Panduan Shalat

“SIMPLE YOGA” YOGA TERSEDERHANA UNTUK KESEHATAN KITA

Posted on Updated on

Jika Anda adalah seorang anti Islam, maka mulai sekarang Anda mesti belajar memahami manfaat ibadahnya orang Islam. Ternyata, shalat adalah bentuk yoga tersederhana tetapi paling bermanfaat. Saya mengutip artikel dari situs berbahasa Indonesia, “eramuslim”. Ibadah shalat merupakan ibadah yang paling tepat untuk metabolisme dan tekstur tubuh manusia. Gerakan-gerakan di dalam shalat pun mempunyai manfaat.

Allah, Sang Maha Pencipta, tahu apa yang dibutuhkan oleh ciptaanNya, khususnya manusia. Semua perintahNya tidak hanya bernilai ketakwaan, tetapi juga mempunyai manfaat besar bagi human body. Misalnya, puasa. Pusa telah diakui manfaatnya oleh para medis dan ilmuwan dunia barat. Mereka pun ikut serta berpuasa untuk kesehatan diri dan pasien mereka.

Dan inilah manfaat gerakan shalat, ibadah wajib bagi manusia.

Manfaat Takbiratul Ihram

Ini adalah gerakan terawal, yaitu berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar dengan telinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah. Gerakan ini bermanfaat untuk melancarkan aliran darah, getah bening (limfe), dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancer ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancer. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.

Manfaat Ruku’

Ruku’ yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang. Gerakan ini bermanfaat untuk menjaga kesempurnaan posisi serta fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat saraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi untuk merelaksasikan otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah sarana latihan bagi kemih sehingga gangguan prostate dapat dicegah.

Manfaat I’tidal

Bangun dari ruku’, tubuh kembali tegak setelah mengangkat kedua tangan setinggi telinga. I’tidal merupakan variasi dari postur setelah ruku’ dan sebelum sujud. Gerakan ini bermanfaat sebagai latihan yang baik bagi organ-organ pencernaan. Pada saat I’tidal dilakukan, organ-organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Tentu memberi efek melancarkan pencernaan.

Manfaat Sujud

Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai. Posisi sujud berguna untuk memompa getah bening ke bagian leher dan ketiak. Posis jantung di atas otak menyebabkan daerah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Oleh karena itu, sebaiknya lakukan sujud dengan tuma’ninah, tidak tergesa-gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Posisi seperti ini menghindarkan seseorang dari gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik ruku’ maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.

Manfaat Duduk di antara sujud

Duduk setelah sujud terdiri dari dua macam yaitu iftirosy (tahiyat awal) dan tawarru’ (tahiyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki. pada saat iftirosy, tubuh bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan saraf nervus Ischiadius. Posisi ini mampu menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarru’ sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (uretra), kelenjar kelamin pria (prostate) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan dengan benar, posisi seperti ini mampu mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iftirosy dan tawarru’ menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.

Manfaat Salam

Gerakan memutar kepala ke kanan dank e kiri secara maksimal. Salam bermanfaat untuk bermanfaat untuk merelaksasikan otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala sehingga mencegah sakit kepala serta menjaga kekencangan kulit wajah.

Gerakan sujud tergolong unik. Sujud memiliki falsafah bahwa manusia meneundukkan diri serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah dari pantatnya sendiri. Dari sudut pandang ilmu psikoneuroimunologi (ilmu mengenai kekebalan tubuh dari sudut pandang psikologis) yang di dalami Prof. Soleh, gerakan ini mengantarkan manusia pada derajat setinggi-tingginya. Mengapa?

Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan oksigen. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yang memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tuma’ninah dan kontinu dapat memicu peningkatan kecerdasan seseorang.

Setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara normal. Darah tidk akan memasuki urat saraf di dalam otak melainkan ketika seseorang sujud dalam shalat. Urat saraf tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini berarti, darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikuti waktu shalat, sebagaimana yang telah diwajibkan dalam Islam.

