Muhammadiyah

Tokoh Muhammadiyah ikut tahlilan Gus Dur

Posted on Updated on

tahlilan
tahlilan

Selama puluhan tahun, Muhammadiyah dikenal sebagai anti tahlilan dalam memperingati wafatnya seseorang. Namun gambaran ini agaknya mulai pudar. Di sejumlah daerah, khususnya di daerahku di Jawa Tengah, tokoh-tokoh Muhammadiyah tak sungkan-sungkan melakukan tahlilan.

Aku sendiri jarang ikut tahlilan. Kalau pun ikut, niatku mungkin agak berbeda dengan hadirin. Karena yakin bahwa kita takkan bisa mengirim pahala, aku “cuma” mendoakan saja, yang jelas-jelas ada tuntunannya dari Allah dan rasul-Nya.

Gus Dur Mampu Eratkan Hubungan Nu-Muhammadiyah

Selasa, 5 Januari 2010 23:24 WIB

Semarang (ANTARA News) – Mendiang KH. Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur dinilai menjadi sosok yang mampu mempererat hubungan Nahdlatul Ulama (NU) dengan Muhammadiyah, dua organisasi massa Islam yang selama ini dikenal sering berbeda pandangan.

“Gus Dur mampu menjalin hubungan baik dengan siapa pun, termasuk tokoh-tokoh Muhammadiyah,” kata Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jateng, Ibnu Djarir usai pembacaan Yasin dan Tahlil memeringati tujuh hari wafatnya Gus Dur di Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang, Selasa malam.

Menurut dia, meskipun sering berbeda pendapat, hubungan pribadi antara Gus Dur dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah tetap berlangsung baik, karena Gus Dur memiliki jiwa yang lentur, sehingga hubungan NU dengan Muhammadiyah juga berlangsung baik.

“Bahkan, seorang profesor dari Jepang pernah mengatakan, umat Islam di Indonesia tidak dapat bersatu, apabila NU dan Muhammadiyah tidak bisa bersatu,” katanya.

Ia mengatakan, pemikiran cucu KH. Hasyim Asy`ari tersebut juga tidak diragukan lagi, mengingat keberanian Gus Dur dalam menyampaikan pemikirannya meskipun melawan arus, sehingga sering dianggap kontroversial.

“Karena itu pula, wajar apabila sosok Gus Dur tidak hanya dikenal sebagai pemikir Islam tingkat nasional, namun diakui pula sebagai pemikir Islam di kancah internasional,” kata Djarir.

Sementara itu, mantan Gubernur Jateng, Ali Mufidz mengatakan, Gus Dur merupakan sosok guru bangsa yang tidak pernah bersikap menggurui, terutama dalam menyampaikan kritikannya kepada pihak lain.

“Saya pernah dikritik oleh Gus Dur bahwa sebenarnya saya itu pintar, cuma kurang kritis. Saya menganggap itu sebagai sebuah kritikan yang tidak menggurui,” katanya.

Menurut Ali, Gus Dur juga pernah menyampaikan dalam sebuah ceramah di hadapan mahasiswa di Semarang sekitar tahun 1975, yang intinya mengajak para pemuda berpikir kembali tentang kondisi manusia saat itu.

“Gus Dur mengatakan, apa yang tidak diatur oleh agama Islam, masuk masjid diatur kaki mana yang harus melangkah lebih dulu, bahkan sampai masuk ke toilet pun seperti itu, lalu di manakah letak otonomi manusia,” katanya.

Ia mengatakan, Gus Dur saat itu ingin mengajak manusia untuk memikirkan dua substansi, yakni akidah dan syariah, serta meminta manusia untuk benar-benar memahaminya secara cerdas, tidak hanya ikut-ikutan.

KH. Ubaidillah Shodaqoh dalam kesempatan yang sama juga menilai, Gus Dur memiliki dua kelebihan yang membuatnya dicintai banyak kalangan, pertama Gus Dur rela dengan takdir Allah SWT yang menjadikan dunia dengan beraneka ragam perbedaan.

