabi Isa?
  • Mari kita ingat bahwa satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan adalah dengan tidak mengharapkan sikap berterima kasih, tapi dengan memberi demi kebahagiaan memberi.

Dalam kaitannya dengan dakwah, misalnya, apakah kita mengharapkan sikap terima kasih dari orang-orang yang kita dakwahi? Apakah kita merasa sakit hati manakala mereka tidak berterima kasih kepada kita? Kalau iya dan iya, mungkin itu pertanda bahwa amal kita kurang ikhlas. (Dan jika tidak ikhlas, maka sia-sialah amal kita, bukan?)

Panggilan di Malam Pertama

Posted on Updated on

Di malam pertama sewaktu kembali berhijrah ini, aku seolah mendapat panggilan berupa seruan dari dekat, “Menulislah!”
Aku membantah dalam hati, “Aku tidak mampu menulis.”

Lalu seruan dari dekat itu seolah datang lagi, “Allah takkan membebani makhluk-Nya melebihi kemampuannya. Jadi, menulislah sesuai dengan kemampuanmu!”

“Tapi aku tidak mampu lagi menulis,” bantahku lagi.

“Allah takkan menciptakanmu sia-sia. Dia sudah memberimu sedikit-banyak kemampuan menulis. Jadi, menulislah lagi dan lagi.”

“???”

“Menulislah dengan mengingat bahwa Penciptamu ini Maha Pemurah dan Maha Penyayang.”

***

Baiklah. Dengan mengingat bahwa Penciptaku ini Maha Pemurah dan Maha Penyayang, aku menulis… …….

***

Kini aku ingin menulis dan terus menulis. Semangatku kurasa sedang tinggi-tingginya. Bagaimana dengan dirimu? Apakah kau pernah/sering/selalu merasa “terpanggil” seperti yang sedang kurasakan saat ini?

Maka bertanyalah….

Posted on Updated on

“…Maka bertanyalah kepada yang tahu jika kamu tidak mengetahui.” (QS an-Nahl: 43)

Masalahnya, bukankah banyak orang yang seringkali sok tahu? Mereka mengira dirinya sudah tahu, padahal sebenarnya belum tahu. Ciri khasnya, mereka gemar menjawab dan membantah daripada bertanya dan bertanya. Apakah kita tergolong orang yang seperti ini? Na’udzubillah min dzalik.

Maka bertanyalah,
bertanyalah,
bertanyalah,
bertanyalah,
bertanyalah,
bertanyalah,
bertanyalah…….

Percaya dulu baru Yakin atau Yakin dulu baru Percaya

Posted on Updated on

Adakah yang pernah merasakan kebingungan atas suatu pilihan? Tulisan ini sebenarnya akan membahas masalah TIP SIMPLE MENGHADAPI RASA BINGUNG ATAS SUATU PILIHAN, tapi mengapa judul postinganya “Percaya dulu baru Yakin atau Yakin dulu baru Percaya?” dari judul postingan yang membingungkan ini justru bisa menjadi TIP SIMPLE MENGHADAPI RASA BINGUNG ATAS SUATU PILIHAN. Sebagain orang sering kali mengalami kebingungan jika dihadapkan dengan pilihan kalimat dengan komposisi kata yang sama namun susunannya berbeda. Misalnya saja kalimat Percaya dulu baru Yakin atau Yakin dulu baru Percaya

Antara Percaya dulu baru Yakin atau Yakin dulu baru Percaya, mana yang anda terapkan dalam hidup anda? Mungkin ada yang Percaya dulu baru yakin dan ada pula yang Yakin dulu baru Percaya, tapi ada pula yang masih bingung mau pakek yang mana yah? Antara yakin dan percaya sebenarnya tidak sama, keduanya beda tapi mirip, keduanya inilah yang sebenarnya termasuk salah satu factor yang mempengaruhi itensitas rasa bingung dalam diri anda. Ibarat organ tubuh manusia, Yakin itu adalah Hati dan Percaya itu adalah Otak. Maksudnya, Keyakinan itu adalah sesuatu yang menyangkut masalah hati sedangkan Keperyaan itu merupakan sesuatu yang menyangkut pikiran dalam otak kita. Jika anda bertanya mana yang lebih dulu antara percaya dan yakin? Itu berarti anda bertanya otak dulu atau hati? Sepintar-pintarnya otak manusia maka tak akan ada manfaatnya jika dia tak punya hati tapi sebodoh-bodohnya otak manusia tetap ada manfaatnya jika dia punya hati. Contohnya adalah ada orang yang pintar lulusan luar negeri tapi dia hanya memakai kepintaranya itu untuk kepentingan dirinya sendiri dan tidak mau berbagi kepintarannya kepada orang lain, disisi lain ada orang jalanan yang tak pernah mengenyam dunia pendidikan tapi dia rela berbagi dengan sesamanya yang sedang kesusahan walupun dia sendiri sebenarnya susah.