Riset di atas telah mendapat pengakuan dari Harvard University, Amerika Serikat. Bahkan seorang dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan diri masuk Islam setelah diamdiam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan sujud. Di samping itu, gerakan-gerakan dalam shalat sekilas mirip gerakan yoga ataupun peregangan (stretching). Intinya, berguna untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan shalat dibandingkan gerakan lainnya adalah di dalam shalat kita lebih banyak menggerakkan anggota tubuh, termasuk jari-jari kaki dan tangan.

Sujud adalah latihan kekuatan otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggan wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.

Masih dalam posisi sujud, manfaat lain yang bisa dinikmati kaum hawa adalah otot-otot perut (rectus abdominis dan obliqus abdominis externus) berkontraksi penuh saat pinggul serta pinggang terangkat melampaui kepala dan dada. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lebih lama yang membantu dalam proses persalinan. Karena di dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami, otot ini justru menjadi elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan dan mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).

Setelah melakukan sujud, kita melakukan gerakan duduk. Dalam shalat terdapat dua jenis duduk: iftirosy (tahiyat awal) dan tawaru’ (tahiyat akhir). Hal terpenting adalah turut berkontraksinya otot-otot daerah perineum. Bagi wanita, di daerah ini terdapat tiga liang yaitu liang persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih. Saat tawarru’, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum. Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki kanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi ini tumit kaki kiri akan memijit dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di daerah perineum.

Pada dasarnya, seluruh gerakan shalat bertujuan meremajakan tubuh. Jika tubuh lentur, kerusakan sel dan kulit sedikit terjadi. Apalagi jika dilakukan secara rutin, maka sel-sel yang rusak dapat segera tergantikan. Regenerasi pun berlangsung dengan lancar. Alhasil, tubuh senantiasa bugar.

Menuru penelitian Prof. Dr. Muhammad Soleh dalam desertasinya yang berjudul “Pengaruh Shalat Tahajud terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Neuroimunologi” dengan desertasi itu, Soleh berhasil meraih gelar doctor dalam bidang ilmu kedokteran pada program pasca sarjana Universitas Surabaya yang dipertahankannya beberapa waktu lalu.

Shalat tahajud ternyata bukan hanya sekedar shalat tambahan (sunah muakkad), tetapi jika dilakukan secara rutin dan ikhlas akan bisa mengatasi penyakit kanker. Secara medis, shalat tahajud mampu menumbuhkan respons ketahanan tubuh (imunologi) khususnya pada imunoglobin M, G, A, dan limfositnya yang berupa persepsi serta motivasi positif. Selain itu, juga dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi.

Selama ini, ulama melihat ikhlas hanya sebagai persoalan mental psikis. Namun, sebetulnya permasalahan ini dapat dibuktikan dengan teknologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol dengan parameter kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah kortisol pada pagi hari normalnya antra 38-690 nmol/liter. Sedangkan pada malam hari atau setelah pukul 24.00, jumlah ini meningkat menjadi 69-345 nmol/liter.

“Kalau jumlah hormone kortisolnya normal, dapat diindikasikan bahwa orang tersebut tidak ikhlas karena merasa tertekan. Demikian juga sebaliknya,” ujarnya seraya menegaskan temuannya ini membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama Islam semata-mata dogma atau doktrin.

Menurut Dr. Soleh, orang stress biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan melakukan tahajud secara rutin dan disertai perasaan ihklas serta tidak terpaksa, seseorang akan memiliki respon imun yang baik serta besar kemungkinan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Berdasarkan perhitungan medis, shalat tahajud yang demikian menyebabkan seseorang memiliki ketahanan tubuh yang baik.

Tuntunan Shalat Tarawih

Posted on Updated on

  1. Pengertian Qiyamul-Lail (Shalat Tarawih)

Qiyamul-Lail (Shalat Tarawih) ialah shalat sunnat malam pada bulan Ramadhan.

  1. Waktu Qiyamul-Lail (Shalat Tarawih)

Adapun waktunya ialah sesudah shalat ‘Isya hingga fajar (sebelum dating waktu Shubuh), sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad saw:

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ وَهِيَ الَّتِي يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً. [رواه مسلم].

Artinya: “Dari ‘Aisyah r.a. isteri Nabi saw (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah saw selalu mengerjakan shalat (malam) pada waktu antara selesai shalat ‘Isya, yang disebut orang “‘atamah” hingga fajar, sebanyak sebelas rakaat.” [HR. Muslim].

