Kisah Cantik

Berapa banyak air yang ada di lautan? Ini jawabannya

Posted on Updated on

INILAH.COM, Jakarta- Peneliti memecahkan pertanyaan sulit berapa banyak air yang ada di lautan?. Menariknya, hasil yang didapat dari data satelit itu tak beda jauh dengan perkiraan 1888.

Matthew Charette, ilmuwan di Department of Marine Chemistry and Geochemistry, WHOI AS yang ambil bagian dalam penelitian untuk mengaudit semua air di planet ini.

“Jika Anda ingin tahu volume air di planet ini, Anda dapat membuka Google dan mendapatkan 5 jawaban yang berbeda, kebanyakan dari 30 sampai 40 tahun lalu.”

Baca entri selengkapnya »

Manakah Tim Sepakbola Yang Paling Indah dan Menghibur Kita?

Posted on Updated on

Kemarin lusa, kita disuguhi tontonan sepakbola yang menghibur dan sekaligus mengecewakan: FC Barcelona (tim dengan penyerangan terbaik sedunia) versus Internazionale Milan (tim dengan pertahanan terbaik sedunia). Pertandingan yang berlangsung nun jauh di sana ternyata gaungnya bergemuruh di sini. Sebagian dari kita merasa puas dan terhibur mendapati lolosnya Inter Milan ke final Liga Champions setelah melewati tim “terbaik” yang lebih difavoritkan, yaitu Barcelona (dan Chelsea). Sebagian lainnya merasa kecewa lantaran pertandingannya berjalan berat sebelah: hanya ada satu pihak (yaitu Barcelona) yang berusaha mencetak gol, sedangkan pihak lainnya (yaitu Inter) hanya berusaha mempertahankan gawangnya untuk tidak kebobolan.

Barcelona-Internazionale
Zlatan Ibrahimovic (Barcelona) versus Julio Cesar (Internazionale Milan)

Baca entri selengkapnya »

Hah?.. Barcelona kehilangan masa depan?

Posted on Updated on

Gai Assulin
Gai Assulin

“Barcelona terancam kehilangan masa depan”. Demikian berita di harian Kompas pagi ini. Banarkah “ancaman” tersebut. Menurutku, masa depan FC Barcelona masih cerah. Memang benar, klub juara dunia ini sulit memperpanjang kontrak 4 pemain berbakatnya seperti yang dilaporkan oleh harian tersebut. Namun, masalah seperti ini dapat diatasi dengan relatif mudah. Caranya adalah dengan meminjamkannya ke klub lain. Bagaimana menurut dirimu?

Berikut ini kutipan beritanya:

Barcelona Terancam Kehilangan Masa Depan

SELASA, 5/1/2010 | 03:38 WIB

BARCELONA, KOMPAS.com – Kontrak empat pemain muda berbakat Barcelona, yaitu Gai Assulin, Jonathan dos Santos, Victor Vazquez, dan Thiago Alcantara keempat pemain ini habis 30 Juni. Keempat pemain ini berpotensi hengkang karena Barcelona kesulitan memperpanjang kontrak baru.

Menurut Sport, salah satu kesulitan Barcelona adalah skuad tim senior saat ini sudah terlalu gemuk. Hal ini membuat Barcelona berada dalam dilema. Pasalnya, memperpanjang kontrak tanpa diikuti kemampuan memberi jam terbang reguler akan menambah beban keuangan klub dan membunuh perkembangan pemain. Namun, mengingat bakat keempat orang ini, menjual mereka juga merupakan kerugian.

Pelatih Josep “Pep” Guardiola sendiri sangat mengagumi bakat keempat orang ini. Itu ditunjukkannya dengan menolak pembelian pemain baru di bursa transfer, untuk mencari pengganti Yaya Toure dan Seydou Keita, yang pulang kampung untuk mengikuti Piala Afrika. Pep bertekad menjadikan momen ini untuk memberi kesempatan pemain muda mengasah kemampuan.

Hasil ekseperimen Pep cukup memuaskan. Ketika Barcelona menghadapi Villarreal dalam lanjutan Divisi Primera, akhir pekan lalu, ia mencoba menyelipkan Jonathan Dos Santos dalam barisan starter Barcelona. Meski laga berakhir imbang 1-1, penampilan Jonathan memuaskan Pep.

Pep berharap, menemukan cara mempertahankan para pemain ini. Ia tidak ingin, Barcelona mengulang kesalahan, ketika melepas Cesc Fabregas ke Arsenal atau Gerard Pique ke Manchester United. Ia dan Barcelona sedang mempertimbangkan kemungkinan meminjamkan keempat pemain ini ke klub lain.