Berikut ini adalah beberapa contoh lain dalam mendiskripsikan Percaya dulu baru Yakin atau Yakin dulu baru Percaya:
1.Mengenai adanya Tuhan, anda Percaya dulu baru Yakin atau Yakin dulu baru Percaya? Jika anda percaya terlebih dulu maka suatu saat nanti bisa saja anda terpengaruh dan bisa jadi anda tidak yakin bahwa Tuhan itu ada tapi jika anda sudah yakin dari lubuk hati anda yang paling dalam bahwa Tuhan itu ada maka sampai kapanpun anda akan selalu percaya bahwa Tuhan itu ada.
2.Mengenai Pekerjaan anda saat ini mampukah membawa kesejahterakan, anda Percaya dulu baru Yakin atau Yakin dulu baru Percaya? Jika anda percaya dulu maka bisa saja anda akan merasa risau dan akhirnya tidak yakin ketika kesejahteraan itu tak kunjung anda dapatkan, tapi jika anda yakin terlebih dulu bahwa pekerjaan yang anda lakukan saat ini bisa membawa anda kedalam kesejahteraan maka disaat kesejahteraan itu tak kunjung datang anda akan tetap yakin dan memperjuangkan kesejahteraan yang belum anda dapatkan itu.
3.Bisakah anda di percaya orang lain, anda Percaya dulu baru Yakin atau Yakin dulu baru Percaya? Jika anda percaya dulu maka bisa jadi anda tidak yakin bahwa anda bisa dipercaya orang lain ketika kepercayaan dari orang lain itu tak kunjung anda dapatkan, jika anda yakin terlebih dahulu maka andapun akan tetap berjuang untuk bisa dipercaya orang lain walaupun kepercayaan itu tak kunjung anda peroleh. Dengan keyakinan bahwa anda bisa dipercaya orang lain maka andapun akan menjadi semakin percaya diri untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain.
Ketiga contoh diatas mungkin sudah cukup untuk mendiskripsikan bahwa kita perlu meyakini dahulu kemudian mempercayainya.

Membaca ketiga paragraph diatas apakah anda masih bingung dalam memilih Percaya dulu baru Yakin atau Yakin dulu baru Percaya? Menurut saya lebih baik kita Yakin dulu baru Percaya ketimbang Percaya dulu baru Yakin. Karena kita harus mendahulukan hati kemudian baru ke otak, itu berarti kita harus yakin dulu baru percaya. Terus apa kaitanya Yakin dulu baru Percaya dengan TIP SIMPLE MENGHADAPI RASA BINGUNG ATAS SUATU PILIHAN

Salah satu penyebab orang mengalami kebingungan adalah karena mereka tidak mendengarkan suara hati dan lebih cenderung memikirkanya dengan otak yang penuh kerisauan alhasil jika kita berlebihan dalam berfikir dan mengabaikan suara hati maka yang timbul adalah rasa bingung. Jika kita tidak peka dengan suara hati dan berfikir secara berlebihan maka kemungkinan besar yang muncul adalah berfikir negative atau dalam bahasa gaulnya adalah su’udzon thinking, apalagi jika kita lebih mendangarkan kata orang ketimbang medengarkan suara hati pastinya yang terjadi adalah super-super bingung. Jadi TIP SIMPLE MENGHADAPI RASA BINGUNG ATAS SUATU PILIHAN adalah yakinlah dulu kemudian percayalah bahwa pilihan anda itu yang terbaik, dengarkan suara hati kemudian pikirkanlah dengan otak yang jernih dan selektiflah dalam menerima saran orang lain, karena jika anda tidak selektif dalam memilih saran dari orang lain maka yang terjadi adalah tambah bingung. Dan satu hal penting yang perlu anda camkan disaat bingung menentukan pilihan adalah mohon petunjuk dariNya. Meski dalam kondisi bingung namun segala sesuatu yang berasal dari hati nurani memiliki kemungkinan yang lebih besar akan hasil yang lebih baik, YAKIN dan PERCAYALAH.

