kisah cinta

Hujan di Atas Ciuman (cerpen karya Lan Fang)

Posted on Updated on

Hujan di Atas Ciuman

Hujan di Atas Ciuman

by Lan Fang
Jawa Pos, Minggu, 20 Desember 2009

Tato

Sekarang sudah memasuki musim penghujan. Biasanya setiap hari langit akan berwarna abu-abu lalu memuntahkan biji-biji air. Jalanan akan basah, banjir, dan macet terjadi di mana-mana. Aku tidak mengerti kenapa Lin begitu tergila-gila pada sebuah musim yang hanya bisa menjanjikan basah, pikirku sambil memandang kanvas besar di hadapanku.

Aku merasa kanvas besar ini lebih menarik daripada abu-abu yang tergantung di langit. Abu-abu? Hei, mendadak aku merasa perlu untuk menyakinkan kalau langit memang sedang berwarna abu-abu. Aku melemparkan pandangan keluar jendela dan ternyata langit memang sedang abu-abu. Tiba-tiba aku teringat sekujur novel Lin yang terbaru. Ciuman di Bawah Hujan, judulnya. Cukup menarik tetapi kenapa begitu abu-abu?

Lin

Aku mempercepat laju motorku. Angin menabrak dadaku. Aku mengetatkan geraham menahan rasa yang asing. Bukan rasa gigil. Tetapi dadaku seakan terbakar sampai bolong. Padahal aku tidak merokok. Mungkin panaslah yang akan kita rasakan jika terlalu kedinginan. Misalnya, seperti saat kita menggenggam es batu.

Sementara itu wajah langit tampak semakin murung. Aku yakin sebentar lagi pasti turun hujan. Ternyata benar. Mulai ada yang menimpaku setitik demi setitik. Motor pun semakin kupacu. Aku tidak mau basah kuyup di jalanan. Terbayang secangkir teh sepat panas di studio lukis Tato. Pasti hangatnya melegakan dada. Aku pun membayangkan diriku sedang flu kemudian seseorang mengosokkan balsam ke dadaku. Seseorang yang menurut Tato terlalu abu-abu: Rafi.

Tato

Bulan sudah menyembul. Tetapi tidak lama karena jarum-jarum perak telah dicucurkan langit. Curahnya rapat sampai tampak seperti tirai yang selalu patah bila disibakkan.

Aneh, Lin belum datang juga. Padahal Lin paling tidak suka dengan kebiasaan jam karet. Aku sudah tidak sabar hendak menunjukkan lukisanku padanya.

”Merah?!” seru Lin ketika kuceritakan lukisanku berwarna merah. ”Apakah kau tidak mempunyai pilihan warna lain? Karena aku sudah terlalu akrab dengan merah. Tiang-tiang di kelenteng, tubuh naga, ikan koi, bunga peony, baju baru ketika perayaan Imlek, angpau, lampion, semua itu merah…” Suaranya terdengar mengambang.

”Tetapi ini merah yang lain, Lin.”

Aku memang tidak melukis semua yang disebut Lin. Tidak ada tiang-tiang kelenteng, tubuh naga, baju merah, angpau atau lampion di atas kanvasku. Yang ada hanya merah. Aku mengambil kuas dan menambahkan merahnya. Aku masih menunggu Lin.

Lin

Tato pasti sedang menungguku. Semoga saja ia tidak kesal karena keterlambatanku. Aku sedang mengalami sedikit masalah di jalan. Hujan membuat jalanan terlalu licin untuk diriku yang sedang ditunggu. Dan entah ke mana sinar bulan. Ups, motorku…

Kemarin Tato memberi tahu tentang lukisannya yang hampir selesai. Lukisan merah yang disiapkannya untuk kami. Maksudku, lukisan merah itu disiapkan Tato untuk pameran lukisannya sekaligus terinspirasi dari novel terbaruku yang berjudul Ciuman di Bawah Hujan.

Tetapi kenapa harus merah?

”Aku ingin warna lain,” cetusku.

”Abu-abu?” tanyanya dengan nada yang sangat datar sehingga aku tidak bisa mengartikan apa maksudnya.

Oh, aku tidak mengerti kenapa kami jadi berdebat mengenai warna. Mungkin warna dan segala ronanya bukan masalah bagi pelukis seperti Tato. Setiap hari ia bergumul dengan warna. Tetapi berbicara tentang warna selalu membuatku mulas. Rasanya seperti sedang membicarakan warna bendera partai politik saja. Atau warna kaos kampanye.

Aku jadi teringat kepada seorang rahib Buddha Tantra dari Taiwan. Ia selalu mengibarkan bendera panca warna: merah, biru, hijau, kuning dan putih secara berjajar. Menurutnya, semua kuil-kuil di Taiwan, Tibet, Nepal dan sebagian India, selalu mengibarkan bendera panca warna itu. Dari suara yang ditimbulkan kelepak sayap bendera-bendera itu, kita bisa mendengar kabar berita yang dibawa angin dari seluruh penjuru. Nah, bukankah sebenarnya banyak warna menjadikan hidup lebih kaya?

”Bagaimana kalau cokelat saja? Cokelat rasanya lebih nyaman,” akhirnya kupilih sebuah warna sebelum mulasku menjadi-jadi. ”Cokelat warna kayu…”

”Juga warna daun layu…,” potongnya.

Tetapi kenapa tiba-tiba aku semakin merah?

Tato

Curah dari langit semakin bertubi. Tetes-tetesnya seperti berlomba lari dari atap. Kucoba untuk menerka apakah sebenarnya warna hujan? Bening? Lalu bagaimana kebeningan itu harus kulukiskan ke atas kanvas?

”Sinar mata Rafi bening sekali, Tato! Seperti bulan…” seru Lin. ”Rafi pernah menatapku lama sekali. Aku juga menatapnya. Tahukah kau seperti apa rasanya? Aku seperti dihujani cinta!”

Lalu ia menyanyi dengan suara sumbangnya yang merusak telingaku. Aku ingin menyuruhnya berhenti. Tetapi ternyata lagunya syahdu sekali.

Ni wen wo ai ni you duo shen

Wo ai ni you ji fen

Wo de qing ye zhen

Wo de ai ye zhen

Yue liang dai biao wo de xin

”Itu lagu Teng Lie Chin, Yue Liang Dai Biao Wo De Xin,” ia menjelaskan tanpa kuminta dengan pipi berhiaskan merah yang menjadi-jadi.

Apalagi ketika ia mengatakan bahwa Rafi seperti Shah Rukh Khan, bintang film India tersohor itu. Dan pujiannya meluncur deras seperti hujan ketika menceritakan Shah Rukh Khan saat mem bintangi Kuch Kuch Hotta Hai, Kabhi Kushi Kabhie Gham, Asokh sampai Devdas.

Olala, aku tidak menyangka novelis seperti Lin ternyata penggemar film India. Dalam hati, aku mulai bertanya-tanya, sebenarnya Lin sedang jatuh cinta kepada Rafi atau Shah Rukh Khan?

Tetapi kepada siapa pun ia jatuh cinta, rupanya Lin sedang membawa warna merah muda.

Lin

”Kau gila!” kata Tato saat kukatakan bahwa diriku jatuh cinta kepada Rafi karena ia secokelat Shah Rukh Khan. Menurutnya, aku lebih pantas menggilai Andy Lau, Chow Yun Fa, atau Jet Lee saja.