Sementara itu, Barcelona sedang serius menegosiasikan perpanjangan kontrak dengan Pique. Kontrak Pique habis akhir musim ini dan bila tak segera tercapai kesepakatan, Pique bisa membuka negosiasi transfer dengan klub lain dan pindah di akhir musim sebagai free agent. (SPRT)

Hebat! Orang Indonesia Jadi Dosen Terbaik di Inggris

Posted on Updated on

Dr Yanuar NugrohoHidup di Indonesia sepertinya terlalu santai. Banyak anak berbakat yang kemudian tak berkembang. Buktinya, anak-anak kita sering memenangkan olimpiade sains, tapi setelah mereka dewasa nyaris tak ada gaungnya. Mungkin anak-anak kita itu perlu “hijrah” ke luar negeri, Inggris misalnya. Di sana, mereka bisa lebih terpacu untuk berprestasi seoptimal mungkin. Menjadi yang terbaik diantara orang bule tidaklah mustahil. Ini dia contohnya:

Dosen Indonesia di Inggris Raih Staf Akademik Terbaik

Jumat, 25 Desember 2009 03:47 WIB

London (ANTARA News) – Seorang warga Indonesia Dr. Yanuar Nugroho, peneliti dan pengajar di Institut Kajian Inovasi (Manchester Institute of Innovation Research/MIOIR) dan Pusat Informatika Pembangunan (Centre for Development Informatics/CDI) meraih penghargaan sebagai staf akademik terbaik (Academic of the Year Award) 2009 di Universitas Manchester, Inggris.

Penghargan sebagai Staf Akademik Terbaik 2009 di Manchester Business School di Universitas Manchester, Inggris dianugerahkan pimpinan Manchester Business School (MBS) di the University of Manchester kepada Dr Yanuar Nugroho, dalam satu upacara.

Menurut Yanuar kepada koresponden Antara London, Kamis , kriteria utama penilaian penghargaan ini adalah kontribusi akademik lewat penelitian, tulisan, seminar, kuliah dan konferensi.

Selain itu, transfer pengetahuan melalui pelatihan internal dan supervisi mahasiswa Master dan Doktoral, ujar ayah satu orang putri Diandra Aruna Mahira, (5) dan seorang putra Linggar Nara Sindhunata (2,5)

Dalam dua tahun terakhir, istri Dominika Oktavira Arumdati, terlibat dalam lebih dari 15 penelitian yang didanai oleh Uni Eropa (EU/EC), Dewan Riset Inggris (RCUK), Dewan Riset Eropa (ERC), dan Departemen Industri dan Perdagangan Inggris (DTI).

Selain mempublikasikan tulisan di berbagai jurnal internasional, presentasi di konferensi-konferensi kelas dunia, dan menjadi dosen tamu di beberapa universitas termasyur seperti Oxford dan Cambridge.

Saat ini Dr. Nugroho membimbing dua mahasiswa sarjana, lima mahasiswa master dua diantaranya dari Indonesia dan satu diantaranya lulus dengan pujian atau `distinction? ? atau cum laude, menjadi supervisor satu mahasiswa doktoral dan advisor tiga mahasiswa doktoral lainnya.

Dr. Nugroho menyatakan sebenarnya ia samasekali tidak menyangka akan memenangkan penghargaan ini. “Saya baru diberitahu bahwa saya dinominasikan sebagai kandidat pada bulan Nopember yang lalu,” ujar pria kelahiran Januari 1972.

Dr. Nugroho, alumnus Teknik Industri ITB 1994, mendapatkan PhD-nya dari Universitas Manchester dalam waktu kurang dari 3 tahun pada 2007, menyelesaikan post-doktoralnya tahun 2008 dan sejak Agustus 2008 menjadi staf penuh di Universitas Manchester.(*)

Hujan di Atas Ciuman (cerpen karya Lan Fang)

Posted on Updated on

Hujan di Atas Ciuman

Hujan di Atas Ciuman

by Lan Fang
Jawa Pos, Minggu, 20 Desember 2009

Tato

Sekarang sudah memasuki musim penghujan. Biasanya setiap hari langit akan berwarna abu-abu lalu memuntahkan biji-biji air. Jalanan akan basah, banjir, dan macet terjadi di mana-mana. Aku tidak mengerti kenapa Lin begitu tergila-gila pada sebuah musim yang hanya bisa menjanjikan basah, pikirku sambil memandang kanvas besar di hadapanku.

Aku merasa kanvas besar ini lebih menarik daripada abu-abu yang tergantung di langit. Abu-abu? Hei, mendadak aku merasa perlu untuk menyakinkan kalau langit memang sedang berwarna abu-abu. Aku melemparkan pandangan keluar jendela dan ternyata langit memang sedang abu-abu. Tiba-tiba aku teringat sekujur novel Lin yang terbaru. Ciuman di Bawah Hujan, judulnya. Cukup menarik tetapi kenapa begitu abu-abu?