10 Hari Membangun Jati Diri

Posted on Updated on

Sudahkah kau bangun jati dirimu dengan kokoh?
Jika belum, bangun dalam 10 hari dan berubahlah bak kupu-kupu yang menemukan dirinya dengan sebuah perjuangan.

Hari Pertama
Keberhasilan dan Kerja keras adalah satu paket kehidupan yang tidak bisa kita beli secara terpisah. Jika ingin berhasil, kerja keras adalah satu-satunya cara yang bisa kita lakukan.
Hari kedua
Kegagalan adalah pintu keberhasilan. Maka, beruntunglah orang yang berusaha kemudian gagal hari ini karena esok kesuksesan ada di tangannya.
Hari Ketiga
Orang yang sukses adalah orang yang ketika gagal ia akan tetap berdiri dan mencoba lagi.
Hari Keempat
Orang akan selalu menertawakan kita ketika kita gagal dan anehnya mereka selalu siap untuk bergabung ketika kita berhasil, so jangan heran.
Hari Kelima
Mencoba berhenti berarti Anda lemah dan berhenti mencoba berarti Anda sudah kalah.
Hari Keenam
Ibarat Jalan, Perencanaan adalah jembatannya. Seberapa kokoh jembatan tergantung kemantapan rencana. Tak berbeda dengan hidup kita.
Hari Ketujuh
9 dari 10 orang sukses berasal dari kalangan yang mencoba lalu gagal. Anda ingin mencoba lalu gagal atau tidak mencoba sama sekali dan menjadi 1 dari 10 orang itu?
Hari Kedelapan
Bermimpilah! karena suatu saat nanti Anda akan berteriak dengan lantang, “Alhamdulillah Ya Allah, mimpiku telah jadi kenyataan…!!”
Hari Kesembilan
Pernahkah Anda berhayal memiliki uang bermilyar-milyar? Jika tidak bagaimana Anda bisa mendapatkan uang sebanyak itu di alam nyata sedangkan berhayal saja tidak bisa. Padahal berhayal itu apalah susahnya.
Hari Kesepuluh
Sejatinya kegagalan itu adalah bentuk lain dari keberhasilan. Jika Anda gagal menemukan di mana rumah mantan pacar Anda, sejatinya Anda telah berhasil menemukan jalan mana yang salah dan menyesatkan sehingga kelak bisa dihindari

Kuis Psikologi: Apakah dirimu pemberani?

Posted on Updated on

Jawablah 20 pernyataan di bawah ini dengan tanda positif (+) bila sesuai dengan dirimu, atau tanda negatif (-) bila tidak sesuai dengan dirimu pada saat ini.

1. (..) Aku mengerjakan tugas-tugas dalam ketegangan yang sangat besar.

2. (..) Aku bangun dengan rasa segar hampir setiap hari.

3. (..) Aku merasa sukar untuk memusatkan perhatian pada suatu tugas atau pekerjaan.

4. (..) Perjuanganku yang paling berat adalah melawan diriku sendiri.

5. (..) Bila melihat ke bawah dari tempat yang tinggi, aku tidak menjadi takut.

6. (..) Tanganku sering gemetar bila aku mencoba melakukan seuatu.

7. (..) Ternyata aku paling jarang merisaukan sesuatu.

8. (..) Aku sering sekali murung dan merenung.

9. (..) Sekali seminggu atau lebih, sering aku menjadi sangat tegang dan emosional.

10. (..) Kupikir, perasaanku tidak lebih mendalam daripada orang-orang lain.

11. (..) Pada umumnya hidup ini kurasakan berat.

12. (..) Aku mudah sekali menjadi kikuk (canggung).

13. (..) Aku dapat memusatkan perhatian pada satu hal dalam jangka lama.

14. (..) Aku hampir selalu merasa cemas tentang sesuatu hal atau seseorang.

15. (..) Sesungguhnya persoalan yang kurisaukan lebih banyak daripada yang seharusnya.

16. (..) Aku merasa lebih sukar memusatkan perhatian daripada orang lain.

17. (..) Orang-orang sering mengecewakan aku.

18. (..) Satu atau lebih dari anggota keluargaku sangat gugup.

19. (..) Aku adalah orang yang selalu tenang.

20. (..) Di malam hari, aku dapat bersantai dengan tenang.

