malaysia

Maumu Apa, Malaysia?

Posted on Updated on

buku Maumu Apa Malaysia

Malaysia di Mata Jurnalis Indonesia

Mohamad Ali Hisyam, pengajar di Universitas Trunojoyo Madura

Kasus Manohara, model cantik berdarah Sulawesi yang tak pernah sepi diekspos media massa, menjadi bumbu menarik dinamika hubungan bilateral antara Indonesia dan Malaysia. Konflik Manohara dengan mantan suaminya, Tengku Fahri, pangeran Kerajaan Kelantan, yang terus berlarut, melengkapi serangkaian dentuman kasus yang selama ini mewarnai ”panas dingin” relasi kedua negara serumpun itu.

Belakangan, negeri jiran tersebut kerap dituding sebagai ”benalu” yang acap membuat rakyat Indonesia gerah dan bahkan marah. Peristiwa perebutan blok Ambalat, klaim Pulau Sipadan-Ligitan, pengakuan ikon budaya Nusantara seperti reog Ponorogo, tari pendet, batik, hingga lagu Rasa Sayange merupakan contoh upaya mereka mencaplok khazanah sosial-budaya milik kita. Belum lagi ingatan akan perlakuan arogan mereka terhadap ratusan ribu tenaga kerja Indonesia (TKI) di sana serta bagaimana secara ”ideologis” warga mereka (Dr Azhari dan Noordin M. Top) mengacak-acak negeri ini dengan doktrin terorismenya. Di mata khalayak, hal itu terkesan sengaja memantik permusuhan dengan beragam cara yang provokatif. Benarkah demikian?

Buku Maumu Apa, Malaysia? ini dengan lugas menjawab berbagai kebingungan serta pertanyaan seputar hubungan Indonesia-Malaysia itu, lebih-lebih selama tiga tahun terakhir. Pada sejumlah hal, harus diakui bahwa Malaysia langsung maupun tidak telah dengan sadar mengajak berkonfrontasi. Dalam soal perebutan wilayah, misalnya, tak dapat disangkal mereka berupaya merusak harmoni dan kesepakatan yang sudah ada. Dari sini, stereotip negatif tentang mereka melekat di benak masyarakat kita.

Namun, juga mesti disadari, terdapat beberapa hal yang sebenarnya sumbu konfliknya hanya dipicu oleh kesalahpahaman dalam mengamati duduk perkara suatu persoalan. Yang menarik, buku ini berusaha menyuguhkan data dan argumen yang berimbang ihwal perselisihan kedua negara yang selama ini berlangsung. Genuk Ch. Lazuardi dengan tekun merekam secara runtut aneka persoalan yang menjadi biang konflik Indonesia-Malaysia lewat gaya pemaparan yang khas, renyah, dan ringan dicerna.

Melalui ilustrasi dari beragam sudut, Genuk mencoba menggambarkan wajah masyarakat Indonesia di negeri berpenduduk 27 juta tersebut secara detail. Lewat ilustrasinya, secara tidak langsung pembaca akan dibawa memahami dan menelisik dari dekat bagaimana keberlangsungan hidup komunitas Indonesia di sana serta bagaimana pula orang Malaysia memperlakukan mereka. Sebagai jurnalis yang telah tiga tahun berkarir di Malaysia, dia mengajak kita berkeliling melihat peta Malaysia dari lensa yang paling jernih dan diambil langsung dari jantung permasalahan, yakni suka-duka rakyat Indonesia bertarung menyabung hidup di negeri seberang.

Layaknya karya reportase, investigasi reflektif yang dihadirkan buku ini melaporkan apa adanya keseharian rakyat kita di negara kaya minyak itu. Setidaknya, laporan tersebut terungkap dari empat sisi, yaitu hegemoni Indonesia di belantika hiburan Malaysia, dominasi TKI dalam dunia kerja, urat akar sejarah Indonesia dalam budaya Melayu, serta keampuhan diplomasi musik dan kuliner Nusantara di sana.

Bila diurai, benang kusut hubungan tersebut lebih disulut maraknya ketidakpahaman (misunderstanding) serta salah persepsi (misperception) masing-masing pihak. Sekadar contoh, kasus heboh seputar klaim tari pendet dan reog Ponorogo yang sempat disemprotkan kepada Malaysia ternyata lebih disebabkan sikap salah paham terhadap ekspresi berbudaya orang-orang Melayu, termasuk masyarakat Indonesia yang tinggal di Malaysia. Selama ini, aktivitas kesenian komunitas Indonesia di negara yang merdeka pada 1957 itu selalu mengusung tema dan simbol-simbol Nusantara.

Orang-orang keturunan Jawa di sana, misalnya, terbiasa mengadakan seni wayang, reog, dan semacamnya. Begitu juga dari etnik yang lain. Kekayaan multietnik kita diapresiasi dan diekspresikan dengan baik dan lestari di sana. Lantas, mengapa kita tidak malah bangga dan justru merasa dicaplok? Sebagai perbandingan, atraksi seni barongsai yang asli Tiongkok dikenal sangat masyhur di Singapura. Seakan-akan barongsai adalah ikon mereka dan dalam banyak acara mereka menampilkannya dengan leluasa. Lalu kenapa orang-orang Tiongkok tidak pernah mempermasalahkannya? Sebaliknya mereka bangga, kebudayaan mereka bisa eksis di negeri orang.