Lin

Aku mempercepat laju motorku. Angin menabrak dadaku. Aku mengetatkan geraham menahan rasa yang asing. Bukan rasa gigil. Tetapi dadaku seakan terbakar sampai bolong. Padahal aku tidak merokok. Mungkin panaslah yang akan kita rasakan jika terlalu kedinginan. Misalnya, seperti saat kita menggenggam es batu.

Sementara itu wajah langit tampak semakin murung. Aku yakin sebentar lagi pasti turun hujan. Ternyata benar. Mulai ada yang menimpaku setitik demi setitik. Motor pun semakin kupacu. Aku tidak mau basah kuyup di jalanan. Terbayang secangkir teh sepat panas di studio lukis Tato. Pasti hangatnya melegakan dada. Aku pun membayangkan diriku sedang flu kemudian seseorang mengosokkan balsam ke dadaku. Seseorang yang menurut Tato terlalu abu-abu: Rafi.

Tato

Bulan sudah menyembul. Tetapi tidak lama karena jarum-jarum perak telah dicucurkan langit. Curahnya rapat sampai tampak seperti tirai yang selalu patah bila disibakkan.

Aneh, Lin belum datang juga. Padahal Lin paling tidak suka dengan kebiasaan jam karet. Aku sudah tidak sabar hendak menunjukkan lukisanku padanya.

”Merah?!” seru Lin ketika kuceritakan lukisanku berwarna merah. ”Apakah kau tidak mempunyai pilihan warna lain? Karena aku sudah terlalu akrab dengan merah. Tiang-tiang di kelenteng, tubuh naga, ikan koi, bunga peony, baju baru ketika perayaan Imlek, angpau, lampion, semua itu merah…” Suaranya terdengar mengambang.

”Tetapi ini merah yang lain, Lin.”

Aku memang tidak melukis semua yang disebut Lin. Tidak ada tiang-tiang kelenteng, tubuh naga, baju merah, angpau atau lampion di atas kanvasku. Yang ada hanya merah. Aku mengambil kuas dan menambahkan merahnya. Aku masih menunggu Lin.

Lin

Tato pasti sedang menungguku. Semoga saja ia tidak kesal karena keterlambatanku. Aku sedang mengalami sedikit masalah di jalan. Hujan membuat jalanan terlalu licin untuk diriku yang sedang ditunggu. Dan entah ke mana sinar bulan. Ups, motorku…

Kemarin Tato memberi tahu tentang lukisannya yang hampir selesai. Lukisan merah yang disiapkannya untuk kami. Maksudku, lukisan merah itu disiapkan Tato untuk pameran lukisannya sekaligus terinspirasi dari novel terbaruku yang berjudul Ciuman di Bawah Hujan.

Tetapi kenapa harus merah?

”Aku ingin warna lain,” cetusku.

”Abu-abu?” tanyanya dengan nada yang sangat datar sehingga aku tidak bisa mengartikan apa maksudnya.

Oh, aku tidak mengerti kenapa kami jadi berdebat mengenai warna. Mungkin warna dan segala ronanya bukan masalah bagi pelukis seperti Tato. Setiap hari ia bergumul dengan warna. Tetapi berbicara tentang warna selalu membuatku mulas. Rasanya seperti sedang membicarakan warna bendera partai politik saja. Atau warna kaos kampanye.

Aku jadi teringat kepada seorang rahib Buddha Tantra dari Taiwan. Ia selalu mengibarkan bendera panca warna: merah, biru, hijau, kuning dan putih secara berjajar. Menurutnya, semua kuil-kuil di Taiwan, Tibet, Nepal dan sebagian India, selalu mengibarkan bendera panca warna itu. Dari suara yang ditimbulkan kelepak sayap bendera-bendera itu, kita bisa mendengar kabar berita yang dibawa angin dari seluruh penjuru. Nah, bukankah sebenarnya banyak warna menjadikan hidup lebih kaya?

”Bagaimana kalau cokelat saja? Cokelat rasanya lebih nyaman,” akhirnya kupilih sebuah warna sebelum mulasku menjadi-jadi. ”Cokelat warna kayu…”

”Juga warna daun layu…,” potongnya.

Tetapi kenapa tiba-tiba aku semakin merah?

Tato

Curah dari langit semakin bertubi. Tetes-tetesnya seperti berlomba lari dari atap. Kucoba untuk menerka apakah sebenarnya warna hujan? Bening? Lalu bagaimana kebeningan itu harus kulukiskan ke atas kanvas?

”Sinar mata Rafi bening sekali, Tato! Seperti bulan…” seru Lin. ”Rafi pernah menatapku lama sekali. Aku juga menatapnya. Tahukah kau seperti apa rasanya? Aku seperti dihujani cinta!”

Lalu ia menyanyi dengan suara sumbangnya yang merusak telingaku. Aku ingin menyuruhnya berhenti. Tetapi ternyata lagunya syahdu sekali.