Tetapi begitulah kenyataannya.

Aku hanya melihat warna cokelat ketika bersisian dengan Rafi. Ia meletakkan lengannya di atas meja sehingga bisa kulihat dengan jelas kuku-kukunya yang cemerlang. Bentuk siku lengannya indah sekali. Dan mataku langsung menyimpan memori tentang warna kulitnya yang tampak seperti es krim cokelat. Begitu menggiurkan.

Saat itu juga kubayangkan bagaimana seandainya jika es krim cokelat yang kujilati itu mencelomoti bibirku. Kira-kira apa yang akan dilakukan Rafi? Apakah ia akan membersihkan celemotan di bibirku itu dengan bibirnya?

Aiiii…Tiba-tiba kurasakan tubuhku terlempar tinggi. Aku berusaha menghentikan tubuhku yang meluncur deras. Tetapi hujan adalah basah yang tidak bisa dicegah.

Kenapa sekarang cokelat berubah menjadi merah? Awalnya merah muda, merah dadu, lalu…bulan menghilang…

Ni wen wo ai ni you duo shen

Wo ai ni you ji fen

Wo de qing bu yi

Wo de qing bu yi

Wo de ai bu bian

Yue liang dai biao wo de xin

Tato

Lin masih belum juga datang sementara hujan semakin deras. Mendadak aku cemas ketika menyadari Lin sama sekali belum mengirim SMS. Apakah Lin tersesat karena sinar bulan menghilang?

Lin

Merah.

Tato

Biji-biji hujan tempias di lantai studio sampai menjadi genangan bercak. Aku terkejut ketika ada butir-butir yang memerciki kanvasku sehingga melembab. Tetapi aku yakin itu bukan karena pulasan kuasku. Angin kian menerbangkan basah.

Aku seperti mendengar suara Lin, ”kalau jatuh cinta itu merah muda, lalu apa warna patah hati?”

Aneh, bukankah seharusnya yang kudengar adalah suara hujan?

Ah, itu dia Lin!

Aku melihatnya sedang berusaha menerabas hujan. Tetapi tetap saja tirai basah itu tidak bisa ditembusnya. Ia menguakkan selapis tetapi sebelum ia keluar dari sana, selapis yang lain sudah menimpanya lagi.

Tubuhnya kuyup. Matanya sayup. Suaranya surup…

Ni wen wo ai ni you duo shen

Wo ai ni you ji fen

Ni qu xiang yi xiang

Ni qu kan yi kan

Yue liang dai biao wo de xin

”Patah hati tidak pernah dilukiskan. Tidak ada yang suka mengalami patah hati. Eh, siapa yang sedang patah hati?” sahutku sambil berusaha menerka kegilaan apalagi yang akan didongengkan Lin.

”Aku,” itu suara hujan atau suara Lin?

”Kau?” aku kian meragukan pendengaranku. ”Kau tidak tampak seperti patah hati. Orang patah hati tidak pernah memberikan pengumuman kalau ia sedang patah hati. Dan hanya perempuan tidak tahu malu yang melakukan itu,” sahutku sambil berusaha menyakinkan diri bahwa aku sedang berbicara dengan Lin.

”Itu karena aku sudah profesional mengelola rasa patah hatiku. Sama profesionalnya seperti ketika aku jatuh cinta,” jawabannya membuatku merasa cacat di otaknya semakin sulit untuk disembuhkan.

”Patah hati kepada siapa?”

”Rafi.”

”Shah Rukh Khan itu?!” aku tersengat. Oh, Lin…

”Bagaimana kalau patah hati dilukiskan dengan warna hijau?” Ia menyergah tanpa ada rona merah lagi di pipinya. Aku melihatnya bergelombang. Ia ada di balik hujan rapat yang disapu angin.

”Lin, hijau itu untuk daun, untuk rumput, untuk padi, untuk kehidupan…”

Kucoba mencolek sedikit warna hijau untuk menyempurnakan tetes-tetes air di atas kanvas merah.

Untuk Lin. Untuk Rafi. Untuk kehidupan.

Lin

Tato tidak percaya ketika kuceritakan bahwa aku sedang patah hati. Ia bahkan tertawa sambil memelintir rambut gondrongnya yang dikepang kecil-kecil. Ia gembira seperti sedang mendengar kelanjutan novelku untuk memberikan sentuhan akhir pada lukisannya.

”Rafi mencampakkan diriku seperti sampah,” aku berusaha untuk tidak menangis di hadapan Tato. Aku tidak mau ia melukis warna air mataku.

”Wah, segitu amat? Memangnya kau dihamili Rafi?”

”Masalahnya, justru aku belum dihamili Rafi! Seandainya aku sudah dihamilinya tentu ia tidak akan setega itu,” tiba-tiba aku tersakiti ketika mengatakan hal itu.

Aku mau mati saja.

Tato

Hijau.

Lin

Aku tidak tahu sekarang terjebak di mana. Yang kutahu, sekujur diriku dibasahi merah. Hei…apa itu yang sedang menetes?

Tato

Aku seperti mendengar Lin sedang menceritakan sebuah episode baru tentang patah hati. Rafi yang digilainya setengah mati itu membuangnya seperti ingus. Aku senang mendengar bagian cerita ini. Setidaknya ini bukan cerita merah muda yang berbunga-bunga lagi.

”Apakah kau sudah yakin kalau sekarang Rafi tidak mencintaimu lagi? Atau dulu kau saja yang terlalu yakin kalau Rafi mencintaimu?” Aku membutuhkan kepastian Lin untuk menyelesaikan lukisanku. Bukankah sebuah novel pun harus mempunyai akhir?

Tetapi Lin seperti tahu apa yang kupikirkan.

”Sebuah cerita tidak harus diakhiri dengan titik. Sebuah cinta juga tidak harus dipastikan seperti apa.”

”Kalau begitu, kenapa Rafi meninggalkanmu?” mendadak aku ingin tahu. Bukankah semua sebab selalu menimbulkan akibat. Dan segala akibat selalu didahului oleh sebab.

”Karena Rafi menyamakan perasaanku seperti baju safari. Aku tidak menyangka ternyata ia menghargai perasaanku semurah itu. Jadi sekarang ia sibuk mempertuhankan baju safari dan mempersetankan diriku.”

Astaga! Cerita gilanya yang mana lagi ini?

Aku meyakini bahwa hidup memang penuh pilihan. Seperti aku memilih menjadi pelukis dan Lin memilih menjadi pengarang. Lalu ada yang lain memilih jadi wali kota, gubernur, menteri, presiden atau politisi. Itu pilihan yang sama terhormatnya dengan memilih jadi guru, wartawan, pedagang kelontong, seniman atau petani. Karena manusia harus memilih salah satu di antaranya. Kalau tidak, maka hidup yang menentukan pilihan untuk manusia. Dan manusia harus sama-sama menangis ketika merayakan kegagalan dan keberhasilannya. Kurasa karena alasan itu, Tuhan menciptakan air mata untuk manusia.

Tetapi bagaimana dengan pilihan-pilihan Lin?

Shah Rukh Khan atau Rafi?

Baju safari atau Lin?

Astaga…Pilihan-pilihan model apa itu?

