konsultasi

Konsultasi: Sudah 6 tahun pacaran masih belum direstui Ibu

Posted on Updated on

konsultasi cinta | pacaran jarak jauh | hubungan pranikah | cinta sejati | restu orangtua | ridha ibu | poligami

Baca entri selengkapnya »

Konsultasi: Ketika sudah letih untuk mengenal lelaki lain

Posted on Updated on

pak ustad,tlglah sy yg lg bingung ini.sy mempunyai pacar kami berhubungan sktr 1th dan dia tlh mengakhiri hub ini dgn alsn tdk bs melpkn mantan pcrnya.awlnya sy berusaha menerima dgn ikhlas sgl keptsnnya,tp dia kdg2 msh menhubngi sy wl hnya sms menanyakn kbr sy.skpnya itu membuat sy semakin sulit utk melupakannya,sy ingin membencinya tp sy tdk bs krn sy sgt menyayanginya.dlm stp do’a2 sy sllu berhrp bs kembali lg bersamanya.krn sy sdh berusaha melupakannya dgn berbagai cara ttp sj sy blm bs.pak ustad apa sy msh bs diberi kesempatan utk bersatu dgnnya lg?sy letih utk mengenal laki2 lain selain dia,skr usia sy sdh 31th dan sy ingin segera menikah.tlglah sy pak,bgm caranya agr dia bs kembali lg dgn sy? sy mohon jawabannya

Demikian pertanyaan dari seorang pengunjung yang bernama yani. Silakan turut membantu mbak yani dengan menyampaikan masukan/saran di bagian kotak komentar di bawah ini.

Konsultasi: Perlukah melupakan si dia?

Posted on Updated on

asslm… mau ikut cerita dong…
aku punya temen sd yang sudah lama punya rasa sama saya. tapi kita ketemu lagi setelah 10 tahun waktu reuni sd. dan kita merasa dekat dan nyaman setelah melakukan iktikaf. dia menilai saya dri hal iktikaf itu.. mulai itu saya smsan terus dari sahur sampai sahur lagi. kadang kalo tidak dibals, saya atau dia emosi.
akhirnya dia memberikan untuk meminta ijin untuk mendekati saya dan saya mengiyakan karena ia berniat baik. kita dekat hanya 1 mingguan..selama kita dekat porsi dia lebih banyak dalam ngobrol, dan ketika saya berbicara saya kurang diperhatikan.sebetulnya dalam masa seperti itu bukannya kita saling memahami??
stelah itu dia kuanggap menghilang ato diam kalo kata dia.. dan seminggu kemudian dia datang dan mengatakan hal yang diluar dugaan..
katanya kita bagai magnet yang bertolak belakang, gak bisa menyatu.. dan saya juga tidak sempat berbicara bagaimana perasaan saya. saya bingung.. mengapa dia sangat keras kepala, itu menurut saya.. dia yang memulai , dia juga yang mengakhirinya…
apakah sebaiknya saya melupakan dia saja??
trimakasih

Demikianlah pertanyaan dari seorang tamu yang menyebut dirinya: Dee.
Silakan sampaikan masukan kepada dirinya di bagian kotak komentar di bawah ini.

Konsultasi: Dua Kali Ditinggal Nikah, Tak Ingin Gagal Lagi

Posted on

Dear Mas Muh Shodiq,

Perkenalkan … umur saya 26 tahun. Dengan email ini saya mohon saran dan pendapat dari Mas Shodiq mengenai permasalahan yang saya hadapi. Sebelumnya terima kasih atas inisiatif Mas Shodiq yang mempersilahkan bagi orang yang butuh share dan pendapat dari orang lain yang jauh berpengalaman.

Saya mempunyai cerita mengenai kisah cinta saya dengan seorang perempuan, sebutlah dia P. Kisah saya dan P bermula dari pertemanan di kantor. Memang sejak awal melihat dia, saya jatuh hati pada P, namun saya juga sadar diri, P sudah mempunyai pacar serius. Oleh karena itu, hubungan kami hanya pertemanan saja, dan saya cukup sadar diri untuk tidak mendekatkan diri ke P dengan kondisi tersebut, jadi saya hanya bisa mengagumi P saja dari jauh. Sampai suatu saat kami terlibat obrolan kecil di YM, dari situ saya merasa “nyambung” dengan P, dan sebaliknya P juga memberi reaksi yang sama, itu terlihat dari obrolan kami yang saling memberi canda, namun saat itu saya ga berharap banyak. Saya berpikir, mungkin kami hanya TTM, teman tapi mesra, tapi saya senang akhir nya saya bisa mengobrol dengan dia.

Hari berlalu, sampai suatu saat dia menceritakan permasalahan antara P dan pacar nya (sebutlah L). Antara P dan L sebenernya sudah ada niat menikah, namun karena ada permasalahan dikeluarga L, menjauhi P. P sering curhat ke saya, saya juga hanya bisa mendengarkan dan menghiburnya, dan dari awal saya ga mau ambil kesempatan. Saya selalu memposisikan diri sebagai teman, walau hati ini sebenar nya menginginkan P. Saya selalu menghibur P, agar dia kuat karena antara P dan L hubungan nya sudah 3 tahun berpacaran. Sampai suatu saat. P mendengar berita kalau L mempersiapkan pernikahan dengan perempuan lain, perempuan pilihan ibunya L. Sampai pun saat itu saya hanya bersikap sebagai teman yang menghibur dan menguatkan dia. Setelah L melangsung pernikahan, saya dan P semakin dekat, walau saya tau, betapa hancur nya hati P dan dia juga belum sanggup menerima laki-laki lain di hatinya, namun saya pasti sabar menunggu dia, karena dia perempuan pujaan saya dari awal bertemu P.