  1. Pelaksanaan Qiyamul-Lail (Shalat Tarawih)
    1. Qiyamul-Lail (Shalat Tarawih) sebaiknya dikerjakan secara berjama‘ah, baik di masjid, mushalla, ataupun di rumah, dan dapat pula dikerjakan sendiri-sendiri. Apabila dikerjakan secara berjama‘ah, maka harus diatur dengan baik dan teratur, sehingga menimbulkan rasa khusyu‘ dan tenang serta khidmat; shaf laki-laki dewasa di bagian depan, anak-anak dibelakangnya, kemudian wanita di shaf paling belakang. Kalau perlu dapat diberi tabir, untuk menghindari saling memandang antara laki-laki dan wanita. Dasarnya adalah:

1)        Hadits Nabi Muhammad saw:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ … [رواه البخاري].

Artinya: “Dari ‘Abdir-Rahman bin ‘Abdil-Qari, (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Saya keluar bersama Umar ibnul-Khathab r.a. di suatu malam pada bulan Ramadhan ke masjid, ketika itu manusia berkelompok-kelompok terpisah-pisah, ada seorang laki-laki yang mengerjakan shalat sendirian, ada pula seorang laki-laki yang sedang melakukan shalat kemudian sekelompok orang mengikuti shalatnya, lalu berkatalah Umar: Seandainya saya kumpulkan mereka untuk mengikuti satu adalah lebih utama. Kemudian setelah memantapkan niatnya, ia mengumpulkan mereka agar mengikuti Ubay bin Ka‘ab (sebagai imamnya). Kemudian saya keluar bersama Umar pada malam yang lain, dan manusia sedang mengerjakan shalat mengikuti shalat imam mereka. Lalu berkatalah Umar: Alangkah baik bid‘ah ini …” [HR. Al-Bukhariy].

2)      Hadits Nabi Muhammad saw:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ صَلَّيْتُ أَنَا وَيَتِيمٌ فِي بَيْتِنَا خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمِّي أُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا. [رواه البخاري].

Artinya: “Dari Anas ibn Malik r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Saya mendirikan shalat di rumah saya bersama anak yatim di belakang Nabi saw, sedang ibuku, Ummu Sulaim di belakang kami.” [HR. Al-Bukhari].

  1. Qiyamul-Lail (Shalat Tarawih) dikerjakan dengan 4 raka‘at, 4 raka‘at tanpa tasyahud awal, dan 3 raka‘at witir tanpa tasyahud awal, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad saw:

عَنْ عَائِشَةَ حِيْنَ سُئِلَتْ عَنْ صَلاَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ قَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثاً [رواه البخاري ومسلم].

Artinya: “Dari ‘Aisyah (diriwayatkan bahwa) ketika ia ditanya mengenai shalat Rasulullah saw di bulan Ramadan. Aisyah menjawab: Nabi saw tidak pernah melakukan shalat sunnat di bulan Ramadan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana bagus dan indahnya. kemudian beliau shalat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

  1. Sebelum mengerjakan Qiyamul-Lail, disunnatkan mengerjakan shalat sunat dua raka‘at ringan (Shalat Iftitah), sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad saw:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنْ اللَّيْلِ فَلْيَفْتَتِحْ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ. [رواه مسلم وأحمد وأبو داود].

Artinya: “Dari Abu Hurairah dari Nabi saw, (diriwayatkan bahwa) beliau bersabda: Jika salah satu di antara kamu mengerjakan qiyamul-lail, hendaklah ia membuka (mengerjakan) shalatnya dengan shalat dua rakaat ringan.” [HR. Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud].

  1. Bacaan surat yang [disunnatkan] dibaca setelah membaca Al-Fatihah pada 3 raka‘at shalat witir, menurut Rasulullah saw adalah sebagai berikut: Pada raka‘at pertama membaca surat Al-A‘la, pada raka‘at kedua membaca surat Al-Kafirun, dan pada raka‘at ketiga membaca surat Al-Ikhlash. Dalam hadits Nabi disebutkan sebagai berikut:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَةِ اْلأُولَى مِنْ الْوِتْرِ بِسَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ اْلأَعْلَى وَفِي الثَّانِيَةِ بِقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَفِي الثَّالِثَةِ بِقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. [رواه النسائى والترمذى وابن ماجه].