Terus terang saja, aku tidak bisa menakar seberapa berharganya Rafi untuk Lin. Aku juga tidak tahu di sekat sebelah mana Lin menyembunyikan Rafi. Tetapi Lin meratapi Rafi seperti menangisi kecupan hujan untuk bangkai-bangkai bunga yang akan membusuk hari ini. Lin membuatku teringat kata-kata pujangga lama, ”hujan tercipta dari air mata cinta.” Andaikan saja Rafi mengerti jika air mata Lin begitu mistis, apakah ia masih menyamakan Lin dengan baju safari yang juga banyak digelar di pasar loak?

Uuuffff… tetapi kupikir dalam episode ini ada baiknya juga jika Rafi melepeh Lin. Apa yang bisa diharapkan Rafi dari perempuan yang tidak bisa bangun pagi itu? Tidak ada. Dan aku tahu pasti kalau Lin tidak pandai membuat kopi. Lin cuma bisa menjadi tukang dongeng sambil menggigiti tepi-tepi kukunya. Lin lebih menyerupai tikus betina yang mengerikiti remah-remah makanan. Bukan karena ia kelaparan. Melainkan karena takdir binatang pengerat seperti tikus adalah mengerikiti.

Sssttt… aku tidak sampai hati mengatakannya terus terang pada Lin. Sebab aku melihat setetes sakit menggelinding dari matanya. Dengan cepat dihapusnya sebelum sakit-sakit yang lain susul-menyusul rontok dari sana. Diam-diam, aku sempat melihat apa warnanya.

Lin

Aku ingin menyakinkan Tato bahwa yang kukatakan padanya adalah sebuah kejujuran. Bukan sekadar cerita karanganku. Maka kukibaskan seluruh basahku sampai Tato terkejut ketika melihat sebagian kanvasnya terciprati olehku.

Ada bercak hijau di atas merah seperti hujan di atas ciuman.

Qing qing de yi ge wen

Yi jing da dong wo de xin

Shen shen de yi duan qing

Jiao wo si nian dao ru jin

”Lin…apakah kita berpakaian atau tidak saat berciuman di bawah hujan?” Aku tak akan pernah bisa melupakan suara Rafi. Suaranya kuingat baik dalam keadaan bangun, tidur, atau mimpi. Karena kalaupun saat ini aku sekarat, hanya suara Rafi yang bisa memanggilku hidup kembali.***

(Hidup bukan perjuangan menghadapi badai. Tetapi bagaimana agar tetap bisa menari di tengah hujan.)

*) Lan Fang , tinggal di Surabaya.

Novel-novelnya, antara lain, Perempuan Kembang Jepun (2006) dan Lelakon (2007)

Cerpen: Jodohku

Posted on Updated on

JODOHKU

by: DR

Kurangkai kata-kata manis dan indah khusus untukmu seorang, kekasih hatiku. Bulan telah muncul dari peraduan, kutatap kertas putih dengan guratan tulisan di atasnya. Perasaan bimbang dan ragu menyelimuti batinku, haruskah kuberikan suratku ini padamu, kekasih hatiku. Aku selalu menyimpan rapat dirimu di dalam hatiku, kekasih hatiku. Sejak semester satu aku sudah memperhatikan dirimu, kekasih hatiku. Selama 20 tahun aku hidup di dunia ini, baru kali ini aku menyukai seorang pria, kaulah cinta pertamaku, kekasih hatiku.

alone in the crowdEmpat tahun aku memendam perasaan yang sungguh sangat berat kurasa. Masih kurang kah empat tahun untuk memahami perasaan yang tersembunyi dalam sanubariku, kekasih hatiku. Harus, pokoknya harus kunyatakan perasaan yang telah lama kupendam. Sahabat-sahabatku, setujukah kalian jika aku mengatakan perasaanku kepada kekasih hatiku. Kutelepon sahabat-sahabatku satu persatu, ternyata tak satu pun sahabatku yang setuju dengan niat baikku. Ali, sahabatku yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri menyatakan ketidaksetujuannya “ kau wanita, janganlah mengemis cinta pada seorang pria”. Ku tutup teleponku, hatiku bagai teriris sembilu. Sahabatku, aku tidak mengemis, aku cuma mau bilang “aku suka”, salahkan jika seorang wanita mengungkapkan perasaannya pada seorang pria.

Ku telepon sahabatku yang paling dewasa menurutku. “Put, aku ingin mengatakan semua perasaanku pada kekasih hatiku, gimana menurutmu?” Puput sahabat yang ku anggap paling mengerti aku, malah menciutkan niatku tulusku.”Gila, kamu benar-benar sudah gila, di mana harga dirimu?” Kututup teleponku, sakit hati ini mendengar jawaban dari sahabat-sahabat yang kuanggap telah mengerti diriku. Harga diri, hancurkah harga diriku bila kukatakan perasaanku pada kekasih hatiku. Bimbang dan ragu terus berkecamuk di dalam batinku.

Kuingat kejadian tahun lalu, dengan malu-malu kuberikan bintang berwarna biru kepada kekasih hatiku. Senyummu mengembang teriring ucapan terima kasih terlontar dari bibirmu. Tanggal empat, ya saat itu tanggal empat Desember hari Sabtu saat upacara wisudamu, kekasih hatiku. Kunantikan dirimu di depan pintu auditorium, begitu melihat dirimu, kekasih hatiku, tubuhku kaku karena seorang wanita telah menyambutmu dan memelukmu dengan penuh haru. Cantik paras wanita itu, kuperhatikan hidung dan mata wanita itu, mirip, benar-benar mirip denganmu, kekasih hatiku. Ibu, kau memanggilnya ibu. Oh ternyata dia ibumu, kekasih hatiku. Kutunggu, ya saat itu aku menunggu ibu melepaskan dirimu, kekasih hatiku. Kudekati kau setelah ibu melepaskanmu, langsung kuberikan bintang biru untukmu. Setelah itu kupikir kau akan tahu perasaanku padamu, kekasih hatiku. Ternyata, hampir satu tahun aku menunggumu, tak satu pun kata suka terlontar dari mulutmu kepadaku, kekasih hatiku. Lama sudah aku menunggu hingga hampir usai kuliahku.

Bulan depan aku wisuda, tentu saja setelah wisuda aku akan kembali ke kampung halamanku. Haruskah perasaan yang terpendam selama empat tahun ini kubawa tanpa jawaban darimu, kekasih hatiku. Bimbang dan ragu terus berkecamuk di dalam batinku, kusimpan atau kukeluarkan. Dua kata itu memenuhi pikiranku sehingga sulit untuk kupejamkan mata yang telah memandangmu sewaktu bersamamu, kekasih hatiku.

Telepon genggam yang telah menemaniku selama dua tahun membuyarkan lamunanku. Kuangkat teleponku, terdengar suara sahabat lamaku menyapaku. “Anti, aku tahu perasaanmu saat ini.” Aku kaget mendengar pernyataan sahabatku, dari mana dia tahu. “Anti, Puput baru aja telepon aku.” Aku diam mendengarkan setiap perkataan sahabat lamaku. Rasa bimbang dan ragu yang menyelimuti perasaanku memudar sedikit demi sedikit.. Anik, nama sahabat lamaku. Pengalaman hidupnya menumbuhkan keyakinan dalam diriku. Langkahku semakin pasti untuk menampak ke jalan mana aku harus melangkah.