Ni wen wo ai ni you duo shen

Wo ai ni you ji fen

Wo de qing ye zhen

Wo de ai ye zhen

Yue liang dai biao wo de xin

”Itu lagu Teng Lie Chin, Yue Liang Dai Biao Wo De Xin,” ia menjelaskan tanpa kuminta dengan pipi berhiaskan merah yang menjadi-jadi.

Apalagi ketika ia mengatakan bahwa Rafi seperti Shah Rukh Khan, bintang film India tersohor itu. Dan pujiannya meluncur deras seperti hujan ketika menceritakan Shah Rukh Khan saat mem bintangi Kuch Kuch Hotta Hai, Kabhi Kushi Kabhie Gham, Asokh sampai Devdas.

Olala, aku tidak menyangka novelis seperti Lin ternyata penggemar film India. Dalam hati, aku mulai bertanya-tanya, sebenarnya Lin sedang jatuh cinta kepada Rafi atau Shah Rukh Khan?

Tetapi kepada siapa pun ia jatuh cinta, rupanya Lin sedang membawa warna merah muda.

Lin

”Kau gila!” kata Tato saat kukatakan bahwa diriku jatuh cinta kepada Rafi karena ia secokelat Shah Rukh Khan. Menurutnya, aku lebih pantas menggilai Andy Lau, Chow Yun Fa, atau Jet Lee saja.

Tetapi begitulah kenyataannya.

Aku hanya melihat warna cokelat ketika bersisian dengan Rafi. Ia meletakkan lengannya di atas meja sehingga bisa kulihat dengan jelas kuku-kukunya yang cemerlang. Bentuk siku lengannya indah sekali. Dan mataku langsung menyimpan memori tentang warna kulitnya yang tampak seperti es krim cokelat. Begitu menggiurkan.

Saat itu juga kubayangkan bagaimana seandainya jika es krim cokelat yang kujilati itu mencelomoti bibirku. Kira-kira apa yang akan dilakukan Rafi? Apakah ia akan membersihkan celemotan di bibirku itu dengan bibirnya?

Aiiii…Tiba-tiba kurasakan tubuhku terlempar tinggi. Aku berusaha menghentikan tubuhku yang meluncur deras. Tetapi hujan adalah basah yang tidak bisa dicegah.

Kenapa sekarang cokelat berubah menjadi merah? Awalnya merah muda, merah dadu, lalu…bulan menghilang…

Ni wen wo ai ni you duo shen

Wo ai ni you ji fen

Wo de qing bu yi

Wo de qing bu yi

Wo de ai bu bian

Yue liang dai biao wo de xin

Tato

Lin masih belum juga datang sementara hujan semakin deras. Mendadak aku cemas ketika menyadari Lin sama sekali belum mengirim SMS. Apakah Lin tersesat karena sinar bulan menghilang?

Lin

Merah.

Tato

Biji-biji hujan tempias di lantai studio sampai menjadi genangan bercak. Aku terkejut ketika ada butir-butir yang memerciki kanvasku sehingga melembab. Tetapi aku yakin itu bukan karena pulasan kuasku. Angin kian menerbangkan basah.

Aku seperti mendengar suara Lin, ”kalau jatuh cinta itu merah muda, lalu apa warna patah hati?”

Aneh, bukankah seharusnya yang kudengar adalah suara hujan?

Ah, itu dia Lin!

Aku melihatnya sedang berusaha menerabas hujan. Tetapi tetap saja tirai basah itu tidak bisa ditembusnya. Ia menguakkan selapis tetapi sebelum ia keluar dari sana, selapis yang lain sudah menimpanya lagi.

Tubuhnya kuyup. Matanya sayup. Suaranya surup…

Ni wen wo ai ni you duo shen

Wo ai ni you ji fen

Ni qu xiang yi xiang

Ni qu kan yi kan

Yue liang dai biao wo de xin

”Patah hati tidak pernah dilukiskan. Tidak ada yang suka mengalami patah hati. Eh, siapa yang sedang patah hati?” sahutku sambil berusaha menerka kegilaan apalagi yang akan didongengkan Lin.

”Aku,” itu suara hujan atau suara Lin?

”Kau?” aku kian meragukan pendengaranku. ”Kau tidak tampak seperti patah hati. Orang patah hati tidak pernah memberikan pengumuman kalau ia sedang patah hati. Dan hanya perempuan tidak tahu malu yang melakukan itu,” sahutku sambil berusaha menyakinkan diri bahwa aku sedang berbicara dengan Lin.

”Itu karena aku sudah profesional mengelola rasa patah hatiku. Sama profesionalnya seperti ketika aku jatuh cinta,” jawabannya membuatku merasa cacat di otaknya semakin sulit untuk disembuhkan.

”Patah hati kepada siapa?”

”Rafi.”