Artinya: “Dari Ubay bin Ka‘ab (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Bahwa Nabi saw pada shalat witir pada rakaat yang pertama selalu membaca Sabbihisma Rabbikal-A‘laa, dan pada rakaat yang kedua membaca Qul Yaa Ayyuhal-Kaafiruun, dan pada rakaat yang ketiga membaca Qul Huwallaahu Ahad.” [HR. An-Nasa’i, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah].

  1. Setelah selesai 3 raka‘at shalat witir, disunatkan membaca doa dengan suara nyaring:

سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلقُدُّوسِ.

Artinya: “Maha Suci Allah Yang Maha Merajai dan Yang Maha Bersih.”

Dibaca tiga kali, dan membaca:

رَبُّ اْلمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ.

Artinya: “Yang Menguasai para Malaikat dan Ruh/Jibril.”

Berdasarkan hadis:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ الله  صلى الله عليه وسلم  إِذِا سَلَّمَ فِيْ اْلوِتْرِ قَالَ سُبْحَانَ اْلمَلِكِ    اْلقُدُّوْسِ [رواه أبو داود].

Artinya: “Dari Ubayy Ibnu Ka‘ab (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Adalah Rasulullah saw membaca Sub¥±nal-Malikil-Qudd­s [Maha Suci Allah Yang Maha Merajai dan Yang Maha Bersih]” [HR Ab­ D±w­d].

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم يُوْتِرُ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلأَعْلَى وَقُلْ يَا أَيُّهَا اْلكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ الله أَحَدٌ وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلقُدُّوْسِ ثَلاَثَ مَرَاتٍ وَمَدَّ بِاْلأَخِيْرَةِ صَوْتَهُ وَيَقُوْلُ رَبِّ اْلمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ [رواه الطبراني في المعدم الأوسط] .

Artinya: “Dari Ubayy Ibnu Ka‘ab (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Adalah Rasulullah saw melakukan witir dengan membaca Sabbihis—marabbikal-a‘l±, qul y± ayyuhal-k±fir­n dan qul huwall±hu a¥±d; dan apabila selesai salam ia membaca Sub¥±nal-Malikil-Qudd­s [Maha Suci Allah Yang Maha Merajai dan Yang Maha Bersih] tiga kali dan menyaringkan suaranya dengan yang ketiga, serta mengucapkan rabbul-mal±’ikati war-r­¥ [Tuhan Malaikat dan ruh]” [HR ath-Thabarani, di dalam al-Mu‘jam al-Ausath].

======
Sumber: http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_remository&Itemid=394&func=download&id=137&chk=9342f1d14b4575713caa6fdd300eff9c

Dapatkah mengembalikan rasa cintanya dengan shalat tahajud?

Posted on Updated on

Pak ustadz yang baik, Saya seperti mimpi dengan kejadian yang telah menimpa saya, ini semua kesalahan yang tidak saya sengaja. ketika itu setelah selesai orang tua saya dengan orang tuanya saling berkenalan, keesokannya kami berdua jalan-jalan, di dalam mobil kami ngobrol dan tiba2 terjadi perdebatan dan mulai adu mulut tanpa saya sadari saya EMOSI saya meledak dan saya melempar barang di hadapannya,dan akhirnya saya minta maaf saya khilaf karan pada saat itu pikiran saya lagi bingung dgn status pasangan saya yang duda tapi belum saya katakan pada orang tua saya (pada saat itu)

Kejadian di mobil itu pangkal permasalhan pasangan saya, dan tadi malam dia baru berterus terang kepada saya kalau selama setahun ini perasaan dia hambar kepada saya karna saya telah membetaknya secara emosional waktu di dalam mobil,sebenarnya pada saat kejadian itu dia langsung hilang perasaannya kepada saya dia sudah berusaha menbangun dengan terus datang kerumah saya pokoknya terus komunikasi tapi tetap dia tdk bisa mengembalikan persaannya yang dulu lagi,dia bilang sifat dia yang seperti ini sebenarnya menjadi momok buat dia, dia minta bantuan saya untuk berobat ke psikiater, dia tau saya khilaf dan dia sudah memaafkan, tapi yang dia bingung kenapa kok sifat ” yang langsung hilang perasaannya” tidak bisa hilang semenjak dia smp, jadi kalau pacaran lantas dia di bentak secara emosi rasa cintanya langsung hilang, sewaktu dia menikah sebernarnya istrinya seperti iti tetapi karana sudah menikah jadi dia berusaha untuk mempertahankan sampai istrinya tutup usia.