Semakin hari kami semakin dekat, saya semakin menyayangi dan mencintai P, dan P demikian. Karena kami sekantor, kami sering bertemu, oleh karena itu menguatkan hubungan kami. Jujur, saya sangat mencintai dia melebihi rasa sayang saya kepada diri saya sendiri. Mungkin itu cara saya memperlihatkan rasa sayang kepada orang yang saya cintai. Saya hanya ingin P bahagia bersama saya. Sampai suatu saat, kira-kira 2 bulan setelah pernikahan L, L kembali menghubungi P, L menceritakan semua permasalahan yang dihadapinya selama ini. L menikahi perempuan lain karena atas permintaan ibunya L, L tak kuasa menolak permintaan ibunya. Dan L masih sayang dengan P. Sampai hal itu terjadi pun, kami belum resmi berpacaran. Dari situ P mulai goyah, kelihatan berbeda, dari perhatian dan perilaku nya terlihat tidak seperti dulu lagi. Karena saya juga yakin P masih sayang dengan L. Namun saya bertekad ga akan menyerah memperjuangkan dia. Jika harus bersaing mendapatkan P, saya akan lakukan. Tapi hal itu tidak bisa saya lakukan, karena P lebih memilih L daripada saya. Lagipula keluarga P juga sangat setuju jika P menjalin hubungan kembali dengan L. Karena Ibunya P sangat menyukai L. Saya bingung, dan ga bisa berbuat apa apa. Sedih? pasti.

Hati saya sangat hancur. Antara benci dan cinta, saya sangat benci dia tapi saya ingin dia bahagia. Antara marah dan ikhlas, saya sangat kecewa atas perlakuannya tapi saya harus mengikhlaskan P. Campur aduk deh perasaan saya, rasa nya ga ada lagi pikiran dalam otak saya cuma dia. Kenapa? Kenapa? Kenapa?. Saya sendiri ga habis pikir. Dan bulan Maret 2009 kemarin, mereka melangsungkan pernikahan. Terus terang Mas Shodiq, hati saya hancur. Hancur sehancur nya.

Saya dan P masih dalam 1 lingkungan kantor, ingin rasa nya saya resign karena saya ga kuat menahan rasa hati ini. Saya ingin resign apabila sudah diterima di perusahaan lain, sampai saat saya masih mencoba melamar ke perusahaan lain. Kalo saya resign, belum tentu saya mendapatkan pekerjaan dengan cepat, karena keluarga saya masih sedikit tergantung dengan penghasilan saya. Terus terang, kalo saya terus berada disini, hati saya tidak kuat dan hal ini pasti mengganggu pekerjaan saya.

Yang saya ingin tanyakan kepada Mas Shodiq, bagaimana caranya melupakan seseorang yang pernah saya sayangi dan cintai ya Mas Shodiq ? Saya sudah 2 x ditinggal nikah begini, rasa nya hidup saya ga ada artinya lagi, untuk tidak terulang lagi, saya harus bagaimana ya Mas Shodiq ?

Apa yang harus saya lakukan ya Mas Shodiq. Mohon bantuan, saran atau pendapat dari Mas Shodiq ? Sesudahnya saya berterima kasih atas saran atau pendapat dari Mas Shodiq. Saya sangat butuh bantuan Mas, terima kasih. Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Mas Shodiq. Amin

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Aamiin. Terima kasih atas doanya.

Dari kata-katamu, kutangkap kesan bahwa dirimu menjalani kehidupan dengan cara yang sangat teratur/sistematis. Tentu saja, itu sangat bagus. Bahkan, itu jugalah salah satu modal penting bagimu untuk sukses dalam berkarir.

Hanya saja, tidak seperti dunia karir yang biasanya sistematis, dunia cinta biasanya tidaklah sistematis. Perlu keterbukaan terhadap berbagai kemungkinan, termasuk yang tak terduga. Dengan demikian, perlu pula sikap yang fleksibel (tidak kaku) dalam menghadapi persoalan asmara. Diantaranya:

1. Berserah dirilah kepada Sang Mahakuasa. Tidak perlu berusaha melupakan si dia.Biarlah Dia yang menentukan kapan sebaiknya dia terlupakan olehmu kalau memang Dia menghendaki begitu.

2. Supaya pengalaman pahit itu tidak terulang lagi, kamu perlu lebih mempelajari, menghayati, memahami, dan mengamalkan segi-segi “feminin” dalam kehidupan manusia, seperti: kesenian, kecerdasan sosial, spiritualitas, komunikasi non-verbal, dan berbagai bidang-bidang non-sistematis lainnya.

3. Yakinlah bahwa makna hidup kita ditentukan oleh apa yang kita perbuat, bukan dari apa yang kita dapat. Mengingat bahwa keluargamu masih agak “tergantung” pada penghasilanmu, maka jelaslah bahwa kehidupanmu sungguh bermakna. Bahkan kalau yang merasakan manfaat dari perbuatanmu itu bukan hanya keluargamu, melainkan juga orang lain, tentulah kehidupanmu lebih bermakna lagi.

Demikianlah pandanganku atas persoalanmu ini. Semoga Allah melapangkan jalanmu untuk menggapai masa depan yang lebih cemerlang dalam segala bidang. Amin.

Konsultasi: Menikahi Mantan Pelacur

Posted on Updated on

Ustadz Shodiq Mustika yth, yang insyaAllah dimuliakan-Nya
Dengan bercucuran air mata saya menuliskan kisah ini..[maaf kalo mungkin ini cengeng bagi seorang laki2]

Perkenankanlah saya memohon nasehat,petuah dari anda dan sidang pembaca yg terhormat. Karena ketika saya menuliskan kisah sejati saya ini keseimbangan emosional dan jiwa saya masih sangat terguncang. Forum ini saya temukan setelah saya mencari lewat google entah saya lupa urutannya sampai landing kesini dengan kata kunci “menikahi pelacur”
Ustadz Shodiq, saya seorang laki2 32 thn menikah dengan seorang perempuan non-pri sudah 7 bulan ini.

