KDRT

Ditolak ngeSeks, Istri Dibunuh

Posted on Updated on

Apa pun alasannya, kecuali karena terpaksa (seperti dalam peperangan), membunuh merupakan tindakan yang jauh dari peri kemanusiaan. Apalagi pemicunya hanya karena marah dan kecewa. Pelakunya mestinya mendapat hukuman yang setimpal. Apalagi kalau korbannya ialah orang yang seharusnya dia lindungi, misalnya: anak atau istri. Hukumannya hendaknya lebih berat daripada pembunuhan terhadap orang lain. Atas dasar itu, aku kurang mengerti mengapa seorang pembunuh istri (sebagaimana diberitakan di bawah ini) hanya akan dijerat dengan satu pasal yang ancaman hukumannya kurang dari 10 tahun. Apakah tidak ada pasal lain yang juga dilanggar?

KDRT

Ditolak Diajak Intim, Istri Dibunuh

21/12/2009 17:01

Liputan6.com, Pasuruan: Seorang suami di Desa Sumberagung, Grati, Pasuruan, Jawa Timur, menganiaya istrinya hingga meninggal. Pelaku yang bernama Munir menghabisi nyawa perempuan yang dinikahinya karena ditolak ketika meminta berhubungan badan.

Di hadapan polisi, Senin (21/12), Munir mengaku membunuh istrinya dengan cara menusuk dengan pisau. Pelaku kesal karena sudah seminggu terakhir, sang istri tak mau diajak berhubungan badan. Selain itu, ia kerap ditinggal pergi korban hingga berhari-hari.

Pelaku sempat buron selama sepekan. Munir langsung kabur usai membunuh istrinya. Munir dicokok saat membeli handphone. Atas perbuatannya, tersangka dijerat pasal 354 tentang penganiayaan berat dengan ancaman hukuman delapan tahun penjara.(JUM/AYB)

Beda Tipis antara Tegas dan Emosi dalam KDRT

Posted on Updated on

KDRT alias Kekerasan Dalam Rumah Tangga bukanlah hal yang asing lagi bagi masyarakat karena KDRT tidak hanya heboh dalam kisah sinetron saja tapi juga beken dialam nyata, kian hari kian merebak kisah kisruh KDRT tanpa sebab musabab yang jelas. KDRT adalah “setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan, atau penderitaan secara fisik, seksual psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga”.  Sebenarnya KDRT bisa menimpa siapa saja baik ibu, bapak, suami, istri, anak, pembantu rumah tangga, ataupun anggota keluarga lain yang tinggal serumah alias seatap misal bapak/ibu/mertua dll, namun Secara umum pengertian KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) lebih di persempit artinya sebagai bentuk penganiayaan seorang suami terhadap sang istri. Jarang sekali terjadi kekerasan istri terhadap suami kecuali bagi para SSTI (suami-suami takut istri). Seorang laki-laki/suami memiliki jabatan tertinggi dalam sebuah Rumah Tangga yakni sebagai Pemimpin, jadi tidak selayaknya seorang suami takut kepada istri, seorang suami harus tegas dalam memimpin keluarganya. Tegas dalam artian tidak memaksakan sesuatu yang mutlak kepada Istri, sehingga menimbulkan penderitaan baik fisik ataupun psikologis. Salah satu sebab musabab kisah kisruh adalah karena kekilafan suami akan Beda Tipis antara Tegas dan Emosi dalam KDRT sehingga terjadilah pemahaman yang keliru.

“Tegas merupakan suatu tindakan tanpa dasar Emosi”, namun secara tidak sadar banyak orang ingin bertindak tegas atas dasar emosi dan alhasil bukanlah ketegasan tapi kekerasan. Ketegasan yang dilakukan suami sebagai kepala keluarga harus melihat kepada manfaat dan permasalahan yang terjadi. Jangan sampai di perdaya emosi sehingga berbuat suatu tindakan yang berlebihan yang mengacu pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Tapi jangan sampai pula, seorang suami membiarkan istri berbuat pelanggaran hanya dengan dalih khawatir melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Tegas yang benar-benar tegas bukanlah tindakan yang harus disertai adegan kekerasan. Banyak kaum suami yang salah kaprah karena merasa tindakannya tegas atas potongan dalil Surat An-Nisa’:34 yang memperbolehkan seorang suami memukul istrinya. Parahnya lagi banyak kaum suami yang melakukan tindak kekerasan tanpa dalil apapun dan murni atas dasar emosi.