Pagi yang cerah membuat kakiku semakin mantap untuk melangkah meninggalkan Surakarta tercinta menuju rumah orang tua memberikan kabar gembira, aku akan wisuda. Kubayangkan wajah bahagia orang tuaku, ya kebahagian orang tua yang telah berhasil memberi bekal ilmu kepada anaknya.

Tengiang perkataan sahabat lamaku, “An, jodoh di tangan Tuhan.”

(boleh mengkopi dengan catatan sumbernya tetap dicantumkan)

Sumber: danririsbastind.wordpress.com/2009/12/11/32/

Cerpen: Di Bangku Taman

Posted on

Cerpen: Di Bangku Taman
Kompas Minggu, 28 Juni 2009 | 03:10 WIB

Agus Dwi Putra

Taman ini tidak pernah berubah. Daun ketapang yang berserakan di sepanjang trotoar, burung gereja yang terbang menyongsong pagi, sapaan hangat pengunjung pada saat bertemu pandang, masih sama seperti yang pernah kurekam di dalam ingatan.

Aku duduk di bangku kayu lalu merogoh tisu di dalam saku. Ada remah-remah roti yang sengaja kubawa dari hotel untuk kusebarkan di dekat kaki, seperti yang biasa dilakukan Leila dahulu. Lalu kudengarkan sorak gadis itu di dalam kenangan ketika jalak dan merpati satu per satu hinggap ke atas tanah mencucuki remah-remah di antara kaki mungilnya.

Mungkin semalam hujan. Bangku yang kududuki agak lembab sehingga warnanya menjadi semakin gelap. Saat bersandar, aku merasakan titik-titik air di sekitar punggung, yang meresap melalui kaus coklat yang kukenakan. Kepalaku terasa pening. Sejak pesawat tinggal landas, mataku memang tak bisa terpejam.

”Kau harus datang, kau mengerti, Ron?” kata Leila lewat e-mail tempo hari, menutup kabar pernikahannya yang seketika membuat pikiranku tak karuan.

Beberapa pengunjung taman yang melintas di hadapanku melemparkan senyum. Seorang lelaki paruh baya terengah-engah hingga bahunya turun naik dengan cepat. Ia lalu duduk di sampingku.

”Apa kabar?” sapanya sambil mengelap keringat di wajah dan tengkuk lehernya.

”Tidak begitu baik,” kataku, namun tetap berusaha menyembunyikan perasaanku.

Ia terkesiap. Kemudian mengalihkan pandangannya dari wajahku. ”Tentu, cuaca tidak terlalu bagus belakangan ini ya?”

”Bukan, bukan itu. Kekasihku akan menikah.”

Kata-kata itu meluncur saja dari lidahku.

”Benarkah? Ia berkhianat?”

”Tidak, tidak seperti itu.”

Entah mengapa, aku merasa perlu menjelaskan sesuatu kepada lelaki yang baru kukenal itu. Leila tidak pernah mengkhianatiku, kataku sedikit tersinggung. Ia hanya terjebak oleh keadaan, tapi tetap mencintaiku. Maksudku, ibunya menginginkannya menerima pria lain yang datang melamar, sementara aku masih tak dapat memberinya kepastian-kepastian. Kami merentang jarak begitu jauh sehingga timbul keraguan di pihak keluarganya.

Tapi memang sama saja. Semua orang bisa menganggap Leila berkhianat, sedangkan aku tetap bertahan dengan penilaianku sendiri.

Lelaki itu beranjak meninggalkanku. Kulihat seorang wanita tua melambaikan tangan ke arahnya. Aku bergumul lagi dengan kenangan sambil membayangkan Leila di sana, melambaikan tangannya pula seperti wanita itu.

Mataku perih sekali. Seperti ada pasir yang bergesekan di antara kelopak dan bola mata. Meskipun sudah lelah, aku tetap tak bisa memaksanya terpejam.

Akhirnya kuputuskan pergi ke luar. Kupakai sweater ungu hadiah dari Leila pada ulang tahunku yang lalu. Ia bangga menuliskan pada secarik kertas yang diselipkan di antara lipatannya, ”Beli di Tanah Abang. Dikirim buat Abang di negeri seberang. Leila.” Dadaku berdesir mengingatnya. Bahan sweater ini tebal. Cukup hangat untuk dipakai ke luar asrama. Modelnya juga aku suka. Teman sekamarku yang sama berasal dari Indonesia berkelakar, ”Embargo, embargo Tanah Abang, ha-ha-ha-ha.”

Tadinya aku hendak kembali ke taman. Namun, kukira jalan menuju ke sana terlalu gelap. Lagi pula malam ini pasti banyak pasangan muda-mudi yang duduk-duduk di situ. Aku hanya akan terjebak dalam kenangan demi kenangan bersama Leila.

Kakiku, tanpa kepastian hendak berjalan ke mana, terasa kian lemah. Tapi aku tak ingin segera kembali ke hotel. Sekonyong- konyong, kuhentikan taksi pertama yang melintas. Aku duduk di depan. Tiba-tiba saja aku ingin diantarkan ke rumah Leila. Saat kami meninggalkan jalan besar aku tersadar, malam sudah begitu larut.

Sepi sekali. Pohon-pohon di sisi jalan membentuk bayangan seram. Sedikit saja cahaya bulan yang jatuh lewat celah-celah dahannya. Suara operator taksi di pangkalan sesekali menyembul keluar lewat radio pemanggil. Seakan-akan hendak mempertegas suasana malam.

Kaca mobil kuturunkan dan angin berembus lembut di keningku. Kamar Leila, yang berada di lantai dua dan langsung menghadap pagar, tampak masih terang. Tirai jendela sudah ditutup. Suara handphone mengagetkan aku.

”Sudah landing? Atau tidak datang? Kau jahat!” Pengirimnya Leila. Belum sempat kubalas, masuk satu pesan lagi. ”Aku tak tahu harus bagaimana mengatakannya. Jemput aku pagi-pagi sekali, Ron! Aku tahu kau akan datang. Kau akan membawaku pergi, kan?”

Dadaku berdeburan rindu. Aku tak tahu bagaimana harus mengatasi diriku. Kucoba memejamkan mata hingga kedua kelopaknya mengerut sambil memerintahkan si sopir untuk membawaku kembali ke hotel.

Rupanya aku tertidur sepanjang perjalanan pulang. Sopir membangunkanku ketika taksi sampai di depan hotel.

Saat itu kusadari, sosok yang sejak tadi duduk di sampingku adalah seorang perempuan.

Namanya Dina. Ia bukan wanita yang ramah. Namun, jika kau memerhatikan caranya duduk selama menungguku di lobi hotel, kau akan terkesima. Dina lebih anggun dari siapa pun yang pernah kukenal, kecuali Leila tentunya.

Aku terlambat menemui Dina karena terlampau lelap tertidur. Kulihat jam tangan menunjukkan pukul setengah sepuluh. Ia menampakkan mimik geram dan aku segera meminta maaf. Lagi pula aku heran, bagaimana ia bisa datang tepat waktu, padahal semalam masih membawa taksi. Tapi aku tak mau menyinggung masalah itu. Aku cukup memerhatikan matanya yang merah untuk mengerti bahwa Dina, selain anggun dan tidak ramah, adalah tipikal orang yang menepati janji.