“Kedua, Gus Dur dapat menerima siapa pun, termasuk orang yang salah dan segala kritikan yang ditujukan kepadanya, karena itu dia dapat diterima siapa saja dan di mana saja,” katanya.

Dalam kesempatan itu, pembacaan surat Yasin dipimpin oleh KH. Ahmad Toha, sedangkan pembacaan tahlil dipimpin oleh KH. Hanif Ismail Lc, dan dihadiri oeh ratusan jemaah yang memanjatkan doa untuk Presiden keempat RI tersebut.(*)

Tuntunan Shalat Tarawih

Posted on Updated on

  1. Pengertian Qiyamul-Lail (Shalat Tarawih)

Qiyamul-Lail (Shalat Tarawih) ialah shalat sunnat malam pada bulan Ramadhan.

  1. Waktu Qiyamul-Lail (Shalat Tarawih)

Adapun waktunya ialah sesudah shalat ‘Isya hingga fajar (sebelum dating waktu Shubuh), sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad saw:

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ وَهِيَ الَّتِي يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً. [رواه مسلم].

Artinya: “Dari ‘Aisyah r.a. isteri Nabi saw (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah saw selalu mengerjakan shalat (malam) pada waktu antara selesai shalat ‘Isya, yang disebut orang “‘atamah” hingga fajar, sebanyak sebelas rakaat.” [HR. Muslim].

  1. Pelaksanaan Qiyamul-Lail (Shalat Tarawih)
    1. Qiyamul-Lail (Shalat Tarawih) sebaiknya dikerjakan secara berjama‘ah, baik di masjid, mushalla, ataupun di rumah, dan dapat pula dikerjakan sendiri-sendiri. Apabila dikerjakan secara berjama‘ah, maka harus diatur dengan baik dan teratur, sehingga menimbulkan rasa khusyu‘ dan tenang serta khidmat; shaf laki-laki dewasa di bagian depan, anak-anak dibelakangnya, kemudian wanita di shaf paling belakang. Kalau perlu dapat diberi tabir, untuk menghindari saling memandang antara laki-laki dan wanita. Dasarnya adalah:

1)        Hadits Nabi Muhammad saw:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ … [رواه البخاري].

Artinya: “Dari ‘Abdir-Rahman bin ‘Abdil-Qari, (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Saya keluar bersama Umar ibnul-Khathab r.a. di suatu malam pada bulan Ramadhan ke masjid, ketika itu manusia berkelompok-kelompok terpisah-pisah, ada seorang laki-laki yang mengerjakan shalat sendirian, ada pula seorang laki-laki yang sedang melakukan shalat kemudian sekelompok orang mengikuti shalatnya, lalu berkatalah Umar: Seandainya saya kumpulkan mereka untuk mengikuti satu adalah lebih utama. Kemudian setelah memantapkan niatnya, ia mengumpulkan mereka agar mengikuti Ubay bin Ka‘ab (sebagai imamnya). Kemudian saya keluar bersama Umar pada malam yang lain, dan manusia sedang mengerjakan shalat mengikuti shalat imam mereka. Lalu berkatalah Umar: Alangkah baik bid‘ah ini …” [HR. Al-Bukhariy].

2)      Hadits Nabi Muhammad saw:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ صَلَّيْتُ أَنَا وَيَتِيمٌ فِي بَيْتِنَا خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمِّي أُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا. [رواه البخاري].

Artinya: “Dari Anas ibn Malik r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Saya mendirikan shalat di rumah saya bersama anak yatim di belakang Nabi saw, sedang ibuku, Ummu Sulaim di belakang kami.” [HR. Al-Bukhari].

  1. Qiyamul-Lail (Shalat Tarawih) dikerjakan dengan 4 raka‘at, 4 raka‘at tanpa tasyahud awal, dan 3 raka‘at witir tanpa tasyahud awal, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad saw:

عَنْ عَائِشَةَ حِيْنَ سُئِلَتْ عَنْ صَلاَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ قَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثاً [رواه البخاري ومسلم].