Jelas saja bahwa KDRT adalah tindakan tercela yang melanggar ketentuan agama dan cacat dimata hukum, karena KDRT berakibat fatal diantaranya adalah suami bisa dituntut ke Pengadilan sebab penganiayaan terhadap istri merupakan tindakan yang melanggar KUHP. Rumah Tangga menjadi berantakan (Broken Home). mengakibatkan gangguan mental (kejiwaan) terhadap istri maupun anak. melanggar syari’at agama. Sebagaimana kita ketahui bahwa Agama mengajarkan kita untuk mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah bukanlah suatu KDRT.

Dengan adanya dampak buruk akibat KDRT sudah selayaknya para suami untuk bisa membedakan mana yang benar-benar tegas dan mana yang sok tegas dengan tetap mengontrol emosi. Sebelum terjadi KDRT yang berkelanjutan segeralah mencari solusi untuk mengatasi KDRT, Perceraian memang halal tapi itu adalah tindakan yang dibenciNya, yang perlu di ingat adalah bahwa perceraian bukanlah solusi terakir dalam mengatasi masalah KDRT karena masih banyak solusi lain yang lebih baik.

Bagi para suami yang merasa tegas atas dasar dalil potongan Surat An-Nisa’:34 baiknya dipahami kembali isi kandungan secara utuh dari Surat An-Nisa’:3 jangan hanya sepotong-sepotong saja.
“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz, maka nasehatilah mereka, diamkanlah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” [QS. An-Nisa’: 34]
Nusyuz adalah meninggalkan ketaatan kepada suami atau menentangnya, baik dengan perkataan maupun perbuatan.
Dalam surat An-Nisa’:34 tersebut dianjurkan bahwa jika seorang istri meninggalkan ketaatan kepada suami baik dengan perkataan ataupun perbuatan hendaknya langkah pertama yang dilakukan seorang suami adalah menasehati/menyadarkan sang istri, jika memang dengan nasehat saja sang istri tak kunjung sadar maka diamkanlah ditempat tidur dengan membelakangi ketika tidur atau memisahkannya dari tempat tidur, dan jika langkah pertama hingga kedua istri tak kunjung jera maka pukulah dia, memukul disini bukanlah sembarang memukul yang dapat menimbulkan kesengsaraan ataupun penderitaan. syari’at islam tidak membolehkan dan mensyariatkan kecuali untuk kebaikan manusia seluruhnya dan tidak melarang kecuali perkara yang merusak dan mengganggu manusia. Jika memang ingin menggunakan dalil islam dalam melakukan tindakan maka pahami secara keseluruhan jangan sepotong-sepotong.

Bagi para suami yang sering melakukan tindakan KDRT atas dasar murni karena emosi hendaknya mencari bantuan psikolog untuk belajar mengontrol emosi. Masalah KDRT tidak semua mutlak atas kesalahan suami yang bertindak sok tegas ataupun emosian tapi sering kali juga datang dari pihak istri, untuk itu bagi para istri hendaknya taat dan berbakti kepada sang suami jangan melakukan hal yang membuat suami menjadi jengkel, kesal ataupun marah. Selain itu kedua belah pihak hendaknya saling memahami dan mendahulukan kewajiban-kewajiban mereka sebagai seorang suami ataupun istri sebelum mereka menuntut hak-hak mereka.

Masalah KDRT adalah masalah yang harus di selesaikan bukannya disembunyikan, mungkin saja banyak para istri yang menganggap bahwa KDRT merupakan aib yang harus dijaga kerahasiaannya sehingga dia rela membiarkan dirinya teraniaya. Apalagi jika para istri yang menjadi korban KDRT itu menerapkan dalil klasik yaitu “Mikhul duwur, mendem jero”, artinya “perempuan seharusnya menjunjung nama baik keluarga dan menimbun hal-hal buruk yang menimpa, meskipun ia harus menanggung sakit derita akibat kekerasan yang menimpa dirinya”.  Kesabaran, ketenangan dalam mengambil keputusan, dan memohon pertolongan serta tawakkal kepada Allah merupakan faktor penentu dalam menyelesaikan berbagai masalah, termasuk masalah KDRT