Aku mengajaknya sarapan di luar. Ya, kau benar, aku mengajaknya ke taman itu. ”Leila senang bila kuajak makan bubur di sini,” kataku membuka pembicaraan. Dina tak menanggapi sepatah kata pun dan kami berdiam sampai bubur yang kami pesan dicicipinya.

”Rasanya biasa,” ujarnya heran.

”Tidak, bukan soal rasa.”

Aku sengaja berhenti di situ untuk memerhatikan responsnya.

”Leila senang memerhatikan penjualnya,” lanjutku. ”Coba tengok!”

Kutuntun matanya ke arah pasangan tua itu. Dari tempat duduk, kami, setidaknya aku, merasakan hangatnya cinta mereka berdua. Sementara si kakek melayani pembeli, istrinya membersihkan piring, gelas, dan sendok. Sesekali ia menyeka keringat di kening istrinya dengan ibu jarinya, lalu keduanya saling tersenyum.

Dina berdiam diri untuk memberiku kesempatan berbicara.

Kami tumbuh di keluarga yang tidak sempurna, kataku mulai bercerita. Ibuku bukan wanita yang baik. Ia pergi dari rumah demi memilih kesenangan yang dijanjikan pria kaya yang ditemuinya dalam suatu perjalanan. Ayah Leila pun demikian, jatuh ke pelukan perempuan tidak terhormat yang sejak itu menghunjamkan kecemasan di lubuk hatinya. Kami menemukan sebagian diri kami satu sama lain. Sejak menyadarinya, aku merasa ia adalah perempuan yang dapat kupercaya. Demikian pula, barangkali ia merasa nyaman untuk memercayaiku sebagai kekasihnya.

Dina memerhatikan penjual bubur itu lagi. Entah apa yang ia pikirkan ketika kukatakan kepadanya: aku dan Leila senantiasa mendapati bayangan diri kami muncul pada siluet pasangan tua itu.

Sebagian hari itu kami habiskan untuk berbelanja. Aku membelikannya pakaian untuk ia kenakan pada resepsi pernikahan malam harinya. Aku, yang merasa akan kesulitan mengendalikan sikap bila bertemu Leila, membayar Dina untuk pertolongan ini.

Sampai saat itu, aku belum menjawab SMS dari Leila, yang memintaku untuk membawa pergi dirinya. Beberapa telepon darinya juga tidak kuangkat. Atas saran Dina, kuurungkan pula niat untuk menghubunginya sebelum berangkat meski sekadar mengucapkan semacam perkataan, ”Aku akan datang.”

Ya, akhirnya kami datang juga ’kan? Dari pintu masuk kulihat kau berdiri di samping Leila. Menyalami undangan yang datang seraya mengembangkan senyum yang santun. Pakaian kalian bagus sekali. Kau pandai memilihkan Leila gaun pengantin yang baik.

”Selamat ya, Mas,” kata Dina kepadamu setelah memerhatikanku kesulitan mengucapkan sepatah kata pun.

Sebelum meninggalkan pesta, sempat kusaksikan kau merangkul Leila yang berlinang air mata. Tapi kau pun tak perlu cemas. Aku tumbuh di keluarga tak sempurna yang telah jauh-jauh hari mengajarkan sesuatu kepadaku. Aku takkan mengganggumu.

Sesuatu telah menuntunku kembali ke taman ini. Aku duduk di bangku seorang diri sambil merogoh tisu di dalam saku. Ada remah makanan yang sengaja kubawa dari acara resepsimu untuk kusebarkan lagi di dekat kakiku, seperti yang biasa dilakukan Leila dahulu. Lalu kudengarkan sorak gadis itu di dalam kenangan ketika burung-burung satu per satu hinggap ke atas tanah mencucuki remah-remah di antara kaki-kakiku. Kubayangkan juga ngilu di hatimu saat membaca kertas- kertas, yang kutinggalkan di bangku taman ini. Itu pula ngilu hatiku.

Jalak dan merpati setia menemaniku hingga pagi nanti sebelum pengunjung taman satu per satu berdatangan lagi dan salah seorang di antara mereka yang hendak duduk-duduk di bangku ini kemudian menjerit, ”Mayat! Ada mayat!”

Sudahkah tulisan ini sampai ke tanganmu?***

Corner with Love: Film komedi romantis, lebih bagus daripada Meteor Garden

Posted on Updated on

Corner with LoveSeharian kemarin aku tidak memposting di blog ini. Aku keasyikan nonton DVD film serial komedi romantis dari Taiwan berjudul “Corner with Love” atau Corner of Love / Zhuan Jiao / Yu Dao Ai. Bintang utamanya ialah Barbie Xu, pemeran San Chai dalam “Meteor Garden”, sebuah serial yang amat populer di Indonesia pada beberapa tahun yang lalu.

Film ini terdiri dari 23 seri/episode. Yang sudah aku saksikan adalah nomor 1-21. Meskipun dua seri terakhir belum kulihat, aku sudah berkesimpulan: “Corner with Love” (CL) lebih bagus daripada “Meteor Garden” (MG). (Begitulah penilaianku. Kalau penilaianmu lain ya gak pa pa.)

Pada mulanya, aku menyangka film CL ini seperti MG, memamerkan kemewahan dan menjual mimpi “dongeng Cinderella”. Namun ternyata kemiripannya ini hanya pada awalnya saja. Pada bagian-bagian selanjutnya, kulihat CL lebih rinci dalam menggambarkan proses perjuangan tokoh-tokoh ceritanya, baik demi cinta asmara maupun cinta keluarga, sahabat dan orang-orang lainnya!

Mengapa bisa lebih rinci dalam menggambarkan perjuangan? Sebab, tidak seperti dalam MG, tokoh-tokoh dalam CL tidak digambarkan sebagai orang-orang yang “hebat”. Mereka “biasa-biasa saja”, bahkan cenderung blo’on! Jadi, meskipun alur cerita CL lebih dramatis daripada MG, penokohannya malah lebih realistis.

CL lebih dramatis daripada MG? Ya, menurutku. Meskipun serial MG lebih panjang, CL lebih mengharukan. Dulu saat menyaksikan MG, mataku berkaca-kaca sebanyak 2 atau 3 kali saja. Saat menonton CL, air mataku mengalir sampai 6 atau 7 kali!

Akan tetapi, meskipun CL membuatku menangis lebih banyak, CL juga membuatku lebih sering tersenyum atau tertawa melalui unsur-unsur komedinya. Dalam MG, unsur komedi hanya tampak pada eposide-episode awal. Namun dalam CL, unsur komedinya terlihat pada semua episodenya.

Tentu saja, tak ada gading yang tak retak. Seperti MG, unsur religius dalam CL juga dapat dikatakan tidak ada (atau nyaris tidak ada). Seolah-olah Tuhan tidak lagi dibutuhkan. Unsur kulturalnya juga kurang menonjol, kecuali etos kerja orang-orang China perantauan.

Sungguhpun demikian, aku tetap berpendapat bahwa film ini sangat bagus untuk ditonton oleh para remaja dan orangtua. Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari film serial ini.

Mau nonton? Pada versi Indonesia yang kutonton, adegan-adegan ciuman sudah disensor. Aku tak tahu bagaimana versi aslinya. Saat browsing di internet tadi, kutemukan ada link-link untuk download episode 1-16. Silakan periksa:

Download the Drama*:

* Please note that these videos are in mp4 format.