Yang jelas, kesenjangan informasi dan ketimpangan data plus nuansa ”ego nasionalisme” sektoral merupakan faktor dari berbagai kesalahpahaman yang terjadi selama ini. Padahal, bila kita telaah sejarah, kedua bangsa itu adalah ”alam Melayu” yang diikat kesatuan politik dan budaya yang sangat erat. Jalinan sosial kedua bangsa sangat harmonis, kendati sempat diwarnai fluktuasi konfliktual. Migrasi besar penduduk Nusantara ke Malaysia menyebabkan begitu banyak orang Melayu di sana berasal dari Indonesia. Contoh paling mutakhir, perdana menteri Malaysia saat ini, Datuk Najib Razak, adalah keturunan Bugis-Makassar dari raja Gowa ke-XI.

Sukar dimungkiri, sebagai bangsa serumpun, keduanya memiliki beragam ”perekat”. Kedekatan geografis, kemudahan askses, serta kemiripan bahasa dan budaya adalah modal positif untuk membangun kembali harmoni di antara keduanya. Menurut sejarawan Asvi Marwan Adam, sejarah pernah mewartakan, bagaimana Ibrahim Jacoob dan Bung Karno pernah menyetujui gagasan dibentuknya negara Indonesia Raya, wujud penyatuan Indonesia dan Malaysia. Walau sayang, ide itu akhirnya gagal terwujud.

Pada aras demikian, buku ini bisa dimaknai sebagai ikhtiar merekatkan kembali keretakan sosial yang akhir-akhir ini mewarnai hubungan Indonesia-Malaysia. Sudah saatnya kita memandang polemik sebagai ajang pendewasaan bagi proses persaudaraan. Warga Indonesia jangan lagi memandang Malaysia semata dari kacamata kisah-kisah miris TKI sembari melupakan sisi positif di dalamnya. Sementara itu, Malaysia sudah waktunya membuang stigma 3D (difficult, dirty, dangerous) kepada TKI dengan memberi penghargaan yang pantas dan manusiawi.

Kendati penulis berprofesi sebagai pekerja di Malaysia, ulasan-ulasan dalam buku ini jauh dari kesan apologis yang cenderung membela Malaysia. Dia menyajikan pemahaman dan fakta-fakta aktual seputar hubungan kedua negara melalui optik yang netral. Kelengkapan data, variasi topik, serta kemahiran mengulas masalah menjadikan buku ini menarik dibaca dan tepat dijadikan referensi bagi calon tenaga kerja, pelaku bisnis, hingga pelajar dan mahasiswa yang hendak studi dan berkarir di Malaysia. (*)

Tulisan di atas merupakan kutipan dari rubrik Resensi Buku di Jawa Pos, Minggu, 03 Januari 2010

Judul Buku : Maumu Apa, Malaysia?

Penulis : Genuk Ch. Lazuardi

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Cetakan : Pertama, November 2009

Tebal : xxii + 200 halaman

Indonesia Punya Bahasa Persatuan, Malaysia Punya Apa?

Posted on Updated on

Tahukah Anda, bahwa bahasa persatuan Indonesia yang kita anggap biasa-biasa saja ini diidamkan oleh negara tetangga? Di bawah ini adalah lontaran pemikiran yang dikutip dari www.malaysia.youthsays.com, sebuah wadah tempat generasi muda Malaysia bertukar pikiran, pendapat dan melontarkan pertanyaan,

Kenapa rakyat Malaysia tak suka berbahasa Melayu? Kita lihat ramai rakyat Malaysia yang tak suka berbahasa Melayu/Malaysia. Malahan laman web untuk generasi muda Malaysia sendiri tidak menggunakan bahasa kebangsaan atau sekurang-kurangnya dwibahasa. Sedangkan rakyat Indonesia yang berbilang bangsa membawa bahasa mereka ke serata dunia. Sila beri pendapat anda.

=====
Sumber: Kompas.com

Kasus Tari Pendet: Malaysia Minta Maaf

Posted on Updated on

Malaysia Sampaikan Maaf Soal Pendet
Kamis, 27 Agustus 2009 19:15 WIB

Jakarta (ANTARA News) – Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan bahwa pihaknya sudah menerima permintaan maaf dari Menteri Pelancongan Malaysia soal Tari Pendet.

“Tadi sore (Kamis, 27/8) Menteri Pelancongan Malaysia menelepon saya untuk minta maaf soal Tari Pendet,” kata Jero Wacik di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan, permintaan maaf terkait penggunaan Tari Pendet dalam iklan promo pariwisata di televisi pada program Discovery Channel berjudul Enigmatic Malaysia tanpa seizin resmi pemerintah Indonesia memang baru disampaikan secara lisan.

Namun, Jero menegaskan, pihaknya masih menunggu jawaban resmi dari Pemerintah Malaysia atas surat nota protes yang disampaikan kemarin.

“Kami masih tetap menanti jawaban resmi dari pemerintah Malaysia,” katanya.

Menteri memperkirakan surat nota protes soal Pendet sudah diterima Pemerintah Malaysia per hari ini sehingga diharapkan pekan depan sudah ada jawaban resmi.

Dalam pembicaraan lisan melalui sambungan telepon internasional, Jero menjelaskan, Pemerintah Malaysia mengatakan, iklan wisata bermuatan Tari Pendet bukan dibuat oleh Pemerintah Malaysia melainkan pihak swasta; sebuah rumah produksi.