Artinya: “Dari ‘Aisyah (diriwayatkan bahwa) ketika ia ditanya mengenai shalat Rasulullah saw di bulan Ramadan. Aisyah menjawab: Nabi saw tidak pernah melakukan shalat sunnat di bulan Ramadan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana bagus dan indahnya. kemudian beliau shalat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

  1. Sebelum mengerjakan Qiyamul-Lail, disunnatkan mengerjakan shalat sunat dua raka‘at ringan (Shalat Iftitah), sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad saw:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنْ اللَّيْلِ فَلْيَفْتَتِحْ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ. [رواه مسلم وأحمد وأبو داود].

Artinya: “Dari Abu Hurairah dari Nabi saw, (diriwayatkan bahwa) beliau bersabda: Jika salah satu di antara kamu mengerjakan qiyamul-lail, hendaklah ia membuka (mengerjakan) shalatnya dengan shalat dua rakaat ringan.” [HR. Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud].

  1. Bacaan surat yang [disunnatkan] dibaca setelah membaca Al-Fatihah pada 3 raka‘at shalat witir, menurut Rasulullah saw adalah sebagai berikut: Pada raka‘at pertama membaca surat Al-A‘la, pada raka‘at kedua membaca surat Al-Kafirun, dan pada raka‘at ketiga membaca surat Al-Ikhlash. Dalam hadits Nabi disebutkan sebagai berikut:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَةِ اْلأُولَى مِنْ الْوِتْرِ بِسَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ اْلأَعْلَى وَفِي الثَّانِيَةِ بِقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَفِي الثَّالِثَةِ بِقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. [رواه النسائى والترمذى وابن ماجه].

Artinya: “Dari Ubay bin Ka‘ab (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Bahwa Nabi saw pada shalat witir pada rakaat yang pertama selalu membaca Sabbihisma Rabbikal-A‘laa, dan pada rakaat yang kedua membaca Qul Yaa Ayyuhal-Kaafiruun, dan pada rakaat yang ketiga membaca Qul Huwallaahu Ahad.” [HR. An-Nasa’i, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah].

  1. Setelah selesai 3 raka‘at shalat witir, disunatkan membaca doa dengan suara nyaring:

سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلقُدُّوسِ.

Artinya: “Maha Suci Allah Yang Maha Merajai dan Yang Maha Bersih.”

Dibaca tiga kali, dan membaca:

رَبُّ اْلمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ.

Artinya: “Yang Menguasai para Malaikat dan Ruh/Jibril.”

Berdasarkan hadis:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ الله  صلى الله عليه وسلم  إِذِا سَلَّمَ فِيْ اْلوِتْرِ قَالَ سُبْحَانَ اْلمَلِكِ    اْلقُدُّوْسِ [رواه أبو داود].

Artinya: “Dari Ubayy Ibnu Ka‘ab (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Adalah Rasulullah saw membaca Sub¥±nal-Malikil-Qudd­s [Maha Suci Allah Yang Maha Merajai dan Yang Maha Bersih]” [HR Ab­ D±w­d].

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم يُوْتِرُ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلأَعْلَى وَقُلْ يَا أَيُّهَا اْلكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ الله أَحَدٌ وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلقُدُّوْسِ ثَلاَثَ مَرَاتٍ وَمَدَّ بِاْلأَخِيْرَةِ صَوْتَهُ وَيَقُوْلُ رَبِّ اْلمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ [رواه الطبراني في المعدم الأوسط] .

Artinya: “Dari Ubayy Ibnu Ka‘ab (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Adalah Rasulullah saw melakukan witir dengan membaca Sabbihis—marabbikal-a‘l±, qul y± ayyuhal-k±fir­n dan qul huwall±hu a¥±d; dan apabila selesai salam ia membaca Sub¥±nal-Malikil-Qudd­s [Maha Suci Allah Yang Maha Merajai dan Yang Maha Bersih] tiga kali dan menyaringkan suaranya dengan yang ketiga, serta mengucapkan rabbul-mal±’ikati war-r­¥ [Tuhan Malaikat dan ruh]” [HR ath-Thabarani, di dalam al-Mu‘jam al-Ausath].