Download the COMPLETE OST

Credits:

Dari browsing pula, kudapati bahwa ternyata CL pernah ditayangkan di Indosiar pada tahun lalu. Aku pun baru tahu bahwa Corner with Love Jadi Serial Terlaris di Taiwan.

Curhat: Putus Cinta Saat Menjelang Nikah

Posted on Updated on

Seorang pembaca postingan “Dapatkah mengembalikan rasa cintanya …” menyampaikan sebuah curhat. Kisahnya begitu mengesankan, sehingga kuputuskan untuk menayangkannya di sini:

Setelah saya membaca pengalaman mba,, jadi teringat dengan diri saya sendiri… kondisi saya malah mungkin lebih menyakitkan daripada mba…. Saya putus dengan kekasih saya 3 bulan menjelang pernikahan kami,,, saat gedung sudah di-booking, catering dan cincin kawin sudah dipesan, dan barang seserahan pun sudah dibeli, bahkan kami sempat melihat2 rumah yang akan kami beli untuk tempat tinggal kami nanti setelah menikah… Ya saat kedua keluarga kami sudah sangat setuju dengan hubungan kami,, kami malah berpisah hanya karena kesalahan yang tidak sengaja saya lakukan ketika saya sedang emosi dan khilaf,,, ya sama seperti mba yang sedang emosi, saat itupun saya juga khilaf dan mengeluarkan kata2 berisi kekecewaan saya pada dia… hingga kemudian dia sangat sakit hati dan meminta putus,, saya sangat menyesal dan meminta maaf dan berharap agar dia kembali pada saya, saya pun meminta kesempatan yang terakhir, namun dia tidak mau memberikannya…. Dia bilang bahwa sejak peristiwa kemarin ada banyak rasa cintanya yang mati,, rasa sayangnya juga sudah terlanjur hilang… yah intinya dia bilang bahwa rasa cintanya pada saya sudah hilang…. Pada saat itu saya masih sangat mencintainya dan berharap dia kembali pada saya,,, mungkin sama persis seperti perasaan mba saat ini,, saya juga berkali2 sholat tahajud, sholat hajat dan sholat istikharah disertai dengan dzikir yang saya panjatkan pada Allah setiap malam agar perasaannya pada saya kembali seperti dulu,, saya pun tak henti2 memohon petunjuk dari Allah…. Namun, hubungan kami berdua malah semakin memburuk.. hingga pada akhirnya dia tetap ingin memutuskan hubungan dengan saya.. saya sudah pasrah dan menyerahkan segalanya pada Allah…. hingga detik ini, dia sudah tidak pernah mengkontak saya samasekali….
Intinya, walopun sedih, sakit hati dan kecewa, namun saya sudah menyerahkan semua rasa cinta ini hanya pd pemilliknya yang sah, yaitu Allah… karena cinta Allah kepada ummat-Nya adalah cinta sejati,,, sedangkan cinta antar sesama manusia adalah hanya sebagian kecil dari bukti2 kecintaan Allah kepada ummat-Nya… Pengalaman saya dan pengalaman mba membuktikan bahwa ternyata cinta manusia itu tidak abadi… mungkin kejadian ini juga teguran bagi saya agar saya tidak mencintai manusia melebihi rasa cinta saya pada Allah… Cukup Allah sebagai penghibur hati,, karena Allah tak pernah pergi, dan Allah selalu peduli…
Pada saat ini sudah ada pria lain yang mencoba mendekati saya,, insyaAllah lebih shalih dari yang sebelumnya… dan yang terpenting, dia menerima saya apa adanya… Dia bilang akan memperbaiki kekurangan saya sedikit demi sedikit dan dengan penuh kesabaran..
insyaAllah mba,, ikhlas adalah kuncinya, berdoa dan berusaha memang sudah seharusnya,, lalu hasil akhirnya biarlah Allah yang menentukan yang terbaik dalam hidup kita,, karena Allah lah pemilik cinta sejati itu..
Wallahu’alam bishowab

Cerpen: Malam Pertama Calon Pendeta

Posted on

cerpen – Malam Pertama Calon Pendeta
Kompas Minggu, 7 Juni 2009 | 03:41 WIB

Oleh: Gde Aryantha Soethama

Karena pendirian Ni Krining yang kukuh dan tulus terus-menerus, Aji Punarbawa perlahan-lahan melunak juga. Ia menerima, kendati tak rela, dan bingung, bagaimana mungkin seorang istri setia mendesak suami kawin lagi? Jangan-jangan ini siasat, agar perempuan itu bisa melepaskan diri. Sudah berulang kali Aji menolak, sekian kali pula Krining mendesak.

Engkau yang memutuskan, Ning. Jika engkau menolak, tetap tak akan ada pendeta di keluarga besar ini.”

”Berulang saya sampaikan, saya menerima. Bukankah saya mendesak terus agar Aji segera madiksa jadi pendeta?”

”Aku mengerti, tapi, itu berarti aku harus….”

”Harus kawin lagi, dan perempuan itu mesti seorang brahmana. Keluarga segera memilihkan untuk Aji.”

Semula Krining bimbang, sampai kemudian ia berada di simpang jalan, antara mempertahankan keutuhan rumah tangga dan mengembalikan martabat keluarga besar suami.

”Ini bukan semata masalah suami-istri. Ini urusan keluarga besar, dan mereka mengharap pengorbanan saya. Apa salah kalau saya bersedia?”

Tidak semua orang menganggap tindakan Krining sebagai pengorbanan. Banyak yang menilai sebagai keharusan dan kepatutan, karena ia bukan perempuan brahmana. Memang, keluarga Aji Punarbawa tidak menolak pernikahan mereka, tapi tidak berarti mereka sepenuhnya merestui. Bahkan tidak sedikit yang menyayangkan, mengapa Aji tidak memilih perempuan brahmana saja, agar keturunan mereka berhak jadi pendeta.

”Tidak apa-apa, kalau memang sudah jodohmu,” ujar ibu Punarbawa dengan suara datar, terasa ia menerima dengan terpaksa.

”Bersyukurlah kamu, karena bisa memilih calon istri dengan bebas, tanpa direcoki keluarga besar,” komentar ayahandanya. ”Ini awal baik membangun rumah tangga bahagia. Istri akan patuh, anak-anak bakal menghormati ayahnya. Kamu akan jadi kepala keluarga bermartabat.”

Martabat itu memang berhasil menjadi mahkota keluarga Krining dan Aji, tapi tidak bagi keluarga besar brahmana di Gria Rangkan. Mereka merasa sudah sangat lama kehilangan martabat, karena tak seorang pun berminat meneruskan tradisi kependetaan. Pegangan hidup kependetaan terbenam dalam puluhan lontar berdebu di gria itu, teronggok usang di sebuah almari kayu jati tinggi besar. Tak seorang pewaris pun tertarik mempelajarinya. Tiga generasi Gria Rangkan lebih memilih jadi pegawai negeri, dosen, guru, dokter. Yang lain jadi pengusaha, politikus. Selebihnya karyawan hotel, penari dan sopir taksi. Mereka tak peduli pada tinggi gelar kebangsawanan untuk mengambil pekerjaan rendah sekalipun. Bagi mereka ilmu kependetaan terlalu kalem dan teduh, tak ada riaknya. Untuk apa menghukum diri dan mengekang indra dengan mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran usang tentang adat dan agama?