“Rumah produksi yang membuat iklan itu juga sudah mengirimkan e-mail untuk meminta maaf pada Pemerintah Indonesia melalui saya,” katanya.

Namun, Jero menegaskan permintaan maaf hendaknya disampaikan secara resmi dan bukan melalui e-mail.

“Saya tetap masih menunggu jawaban resmi nota protes yang saya kirim,” katanya.

Pada kesempatan itu, ia juga menyampaikan terima kasih kepada pers yang telah menaruh perhatian besar soal produk budaya Indonesia khususnya Tari Pendet.

Menurut dia, maraknya media mempublikasikan isu klaim Tari Pendet oleh Malaysia menunjukkan kecintaan pers terhadap pariwisata dan budaya Indonesia.

“Terima kasih rekan wartawan, dua pekan ini saya juga jadi beken,” demikian Jero Wacik. (*)

COPYRIGHT © 2009

Malaysia Perangi Indonesia Melalui Pengeboman di Mega-Kuningan?

Posted on Updated on

Orang-orang awam ikut bersuara menanggapi kasus bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton, Mega-Kuningan, Jakarta, 17 Juli 2009. Diantara mereka berembus berbagai prasangka buruk mengenai siapakah pihak yang melakukan teror tersebut. Ada yang menuding Islam, ada yang menuding lawan politik SBY dalam Pilpres 2009, ada pula yang menuding pihak Malaysia berada di balik peristiwa teror tersebut.

Mereka yang menuding Malaysia itu beralasan bahwa pihak Malaysia diuntungkan oleh kasus ini. Salah satu “bukti” nyata adalah batalnya Manchester United bermain di Indonesia pada 20 Juli 2009, tetapi bermain lagi di Malaysia. Juga dipakai alasan ialah bahwa tokoh utama yang meneror Indonesia, yaitu Dr Azahari (kini sudah meninggal dunia) dan Noordin M Top (kini masih buron), keduanya merupakan warga negara Malaysia.

Namun sebagaimana prasangka buruk orang awam pada umumnya, dugaan mereka sangat lemah dan tidak didukung dengan bukti yang kuat. Memang, pihak Malaysia “diuntungkan” oleh kasus ini, tetapi “keuntungannya” relatif sedikit. Yang lebih “diuntungkan” ialah orang Indonesia sendiri, yaitu orang-orang media massa (termasuk kita para bloger), sejumlah tokoh Indonesia yang dijadikan narasumber, sejumlah orang Indonesia yang mencari popularitas terkait peristiwa tersebut, bahkan juga kalangan medis dan militer Indonesia. Malah kaum minoritas nonmuslim juga ikut “diuntungkan” karena dalam kasus ini, nama baik “Islam” tercemar lagi. Nah! Apakah semua orang yang “diuntungkan” ini merupakan orang-orang yang mendukung atau bahkan menjadi pihak yang melakukan teror bom tersebut?

Alasan kewarganegaraan juga sulit diterima. Meskipun kedua tokoh yang dianggap teroris tersebut warga negara Malaysia, keduanya menjadi buron pula di Malaysia. Lagipula, para teroris itu terdiri dari warga-warga berbagai negara, termasuk Indonesia. Apakah Pemerintah Indonesia tergolong teroris yang meneror rakyatnya?

Qul khayran aw liyasmut. Katakanlah yang baik-baik atau [lebih baik] diam! Sesungguhnya sebagian [besar] dari prasangka itu dosa….

Blogger Malaysia Tuduh Blogger Indonesia Lancarkan Propaganda Kebencian kepada Malaysia

Posted on Updated on

Siang ini aku agak dikejutkan dengan sebuah postingan yang judulnya sama dengan postinganku kemarin, “Manohara Perlihatkan Payudaranya Tersayat Berbentuk Zig-Zag“. Biasanya, postingan berjudul sama itu merupakan copy-paste secara menyeluruh atau hampir menyeluruh. Namun rupanya, postingan tersebut hanya meniru judulnya. Yang memposting ialah seorang Malaysia. Dalam versi Malaysia ini, dikatakan bahwa media dan blogger Indonesia melancarkan propaganda kebencian kepada Malaysia.

Pada akhir postingan tersebut, sebenarnya sang blogger Malaysia mengajukan saran yang bagus sekali:

Seperti kata Ketua Pemuda Pas, Ust Nasaruddin Tantawi, isu ini perlu segera diselesaikan agar tidak menjadi panjang seperti kes Altantuya hingga burukkan imej negara keseluruhannya.

Kami sangat mendukung saran tersebut. Hanya saja, aku merasa kurang sreg dengan paragraf pertama dari sang blogger Malaysia tersebut:

Tajuk diatas bukan ciptaan saya, tapi ianya diambil terus dari blogger Indonesia, M Shodiq. Mungkin isu ini dianggap remeh di Malaysia, tetapi ianya jadi bahan propaganda dikalangan Media dan blogger Indonesia bagi menunjukkan kebencian kepada Malaysia.