Dia minta bantuan saya untuk ke psikologi karana dia ingin tau kenapa hanya dengan masalh sepele seperti itu persaannya bisa langsung hilang, dia sedang berjuang untuk melawan ini semua, karana bukan dengan saya pun takutnya seperti ini lagi. Saya senang dia punya itikad baik untuk mengakui kelemahannya,tapi di lain sisi jiwa saya terguncang karna seperti di bohongi, dan dia tau itu.

Dia akan segera ke psikolog, karana dia tau ini penyakit lamanya dan dia minta bantuan saya, lantas saya tanya kenapa dulu bisa menikah padahal kejadian seperti itu pernah terjadi? dia bilang wkt pacaran dia singkat sehinnga dia mengalami hal itu wkt sudah berumah tangga jadi dia berusaha untuk selalu menjaganya sampai akhirnya maut memisahkan.

Pak ustadz waktu saya pertama kali bertemu dengannya saya juga tidak mencintainya,tetapi dengan seiringnya waktu saya mulai mencintainya sampai detik ini perasaan ini terus berkembang, saya mulai bisa menerima segala kekurangannya,saya sedih usia saya sudah 34 tahun kenapa ALLah masih juga belum berkenan memberikan saya pasangan,pastinya saya sudah berdoa setiap saya putus denagn pacar, saya selalu berdoa untuk minta yang terbaik sampai akhirnya saya bertemu dangan mas P (inisial nama kekasih saya yang sekarang) saya bahagia sekali kami cocok secara pandangan, hanya kesalahan itu saja yang saya tidak di sengaja dan tidak pernah terulang lagi, ternyata sudah menghancurkarkan semua harapan saya.

Kenapa Pak ustadz ALLAH seperti itu kepada saya? saya pikir mas P adalah jawaban dari semua doa2 saya siang dan malam, di waktu sholat hajat dan sholat 5 waktu,kenapa jodoh saya jauh sekali ..? bisakah dengan TAHAJUD ALLAH MENGEMBALIKAN HATINYA DAN MENYEMBUHKAN SEMUA KELEMAHANNYA? DZKIR APA YANG HARUS SAYA BACA UNTUK MENGEMBALIKAN RASA CINTANYA KEPADA SAYA, saya senang dia mau berusaha terus datang tidak pernah absent karna dia sungguh ingin membangun rasa yang dulu lagi.

Apa ini jawaban dari ALLAH dari dari semua doa2 saya? atau ini ujian dari ALLAH untuk menguji kesabran saya untuk menolong dia?
Tolong pak saya minta doa dan dzikir yang tepat untuk masalah ini. Boleh kah saya sholat HAJAT lagi untuk minta jodoh walaupun saya masih mencintainya, dan boleh kah pak kalau dalam SHOLAT HAJAT saya sekalian meminta kesembuhan untuk mas P (2 permintaan dalam sholat hajat) dan masih bolehkah saya sholat ISTIQARAH lagi untu meminta petunjuk untuk masalah ini.

Terima kasih

Tanggapan M Shodiq Mustika: Baca entri selengkapnya »