Tapi, ketika orang-orang brahmana itu beranjak tua, mereka mulai sadar harus ada yang meneruskan riwayat kependetaan di Gria Rangkan. Bertahun-tahun kesadaran itu mengendap dan mengental, tetap tak seorang pun bersedia dikukuhkan sebagai pendeta. Mereka justru ingin menikmati ketenangan dan kebebasan ketika uzur, tidak mengisinya dengan kelelahan menjadi pelayan umat. Harapan pun ditumpahkan pada Aji Punarbawa, seorang guru agama sekolah menengah.

”Kamu yang paling cocok menjadi pendeta, bukankah sebagai guru agama kamu paham banyak tentang filsafat, etika dan upacara?” rajuk para tetua.

Aji tak berminat, ia punya alasan untuk itu. ”Apakah tidak keliru menunjuk saya? Istri saya bukan wanita brahmana. Saya tak berhak jadi pendeta.”

”Ah, gampang mengaturnya, itu masalah kecil. Yang penting kamu bersedia!”

”Saya tak sudi jadi pendeta karena akal-akalan. Itu melanggar hukum kaum brahmana, kutukan taruhannya,” serang Aji.

Para tetua itu terkekeh-kekeh. ”Tak ada yang dilanggar. Kita menempatkan perempuan sederajat laki-laki. Jika seseorang madiksa sebagai pendeta, istrinya akan jadi pendeta pula.”

”Tapi, istri saya bukan seorang brahmana.”

”Tidak ada larangan kamu beristri lagi dengan perempuan brahmana.”

Aji segera menemui Krining, memeluknya, karena ternyata ia sudah mendengar semua rencana itu, tapi ia pendam sampai Aji menyampaikan langsung.

”Ini rencana gila dan dungu, Ning! Kenapa kita mesti menerima?”

”Karena jika Aji bersedia, semua orang akan lega dan bahagia.”

Aji Punarbawa terbelalak. ”Engkau bahagia jika aku kawin lagi?”

Krining mengangguk. ”Ya, jika itu demi syarat Aji jadi pendeta.”

Aji mendatangi semua tetua di Gria Rangkan, menyampaikan ia menolak jadi pendeta. Ia tak mau kawin lagi, tak sudi menyakiti istrinya.

”Kalau begitu, kita dengar pendapat Krining. Dia yang memutuskan nasib dan kehormatan gria ini,” jelas para tetua.

Dalam pertemuan yang dihadiri semua brahmana sudah berkeluarga, Krining menyampaikan keikhlasan jika suaminya kawin lagi. ”Ini kehormatan dan kesempatan bagi hamba untuk menunjukkan keluhuran budi,” jelasnya.

”Engkau perempuan ajaib yang pernah kukenal, Ning,” ujar Aji malam terakhir ia punya seorang istri. Besok pernikahan akan dilangsungkan, selepas tengah hari. Empat puluh dua hari kemudian pasangan itu akan dikukuhkan sebagai pendeta.

Aji Punarbawa menatap Krining yang duduk di tepi ranjang dengan seprai baru dicuci. Aroma segar dan harum menebar ke seluruh ruangan. Temaram lampu di sudut membuat tubuh Krining tampak lebih jenjang, seperti bayang-bayang senja. Aji duduk di samping meja jati dengan kedua telapak tangan di atas lutut.

”Pasti engkau punya alasan melakukan semua ini. Katakan dengan jujur, Ning.”

”Dulu Gria Rangkan tempat pendeta-pendeta bijak dan sakti, Aji. Tapi, sudah tujuh puluh tahun tak ada lagi pendeta di sini. Sudah saatnya…”

”Itu bukan alasanmu, Ning. Itu ocehan semua brahmana tua di gria ini. Mereka cuma mau menikmati, tak sudi dibebani, ingin tampil sebagai pahlawan tanpa harus bertindak dan berkorban. Aku ingin mendengar alasan dari hatimu, yang jujur dan sejati, karena engkaulah yang berkorban.”

Krining menatap mata Aji dalam temaram sinar. Ia sangat mencintai laki-laki yang lima belas tahun bersamanya, dan memberi dua anak itu. Ia dirasuki bayangan masa muda, tatkala bersua seorang brahmana yang sudi memilih perempuan biasa sebagai istri. Perlahan-lahan matanya hangat, terkenang bagaimana dulu ia meminta agar Aji meninggalkan saja dirinya, sehingga ia bebas memilih perempuan lain dari kaum brahmana pula. Jika kemudian mereka akhirnya menikah, tentu ia benar-benar perempuan pilihan, yang ditakdirkan hidup dalam hiruk-pikuk orang-orang brahmana modern.

”Katakan Ning, apa pun tak akan mengubah keputusan. Kalian sudah keluar sebagai pemenang. Aku cuma ingin mendengar kata hatimu.”

”Saya hanya ingin lontar-lontar itu ada yang membaca dan melakoni.”

Aji tertawa. ”Jangan bercanda, Ning. Aku bersungguh-sungguh. Engkau menyimpan sesuatu yang harus dijelaskan.”

Krining meremas tepi ranjang dengan kedua tangan, dan tetap menatap Aji. Mereka beradu pandang seperti saling menerka isi hati.

”Selain Aji, tak ada yang menggubris keberadaan saya di gria ini,” ujar Krining berusaha tenang. ”Sekarang saya punya kesempatan untuk dihargai. Sungguh luar biasa, ketika para brahmana meminta pendapat saya, membujuk dan memelas agar saya sedia berkorban. Mereka akhirnya harus mengakui, yang mengembalikan wibawa kependetaan dan kesucian Gria Rangkan adalah seorang perempuan biasa.”

Aji Punarbawa melangkah mendekati Krining, mengangkat betis dan merengkuh lututnya, kemudian merebahkannya pelan-pelan di ranjang.

”Tidakkah semua itu berarti engkau lebih menghargai orang lain dibanding diri sendiri?”

Krining tak menjawab, ia tersedu dalam pelukan laki-laki yang mutlak menjadi miliknya hanya saat itu. Aji memberi kehangatan seperti hanya malam itu yang tersisa. Krining menikmatinya dengan raga dan jiwa membuncah, seolah tak ada lagi malam-malam lain bersama suaminya kelak. Mereka menikmati sepenuh malam itu hingga waktu memisahkan, karena pagi tiba, dan Aji harus bersiap melangsungkan upacara perkawinan.

Aji memberi kecupan di kedua mata dan dahi ketika melepas istrinya. Krining melipat seprai yang terpilin-pilin, masih terasa hangat, dan lembab di bagian tengah. Nanti malam ranjang itu akan berselimut seprai baru, untuk Aji bersama perempuan lain. Krining beranjak lima puluh langkah ke barat, ke sebuah kamar di bawah jineng, tempat menyimpan hasil panen. Jineng itu tak lagi digunakan, karena hasil panen sudah dijual langsung di sawah.

Krining membersihkan dipan, menutup kasur kusam dengan seprai yang masih kuat menyisakan bau peluh percintaan mereka. Ia mengunci diri, bersimpuh di lantai, bersamadi menenangkan dada yang berdebar-debar, menguatkan jiwa yang gundah dan getir. Selepas tengah hari ia mendengar gelak tawa genit dan meriah ketika upacara pernikahan berlangsung. Guyonan-guyonan jorok oleh mereka yang menyaksikan perkawinan itu, di antara suara genta, menampar-nampar telinganya. Matanya hangat, sekuat perasaan ia mencoba tidak menangis.