Aku tidak tahu apakah ada banyak media & blogger Indonesia yang berpropaganda “menunjukkan kebencian kepada Malaysia”. Aku hanya berharap bahwa sebelum menuduh blog shodiq.com seperti itu, sang penuduh hendaklah memperhatikan fakta-fakta seperti berikut ini:

Malaysia juga protes karena TNI pun pernah melanggar perbatasan

Posted on

Malaysia memahami protes Pemerintah dan rakyat Indonesia mengenai pelanggaran kapal perang Malaysia terhadap wilayah Indonesia. Tetapi, Malaysia juga menyampaikan nota protes kepada Pemerintah RI karena Tentara Nasional Indonesia (TNI) pernah melakukan pelanggaran perbatasan sebanyak 13 kali. Ini dia berita selengkapnya:

07 Juni 2009 | 16:31 wib | Nasional

Malaysia Tidak Akan Berperang Dengan Indonesia

Jakarta, CyberNews. Menteri Pertahanan Malaysia, Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi, di Kompleks Pusat Pemerintahan Ibukota Malaysia, ‘Putrajaya’, menyatakan kepada delegasi Parlemen Indonesia, pihaknya tidak akan berperang dengan Republik Indonesia.

“Kita tidak akan berperang dengan Indonesia. Ya, pakaian tentara Diraja Malaysia itu (pakai) produk ‘Sritex” Indonesia. Bagaimana kita perang,” kata anggota Komisi I DPR RI, Effendy Choirie, Minggu pagi, mengutip pernyataan langsung Menteri Pertahanan (Menhan) Malaysia itu.

Kutipan pernyataan itu disampaikan pentolan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di DPR RI melalui hubungan telefon internasional, langsung dari Kualalumpur, Malaysia.

Effendy Choirie menambahkan, pernyataan itu lahir spontan dari Menhan Malaysia, ketika dia bersama rekannya sesama anggota Komisi I DPR RI, Ali Mocthar Ngabalin (Fraksi Gabungan Bintang Pelopor Demokrasi) dan mantan anggota Komisi I DPR RI, Ade Daud Nasution, datang langsung menyampaikan dua hal penting kepada Pemerintah Malaysia, Sabtu tadi malam (6/6).

Menhan Keturunan Jogya
Melalui Menhan Datuk Seri Ahmad Zahid Hamidi, Effendy Choirie dkk menyampaikan protes keras atas sikap Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM) yang bertindak provokatif di wilayah perairan Republik Indonesia, khususnya di Blok Ambalat.

“Jadi yang pertama, kami menyampaikan protes kepada Pemerintah Malaysia melalui Menhan Malaysia itu, agar tidak melakukan provokasi di perbatasan perairan Blok Ambalat dengan mengoperasikan patroli-patroli militer yang melewati garis batas kedaulatan wilayah Indonesia,” ungkapnya.

Kedua, lanjutnya, secara khususnya Effency Choirie meminta kepada Menhan Malaysia yang juga sahabat lamanya itu, untuk menjadikan jabatannya sebagai sarana mempercepat penyelesaian sengketa antara dua negara serumpun ini, khususnya soal Blok Ambalat.

“Sebagai orang penting nomor tiga di Malaysia, Menhan yang keturunan Jogya ini yang baru tiga bulan menjabat posisi tersebut, kami mengajaknya untuk mari menjalin persahabatan yang lebih erat lagi. Semua masalah diselesaikan secepatnyalah,” kata Effency Choirie yang berjuluk Gus Choi ini.

Malaysia Balik Protes

Menanggapi protes dan beberapa permintaan dua anggota DPR RI itu, demikian Gus Choi, Menhan Datuk Seri Ahmad Zahid Hamidi segera memberikan tanggapan positif.

“Pertama, pihak Malaysia memahami protes Pemerintah dan rakyat Indonesia. Tetapi, dia juga menyampaikan nota protes kepada Pemerintah RI karena Tentara Nasional Indonesia (TNI) pernah melakukan pelanggaran perbatasan sebanyak 13 kali,” ungkap Gus Choi mengutip Menhan Malaysia.

Kedua, lanjutnya, Menhan Datuk Seri Ahmad Zaid Hamidi juga berjanji, selama menduduki jabatannya sekarang, akan berusaha mempercepat proses penyelesaian sengketa RI-Malaysia tersebut.

“Beliau berujar, agar ‘ukhuwah wathaniyah’ Indonesia-Malaysia harus makin dieratkan dan saling menguntungkan,” kutip Gus Choi.

Terkait Masalah Ekonomi

Menhan Datuk Seri Ahmad Zaid Hamidi melalui Gus Choi dan Ali Mocthar Ngabalin juga mengungkapkan, sesungguhnya sengketa Blok Ambalat bukan hanya soal perbatasan, tetapi masalah ekonomi.

“Inilah persoalannya. Kalau hanya perbatasan, mungkin sudah lama rampung. Tapi karena ada potensi ekonomi, maka kami harus serius, teliti dan hati-hati. Tetapi pada prinsipnya, kita harus bertetangga yang baik,” kata Menhan Malaysia lagi sebagaimana disampaikan Gus Choi lebih lanjut.

Datuk Seri Ahmad Zaid Hamidi kemudian berkelekar, demikian Gus Choi, “kita tidak akan berperang dengan Indonesia. Ya, pakaian Tentara Diraja Malaysia saja itu pakai produk ‘Sritex’ Indonesia. Bagaimana kita perang?.”