”Shah Rukh Khan itu?!” aku tersengat. Oh, Lin…

”Bagaimana kalau patah hati dilukiskan dengan warna hijau?” Ia menyergah tanpa ada rona merah lagi di pipinya. Aku melihatnya bergelombang. Ia ada di balik hujan rapat yang disapu angin.

”Lin, hijau itu untuk daun, untuk rumput, untuk padi, untuk kehidupan…”

Kucoba mencolek sedikit warna hijau untuk menyempurnakan tetes-tetes air di atas kanvas merah.

Untuk Lin. Untuk Rafi. Untuk kehidupan.

Lin

Tato tidak percaya ketika kuceritakan bahwa aku sedang patah hati. Ia bahkan tertawa sambil memelintir rambut gondrongnya yang dikepang kecil-kecil. Ia gembira seperti sedang mendengar kelanjutan novelku untuk memberikan sentuhan akhir pada lukisannya.

”Rafi mencampakkan diriku seperti sampah,” aku berusaha untuk tidak menangis di hadapan Tato. Aku tidak mau ia melukis warna air mataku.

”Wah, segitu amat? Memangnya kau dihamili Rafi?”

”Masalahnya, justru aku belum dihamili Rafi! Seandainya aku sudah dihamilinya tentu ia tidak akan setega itu,” tiba-tiba aku tersakiti ketika mengatakan hal itu.

Aku mau mati saja.

Tato

Hijau.

Lin

Aku tidak tahu sekarang terjebak di mana. Yang kutahu, sekujur diriku dibasahi merah. Hei…apa itu yang sedang menetes?

Tato

Aku seperti mendengar Lin sedang menceritakan sebuah episode baru tentang patah hati. Rafi yang digilainya setengah mati itu membuangnya seperti ingus. Aku senang mendengar bagian cerita ini. Setidaknya ini bukan cerita merah muda yang berbunga-bunga lagi.

”Apakah kau sudah yakin kalau sekarang Rafi tidak mencintaimu lagi? Atau dulu kau saja yang terlalu yakin kalau Rafi mencintaimu?” Aku membutuhkan kepastian Lin untuk menyelesaikan lukisanku. Bukankah sebuah novel pun harus mempunyai akhir?

Tetapi Lin seperti tahu apa yang kupikirkan.

”Sebuah cerita tidak harus diakhiri dengan titik. Sebuah cinta juga tidak harus dipastikan seperti apa.”

”Kalau begitu, kenapa Rafi meninggalkanmu?” mendadak aku ingin tahu. Bukankah semua sebab selalu menimbulkan akibat. Dan segala akibat selalu didahului oleh sebab.

”Karena Rafi menyamakan perasaanku seperti baju safari. Aku tidak menyangka ternyata ia menghargai perasaanku semurah itu. Jadi sekarang ia sibuk mempertuhankan baju safari dan mempersetankan diriku.”

Astaga! Cerita gilanya yang mana lagi ini?

Aku meyakini bahwa hidup memang penuh pilihan. Seperti aku memilih menjadi pelukis dan Lin memilih menjadi pengarang. Lalu ada yang lain memilih jadi wali kota, gubernur, menteri, presiden atau politisi. Itu pilihan yang sama terhormatnya dengan memilih jadi guru, wartawan, pedagang kelontong, seniman atau petani. Karena manusia harus memilih salah satu di antaranya. Kalau tidak, maka hidup yang menentukan pilihan untuk manusia. Dan manusia harus sama-sama menangis ketika merayakan kegagalan dan keberhasilannya. Kurasa karena alasan itu, Tuhan menciptakan air mata untuk manusia.

Tetapi bagaimana dengan pilihan-pilihan Lin?

Shah Rukh Khan atau Rafi?

Baju safari atau Lin?

Astaga…Pilihan-pilihan model apa itu?

Terus terang saja, aku tidak bisa menakar seberapa berharganya Rafi untuk Lin. Aku juga tidak tahu di sekat sebelah mana Lin menyembunyikan Rafi. Tetapi Lin meratapi Rafi seperti menangisi kecupan hujan untuk bangkai-bangkai bunga yang akan membusuk hari ini. Lin membuatku teringat kata-kata pujangga lama, ”hujan tercipta dari air mata cinta.” Andaikan saja Rafi mengerti jika air mata Lin begitu mistis, apakah ia masih menyamakan Lin dengan baju safari yang juga banyak digelar di pasar loak?

Uuuffff… tetapi kupikir dalam episode ini ada baiknya juga jika Rafi melepeh Lin. Apa yang bisa diharapkan Rafi dari perempuan yang tidak bisa bangun pagi itu? Tidak ada. Dan aku tahu pasti kalau Lin tidak pandai membuat kopi. Lin cuma bisa menjadi tukang dongeng sambil menggigiti tepi-tepi kukunya. Lin lebih menyerupai tikus betina yang mengerikiti remah-remah makanan. Bukan karena ia kelaparan. Melainkan karena takdir binatang pengerat seperti tikus adalah mengerikiti.