Dari masa perkenalan, pacaran jarak jauh selama kurang lebih 3 tahun. Setelah 2 bulan berkenalan di sebuah cafe saya harus pergi karena mendapat pekerjaan kontrak di luar negeri selama 2.5 thn. Sebenarnya saya sudah patah arang dengan mahluk yg namanya perempuan, kepergian saya ke luar negeri ini juga bagian dari untuk melupakan kegagalan pernikahan saya yang pertama. Tapi dengan janji dan sumpah setia dia mampu meyakinkan saya bahwa dia akan setia menunggu sampai saya pulang. Begitupun saya berjanji setia untuknya.

Hari-hari saya lalui dengan bekerja dan setiap kali telp dan sms tak pernah putus. Awal pacaran jarak jauh ini selama 2.5 tahun ini kami lalui dengan senang dengan sedikit duka, karena awalnya kadang dia pergi pamit ke jakarta sebulan dua bulan untuk cari kerja yg sebenarnya saya tdk setuju ijinkan krn kebutuhan bulanan sudah saya cukupi sampai sering dia pergi tanpa ngasih tahu, hingga sakit hati yg sesungguhnya ketika saya menelopon berpuluh kali bahkan ratusan dia ga mengangkat telp, sms juga tak terbalas. Waktu itu dia masih di jakarta, padahal sampai detik terakhir hari kemarennya kita masih baik2 saja bercanda ria lewat telepon. Ketika akhirnya mengangkat telp dia ucap salam dengan berbagai alasan yg saya coba menerimanya saya mendengar suara lelaki disampingnya dia berbohong klo laki2 itu keponakanya ketika saya minta bicara dengan laki2 itu laki2 tsb mengaku teman dekatnya [dari pengakuannya nanti dia sehabis berhubungan badan dengan laki2 itu kuatir aku tahu dia berbohong,tapi pasangannya malah bilang kalo dia temen deket] Ketidak percayaan dan kegelisahan saya berawal dari situ.
Dalam pekerjaan konsentrasi saya hilang,nafsu makan berkurang berhari2 aku memikirkan apa yg sebenarnya terjadi. Tapi dengan kata2 manis dan rayuan dia berusaha meyakinkanku bahwa dirinya menantiku pulang untuk menikah.

Beberapa bulan kemudian setelah hampir 2.5tahun dan alhamdulillah sebelumnya saya sempat menunaikan ibadah haji sambil menangis deras memohon petunjuk Allah apakah rencana pernikahan saya yg masih terluka ini baik bagiku dllnya, tibalah saatnya cuti liburan ke Indonesia yg hanya sebulan yg memang sudah saya rancang untuk melangsungkan pernikahan yg telah saya bicarakan dengannya sebelum kejadian itu. Tapi setelah kejadian itu ketika saya bertemu dengannya dan orangtuanya saya sempat berucap bahwa kita hanya akan bertunangan saja karena feeling saya sejak awal ga bisa mempercayai calon istriku ini. Entah karena dorongan nafsu sekian lama untuk bercinta atau karena saya merasa rugi selama ini saya mencukupi kebutuhannya tiap bulan selama hampir 2.5 tahun ini,tagihan telpon yg puluhan juta dirupiahkan, yang memeluk dia pun hanya sekali waktu saya pamit pergi. Karena walopun saya brengsek tapi alhamdulillah hati saya tidak pernah berani menyentuh[berhubungan badan] dengan perempuan sebelum ijab qobul, lagian dalam hati saya waktu itu dia memang akan saya jadikan istri di kemudian hari sepulang saya dari luarnegri jadi saya tak berpikir untuk menodainya.

Prahara pertama terjadi, dia mengaku dengan menangis waktu kutanya apakah masih gadis? alih2 gadis ternyata dia udah punya anak. Anak itu yg aku jumpai waktu aku datang pertama kali dan sekarang sudah kelihatan besar. Bagai disambar petir dia cerita “sebagian” masa lalunya mengapa sampai mempunyai anak yang ternyata adalah anak haram hasil kumpul kebo selama 2tahun tanpa nikah namun ketika dia hamil pasangannya pergi begitu saja karena masih punya istri yang sah. Lalu karena malu dia menjebak temannya untuk menggauli dia hingga dia dituduh yang menghamilinya hingga diminta menikahinya. Pernikahan itu hanya seminggu tapi karena mantan suaminya bener2 punya nafsu buas dia bercerita dengan menangis kalo setiap hari harus melayani shahwatnya puluhan kali. Hanya seminggu mereka bercerai karena kakak laki2nya mengusir mantan suaminya karena adiknya ga tahan tersiksa dengan perilaku seks yang buas, mungkin mantan suaminya yg dijebak ini minta jatah sebagai imbalan menyelamatkan muka keluarga non-pri ini di masyarakat.