Ia tetap di kamar ketika malam tiba, berusaha sekuat tenaga agar tidak diganggu oleh bayangan gairah pasangan calon pendeta itu menikmati malam pertama. Waktu terasa beranjak malas dan sangat lamban. Dinding-dinding kamar mengepung dan mengimpit, atap bagai hendak ambruk menimpa, membenamkan tubuhnya dalam-dalam ke lantai. ”Kuatkan jiwa hamba, Hyang Widhi,” dia berdoa lirih tanpa henti. Tubuhnya lemas, perasaannya lunglai.

Ketika hendak merebahkan diri di ranjang, ia mendengar suara gaduh beruntun dari arah timur, disertai jerit perempuan berulang-ulang disela isak tangis. Sudah larut malam, saat Krining mendengar langkah terseret-seret menghampiri jineng.

Pintu diketuk berulang-ulang, suara lelaki memanggil-manggil. ”Buka, Ning, buka!”

Krining terkesiap, di hadapannya Aji Punarbawa berdiri dengan napas tersengal-sengal. Di belakangnya seorang perempuan telanjang bersimpuh merunduk tersedu sedan.

”Aku tak sanggup melakukannya, Ning,” ujar Aji dengan tubuh gemetar. ”Terus-menerus aku teringat dirimu yang pasti dirundung sakit hati dan sunyi.”

”Saya meminta, karena Aji suami saya,” isak perempuan bersimpuh itu buru-buru menjelaskan, agar tidak disalahkan. Rambutnya tergerai menggerayangi pinggulnya yang mulus, padat dan kencang.

Krining tak mengerti, mengapa Aji menolak melakukan tugas mulia yang menggairahkan di malam pertama. Tubuh ranum perawan itu dengan sepasang kuntum payudara segar, yang terguncang-guncang menahan deras isak, pasti menantang berahi lelaki mana pun. Bagaimana bisa Aji Punarbawa tak tergoda hanya karena terganggu oleh bayangan derita istri?

Perlahan Krining menarik seprai, agar debu dari kasur kusam tidak beterbangan. Ia gamit pundak perempuan itu berdiri, dan menyelimuti tubuhnya yang telanjang dengan seprai. Betapa lemas jemari perempuan itu terasa oleh Krining ketika menuntunnya kembali ke kamar pengantin, lima puluh langkah ke timur. Aji Punarbawa mengikuti seperti seekor anak kucing membuntuti induknya. Di depan pintu Krining melepas seprai dan meminta perempuan yang dibalut gairah itu memasangnya di ranjang. Aji bengong dan bingung melihat tingkah istrinya.

”Sekarang Aji pasti sanggup,” ujar Krining. ”Bayangkan malam pertama ketika Aji menggumuli saya. Hirup bau keringat kita di seprai, semua akan berlangsung seperti biasa.”

”Berarti aku memerkosa, karena melakukan tanpa cinta.”

”Tak apa, tebuslah empat puluh dua hari nanti, ketika Aji madiksa jadi pendeta,” ujar Krining seperti bercanda.

Aji Punarbawa membungkukkan badan, perlahan-lahan duduk bersila, mencakupkan kedua tangan di depan dada dengan takzim, kemudian memeluk betis Krining dan mencium lututnya.

”Tak pantas calon pendeta menyembah perempuan biasa, Aji.”

”Engkau wanita luar biasa, Ning.”

Seprai sudah terpasang, perempuan itu tergolek telanjang menunggu penuh harap berlumur berahi. Terbayang zaman gemilang yang akan dilaluinya sebagai penampung benih penerus generasi kependetaan Gria Rangkan.

Krining membimbing Aji berdiri, menuntunnya masuk kamar, lalu menutup pintu dari luar. Setenang dan setegar mungkin ia berusaha menempuh lima puluh langkah ke barat, kembali ke jineng. Dalam sunyi hening ia terkenang para leluhur, yang ia yakini selalu mengawasi perilakunya sehari-hari. Di depan pintu ia terpekur, berdoa semoga leluhur merestui tindakannya, dan tidak menghujatnya sebagai perempuan bodoh yang menistakan diri sendiri.

Sudah lewat tengah malam ketika Krining merebahkan diri di dipan dengan kasur kusam, tanpa seprai. Namun, ia merasa sangat nyaman, tetap sebagai perempuan biasa.

Denpasar, Mei 2009

Kisah Nyata: Bahagia Walau Cinta Tak Berbalas

Posted on Updated on

–Kutipan dari Dan Baker & Cameron Stauth, Pergulatan Cinta dan Rasa Takut (Bandung: Kaifa, 2006), hlm. 158-166:

Berpuas diri adalah ibarat membuat bangunan dengan menumpuk kartu remi, karena kalaulah hidup ini mengajarkan sesuatu, pelajarannya adalah bahwa kita tidak dapat menghindari masalah dan kehilangan. Kebahagiaan bukanlah seni membangun kehidupan yang bebas dari masalah. Kebahagiaan adalah seni untuk merespons dengan baik ketika masalah menghampiri kita.

Saya sendiri mengalami patah hati ketika usia dini. Waktu itu saya masih muda dan jatuh cinta, [saya] seorang doktor di bidang psikologi yang sedang menanjak, baru saja berkeluarga, dan merasa kurang lebih sudah mapan. Lalu, dunia saya terasa runtuh. Baca entri selengkapnya »

Kisah Asmara di Subway New York Berakhir di Luar Internet

Posted on

ANTARA News –Kisah cinta seorang pria abad modern yang melihat seorang perempuan impiannya di seberang jalur kereta bawah tanah New York dan melacaknya melalui Internet telah berakhir dengan kisah seperti dalam dongeng.

Bagi perancang Web Patrick Moberg (21) dari Brooklyn, itu adalah cinta pada pandangan pertama ketika ia melihat seorang perempuan di sebuah kereta Manhattan November. Namun ia kehilangan jejak perempuan tersebut di tengah keramaian, sehingga ia menyiarkan sketsa melalui jaringan Internet untuk perempuan idamannya itu.

Baca entri selengkapnya »

Nabi Muhammad bukan untuk dibandingkan, tapi….

Posted on Updated on

Pekan lalu, seraya memperlihatkan kisah cinta Nabi Muhammad saw yang relevan, saya mengungkapkan secara terbuka bahwa “Nabi Muhammad pun pernah menjalin cinta yang kemudian terputus“. Lalu seorang sahabat (bernama nugon) melancarkan kritik yang cukup tajam di sana dan di sana.

Baca entri selengkapnya »

Cemburu dapat meningkatkan keakraban hubungan

Posted on

Sebenarnya, cemburu tak selalu negatif. Cemburu justru dapat meningkatkan keakraban hubungan. Cemburu juga akan meningkatkan kecerdasan emosi dan spiritual diri yang mampu membuat cinta semakin kuat. Tentu saja, jika tidak dikelola dengan baik, tetapi malah sering muncul dan irasional, cemburu itu menjadi jelek dan bisa berdampak buruk pada kelanjutan hubungan dan juga pada diri sendiri. Nah, bagaimana kiat-kiat menata diri supaya rasa cemburu itu menjadi “air yang menyuburkan dan menyegarkan”, sehingga meningkatkan kecantikan batiniah dan kualitas cinta Anda?

Baca entri selengkapnya »