Sssttt… aku tidak sampai hati mengatakannya terus terang pada Lin. Sebab aku melihat setetes sakit menggelinding dari matanya. Dengan cepat dihapusnya sebelum sakit-sakit yang lain susul-menyusul rontok dari sana. Diam-diam, aku sempat melihat apa warnanya.

Lin

Aku ingin menyakinkan Tato bahwa yang kukatakan padanya adalah sebuah kejujuran. Bukan sekadar cerita karanganku. Maka kukibaskan seluruh basahku sampai Tato terkejut ketika melihat sebagian kanvasnya terciprati olehku.

Ada bercak hijau di atas merah seperti hujan di atas ciuman.

Qing qing de yi ge wen

Yi jing da dong wo de xin

Shen shen de yi duan qing

Jiao wo si nian dao ru jin

”Lin…apakah kita berpakaian atau tidak saat berciuman di bawah hujan?” Aku tak akan pernah bisa melupakan suara Rafi. Suaranya kuingat baik dalam keadaan bangun, tidur, atau mimpi. Karena kalaupun saat ini aku sekarat, hanya suara Rafi yang bisa memanggilku hidup kembali.***

(Hidup bukan perjuangan menghadapi badai. Tetapi bagaimana agar tetap bisa menari di tengah hujan.)

*) Lan Fang , tinggal di Surabaya.

Novel-novelnya, antara lain, Perempuan Kembang Jepun (2006) dan Lelakon (2007)

Barcelona Juara Dunia Antarklub 2009

Posted on Updated on

"fifa club world cup uae" logoWalau dengan susah-payah, akhirnya FC Barcelona (Spanyol) berhasil meraih gelar ke-6 tahun ini. Di final kejuaraan dunia antarklub tadi, Barcelona menundukkan Estudiantes LP (Argentina) 2-1.

Sebagaimana di semifinal ketika menghadapi Atlante (Mexico), Barcelona ketinggalan lebih dulu di babak pertama. Gol Estudiantes di gawang Barcelona tercetak pada menit ke-37 oleh M. Boselli. Gol balasan dari Barcelona baru dilesakkan oleh Pedro pada menit ke-87! Lalu pada perpanjangan waktu, barulah Barcelona memastikan kemenangannya pada menit ke-109 lewat gol dari L. Messi.

Inilah Daftar Lengkap Pemenang Piala Citra FFI 2009

Posted on Updated on

Festival Film Indonesia (FFI) tahun ini sudah digelar pada 16 Desember 2009 di Jakarta. Siapa sajakah yang berhasil meraih Piala Citra di festival ini? Ini dia daftar lengkap pemenangnya:

Film Terbaik:
Identitas (PT. Esa Khaqiva & PT. Citra Sinema)

Skenario Asli Terbaik:
Sally Anom Sari & Samaria Simanjutak (Cin(t)a)

Skenario Adaptasi Terbaik:
Djenar Maesa Ayu & Indra Herlambang (Mereka Bilang, Saya Monyet!)

Sutradara Terbaik:
Aria Kusumadewa (Identitas)

Pemeran Utama Pria Terbaik:
Tio Pakusadewo (Identitas)

Pemeran Utama Wanita Terbaik:
Titi Sjuman (Mereka Bilang, Saya Monyet!)

Pemeran Pendukung Pria Terbaik:
Reza Rahadian (Perempuan Berkalung Sorban)

Pemeran Pendukung Wanita Terbaik:
Henidar Amroe (Mereka Bilang, Saya Monyet)

Penyunting Terbaik:
Wawan I. Wibowo (Pintu Terlarang)

Penata Sinematografi Terbaik:
Ipung Rahmat Syaiful (Pintu Terlarang)

Penata Artistik Terbaik:
Kekev Marlov (Identitas)

Penata Suara Terbaik:
Shaft Daultsyah & Khikmawan Santosa (Ruma Maida)

Penata Musik Terbaik:
Aksan Sjuman & Titi Sjuman

Lifetime Achievement:
Sophan Sophian

Film Anak-anak Terbaik:
Garuda Di Dadaku

Film Dokumenter Panjang Terbaik:
Ayam Mati di Lumbung Padi (Darwin Nugraha)

Film Dokumenter Pendek Terbaik:
Last Journey (Endah WS)

Film Pendek Terbaik:
Sabotase (Hadrah Daeng Ratu)

Sutradara Pendatang Terbaru Terbaik:
Djenar Maesa Ayu (Mereka Bilang Saya Monyet)