Bershalat Sambil Memegang Mushhaf Al-Qur’an

Posted on Updated on

saya sudah membaca buku anda. bagus, itu saja yang bisa saya katakan. tapi bukan masalah bagusnya. seperti saran anda, kalo mau praktek disesuaikan dengan kepribadian kita. kayaknya yang cocok dengan saya yach yang arungi makna salat. karena saya orang kuper, susah ngomong, telmi. tapi saya yakin, dengan praktek salat smart ini bisa meningkatkan taraf hidup saya dan kecerdasan saya.
yang menarik dari buku ini adalah tentang membaca mushaf dalam salat. saya termasuk susah kalo harus hapalan surat apalagi saya cuma hapal 10 surat saja. jd yg sy bc ya hanya itu2 aja. cuma sya ini berkcmata tebal. jd apa boleh mushaf dipegang ketika berdiri dlm solat.tp saya jga menerapkan bc 2x, 8x mengingat.
sy ini agak budeg jd agak ksulitan mendengar azan dari masjid. apa boleh mjawab azan di tv?sy tdk pernah kmasjid kcuali ramadhan.
terus saya ini cewek muslim ktp, baru satu tahun ini salat. skr 27 thn. dan saya mulai solat karena saya ingin kaya. dari situ saya merasa salat sy bukn krn allah. tp stelah mbc buku anda, sy mengerti meski agak takut2 jg salat saya gak dterma.
sy cm mau mengucapkan syukron krn anda dah menulis buku hebat ini.
tolong ptanyan saya djwb.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Terima kasih atas pujiannya. Jawabanku: sebagian besar ulama membolehkan kita untuk bershalat sambil memegang mushhaf Al-Qur’an, terutama dalam shalat sunnah. Sebagian kecil ulama melarangnya. Aku berpegang pada yang membolehkannya. Sungguhpun demikian, yang aku kutip di bawah ini tidak hanya pandangan yang membolehkan, tetapi juga yang melarangnya.

Jawaban dari SyariahOnline.com:

Para ulama telah menyusun hal-hal yang membatalkan shalat seseorang. Bila kita cermati semua hal yang membatalkan shalat, maka tidak kita dapati nash yang jelas berkaitan dengan tidak bolehnya seseorang memegang mushaf Al-Quran) untuk membaca ayat-ayat.

Mazhab Syafi‘i berpendapat bahwa melakukan gerakan (di luar ketentuan shalat) lebih dari tiga kali berturut-turut membatalkan shalat. Namun bukan berarti memegang mushaf Al-Quran bisa dikategorikan melakukan gerakan tiga kali berturut-turut.

Selain itu banyak riwayat dari Rasulullah SAW yang menceritakan bolehnya orang shalat sambil menggendong anak, atau melangkah ke depan untuk mengisi shaf yang kosong atau menggerakkan/menjulurkan tangan mencegah orang yang akan lewat di depannya.

Bahkan Rasulullah perintahkan untuk membunuh ular dan kalajengking yang lewat di depannya. (HR Ahmad dan Ashhabus Sunan yang empat orang).

Dalam hadits riwayat Ahmad dari Aisyah diceritakan bahwa Aisyah RA. Minta dibukakan pintu sedangkan Rasulullah SAW sedang shalat, maka beliau berjalan membukakan pintu hingga terbuka.

Dalam shalat khauf kita diperintahkan untuk mengawasi gerak gerik musuh. Karena itu para ulama membolehkan seseorang memegang mushaf AL-Quran dan membaca saat shalat, sebagaiman yang sering kita lihat dalam shalat terawaih dari masjidil Al-Haram di Makkah dan Madinah.

Jawaban dari PesantrenVirtual.com:

Saat salat tarawih sambil membaca mushaf menjadi perbedaan pendapat:
sebagian besar ulama membolehkan (Malikiyah, Syafi’iyah, Hanbaliyah) dalam salat sunat (terutama dalam Ramadhan, termasuk tarawih); Malikiyah dan Hanbaliyah memakruhkan dalam salat fardhu; Hanafiyah dan Dzahiriyah tidak membolehkan baik dalam sunat atau fardhu; Zaidiyah membolehkan asal tidak lebih dari membaca dengan melihat saja (tidak memegang dan membolak-balik mushaf). [Lihat, misalnya, Kumpulan Fatwa-nya Syeikh Gad el-Haq hal 181].

Timbulnya perbedaan ini bermula dari perbedaan pendapat : pekerjaan membaca itu termasuk membatalkan salat (karena ia termasuk pekerjaan yang panjang yang bisa merusak kekhusyukan salat) dan tidak membatalkan (karena membaca mushaf tidak merusak salat).

Menurut saya, orang yang sekiranya mampu tetap khusyuk sambil membaca/melihat mushaf, silahkan saja melakukan hal itu. Namun, jika sekiranya mengurangi kekhusyukannya, maka sebaiknya membaca apa yang dihafalnya saja.