Dengan lapang dada dan hati yang hancur karena dibohongi selama ini aku menerima dia dan anaknya sebagai istri dan anak yg kuanggap sebagai anakku sendiri. Akhirnya kita menikah january 2009, status dia sudah cerai tahun 2006. Sampai sebulan jatah liburan yg cuma seminggu saya nikmati untuk bulan madu, saya balik lagi ke luarnegeri untuk menghabiskan kontrak tambahan.
Ketika kembali beraktifitas kerja, batinku serasa bergejolak keras pikiran curiga,kecewa,marah,sedih,sakit hati karena hatiku selalu tidak tenang. Hampir tiap hari aku menelpon hanya untuk memastikan semuanya baik baik saja. Tapi tetap hatiku selalu curiga,tidak tenang, hingga sampai kemaren malam…

Prahara yang paling besar dalam kisah ini setelah aku mendesak dan coba merayu bahwa aku ingin tahu cerita yang sesungguhnya terjadi tentang masa lalunya..
MasyaAllah.. mungkin ini jawaban doa yang selalu aku panjatkan:”Allahumma arinal haqqo-haqqo warzuqnattiba-ah Waarinal bathila bathila warzuknaztinaabah”
Ustadz Shodiq, entah dengan menangis yang dibuat2 ketika aku telp mendesak ingin tahu kehidupan masa lalu yang “sebagian” sudah aku ketahui.. dia,perempuan yang menjadi istriku ini adalah dulunya melacurkan diri[Pelacur] karena himpitan ekonomi setelah keperwananya direnggut oleh teman modelnya sewaktu masih SMA. Jadi sejak usia 17tahun sampai terakhir kepergok waktu aku telp bersama laki2 sudah ratusan mungkin ribuan kali melakukan hubungan seksual dengan pria hidung belang.
LANGIT DIATASKU BAGAI RUNTUH MALAM ITU… tapi hatiku kukuatkan dengan doa
Ya Allah.. ya rahman-ya rahiem apakah ini coba untuk hambaMu yang lemah dan hina ini.
Bagaimana aku begitu buta dengan semua keputusan yang aku ambil. Terakhir kali aku katakan jujurlah sejelek apapun kamu aku tetaplah suamimu yang syah sekarang asalkan kamu mau bertobat dan berhenti melacurkan diri. Sudah ratusan kali sumpah atas Nama Allah dan Nabi yang dia ucapkan [yang memang dia sudah masuk islam sejak SMA walo non-pri], tapi karena keadaan, dia tetap melacurkan diri. Sumpah atas nama Allah itu diucapkan tiap kali berbohong ketika kutanya hal apapun yang akhirnya terbukti firasatku dengan pengakuannya sendiri kemaren malam itu..

Ustadz Shodiq, maafkan saya jika kisahku ini terlalu panjang jujur saya butuh bantuan dorongan moral untuk menentukan kira-kira jalan apakah yang harus saya tempuh ketika akhir bulan ini saya pulang ke Indonesia karena kontrak kerja sudah habis.
Apakah saya harus mempertahankan pernikahan saya yang baru sebentar dan saya hanya bersanding seminggu untuk waktu berpisah yang sudah 3tahun ini? Ataukah saya harus berpisah dalam arti saya melepas tanggung jawab untuk membawanya ke jalan yang baik[itu yang dia katakan terakhir ditelp untuk bertaubat setelah menikah dan tidak melacur lagi]dan saya kuatir karena cinta saya yg besar tidak rela kalo dia kembali melacurkan diri…

MasyaAllah .. La haula walaa quwwata Illa billah
Mohonkan ampun untuknya dan untukku… Ya Allah…
Wassalam..
Hamba Allah yang berduka
The place of no where

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Tidak ada salahnya lelaki mengucurkan air mata ketika bersedih. Apalagi dirimu tetap mampu berpikir jernih, terbukti dengan kemampuanmu untuk menuliskan curhatmu ini dengan selengkap-lengkapnya. Dengan demikian, tidaklah sungkan-sungkan aku sampaikan saran singkat sebagai berikut.

Seandainya aku menjadi dirimu, maka aku pertahankan dia untuk tetap menjadi istriku. Bahkan, akan aku usahakan supaya dia benar-benar bertaubat, sehingga menjadi wanita yang shalihah. Sebab, tujuanku menikah bukanlah untuk memperoleh hak eksklusif sebagai pria satu-satunya yang berhubungan seks dengannya. Aku menikah dalam rangka menggenapkan pengabdianku kepada Sang Mahakuasa.

Sama sekali aku tidak merasa rugi bila menikah dengan wanita shalihah yang pernah berhubungan seks dengan ribuan lelaki. Sebab, Allah Sang Mahaadil akan mengganjar kebaikan kita berlipat-lipat. Kelak di surga, Dia sediakan bagi kita bidadari-bidadari yang senantiasa perawan. Dan kita bisa menikmatinya selama-lamanya. (Lihat “https://muhshodiq.wordpress.com/2009/07/10/andaikan-bidadari-di-surga-secantik-sandra-dewi-maka/“.)

Demikianlah masukan dan saran dariku. Mudah-mudahan akan ada pembaca lain yang menambahkan masukan/saran.

Nikah dengan dia yang pernah cerai, salahkah?

Posted on Updated on

pak shodiq, senang rasanya bisa menemukan blog bapak, terutama yang membahas hal2 pra nikah.
saya ingin sekali dengar pendapat bapak soal masalah saya ini.
sekarang saya menjalani suatu hubungan serius dan ingin segera menikah dengan seorang duda (inisial D), 1 anak (perempuan, umurnya 5 tahun). dia duda karena cerai pak. saya diceritakan olehnya kenapa dia bercerai. tapi menurut saya, dari cerita dia, dia berhak untuk menceraikan istrinya. tapi saya belum tau bagaimana cerita versi dari istrinya. tapi wallahua’lam, saya percaya dengannya pak.