Cerpen: Jodohku

Posted on Updated on

JODOHKU

by: DR

Kurangkai kata-kata manis dan indah khusus untukmu seorang, kekasih hatiku. Bulan telah muncul dari peraduan, kutatap kertas putih dengan guratan tulisan di atasnya. Perasaan bimbang dan ragu menyelimuti batinku, haruskah kuberikan suratku ini padamu, kekasih hatiku. Aku selalu menyimpan rapat dirimu di dalam hatiku, kekasih hatiku. Sejak semester satu aku sudah memperhatikan dirimu, kekasih hatiku. Selama 20 tahun aku hidup di dunia ini, baru kali ini aku menyukai seorang pria, kaulah cinta pertamaku, kekasih hatiku.

alone in the crowdEmpat tahun aku memendam perasaan yang sungguh sangat berat kurasa. Masih kurang kah empat tahun untuk memahami perasaan yang tersembunyi dalam sanubariku, kekasih hatiku. Harus, pokoknya harus kunyatakan perasaan yang telah lama kupendam. Sahabat-sahabatku, setujukah kalian jika aku mengatakan perasaanku kepada kekasih hatiku. Kutelepon sahabat-sahabatku satu persatu, ternyata tak satu pun sahabatku yang setuju dengan niat baikku. Ali, sahabatku yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri menyatakan ketidaksetujuannya “ kau wanita, janganlah mengemis cinta pada seorang pria”. Ku tutup teleponku, hatiku bagai teriris sembilu. Sahabatku, aku tidak mengemis, aku cuma mau bilang “aku suka”, salahkan jika seorang wanita mengungkapkan perasaannya pada seorang pria.

Ku telepon sahabatku yang paling dewasa menurutku. “Put, aku ingin mengatakan semua perasaanku pada kekasih hatiku, gimana menurutmu?” Puput sahabat yang ku anggap paling mengerti aku, malah menciutkan niatku tulusku.”Gila, kamu benar-benar sudah gila, di mana harga dirimu?” Kututup teleponku, sakit hati ini mendengar jawaban dari sahabat-sahabat yang kuanggap telah mengerti diriku. Harga diri, hancurkah harga diriku bila kukatakan perasaanku pada kekasih hatiku. Bimbang dan ragu terus berkecamuk di dalam batinku.

Kuingat kejadian tahun lalu, dengan malu-malu kuberikan bintang berwarna biru kepada kekasih hatiku. Senyummu mengembang teriring ucapan terima kasih terlontar dari bibirmu. Tanggal empat, ya saat itu tanggal empat Desember hari Sabtu saat upacara wisudamu, kekasih hatiku. Kunantikan dirimu di depan pintu auditorium, begitu melihat dirimu, kekasih hatiku, tubuhku kaku karena seorang wanita telah menyambutmu dan memelukmu dengan penuh haru. Cantik paras wanita itu, kuperhatikan hidung dan mata wanita itu, mirip, benar-benar mirip denganmu, kekasih hatiku. Ibu, kau memanggilnya ibu. Oh ternyata dia ibumu, kekasih hatiku. Kutunggu, ya saat itu aku menunggu ibu melepaskan dirimu, kekasih hatiku. Kudekati kau setelah ibu melepaskanmu, langsung kuberikan bintang biru untukmu. Setelah itu kupikir kau akan tahu perasaanku padamu, kekasih hatiku. Ternyata, hampir satu tahun aku menunggumu, tak satu pun kata suka terlontar dari mulutmu kepadaku, kekasih hatiku. Lama sudah aku menunggu hingga hampir usai kuliahku.

Bulan depan aku wisuda, tentu saja setelah wisuda aku akan kembali ke kampung halamanku. Haruskah perasaan yang terpendam selama empat tahun ini kubawa tanpa jawaban darimu, kekasih hatiku. Bimbang dan ragu terus berkecamuk di dalam batinku, kusimpan atau kukeluarkan. Dua kata itu memenuhi pikiranku sehingga sulit untuk kupejamkan mata yang telah memandangmu sewaktu bersamamu, kekasih hatiku.

Telepon genggam yang telah menemaniku selama dua tahun membuyarkan lamunanku. Kuangkat teleponku, terdengar suara sahabat lamaku menyapaku. “Anti, aku tahu perasaanmu saat ini.” Aku kaget mendengar pernyataan sahabatku, dari mana dia tahu. “Anti, Puput baru aja telepon aku.” Aku diam mendengarkan setiap perkataan sahabat lamaku. Rasa bimbang dan ragu yang menyelimuti perasaanku memudar sedikit demi sedikit.. Anik, nama sahabat lamaku. Pengalaman hidupnya menumbuhkan keyakinan dalam diriku. Langkahku semakin pasti untuk menampak ke jalan mana aku harus melangkah.

Pagi yang cerah membuat kakiku semakin mantap untuk melangkah meninggalkan Surakarta tercinta menuju rumah orang tua memberikan kabar gembira, aku akan wisuda. Kubayangkan wajah bahagia orang tuaku, ya kebahagian orang tua yang telah berhasil memberi bekal ilmu kepada anaknya.