Jawaban dari Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz & Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:

TIDAK MENGAPA MEMBACA AL-QUR’AN DENGAN MEMBACA MUSHAF KETIKA SHALAT TARAWIH RAMADHAN

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya melihat ketika bulan ramadhan di Mansharim –ini adalah untuk pertama kalinya saya shalat tarawih di Manthiqah Ha’il- ketika itu imam memegang mushaf dan membacanya, kemudian dia meletakkan di sampingnya dan mengulang-ngulang hal itu hingga selesai shalat tarawih, sebagaimana yang dia lakukan pula ketika shalat malam di sepuluh terakhir ramadhan. Pemandangan ini mengherankan saya karena kebiasaan itu tersebar di hampir seluruh masjid-masjid di Ha’il, padahal aku tidak pernah mendapatkannya di Madinah Al-Munawarah misalnya ketika saya shalat tahun yang lalu sebelum ini.

Yang menjadi ganjalan saya, apakah amal tersebut pernah dikerjakan pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Jika tidak berarti termasuk bid’ah yang diada-adakan yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun di antara sahabat maupun tabi’in. Lagi pula bukankah lebih utama membaca surat pendek yang dihafal imam daripada membaca dengan melihar mushaf dengan target supaya dapat menghatamkan bersamaan dengan habisnya bulan, karena imam membaca setia harinya satu juz? Jika perbuatan tersebut diperbolehkan manakah dalil dari Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Jawaban
Tidak mengapa seorang imam membaca dengan melihat mushaf pada saat tarawih, agar para makmum kedapatan pernah mendengar seluruh (ayat) Al-Qur’an. Dalil-dalil syar’i dari Al-Kitab dan As-Sunnah telah menunjukkan disyariatkannya membaca Al-Qur’an ketika shalat, hal ini berlaku umum baik membaca dengan melihat mushaf ataupun dengan hafalan. Telah disebutkan pula dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa beliau memerintahkan budaknya Dzakwan untuk mengimaminya ketika shalat tarawih, ketika itu Dzakwan membaca dengan melihar mushaf. Riwayat ini disebutkan oleh Al-Bukhari rahimahullah di dalam shahihnya secara mu’allaq dan beliau memastikan

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Awwal, Edisi Indonesia Fatawa bin Baaz, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Penerjemah Abu Umar Abdillaj, Penerbit At-Tibyan Solo]

HUKUM MEMBAWA AL-QUR’AN BAGI MAKMUM DALAM SHALAT TARAWIH

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum membawa Al-Qur’an bagi makmum dalam shalat tarawih di bulan Ramadhan dengan dalil untuk mengikuti bacaan imam?

Jawaban
Membawa mushaf dengan tujuan ini, menyelisihi sunnah berdasar beberapa hal yaitu :

Pertama : Hal ini menjadikan seseorang tidak meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya.

Kedua : Menjadikan seseorang harus banyak bergerak seperti membuka mushaf, menutupnya, meletakannya di ketiak atau di saku dan sebagainya.

Ketiga : Menyibukkan orang tadi dengan gerakan-gerakan tersebut dalam shalat.

Keempat : Menghilangkan kesempatan untuk melihat ke arah tempat sujud, padahal sebagian besar ulama memandang bahwa melihat ke tempat sujud termasuk sunnah dan keutamaan.

Kelima : Orang ini mungkin tidak merasakan bahwa ia sedang shalat bila hatinya sedang tidak konsentrasi. Berbeda jika ia shalat dengan khudhu’ dan tawadhu’ dengan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, dengan kepala menunduk melihat tempat sujud. Hal ini lebih dekat kepada hadirnya perasaan bahwa ia sedang shalat di belakang imam.

Jawaban dari Ahmad Sarwat, Lc.:

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum yang anda tanyakan. Sebagian membolehkannya dan sebagian lainnya mengatakan bahwa hal itu membatalkan shalat.

1. Kalangan yang Membolehkan

Di antara yang membolehkan shalat sambil memegang dan membaca dari
mushaf adalah Al-Imam Malik, Al-Imam As-Syafi’i dan Al-Imam Ahmad bin
Hanbal, Abu Yusuf dan Muhammad serta yang lainnya rahimahumullah.