Setelah dirimu menjawab semua pernyataan tersebut, kau dapat mencocokkannya dengan kunci jawabannya di buku Yul Iskandar, Test Personaliti (Jakarta: Yayasan Dharma Graha, 1996), hlm. 37-38). Aku tidak menyampaikan kuncinya di sini karena aku menghargai hak cipta sang penyusun. Kalau kau penasaran dan tak bisa mengakses kunci tersebut, silakan sampaikan jawaban-jawabanmu itu secara pribadi kepada diriku melalui halaman Contact Me. Insya’Allah akan aku paparkan kepada dirimu gambaran mengenai tingkat keberanianmu.

————-
Kuis Psikologi Lainnya:
Kuis: Apakah Anda cenderung mampu menahan emosi?
Kuis Psikologi: Apakah si dia memang romantis?

Sikap Jitu Supaya Kritikan Tidak Menyakiti Anda

Posted on Updated on

Dua tahun lalu, aku sudah memposting “Kritik Tajam Yang Tidak Lukai Hati“. Kini saatnya aku memposting bagaimana supaya kita tidak merasa sakit oleh kritikan yang menghujani kita. Untuk itu, berikut ini aku sampaikan kutipan selektif dari buku Dale Carnegie, Mengatasi Rasa Cemas & Depresi (Jogjakarta: Think, 2007), “Lakukan Ini–dan Kritikan Tidak Akan Menyakiti Anda”, hlm. 264-266):

… kebanyakan dari kita menerima mata panah kecil yang dilemparkan kepada kita dengan terlalu serius. Saya ingat saat, bertahun-tahun lalu, ketika seorang wartawan dari New York Sun menghadiri sebuah peragaan kelas pelatihan orang dewasa saya serta menyindir diri [saya] dan hasil kerja saya. Apakah saya marah? Saya menganggap hal itu sebagai sebuah penghinaan pribadi. Saya menelepon Gil Hodges, ketua Komite Eksekutif koran Sun, dan langsung menuntut kepadanya untuk mencetak sebuah artikel yang menyatakan fakta–dan bukannya sebuah hal yang bukan-bukan. Saya menginginkannya membayar hukuman sesuai dengan kejahatannya.

Saya merasa malu sekarang dengan cara saya bertindak pada saat itu. Saya menyadari sekarang bahwa separuh dari orang yang membeli koran itu tidak pernah membaca artikel itu. Separuh dari mereka yang membacanya menganggap hal itu sebagai sesuatu yang tidak berarti apa-apa. Separuh dari mereka yang memandang tajam kepadanya akan melupakan segala sesuatu tentangnya dalam beberapa minggu.

Saya menyadari sekarang bahwa orang-orang tidak berfikir tentang anda dan saya atau merasa peduli dengan apa yang dikatakan orang tentang kita. Mereka hanya berpikir tentang diri mereka sendiri–sebelum sarapan, setelah sarapan, dan sampai sepuluh menit lewat tengah malam. Mereka akan ribuan kali lebih peduli tentang sakit kepala kecil yang mereka alami daripada saat mendengar berita kematian anda atau saya.

Bahkan seandainya anda dan saya dibohongi, dicemooh, dikhianati, ditusuk dari belakang, dan ditipu oleh satu dari enam teman akrab anda–mari jangan tenggelam dalam sikap mengasihani diri sendiri….

Saya pernah bertanya kepada Eleanor Roosevelt bagaimana ia menangani kritik yang tidak berdasar–dan Tuhan tahu ia banyak mengalami hal itu. Ia mungkin memiliki banyak teman yang mengasihi dan lebih banyak musuh yang mengasarinya daripada semua wanita lain yang pernah tinggal di Gedung Putih.

Ia menceritakan kepada saya bahwa sebagai seorang gadis rema ia benar-benar seorang yang pemalu, takut dengan apa yang akan dikatakan orang tentang dirinya. Ia merasa begitu takut dengan kritik sehingga pada suatu hari ia bertanya kepada bibinya, kakak perempuan Theodore Roosevelt, dan meminta nasihatnya. Ia berkata, “Bibi Bye, saya ingin melakukan hal ini dan itu. Tapi saya takut akan dikritik.”