( Ant / CN13 )

Mengapa sama-sama saling melanggar? Penyebabnya antara lain sebagai berikut:

Selasa, 26/05/2009 19:05 WIB

KSAL: Kapal Malaysia Masuk Ambalat Karena Perbedaan Penafsiran

M. Rizal Maslan – detikNews

Jakarta – Kapal Malaysia kerap masuk ke kawasan Indonesia. Peristiwa ini bisa terjadi karena adanya perbedaan penafsiran mengenai peta wilayah.

“Masih terjadi perbedaan penafsiran antara Indonesia dan Malaysia di Ambalat. Peta yang digunakan berbeda,” kata Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno usai menandatangani Perjanjian Pinjam Pakai Lahan dan Bangunan Pertamina di Pangkalan Berandan, di Gedung Pertamina, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2009).

Oleh sebab itu,Tedjo mendorong agar Departemen Luar Negeri sebagai penjuru perundingan perbatasan untuk mengintensifkan pembahasan masalah tersebut.

“Masalah harus segara diselesaikan, karena aparat di lapangan yang sering bergesekan. Masing-masing militer mendapat tugas untuk mengamankan wilayah. Padahal, secara personal antar petinggi Angkatan Laut berhubungan baik,” jelasnya.

Tedjo pun mengatakan, di Ambalat sendiri pihaknya telah menurunkan enam buah kapal perang secara bergiliran. Kapal ini berpatroli dengan kerjasama dengan Kesatuan Patroli Laut dan Pantai, Departemen Kelautan dan Perikanan, serta Polri ikut membantu mengawasi gerak-gerik armada Malaysia.

“Belum ada bentrokan. Mereka selalu mau saat diusir keluar,” ungkapnya.

(zal/ndr)

Malaysia Tidak Merasa Bersalah Atas Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga Manohara

Posted on Updated on

Kasus Manohara Odelia Pinot tampaknya benar-benar mencoreng wajah Malaysia di depan publik Indonesia. (Lihat “Berita+Video Eksklusif: Pengakuan Terbaru Manohara Odelia Pinot“) Wajar kiranya bila pihak Malaysia mengajukan pembelaan diri. Demi keadilan, berita-berita mengenai pembelaan kubu Malaysia itu kami tampilkan pula di sini.

Hasil Pencarian :

Tanggapan Pemerintah Malaysia Atas Tuduhan Manohara Terhadap Fakhry

Manohara Odelia Pinot telah berhasil kembali ke Indonesia. Kepada pers Indonesia, wanita cantik itu membeberkan kekerasan fisik dan psikis yang dilakukan suaminya, Pangeran Kelantan Tengku Temenggong Mohammad Fakhry. Sejauh ini belum ada tanggapan dari pihak kesultanan Kelantan mengenai tuduhan yang dilontarkan Mano. Namun pemerintah Malaysia telah memberikan tanggapan atas kasus ini.

Blogger Malaysia Tuduh Manohara Fitnah Fakhry

Drama Manohara Odelia Pinot, mantan model yang mengaku dianiaya suaminya, Pangeran Kesultanan Kelantan memasuki babak baru. Setelah berhasil kabur ke Jakarta, Mano pun membeberkan perlakuan suaminya, Tengku Muhammad Fakhry yang sungguh kejam terhadap dirinya. Namun semua pernyataan Manohara dibantah blogger Malaysia lewat blog toughlane.blogspot.com, Senin (1/6/2009). Sejak kasus Mano mencuat, blog yang aktif sejak April 2009 itu memang terus meng-counter semua pemberitaan miring yang menyalahkan Fakhry dan Kelantan.

Kubu Kelantan: Manohara Itu Seperti Diberi Susu Dibalas Air Tuba

Nama Manohara Odelia Pinot kembali menjadi perbincangan setelah berhasil kabur dari suaminya, Tengku Muhammad Fakhry. Mantan model itu pun membeberkan perlakuan buruk yang diterimanya selama tinggal di istana Kesultanan Kelantan. Apa tanggapan kubu Kelantan soal pengakuan perempuan yang akrab disapa Mano itu? “Tidak percaya sama sekali,” kata Mohd Soberi Shafii, rekan dekat putra Sultan Kelantan Pangeran Tengku M Fakhry.

Kubu Kelantan Minta Mano Visum di Luar Negeri

Kubu Kesultanan Kelantan tidak setuju bila Manohara Odelia Pinot melakukan visum atas kekerasan yang dialaminya di rumah sakit Indonesia. Kelantan meminta visum istri putra Sultan Kelantan itu dilakukan di luar negeri. Alasannya biar netral. “Paling bagus ke dokter yang netral, bisa di Australia, Singapura atau London misalnya,” kata Mohd Soberi Shafii, rekan dekat putra Sultan Kelantan Pangeran Tengku M Fakhry

Kubu Kelantan: Manohara Tak Kabur Tapi Dilepas

Kubu Kesultanan Kelantan Malaysia membantah Manohara Odelia Pinot kabur ke Jakarta saat berada di Singapura. Mantan model cantik itu memang telah dilepas oleh suaminya, Tengku Muhammad Fakhry yang adalah putra Sultan Kelantan. “Tidak kabur, karena dari awal kalau dia memang ingin pulang pasti kita kasih,” kata Mohd Soberi Shafii, rekan dekat putra Sultan Kelantan Pangeran Tengku M Fakhry.