saya menceritakan kepada orang tua saya, dengan siapa saya menjalin hubungan. mendengar cerita saya, kedua orang tua saya langsung bilang tidak setuju. bagi mereka, laki-laki yang bercerai itu, pasti ada masalah. dan orang tua saya sudah men-cap bahwa laki-laki itu yang salah, yg tidak bisa membimbing mantan istrinya. orang tua saya mengkhawatirkan itu pak, hal itu akan terjadi kembali sama saya. selain itu orang tua saya mengkhawatirkan kehidupan ekonomi saya nantinya, karena pria pilihan saya seorang pengusaha pelebur logam. kalopun saya jadi menikah dengannya, orang tua saya langsung memberi ultimatum, kalo pas akad nikah nanti, ayah saya tidak bersedia menjadi wali. saya sedih sekali pak

saya dan D sudah bertekad ingin menikah, terutama D, dia gak ingin kejadian yang dulu terulang lagi dan dia sudah percaya dengan saya. kami bertekad, ingin menunjukkan hasil kerja keras kami selama ini, kepada orang tua saya, dan meyakinkan mereka kalo saya insyaAllah akan baik-baik saja.

sangat dilema buat saya pak.disatu sisi saya ingin sekali bisa menikah dengannya. karena setelah istikharah, meminta ketetapan hati, subhanallah, hati ini rasanya ringan sekali. tapi sisi lain, ada masalah di orang tua. beliau bersedia wali nya digantikan oleh saudara lain. pak, kalo pun saya tetap menikah dengan D, apakah saya termasuk orang yang tidak berterima kasih? hanya memperturutkan egoisme?
saya hanya ingin menjalankan sunnah Rasul pak, dan kami berdua hanya ingin memiliki keluarga yg sakinah, bahagia dunia akhirat.
apakah bapak setuju dengan pernyataan ini, jika wanita dan laki-laki tetap melangsungkan pernikahan tanpa persetujuan orang tua tidak bisa dikatakan keduanya sudah durhaka malah orang tuanya lah yang sudah tidak mentaati apa yang diperintahkan Allah agar tidak menghalangi-halangi anak-anaknya untuk menikah. Allah berfirman dalam Al Quran yang artinya: “…maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin dengan bakal suaminya apabila telah terdapat kerelaan di antara keduanya dengan cara yang ma’ruf” QS. Al Baqarah: 232.
terima kasih sebelumnya pak Shodiq

Jawaban M Shodiq Mustika:

Benar, pada dasarnya, orangtua/wali tidak berhak menghalang-halangi anaknya untuk menikah. (Lihat “Walau Bukan Siti Nurbaya“.) Namun, itu berlaku bila si anak sudah “dewasa”.

Dalam ceritamu itu, umurmu belum kau sebutkan. Karenanya, aku belum tahu apakah kau sudah bisa menikah dengan wali hakim. Di Indonesia, perempuan yang sudah “dewasa” (dalam arti bisa menikah dengan wali hakim) ialah yang telah berusia 21 tahun. (Begitulah seingatku. Untuk konfirmasi, silakan hubungi KUA terdekat.)

Mengenai ketidaksetujuan orangtuamu, aku kurang sepakat bila kau katakan bahwa beliau menghalang-halangi dirimu untuk menikah. Beliau sudah bersedia walinya digantikan oleh saudara lain. Secara demikian, beliau tidak menghalang-halangi pernikahanmu.

Mengenai tekad kalian untuk menunjukkan kerja keras kalian, bagus itu. Aku mendukung tekad kalian ini. Akan lebih bagus lagi bila kalian mampu menunjukkan bukti-bukti (atau kesaksian orang-orang terpercaya) kepada orangtuamu bahwa perceraian si dia itu bukanlah lantaran kesalahan dia. Untuk itu, kamu bisa mengutus 1-2 orang saudaramu untuk menggali informasi mengenai sebab-musabab perceraian tersebut, termasuk informasi dari mantan istrinya. Dengan adanya bukti-bukti begitu, besar kemungkinan bahwa orangtuamu akan merestui pernikahan kalian.

Demikianlah saranku, wallaau a’lam.

Pacaran backstreet, salahkah?

Posted on Updated on

p’ sy mw nanya..?? gni dari dulu orang tua sy melarang keras sy pacaran. alasannya mereka takut terjadi sesuatu dengan sy. tapi selama ini saya tetap saja menjalin hubungan dengan se2orang. dan smua itu sy lakukan juga masih di batas kewajaran. sy sudah dewasa , sudah tahu mana yang benar dan mana yang tidak. yach bisa dibilang kalau sy backstreet lah…
yang mw sy tanyakan apakah sy salah melakukan semua ini ?? apa yang harus sy lakukan ?? sementara kalau di suruh meninggalkan dy sy g’ mungkin bisa…

Jawaban M Shodiq Mustika:

Di dunia ini, kita jarang menjumpai urusan yang 100% baik atau pun 100% buruk. Mungkin pacaran backstreet (tersembunyi) tanpa setahu orangtua seperti pada kasusmu ini tergolong itu. Semua segi-seginya yang penting perlu kita pertimbangkan. Jika kadar buruknya besar, maka sebaiknya kita menghindarinya, bukan?

Aku sendiri belum tahu siapa dirimu, berapa umurmu, sudahkah kamu siap menikah, bagaimana keadaanmu, dan sebagainya. Dengan demikian, aku belum bisa menilai apakah pacaranmu yang backstreet ini baik ataukah buruk. Namun, aku percaya bahwa dirimu sudah dewasa. Aku pun percaya bahwa kalian mampu memenuhi hari-hari kalian dengan kebaikan dan menghindari berbagai keburukan. Karena itu, aku ajukan lima tantangan kepada dirimu untuk membuktikan kedewasaanmu sebagai berikut.