Tengiang perkataan sahabat lamaku, “An, jodoh di tangan Tuhan.”

(boleh mengkopi dengan catatan sumbernya tetap dicantumkan)

Sumber: danririsbastind.wordpress.com/2009/12/11/32/

Film Pemenang Piala Citra FFI 2009

Posted on Updated on

Festival Film Indonesia (FFI) akan kembali digelar pada 16 Desember 2009 di Jakarta. Siapa yang akan berhasil meraih Piala Citra? Sulit ditebak, menurut diriku selaku orang awam. Apalagi dari 10 film yang masuk nominasi, baru dua saja yang sempat kutonton.

Yang membuatku agak terkejut, untuk nominasi film terbaik ternyata film kontroversial seperti “Perempuan Berkalung Sorban” dan “Mereka Bilang Saya Monyet” sudah mengalahkan film yang jauh dari kontroversi seperti “Emak Ingin Naik Haji”. Film yang menurutku sangat bagus dan layak jadi film terbaik, yaitu “Laskar Pelangi”, malah tidak masuk nominasi. (Film ini memang tidak ikut festival.)

Bagaimana menurut dirimu? Siapa pemenangnya? Ini dia, daftar nominasi FFI 2009:

Nominasi film terbaik :
Identitas
Jamila dan Sang Presiden
Mereka Bilang Saya Monyet
Perempuan Berkalung Sorban
Ruma Maida

Nominasi Pemeran Wanita Terbaik :
Atiqah Hasiholan – Ruma Maida
Aty Kanser – Emak Ingin Naik Haji
Leony – Identitas
Revalina S Temat – Perempuan Berkalung Sorban
Titi Sjuman – Mereka Bilang Saya Monyet

Nominasi Pemeran Pendukung Wanita Terbaik :
Ayu Pratiwi – Emak Ingin Naik Haji
Henidar Amroe – Mereka Bilang Saya Monyet
Niniek L Karim – KCB 2
Widyawati – Perempuan Berkalung Sorban

Nominasi Pemain Pria Terbaik :
Tio Pakusadewo – Identitas
Emir Mahiri – Garuda di Dadaku
Reza Rahardian – Emak Ingin Naik Haji
Vino G Bastian – Serigala Terakhir
Yama Carlos – Ruma Maida

Nominasi Peran Pembantu Pria Terbaik :
Deddy Mizwar – KCB 2
Frans Tumbuan – Ruma Maida
Mamiek Prakoso – Garuda di Dadaku
Reza Rahardian – King
Verdy Sulaiman – Ruma Maida

Nominasi Penyutradaraan Terbaik :
Ari Kusumadewa – Identitas
Djenar Maesa Ayu – Mereka Bilang Saya Monyet
Hanung Bramantyo – Perempuan Berkalung Sorban
Ratna Sarumpaet – Jamila dan Sang Presiden
Teddy Soeriatmadja – Ruma Maida

Penata Musik Terbaik :
Aksan Syuman dan Titi Syuman – Garuda di Dadaku
Djaduk Ferianto – Jagad Kali Code
Aksan Syuman dan Titi Syuman – King
Bobi Suryadi – Ruma Maida
Arge Swara – Merah Putih

Penata Suara Terbaik :
Edo Sitanggang – Identitas
Iwan Akbar dan Edo Sitanggang – Emak Ingin Naik Haji
Satrio B dan Jajang Muslim – Jamila dan Sang Presiden
Hikmawan Santoso – Ruma Maida
Trisno dan H Santoso – Serigala Terakhir

(hkm/hkm)

Keikhlasan Yu Timah*

Posted on

Aku terkesima membaca kisah saudara sedaerahku ini. Namanya Yu Timah, seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT)––yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri. Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah.

Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki mana pun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.

Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa? Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah Pak Tohari, mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana Pak Tohari ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu dan sejak itu tampak Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan Pak Tohari. Malah maunya bersimpuh di lantai, tapi selalu dicegah.
”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.
”O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?”
”Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.”
”Mau ambil berapa?” tanya Pak Tohari.
”Enam ratus ribu, Pak.”
”Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”
Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
”Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”

Yu Timah amat menunggu tanggapan Pak Tohari. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena Pak Tohari masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira Pak Tohari tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal Pak Tohar lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.

”Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”
”Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama Ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”
”Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”
Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, Pak Tohari pun termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya.

Mungkin aku, juga Pak Tohari sebagaimana diakuinya, begitu pula. Ah, Yu Timah, aku jadi malu. Kau yang belum naik haji atau tidak akan pernah naik haji, tapi kau sudah jadi orang yang suka berkurban. Kau sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kau belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Mudah-mudahan dirimu mabrur sebelum naik haji.

Memang, lebih baik memberi daripada menerima.

***

*Dicuplik (dan diubah seperlunya) dari RESONANSI – Republika Desember 2006/Ahmad Tohari.