Kakak perempuan Teddy Roosevelt melihat ke matanya dan berkata: “Jangan pernah terganggu dengan apa yang akan dikatakan orang, selama kamu tahu di dalam hati kamu bahwa kamu benar.” Eleanor Roosevelt mengatakan kepada saya bahwa nasihat kecil itu terbukti menjadi “Karang Gibraltar”-nya bertahun-tahun kemudian, ketika ia berada di Gedung Putih. Ia mengatakan kepada saya bahwa satu-satunya cara kita bisa menghindari semua kritikan adalah dengan menjadi seperti sebuah pajangan Dresden-China yang tetap diam di rak. “Lakukanlah apa yang kamu rasa di dalam hatimu sebagai sebuah kebenaran–karena walau bagaimanapun anda akan dikritik juga. Anda akan dikutuk jika melakukannya, dan akan dikutuk pula jika tidak melakukannya.”

Perlukah kita mengharap mendapat ucapan terima kasih?

Posted on

Perlukah kita mengharap mendapat ucapan terima kasih? Tidak perlu. Sebab, tabiat manusia pada umumnya adalah “selalu tidak berterima kasih”. (QS al-Israa’ [17]: 67) Tidak percaya? Silakan periksa kutipan selektif berikut ini, dari Dale Carnegie, Mengatasi Rasa Cemas & Depresi (Jogjakarta: Think, 2007), hlm. 175-178:

Saya baru-baru ini bertemu dengan seorang pengusaha di Texas yang sedang marah bukan main. … Kejadian yang membuat ia marah terjadi sebelas bulan sebelumnya, tapi sampai sekarang ia masih juga marah tentang hal itu. … Ia telah memberi uang sepuluh ribu dolar [kini senilai lebih dari seratus juta rupiah] kepada 34 karyawannya sebagai hadiah Natal—kira-kira tiga ratus dolar [atau lebih dari tiga juta rupiah] per orang—dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang berterima kasih kepadanya. “Saya merasa menyesal,” ia mengeluh dengan getir, “pernah memberi uang kepada mereka.”

… orang ini [sang pengusaha tersebut] melakukan sebuah kesalahan yang manusiawi tapi menyengsarakan karena mengharapkan sikap berterima kasih. Ia benar-benar tidak tahu sifat manusia [pada umumnya].

Seandainya anda telah menyelamatkan hidup seseorang, apakah anda mengharapkan dia untuk berterima kasih? Mungkin—tapi Samuel Leibowitz, yang telah lebih dahulu menjadi seorang pengacara terkenal sebelum beralih menjadi hakim, telah menyelamatkan 78 orang dari ancaman hukuman mati di kursi listrik! Berapa banyak dari orang-orang ini, menurut perkiraan anda, yang mengucapkan terima kasih kepada Samuel Leibowitz, atau pernah repot-repot mengirimkan kartu Natal kepadanya? Berapa banyak? Tebak… Betul sekali—tidak seorang pun.

Nabi Isa telah menyembuhkan sepuluh orang penderita lepra [yang mengerikan] pada suatu hari—tapi berapa banyak dari orang-orang itu yang mengucapkan terima kasih kepadanya? Hanya seorang. … “Di mana sembilan orang lainnya?” Mereka semuanya telah melarikan diri. Menghilang tanpa mengucapkan terima kasih!

… Charles Schwab menceritakan kepada saya bahwa ia pernah membantu seorang kasir bank yang telah melakukan spekulasi di pasar modal dengan uang milik bank. Schwab mengeluarkan uangnya untuk menyelamatkan orang ini dari penjara. Apakah kasir bank itu berterima kasih? Oh, ya, selama beberapa waktu. Kemudian ia berbalik, mencaci dan menghinanya—orang yang sama yang telah membantunya lepas dari ancaman penjara.

…. Begitulah yang terjadi. Tabiat manusia akan senantiasa menjadi bagian dari tabiat manusia—dan hal itu mungkin tidak akan berubah selama anda hidup. Jadi, mengapa tidak menerimanya? Mengapa tidak bersikap realistis tentang hal itu seperti si tua Marcus Aurelius, orang paling bijak yang pernah memerintah Kekaisaran Romawi. Ia pernah menulis dalam diarinya suatu hari: “Hari ini, saya akan bertemu dengan orang-orang yang bicara terlalu banyak—orang-orang yang egois, yang mementingkan diri sendiri, dan tidak tahu berterima kasih. Tapi saya tidak akan merasa terkejut atau terganggu, sebab saya tidak bisa membayangkan sebuah dunia tanpa orang-orang seperti itu.”