======
Sumber: http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_remository&Itemid=394&func=download&id=137&chk=9342f1d14b4575713caa6fdd300eff9c

PP Muhammadiyah: Indonesia akan alami konflik seperti di Iran gara-gara DPT Pilpres 2009

Posted on Updated on

Jika DPT Belum Beres, Din Syamsudin Minta Pilpres Ditunda
Selasa, 30/06/2009 15:02 WIB
Rachmadin Ismail – detikPemilu

Jakarta – Masalah Daftar Pemilih Tetap (DPT) dinilai belum selesai. Jika dalam batas waktu menjelang Pilpres DPT masih bermasalah ketua PP Muhammadiyah meminta Pilpres ditunda.

“Kalau seandainya masalah DPT belum selesai, saya berpendapat Pilpres ditunda saja,” ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin dalam jumpa pers di kantor PP Muhammadiyah, Jl Menteng Raya, Jakarta Pusat, Selasa (30/6/2009).

Menurut Din, jika Pilpres tetap dipaksakan, akan mencederai demokrasi. Banyak hak warga negara yang tidak bisa tersalurkan aspirasinya. Selain itu Din menilai akan muncul konflik horizontal di tangan masyarakat yang kecewa dengan sistem pemilu yang dilakukan KPU.

“Saya membayangkan konflik horizontal akan mudah terjadi seperti contohnya di Iran,” jelas Din.

Din mengungkapkan, dalam Pileg, sekitar 20 juta rakyat tidak tercantum dalam DPT. Sedangkan Komisi Pemuilihan Umum (KPU) saat ini baru mendaftarkan 5 juta orang dari jumlah total DPT tersebut.

Dalam kesempatan itu Din mengaku kecewa pada tim kampanye capres tertentu yang menyerukan Pilpres satu putaran. Menurutnya wacana seperti itu tidak perlu dilontarkan. Apalagi ada salah satu lembaga survei mendukung wacana tersebut.

“Jangan sampai ada orang KPU yang ikut menyuarakannya. Apalagi dengan alasan dana,” kata dia.

Terkait masalah DPT, Din menyarankan agar KPU segera menjemput bola. Para pemilih yang belum terdaftar harus segara didatangi dan dimasukkan dalam daftar pemilih tetap.

“Kalau itu tidak bisa dilakukan, maka buat saja aturan yang memperbolehkan dengan KTP untuk bisa memilih,” ungkapnya.

( nik / nwk )

Din Minta KPU Jangan Abaikan soal DPT
Selasa, 30 Juni 2009 | 16:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin mengingatkan KPU untuk menyelesaikan problem DPT. Pasalnya, setelah mencermati kampanye pilpres dengan segala hiruk pikuknya, ternyata KPU ataupun Departemen Dalam Negeri tidak memperlihatkan kesungguhan dalam memperbaiki DPT.

“Padahal, masalah DPT ini sangat berbahaya, dan bisa menjadi sumber konflik karena merasa ketidakadilan,” ujar Din di Dedung Pusat Dakwah Muhammadiyah di Jakarta, Selasa (30/6).

Din mengkhawatirkan, bisa muncul konflik jika DPT tidak diselesaikan. Padahal, pemilu legislatif maupun pilpres merupakan agenda politik dan demokrasi Indonesia.

“Kita berkeyakinan lewat pemilulah segala macam soal bangsa bisa diselesaikan. Pemilu diharapkan menjadi problem solving bagi masalah bangsa dan merancang masa depan,” ujarnya.

Apalagi dunia luar sedang menatap Indonesia, dengan eksperimen demokrasi yang dilakukan saat ini, banyak yang berharap-harap cemas. Indonesia, sebagai negeri Islam terbesar di dunia, sedang membuktikan bahwa demokrasinya berhasil dan menjadi negara demokrasi terbesar ketiga setelah India dan Amerika Serikat.