3 Foto HOT Penampilan Julia Perez di Depan Raja-Raja Malaysia

Posted on Updated on

Julia Perez Berbaju Muslim
detikHOT, Selasa, 26/05/2009 19:00 WIB
Fotografer : Pool

Aktris dan penyanyi Julia Perez berpakaian lain dari biasanya. Jupe memakai busana muslim plus penutup kepala saat tampil dalam fashion show di depan raja-raja Malaysia.

Mengapa Indonesia Sukses Perangi Terorisme

Posted on Updated on

Dari browsing malam ini, aku temukan informasi menarik mengenai mengapa Indonesia berhasil memerangi terorisme. Di satu sisi, pemerintah kini (di era reformasi) menggunakan cara “moderat” dalam menghadapi terorisme. Di sisi lain, para radikalis pun kini leluasa menggunakan cara yang “moderat” pula dalam memperjuangkan ideologi mereka. Cara moderat yang bagaimanakah yang digunakan itu? Berikut ini laporan mendalam dari BBC Indonesia:

Dua negara perangi ekstrimisme

Foto pembom
Indonesia meraih simpati dengan menegakkan hukum

Sama-sama menghadapi persoalan ekstremisme, Indonesia dan Pakistan dinilai mendapatkan hasil yang sangat berbeda setelah melancarkan upaya penanggulangan masing-masing.

Dalam edisi khusus Newshour BBC, mantan tokoh kelompok militan, pejabat dan pengamat melihat akar masalah dan penanganan ekstrimisme di kedua negara.

Perbedaan pendekatan yang ditempuh di kedua negara saat menanggulangi ekstrimisme juga menyebabkan perbedaan keberhasilan di Pakistan dan Indonesia.

Sampai dengan tahun ini, aparat di Indonesia sedikitnya telah menangkap 300 tersangka pelaku aksi teror, berasal dari kelompok ekstremis, di Indonesia.

Dua pertiga di antaranya sudah dijatuhi hukuman dari beberapa tahun penjara hingga eksekusi mati. Sisanya masih menunggu proses peradilan tetap.

Adapula, seperti gembong aksi teror asal Malaysia Dr Azahari, yang tewas dalam ledakan saat dikepung polisi di Malang Jawa Timur tahun 2005.

Tiga yang paling banyak diberitakan, adalah bagian dari kelompok pelaku bom Bali yaitu Amrozi, Imam samudra dan Muklas, dieksekusi akhir tahun lalu.

Meski sebelumnya banyak kritik meragukan kemampuan aparat dan kesungguhan pemerintah Indonesia, rangkaian aksi penangkapan dan pengadilan terhadap pelaku terorisme ini membuat Indonesia dianggap cukup berhasil memerangi terorisme.

Ini pujian yang cukup langka, karena Indonesia Indonesia lebih sering dihubungkan dengan lemahnya upaya penegakan hukum.

Faktor konflik

Menurut Internasional Crisis Group, keberhasilan Indonesia mengatasi ekstremisme terutama berasal dari penyelesaian konflik antara agama di Maluku dan Poso.

Konflik Maluku dan Poso berlangsung antara 1999-2002 dan telah menjadi alasan sejumlah orang untuk bergabung dengan gerakan ekstremisme, atas nama agama.

Dua konflik itu – Ambon dan Poso – menjadi motor utama untuk proses radikalisasi dan rekrutmen ekstremis baru
Sidney Jones

“Dua konflik itu menjadi motor utama untuk proses radikalisasi dan rekrutmen ekstremis baru,’ kata Sidney Jones, penasehat senior ICG untuk kawasan Asia.

ICG menggaris bawahi, Indonesia dianggap berhasil karena dalam upaya menumpas ekstremisme, dipakai pendekatan hukum dan penghargaan kemanusiaan bahkan terhadap pelaku ekstremisme.

“Pertama, mereka dengan segera diadili dalam sidang terbuka. Kedua, divonis dengan akses penuh pada keluarga dan pengacara dan ketiga, dibebaskan kalau periode hukuman sudah selesai.” kata Sidney.

Ini sangat berbeda dengan penanganan pelaku ekstremisme di Mesir misalnya, tambah Sidney, dimana siksaan dan kondisi tahanan di penjara mendorong yg ditahan menjadi lebih radikal lagi.

Perlakuan mengagetkan

Nasir Abas mengakui bagaimana perlakuan aparat di Indonesia telah mengubah jalan hidupnya.

Nasir adalah warga Malaysia pengikut kelompok Jamaah Islamiyah, jaringan ekstremisme paling radikal di Asia dalam sepuluh tahun terakhir, yang pernah menduduki salah satu jabatan puncak sebagai Ketua Mantiqi III JI untuk wilayah meliputi sebagian Malaysia, Indonesia Timur, hingga Mindanao di Filipina Selatan.

Pimpinan JI sebagian dilatih di kam Taliban Afganistan

Nasir pernah berlatih militer di kam milik pejuang Taliban di perbatasan Afghanistan-Pakistan dari tahun 1987 hingga 1992, bersama sejumlah orang yang kemudian menjabat sebagai pucuk pimpinan JI.

Waktu Nasir ditangkap pada tahun 2003, seorang aparat polisi beragama kristen menjadi perwira yang menyelidiki keterlibatannya dalam jaringan JI.

Polisi itu menurut Nasir sangat mengagetkan dirinya, karena tidak pernah memperlakukan dirinya sebagaimana layaknya seorang teroris dengan kekerasan, perlakuan yang sebelumnya dianggap anggota JI merupakan standar aparat jika mereka tertangkap.