1. Kembalikan “pacaran” ke makna aslinya!

Istilah “pacaran” berasal dari kata “pacar” dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno) yang berarti “calon pengantin”. Jadi, makna asli “pacaran” ialah aktivitas calon pengantin, yaitu persiapan untuk menikah. (Lihat “Definisi & Bentuk Nyata “Pacaran Islami”“) Nah, kalau kalian memang telah menyusun rencana (bukan sekadar harapan) hendak menikah dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, maka pacaran kalian tidaklah salah. Namun seandainya kalian “pacaran” berdasarkan rasa saling suka saja, apalagi hanya ingin bersenang-senang, maka itu bukanlah tergolong perilaku yang dewasa.

2. Kenalkan semua teman lain-jenismu dengan orangtuamu!

Pepatah mengatakan, “Siapa tak kenal, maka tak sayang.” Kekhawatiran orangtuamu mungkin disebabkan oleh belum tahunya beliau mengenai bagaimana kamu bergaul dengan lawan jenis. Karena itu, tunjukkanlah di depan beliau betapa baiknya dirimu bergaul dengan lawan-jenis. Sering-seringlah juga menceritakan kepada beliau berbagai kebaikan yang kau peroleh dari pergaulanmu dengan lain-jenis.

3. Akrabkan si dia dengan orangtuamu!

Untuk lebih menyadari pentingnya poin ketiga ini dan poin kedua tadi, silakan simak postingan “Kalau sampai ketahuan, awas kamu!” dan “Akrabilah keluarga si dia sedini mungkin!

4. Carilah pengawasan dari orang dewasa yang berwibawa!

Jangan sampai tak seorang pun mengetahui hubungan kalian. Sebab, kalau terjadi masalah, maka kalian sendirilah yang akan merugi tanpa mendapat bantuan. Bagaimanapun, manusia adalah makhluk sosial, bukan? Jadi, carilah pengawasan dari beberapa orang dewasa yang berwibawa dan bisa kalian percaya. Aktivitas kalian harus senantiasa terpantau, sehingga terjaga dari berbagai keburukan. (Diantaranya, Jangan berduaan, kecuali bila terawasi!)

5. Lebih mendekatlah kepada Sang Maha Penyayang!

Supaya hubungan kalian tetap berada di jalan yang benar+baik dan tidak sampai berlebihan, lebih cintailah Sang Maha Penyayang! Jadikanlah surat-Nya (firman-Nya) sebagai pegangan kalian. (Lihat “Menghunus Qur’an, Menyorong Cinta“)

Wallaahu a’lam.

Konsultasi: Berjilbab Tapi Pergaulan Mesum

Posted on Updated on

Pak Shodiq..sy membaca artikel di blog anda…subhanallah sangat bagus sekali.. perkenalkan sy mahasiswi tingkat akhir …
selama ini sy masih bingung harus bagaimana cara sy bergaul dengan teman-teman sy.. alhamdulillah… sy menggunakan jilbab dan belajar ingin memperbaiki diri.. meskipun banyak sekali omongan-omongan tmn2 yg seakan tidak percaya dengan kesungguhan sy memakai jilbab..

kebetulan sy sering berkumpul dgn teman2 lelaki (dan hanya saya sendiri perempuannya)
sebenarnya terjadi perang batin di hati sy krn mereka sering sekali membicarakan hal2 jorok ttg perempuan (jd sy merasa ditelanjangi) wlwpun sy sudah menegur mereka tapi kejadian itu sering sekali terulang..

apa yg hrs sy lakukan pak? sy benar2 bingung..krn sy juga terikat pekerjaan… di komunitas ini..

padahal konsentrasi sy skrg sy ingin sekali mendapatkan jodoh yg shaleh..tapi sy takut krn pergaulan sy bersama mereka para lelaki lain jadi mengganggap sy sbg perempuan yg ‘layaknya perempuan yg kebanyakan bergaul dengan para lelaki’

umur sy skrg hampir 23 tahun..orang tua memang tdk mendesak sy utk menikah tetepi mereka slalu mempertanyakan ‘kapan mau memperkenalkan calonmu’
sy sering kepikiran sekali ttg masalah itu apalagi tmn2 wanita sy kebanyakan sudah mempunyai pacar..
jujur,semenjak mengenal islam lebih dalam sy memang tidak ingin pacaran sperti mereka..sudah 3 tahun sy ‘jomblo’ dan memilih untuk mencari calon suami saja yg bisa membimbing sy menuju jalanNYA yg benar..sy sering dibilang ‘tidak laku’ krn tidak punya pacar..
tapi disisi lain saya takut jika sy punya pacar sy takut mendekati zina..

menurut pak ustad gmn ya?
apakah sy harus menjauh dr pergaulan sy ini?

sy tunggu sekali nasehat bapak..
terima kasih sebelumnya..

Jawaban M Shodiq Mustika: Baca entri selengkapnya »

Bagaimana menumbuhkan kembali cinta suami-istri

Posted on Updated on

Saya seorang Akhwat jatuh cinta sama Ikhwan dan kami mulai bertekad ingin membina Rumah Tangga yang baik. Tapi belum genap usia pernikahan 1 tahun kami di uji suamiku pindah pekerjaan dan lebih parahnya lagi kami jadi 1 perusahaan sedangkan d perusahaan tidak boleh memperkerjakan suami istri awalnya saya menolak suami pindah kerja tapi karena suami berjanji kalau dalam surat perjanjian kontrak tertulis suami istri tdk boleh bekerja di 1 perusahaan maka suami saya keluar. tapi ternyata di surat perjanjian tdk tertulis dan akhirnya suami saya bekerja satu perusahaan cuma beda divisi syariah dan konvensional. beberapa bulan setelah anak kami lahir datang teguran dari pimpinan saya bahwa saya bersalah karena tdk memberitahukan status suami bekerja trus saya bilang bahwa status suami saya masih kontrak selama 1 thn jika suami saya di terima jadi pegawai tetap saya keluar. tapi pimpinan saya tidak ma seperti dan harus keluar slah satu. saya bingung krn saya pingin bkj akhirnya kami memutuskan sayalah yang berhenti.
Saya kesal saya marah kenapa musti begini berhari hari saya coba sholat istikhoroh dan sholat hajat semoga saya dapat pekerjaan yang baru lagi tapi pada akhirnya saya slalu menyesali knapa jadi begini kadang saya suka marah pada suami hanya gara2 masalah itu. saya hanya minta solusi bagaimana menumbuhkan kembali cinta dalam keluarga agar cita2 saya membina keluarga sakinah mawaddah warrohmah tercipta.
Terima kasih