Masuk akal, bukan? Apabila Anda [atau] saya terus menggerutu tentang sikap tidak berterima kasih, siapa yang harus disalahkan? Apakah hal itu merupakan sifat manusia—ataukah itu merupakan ketidak tahuan kita tentang tabiat manusia? Mari, karenanya, jangan mengharapkan sikap berterima kasih. Jadi, andaikata kita menerimanya dalam beberapa kesempatan, ia akan menjadi sebuah kejutan yang menyenangkan. Jika kita tidak mendapatkannya, kita pun tidak akan merasa terganggu.

3 Cara Cepat Meredakan Stres

Posted on Updated on

Stres seringkali menimpa kita dalam waktu yang lama bila dibiarkan begitu saja. Namun ternyata, stres itu dapat kita redakan dengan cepat. Caranya sangat praktis. Ini dia tiga cara di antaranya: Baca entri selengkapnya »

Kekuatanku dan Kelemahanku

Posted on Updated on

Dalam pengamatan subyektifku, ada empat macam kekuatanku dan empat macam pula kelemahanku. Empat macam karakterku yang paling menguatkan diriku adalah:

1. Gemar Belajar

Aku senang mempelajari hal-hal baru, di mana pun aku berada. Aku suka membaca, terutama bacaan yang inspiratif, sistematis, dan perspektival (memperhatikan berbagai sudut pandang). Bidang kajian yang aku geluti sekarang adalah Cinta Sejati dan Pengembangan Diri Islami.

2. Kritis dan Berpikiran Terbuka

Memikirkan sesuatu secara saksama dan mengamatinya dari segala sisi merupakan aspek penting pada diriku. Aku biasanya tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan. Untuk mengambil keputusan, aku suka bersandar pada bukti yang kuat. Kalau menemukan bukti baru yang bertentangan dengan pengetahuan atau keyakinanku terdahulu, aku mempertimbangkannya semasak-masaknya. Hasilnya, bisa saja aku mengubah pikiran dan tindakanku.

Fokus perhatianku bukanlah pada apa pandangan orang-orang, melainkan pada BAGAIMANA mereka memandang. Dalam bidang agama, apa pun hasil ijtihad seseorang, aku lebih menaruh perhatian pada METODE ijtihad yang dia gunakan. Karenanya, aku cenderung sangat toleran dan tidak fanatik pada madzhab atau aliran pemahaman tertentu.

3. Filosofis-Religius
Aku menganut suatu falsafah kehidupan religius (Islami) yang menjelaskan keberadaanku yang kecil di alam semesta yang besar. Aku pun merasa terpanggil untuk mencurahkan hidupku di jalan dakwah. Keyakinanku melandasi tindakanku dan merupakan sumber ketenangan jiwaku.

4. Pencinta (dan Penerima Cinta)
Aku sangat menghargai keakraban dengan orang-orang tertentu. Mereka yang aku cintai itu sangat aku pedulikan. Begitu pula sebaliknya. (Aku pun menyambut hangat mereka yang menaruh kepedulian besar pada diriku.)

Adapun kelemahanku, yang sudah lama aku rasakan dan terkadang membuat diriku merasa sedih, meliputi empat macam berikut ini.

1. Kurang Tanggap
Aku belum mampu menyesuaikan diri dalam berbagai situasi sosial. Aku tidak begitu pandai menangkap perasaan atau suasana hati orang lain, sehingga aku tidak dapat menanggapinya dengan baik.

2. Kurang Gaul
Aku jarang menyediakan waktu bagi orang lain, apalagi bagi orang yang belum kukenal. Aku cenderung kurang menyadari betapa berharganya orang-orang lain bagi diriku. Acapkali, aku baru menyadarinya ketika merasa kehilangan mereka.

3. Kurang Menyenangkan
Sewaktu sendirian atau pun di tengah-tengah orang, aku sering terlalu serius dan kurang santai. Memang, ketika aku tertawa dan tersenyum lepas, aku merasa senang. Namun, aku kurang mampu menciptakan situasi yang menyenangkan ini. Aku jarang melontarkan humor atau pun kata-kata “ringan” lain yang menyegarkan suasana (kecuali dengan orang tertentu yang sudah sangat dekat denganku).

4. Kurang Perencanaan
Aku berharap bahwa masa depan akan baik dan lebih baik. Aku pun merasakan bahwa hal ini akan terwujud apabila aku berupaya sebaik-baiknya. Namun, selama ini aku jarang menetapkan rencana yang matang untuk mencapai sesuatu yang aku inginkan.

Begitu jugakah kekuatanku dan kelemahanku di matamu?
Apa sajakah kekuatanmu dan kelemahanmu yang kau rasakan?