“Alhamdulillah, Indonesia setelah reformasi sudah menyelenggarakan tiga kali pemilu, seyogianya pemilu mendatang ada kematangan, kedewasaan, dan perbaikan dalam penyelenggaraan pemilu. Jadi, bobot demokrasi harusnya lebih tinggi,” ujarnya.

Amien Rais: Saat ini warga Muhammadiyah mulai agak “melempem”

Posted on Updated on

Amien Rais: Muhammadiyah Perlu Direkonstruksi

Minggu, 28 Juni 2009 14:25 WIB

Amien Rais: Muhammadiyah Perlu DirekonstruksiMalang (ANTARA News) – Dewan Pembina Muhammadiyah, Prof Dr Amien Rais, menyatakan pemikiran Muhammadiyah saat ini sudah waktunya untuk direkonstruksi terutama yang berkaitan dengan “Rohul Jihad”.

“Kita harus terus melakukan perbaikan melalui revisi dan rekonstruksi pemikiran sebagai antisipasi perkembangan dan tantangan-tantangan dunia ke depan termasuk jiwa `rohul jihad`-nya,” kata Amien setelah memberikan ceramah Tabligh Akbar Muhammadiyah di gedung UMM Dome Malang, Minggu.

Tantangan dunia ke depan yang harus dihadapi, kata Amien, berbeda dari beberapa tahun lalu. Sekarang lebih berat terutama yang berkaitan dengan ekologi dan ketersediaan pangan dunia dengan jumlah penduduk sekitar tujuh miliar jiwa.

Karena itu, katanya, divisi penelitian dan pengembangan (litbang) yang ada di seluruh Universitas Muhammadiyah harus melakukan kajian sedini mungkin dan hasilnya nanti bisa dipaparkan sebagai masukan dalam Muktamar Muhammadiyah tahun 2010 di Yogyakarta.

Mantan Ketua MPR RI itu mengakui, saat ini warga Muhammadiyah mulai agak “melempem” dalam hal berkorban dalam bentuk sedekah, infak dan bentuk-bentuk amal lainnya sehingga berdampak pada kelangsungan perguruan Muhammadiyah terutama Taman Siswa-nya.

Mungkin saja, katanya, kondisi tersebut merupakan dampak dari “rembesan” dari sikap global masyarakat yang cenderung mengarah pada hal-hal yang berbau materialistis sehingga amal jariah, sedekah dan infak untuk meningkatkan kualitas generasi muda Muhammadiyah tidak lagi menjadi prioritas.

Sampai saat ini, kata Amien, Muhammadiyah masih tetap kokoh, dinamis dan berkembang pesat, namun sikap warganya sudah tidak seperti dulu. Keikhlasan untuk berkorban demi kemajuan dan kemandirian Muhaamadiyah melalui amal jariah atau infak sudah cukup sulit.

Ia menegaskan, bagaimana dunia Islam bisa berkembang pesat dan Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia bisa melenggang dengan santai menuju arah kedamaian dan kemakmuran, kalau sikap masyarakat sendiri sudah menjauh dari sifat keikhlasan dan kerelaan untuk ber-infak.

“Bagaimana Muhammadiyah khususnya dan bangsa Indonesia umumnya bisa melangkah maju, kalau sifat ikhlas dan rela sudah menjauh dari kita. Padahal ada beberapa kalangan yang sengaja dipasang pihak luar untuk meredam kekuatan Islam agar tidak sampai berkembang pesat dan maju,” katanya.(*)

COPYRIGHT © 2009

Sejarah Asal-Mula Istilah “Pacaran Islami”

Posted on Updated on

Sejumlah orang, terutama yang suka browsing di internet pada tahun-tahun belakangan ini, menyangka bahwa aku adalah pencetus istilah “pacaran islami”. Persangkaan tersebut keliru. Untuk meluruskan kekeliruan tersebut, berikut ini hendak aku jelaskan “sejarah” asal-mula munculnya istilah “pacaran islami”. Baca entri selengkapnya »