Jawaban M Shodiq Mustika:

Dari pernyataan “kadang saya suka marah pada suami hanya gara2 masalah itu”, tersirat bahwa persoalan yang sedang ukhti hadapi ini bukan masalah berat. Syukurlah ukhti sudah menyadarinya sebelum persoalan ini membesar. Lebih baik mencegah “penyakit” daripada “mengobatinya”, ‘kan?

Sebenarnya ada banyak konsep untuk menumbuhkan kembali cinta antara suami-istri sehingga terbina keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Bisa ribuan kalimat untuk menjelaskannya. Namun kita di sini tentunya mengharap jawaban yang ringkas berupa solusi yang sangat praktis. Jadi, aku rangkumkan saja hasil penelitian John Gottman yang disajikan kembali oleh Martin EP Seligman dalam bukunya, Authentic Happiness.

Menurut penelitian tersebut, pasangan-pasangan yang hubungannya membaik setelah beberapa tahun ternyata mencurahkan waktu selama sekitar lima jam tambahan setiap pekan untuk “menyirami pohon cinta” mereka. Ini dia rinciannya:

  • Saat berpisah. Sebelum keduanya mengucapkan salam perpisahan setiap pagi, mereka menanyakan apa yang akan dilakukan pasangannya hari itu. (2 menit x 5 hari = 10 menit)
  • Saat berkumpul kembali. Di penghujung hari, sepulang kerja, pasangan ini mengobrol ringan. (20 menit x 5 hari = 1 jam 40 menit)
  • Kasih sayang. Menyentuh, memeluk, dan mencium–semua ini dijalin dengan lemah-lembut dan rasa memaafkan. (5 menit x 7 hari = 35 menit)
  • Kencan mingguan. Hanya Anda berdua, dalam suasana yang santai, memperbarui cinta Anda. (2 jam sekali sepekan)
  • Kekaguman dan penghargaan. Setiap hari, kasih-sayang dan penghargaan yang tulus diberikan setidaknya sekali. (5 menit x 7 hari = 35 menit)

Supaya cara-cara praktis tersebut lebih efektif, aku anjurkan ukhti & suami mengamalkan “10 Kiat Menjadi Pendengar Yang Baik” dan “Cara Ngobrol Pria-Wanita Yang Mengasyikkan“.

Demikianlah jawaban dan saranku. Wallaahu a’lam.

Konsultasi: Pilih menikah ataukah bekerja?

Posted on Updated on

Saya seorang gadis berusia kurang dari 30 tahun. Saya bekerja sebagai pegawai tetap di sebuah bank bumn dengan gaji pokok “lebih dari cukup”, belum termasuk tunjangan dsb. Saya kos karena penempatan kerja di luar kota tempat tinggal. Saat ini saya berpacaran dengan salah seorang teman satu perusahaan, usia lebih dari 30 tahun. Saya sudah berpacaran sekitar 5 th. Karena kesibukan masing2, walaupun satu kota tapi kami hanya bertemu seminggu sekali. Peraturan perusahaan melarang pernikahan satu atap, salah satu harus mengundurkan diri. Pembicaraan antara saya dan dia sepakat saya yg mengundurkan diri dengan pertimbangan usia saya masih banyak kesempatan untuk mencari kerja lagi. Supaya tidak kena denda (yg jumlahnya cukup besar) karena resign sebelum menyelesaikan ikatan dinas selama 5 th, maka kami sepakat untuk menyelesaikan ikatan dinas tsb. Saya sampaikan kepada orang tua dan keluarga saya jika saya menikah maka saya harus resign. Mereka keberatan karena saya adalah kebanggaan keluarga & keluarga besar dan bisa dikatakan saya penyumbang dana terbesar dalam keluarga (saya ikhlas). … Saya sangat memahami ortu, … punya anak pegawai bank adalah kebanggaan luar biasa menurut mereka. Gaji tiap bulan saya gunakan untuk keperluan saya, membantu keluarga, dan menabung. Ikatan dinas saya habis tahun ini, saya persiapkan diri untuk bisa menikah:
1. nglamar kerja kesana sini untuk dapat kerjaan baru. Syarat ortu, saya boleh keluar dari kerjaan dan boleh menikah jika sudah dapat kerjaan baru (kerja kantoran kalo bisa yang selevel dengan perusahaan sekarang). saya tidak boleh nganggur…
2. karena rumah dekat dengan kampus, saya membuat kosan untuk ortu saya, dengan pertimbangan jika saya menikah dan ortu sudah tidak bisa kerja, maka mereka tetap dapat uang tiap bulan dari uang pembayaran kos…
3. sekarang saya berusaha hemat & menabung untuk persiapan biaya menikah (tabungan sebelumnya habis untuk membuat kosan)
4. saya lakukan pendekatan supaya keluarga bisa menerima jika saya keluar dari pekerjaan dan menikah
sampai sekarang keluarga tetap merasa keberatan. pada dasarnya secara pribadi mereka setuju saya menikah dengan pacar saya. mereka cocok dengan pacar saya, tapi mereka tetap keberatan jika saya keluar dari kerjaan.
5. sejujurnya saya sangat bingung antara keluarga atau pacar=menikah atau bekerja?
saya berusaha untuk sholat tahajud, istikaroh, memperbanyak sedekah dan konsultasi kesana kemari untuk masalah saya. skitar 2 bulan ini keinginan saya untuk menikah semakin besar dan merasa mantap, saya tidak tau apakah ini napsu untuk memiliki ataukah petunjuk dari alloh atas doa saya. mohon saran dan pendapat pak shodiq.
6. kami pernah putus nyambung lagi. gak tau kenapa, sulit mencari pacar baru. saya dan dia benar-benar merasa cocok.. walaupun sedikit kami sudah memahami kekurangan dan kelebihan masing2.
7. saya sekolah lagi dengan biaya sendiri, agar lebih mudah dpt pekerjaan. alhamdulillah sudah selesai jadi sarjana. (ayah tambah bangga) dulu ayah menyekolahkan saya d3.