“Tidak pernah satu hari pun saya dengar kata-kata kasar atau kotor. Sangat sopan. Tidak menyalahkan umat muslim atau ajaran Islam. Saya mulai bertanya, jangan-jangan ada yang salah dalam apa yang saya percayai,” kata Nasir.

“Akibat perlakuan itu, saya mengubah cara pandang bukan dengan jalan paksaaan atau doktrin tetapi dengan suka rela.”

Nasir kemudian benar-benar memperbarui kepercayaannya dengan bekerja untuk aparat, melacak jaringan JI lainnya dan mengungkap pelaku berbagai aksi kekerasan di Indonesia.

Polisi berhasil menjaring ratusan pelaku teror, sebagian besar berasal dari organisasi radikal dan ekstrem yang terjun ke daerah konflik di Poso, Sulawesi Tengah serta Ambon Maluku.

Pengalaman ini sangat berbeda dengan Pakistan.

Koresponden koran The New York Times di Islamabad Jane Perlez kepada BBC mengatakan pengalaman berurusan dengan polisi biasanya berakhir dengan menjadi korban.

“Dalam insiden di tengah peperangan di Swat 10 hari lalu seorang laki-laki – benar-benar warga biasa yang tidak bersalah – ditembak tentara. Kemudian 25 pegawainya – pembantu, pekerja ladang – ditangkap dan dipukuli berhari-hari.”

Membandingkan Pakistan

Baik Indonesia maupun Pakistan, kini memegang rekor sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia.

Indonesia, dengan 230 juta penduduk, 90 persen di antaranya diperkirakan memeluk Islam. Sementara Pakistan memiliki 160 juta warga, hampir seluruhnya adalah pemeluk Islam.

Kondisi Pakistan-Indonesia terkait munculnya ekstremisme berbeda

Sidney Jones mengatakan, situasi kedua negara menyangkut upaya memerangi ekstrimisme tidak bisa dibandingkan begitu saja.

“Pertama karena di Indonesia tidak ada peperangan besar yang sedang berlangsung. Kemudian upaya melawan ekstremisme juga lebih berbentuk penegakan hukum, bukan upaya militer besar-besaran.”

“Sementara Indonesia juga tidak terancam oleh masuknya militan dari negara lain,” tambah Sidney.

Dalam kasus Pakistan, sumber pasukan Taliban justru berasal dari luar, yakni Afghanistan.

Namun menurut Perlez, situasi Pakistan juga jauh tidak menguntungkan dibanding Indonesia.

“Pakistan dikuasai oleh beberapa keluarga feodal dimana reformasi pertanahan tidak terjadi. Juga ada proses islamisasi. Ini merupakan dua hal yang sangat meracuni Pakistan.”

Militer Pakistan sekarang tengah berupaya keras menumpas militan dari Lembah Swat yang sudah dikuasai Taliban sejak beberapa bulan terakhir.

Perang besar menurut PBB telah memaksa sekitar dua juta warga setempat untuk mengungsi.

Mereka menembak, memenggal, menculik anak-anak. Bahkan anak laki-laki, tidak tahu untuk apa. Katanya untuk tebusan, mungkin juga untuk dijadikan pengikut
Pengungsi dari Swat

Koresponden BBC di Pakistan Owen Benneth Jones mengatakan sikap publik terhadap Taliban berubah drastis di Pakistan beberapa pekan terakhir.

Saat Jones mengikuti rangkain pengungsi yang mencoba menyelamatkan diri keluar dari Swat menuju Peshawar, mereka mengutarakan kemarahan pada Taliban.

“Mereka menembak, memenggal, menculik anak-anak. Bahkan anak laki-laki, tidak tahu untuk apa. Katanya untuk tebusan, mungkin juga untuk dijadikan pengikut,” kata seorang pengungsi.

Pengungsi lain mengaku telah mengubur jenazah 18 orang korban kekejaman Taliban.

Upaya Pakistan memerangi militan di negeri itu dan dari Afghanistan, terutama dimotori oleh bantuan dana besar dari Amerika Serikat. Sejak serangan 9/11, bantuan AS kepada negara itu diperkirakan sedikitnya mencapai US$12 miliar.

Pengalaman Indonesia

Sejak aksi pemboman Bali kedua, 2005, Indonesia relatif lebih aman dari aksi kelompok ekstremisme.

Menurut mantan petinggi JI Nasir Abas, ini terjadi antara lain akibat ramainya upaya berbagai pihak untuk mendidik masyarakat untuk memhami isu pluraisme.

“Jadi bukan cuma kerja polisi saja. Saya lihat banyak seminar, mencoba mengajak muslim awam untuk bicara tentang isu radikal, juga moderat.”

“Memang harus melibatkan juga warga kebanyakan, bukan hanya menyentuh para pelakunya,” kata Nasir.

Yang mungkin menarik, perkembangan ini diikuti dengan arus kebebasan berekspresi dan menyebarkan informasi dalam bentuk yang sebelumnya tidak terjadi.

Di sejumlah toko buku besar di Jakarta misalnya, sangat mudah ditemui buku-buku tentang para pelaku ekstremisme. Beberapa yang terbaru diterbitkan oleh kelompok Ar-Rahman, yang menurut ICG terkait dengan kelompok JI.

Tiga buku terbaru disebuah toko buku kawasan Kwitang Jakarta Pusat, memuat wajah para pelaku bom Bali yang telah dieksekusi sebagai sampul buku.