Capres-Cawapres Pilihan Muhammadiyah

Posted on Updated on

Alhamdulillah, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah mengeluarkan pedoman bagi para warganya untuk pemilihan presiden (pilpres) pada 2009 ini. Memang, pedomannya tidak menunjuk ke pasangan tertentu. Namun pedoman ini lebih memudahkan diriku selaku warga Muhammadiyah dalam menentukan pilihan. Terus-terang, selama ini aku masih bingung mau pilih yang mana. Namun dengan pedoman ini, aku tidak lagi terlalu bingung. Berikut ini berita yang memuat pedoman yang kumaksud: Baca entri selengkapnya »

Hebatnya NU: Cara Shalat Muhammadiyah Pun Disambut Hangat

Posted on Updated on

Alhamdulillaah… Tadi saat berkunjung ke situs resmi Nahdlatul Ulama (NU), aku jumpai sebuah fakta yang sangat menarik: Ternyata, sebuah buku karya seorang dosen Universitas Muhammadiyah mengenai cara shalat diterima keberadaannya di situs resmi NU ini. Bahkan, boleh dibilang bahwa keberadaannya disambut hangat. Sebab, apresiasi terhadap buku tersebut muncul di rubrik resensi buku. Gambar kover bukunya pun tertayang di sidebar setiap halaman. Bagiku, apresiasi dan toleransi seperti itu luar biasa dan patut diteladani oleh kelompok-kelompok Islam lainnya. Baca entri selengkapnya »

Adam Bukan Manusia Pertama (menurut Suara Muhammadiyah)

Posted on Updated on

Di dalam Al-Qur’an, manusia pertama tidak diungkap secara gamblang (eksplisit). Namun yang pasti, Adam bukanlah khalifah yang pertama dan bukan pula manusia pertama yang diciptakan Allah. Khalifah sebelum Adam adalah khalifah dari golongan manusia juga. Ada banyak “Adam-Adam” lain yang sebelumnya diciptakan Allah dengan fungsi yang sama, tetapi dengan sifat yang berbeda, yaitu perusak (destruktif). Allah mengganti khalifah perusak yang tanpa tatanan hukum Allah itu dengan khalifah baru yang bernama Adam dan anak keturunannya yang berlandaskan tatanan hukum Allah. Selanjutnya, proses pembelajaran untuk khalifah baru ini segera dilakukan. Dengan apa? Dengan perangkat nalar (rasional). Dengan kata lain, Adam-lah manusia rasional yang pertama. Baca entri selengkapnya »

Pacaran ala Tokoh Muhammadiyah

Posted on Updated on

Apabila kita membahas “pacaran”, seyogianya kita buat terlebih dahulu pemahaman/batasan yg sama mengenai istilah “pacaran” tsb. Bagi sebagian orang, masa-masa dipupuknya jalinan kontak komunikasi pribadi (lewat tilpon/sms) ditambah beberapa pertemuan kekeluargaan sebelum menginjak ke perkawinan (tanpa dibumbui kontak fisik), adalah pacaran.

Ya, aku setuju. Definisi pacaran sudah sering aku kemukakan sejak awal, sejak mulai mengangkat tema pacaran dalam Islam. Aku menerima definisi menurut pengertian yang dibakukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu bercintaan dengan kekasih-tetap. Secara harfiah, “kekasih-tetap” itu bukan hanya dalam pranikah, melainkan juga suami atau istri. Namun kemudian, aku juga menerima definisi “pacaran” menurut makna aslinya (secara etimologis), yaitu “persiapan sebelum menikah“. Baca entri selengkapnya »

Ternyata Banyak Ormas Islam Menentang Fatwa MUI perihal Hukum Golput/Rokok

Posted on Updated on

Fatwa terbaru MUI tentang golput dan rokok menuai banyak tentangan. Penentangnya pun bukan sekadar individu atau orang awam, melainkan juga sejumlah ormas Islam. Bahkan, dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, termasuk di dalamnya. (Aneh, nggak, sih?)

Baca entri selengkapnya »