agar bisa segera menikah pacar saya juga berusaha menabung untuk pra & pasca menikah, pendekatan dengan ortunya (malah ortunya sudah pengin ngelamar saya) & ortu saya, nyari info kerjaan buat saya, nganter saya tes kerja dll. dia bersedia tetap menunggu saya menyelesaikan ikatan dinas dan menunggu sampai dapat pekerjaan. saya sangat menghargai penantiannya.. kadang saya merasa kasian karena dia sudah didesak keluarganya untuk segera menikah. dia bersikeras tetap menikah dengan saya dan tidak mau dengan orang lain. menurut dia apa yang dia cari ada pada diri saya. dia sepakat untuk tidak menikah selama belum ada restu dari ortu saya. dia tetap ingin saya bekerja seperti keinginan ortu saya agar kebanggaan keluarga saya tidak hilang. dia merasa karena dialah saya jadi keluar dari kerjaan.
oiya, pada dasarnya saya senang wirausaha, saya punya warung lesehan dan punya bisnis distributor kecil-kecilan. saya tidak senang bekerja pada orang lain. tapi menurut ortu itu bukan pekerjaan itu cuma sampingan. dalam pikiran mereka yang namanya bekerja ya di kantor (saya sangat maklum dengan pendapat mereka).

melalui email ini saya mohon saran pak shodiq atas masalah saya :
1. apa yang harus saya lakukan, saya takut berbuat dosa karena pacaran terlalu lama. bukankah menikah adalah mulia dan ladang amal? tetapi mengapa keluarga saya merasa keberatan karena alasan materi dan kebanggaan? saya takut jadi anak durhaka dan tidak tau terima kasih. saya takut mengecewakan ortu saya. saya takut berbuat sesuatu yang tidak diridhoi ortu saya.
2. saya juga takut dan bingung, jika saya keluar dari pekerjaan apakah berarti saya tidak bersyukur pada alloh yang telah memberikan pekerjaan yang bagus untuk saya saat ini?
dan jika saya tidak menikah dengan pacar saya, apakah saya menyianyiakan kesempatan yang alloh berikan pada saya yang telah mempertemukan saya dengan pacar saya? walaupun saya tidak tau apakah dia jodoh saya.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Seperti pada kasus “Ingin Nikah Tapi Dibutuhkan Keluarga“, kamu dihadapkan dengan dua alternatif yang sama enaknya. Kalau kau segera menikah, maka kau menjalankan sunnah Nabi yang berupa pernikahan. Sedangkan bila kau tunda dulu pernikahanmu demi memenuhi keinginan keluarga, maka kau pun menjalankan sunnah Nabi pula yang berupa berbakti kepada orangtua dan kerabat dekat. Oleh karena itu, jawabanku:

1. Pilihlah keduanya: menikah dan sekaligus bekerja. Dalam keadaanmu yang terikat oleh ikatan dinas, pacaran kamu tidaklah tergolong terlalu lama. Apalagi pacarmu bersedia menunggumu hingga memperoleh pekerjaan baru. Jadi, dapatkanlah pekerjaan baru setelah masa ikatan dinas selesai supaya kamu dapat menikah dengan pacarmu.

Adapun supaya kalian tidak tergoda untuk berbuat dosa, khususnya zina, maka hendaklah kalian lebih menjaga diri. Diantaranya dengan mengerahkan jurus-jurus penangkal zina dan tidak bertatap muka, kecuali bila dalam keadaan terawasi, sehingga tak mungkin berzina.

2. Jika informasimu itu sudah relatif lengkap (tidak ada yang kau tutup-tutupi), maka aku yakin bahwa pacarmu ini adalah jodoh terbaik bagimu. Seandainya kau meninggalkannya demi “pekerjaan yang bagus saat ini”, maka menurutku kau menyia-nyiakan jodoh yang telah disediakan Allah untukmu.

Bagaimanapun, mencari jodoh sebaik dia itu jauh lebih sulit daripada mencari pekerjaan baru yang juga bagus. Dengan ijazah dan pengalaman kerjamu, kamu akan lebih mudah mencari pekerjaan baru yang juga bagus. Apalagi, syarat dari orangtuamu juga tidak terlalu kaku, yaitu asalkan kantoran dan “kalo bisa yang selevel”. Jadi, syarat minimalnya hanyalah kerja kantoran. Dengan syarat ini, aku yakin kamu mampu memenuhinya.

Demikianlah jawaban dan saranku. Wallaahu a’lam. Semoga Dia senantiasa membimbing langkah kalian dan menjauhkan kalian dari segala dosa. Aamiin.