Foto ketiga pelaku, yakni Imam Samudra, Muklas dan Amrozi, pasca eksekusi juga dimuat dihalaman belakang, dengan kalimat yang menyatakan mereka sebagai ‘syahid’ atau martir.

Buku tentang pelaku bom bali dijual bebas

Manajer toko buku Walisongo Joko Hartono mengatakan, buku-buku serupa biasa dijual disana.

“Selama tidak ada larangan dari aparat atau Departemen Agama, kami bisa menjual bebas buku-buku seperti ini.”

Menurut Sidney Jones, ini perkembangan yang relatif positif karena kelompok ekstremis nampaknya mengalihkan upaya mereka dari garis perjuangan dengan kekerasan bawah tanah, menjadi operasi penyebaran informasi yang lebih terbuka.

Meski mengakui ancaman munculnya kembali jaringan JI dan kelompok ekstremisme masih ada, Sidney melihat upaya demokratisasi di Indonesia mulai dipakai kelompok ekstrem untuk menyalurkan aspirasi mereka lewat jalur politik.

Sementara politik di Pakistan, sejauh ini menurut Jane Perlez masih dikuasi segelintir keluarga feodal.

“Siapapun pemenang dalam pemilu di Pakistan pada akhirnya akan menggunakan posisi politiknya untuk keuntungannya sendiri baik secara politis maupun ekonomi. Mereka juga membiarkan hidup rakyat menderita.”

Pelajaran berharga

Membandingkan pengalaman Indonesia dan Pakistan, menurut Menteri Pertahanan Indonesia Juwono Sudarsono, harus dilakukan dengan sangat berhati-hati.

Setelah Irak, Afghanistan adalah fokus AS berikutnya

Kalau ada yang bisa dijadikan contoh, menurut Juwono, adalah bagaimana aparat di Indonesia berupaya keras menolak campur tangan berbagai pihak.

“Apa yang terjadi pada 2002-2005 adalah menolak keras tekanan dari berbagai negara asing termasuk AS, Inggris, Australia dan Singapura. “Mereka menginginkan hasil yang cepat dari polisi Indonesia.”

Juwono juga menekankan “Lebih baik gagal pada mulanya, tapi berhasil dalam jangka panjang. Daripada menuntaskan dalam waktu singkat hanya karena tekanan pihak asing.”

Upaya memerangi ekstremisme di Pakistan sejauh ini masih sangat tergantung pada peran pemerintah AS.

Dibawah kepemimpinan Presiden Barack Obama, setelah rencana penarikan mundur pasukan dari Irak, AS menjadikan Afghanistan dan Taliban sebagai fokus militernya di luar negeri.

Heboh! Paket berisi mayat!!

Posted on

Paket Berisi Mayat di Mataram
Rabu, 22 April 2009 | 13:33 WIB

MATARAM, KOMPAS.com — Pengiriman paket berisi mayat TKI tidak menyurutkan minat calon TKI asal NTB untuk mencari nafkah ke luar negeri. “Bahkan, pengiriman mayat TKI asal NTB baik dari Malaysia maupun Arab Saudi kini dinilai sebagai suatu hal yang biasa-biasa saja, bahkan hampir sama dengan paket barang,” kata Wakil Ketua Komisi IV DPRD NTB TGH Abdul Hamid Faisal di Mataram, Rabu.

Setiap bulan hampir ada saja paket mayat, namun calon TKI tetap menumpuk di Kantor Pelayanan Satu Atap, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB. Kantor Pelayanan Satu Atap terletak di Jalan Udaya Mataram, yakni jalur menuju Bandara Selaparang Mataram, sehingga setiap orang yang sedang melintas di depannya bisa menyaksikan ratusan calon TKI yang akan mengurus berbagai kelengkapan termasuk paspor.

Munahar (45) salah seorang calon TKI mengatakan, tujuan ke luar negeri adalah semata-mata untuk mencari nafkah. “Masalah mati atau umur itu urusan Allah, jangankan berpergian ke luar negeri, orang yang duduk-duduk saja di rumah jika ajalnya telah datang dia akan mati,” katanya.

“Dalam agama dijelaskan, jika seseorang meninggal dalam perjalanan musafir dengan tujuan baik, termasuk mencari nafkah ke luar negeri, maka meninggalnya dalam keadaan syahid,” katanya.

Abdul Hamid menjelaskan, pengiriman paket mayat untuk pertama kali beberapa tahun lalu cukup mengebohkan, bahkan sampai dibicarakan di DPRD NTB. Akhir tahun 2008 ada dua paket mayat dari Malaysia di Bandara Selaparang Mataram dan disambut ahli waris.

Begitu mayat Mahmud (33) dari Masbagik Timur dan Malik (32) dari Montong Baan, Lombok Timur, tiba, tidak ada yang ribut-ribut, mayat tersebut langsung dinaikkan kendaraan dan dibawa pulang ke kampung halamannya.

Dengan adanya paket mayat tersebut, maka yang paling bertanggung jawab adalah PJTKI yang mengirim dan yang penting harus diurus uang asuransinya. “Tetapi kalau TKI yang kini sudah meninggal dulu berangkat melalui jalur resmi tentu akan mendapat uang suransi, tetapi kalau tidak maka dia tidak akan mendapat apa-apa,” katanya.