Namun meski mereka memandang bahwa shalat sambil membaca mushaf Al-Quran bukanlah hal yang terlarang, namun lebih dikhususkan untuk shalat sunnah atau nafilah dan bukan shalat wajib.

Selain itu mereka tetap mensyaratkan agar tidak terlalu banyak gerakan
yang akan mengakibatkan batalnya shalat. Hal itu mengingat bahwa dalam pandangan para ulama syafi’i misalnya, tiga kali gerakan yang berturut-turut tanpa jeda sudah dianggap membatalkan shalat. Meski membolehkan, namun mereka tetap mengatakan bahwa shalat dengan menghafal langsung tanpa membaca dari mushaf tetaplah lebih utama dan lebih baik.

Dalil-dalil yang Membolehkan

a. Zakwan mengimami Aisyah ra. dengan melihat mushaf

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi bahwa sahaya Ummul Mukminin Aisyah
radhiyallahu ‘anha yang bernama Zakwan telah shalat menjadi imam bagi
Aisyah ra. di bulan Ramadhan. Dia menjadi imam sambil membaca Al-Quran dari mushaf. Hal yang sama juga dalam shalat nafilah (sunnah) yang lain.

Riwayat ini sampai kepada kita lewat hadits yang dikeluarkan oleh
Al-Baihaqi (2/253).

b. Nabi SAW shalat sambil menggendong anak

Diriwayatkan secara shahih sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari (494) dan Muslim (543) dari Abi Qatadah bahwa Rasulullah SAW shalat sambil menggendong anak (cucu beliau).

Dengan penjelasan itu, maka logikanya adalah kalau menggendong anak
tidak membatalkan shalat, apalagi bila sekedar memegang mushaf. Padaha memegang mushaf itu punya manfaat tersendiri agar tidak salah bacaan, serta bermanfaat buat yang belum hafal Quran dari ingin membaca lebih banyak di dalam shalat.

c. Nabi SAW Terganggu Shalatnya tapi tetap meneruskan

Bahkan dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah merasa terganggu
konsentrasi shalatnya ketika melihat al-khamishah (kain empat persegi
terbuat dari wol), namun tidak ada keterangan bahwa beliau mengulangi
shalatnya.

“Benda itu melalaikanku dari shalatku.” (HR Bukhari 366 dan Muslim 556)

Teranggunya shalat tidaklah membatalkannya. Karena tidak ada keterangan beliau mengulangi shalatnya. Maka demikian juga dengan memegang mushaf, meski barangkali agak mengganggu namun tidak lantas membatalkan shalat.

d. Pendapat para ulama

Al-Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhazzab menyebutkan:

Bila seseorang membaca dari mushaf, maka shalatnya tidak batal. Baik dia hafal atau tidak hafal. Bahwa wajib membaca dari mushaf bila tidak hafal surat Al-Fatihah. Meski sesekali membolak-balik halaman, tidak membatalkan.

2. Pendapat yang Mengatakan Batalnya Shalat

Namun ada pendapat yang tidak membolehkannya secara mutlak, yaitu
pendapat kalangan mazhab Al-Hanafiyah dan Az-Dzahiriyah.

Pendapat mereka didasari oleh beberapa hal, di antaranya:

a. Hadits Ibnu Abbas ra.

Dalam kitab Al-Mashahif, Imam Ibnu Abi Daud meriwayatkan bahwa Ibnu
Abbas ra. berkata, “Amirul Mukminin melarang kami untuk menjadi imam
shalat di depan orang-orang sambil melihat ke mushaf.”

b. Melihat mushaf sama dengan berbicara dengan orang lain

Selain dengan hadits di atas, larangan membaca dari mushaf yang mereka pegang beralasan bahwa membaca dari mushaf sama kedudukannya dengan talqin (dibacakan oleh orang lain).

Dan talqin itu sama dengan berbicara dengan orang di luar shalat.
Sedangkan berbicara dengan orang lain yang tidak ikut shalat itu
membatalkan shalat.

c. Selain itu, alasan pelarangannya karena membaca dari mushaf itu
umumnya dilakukan sepanjang bacaan shalat. Ini berbeda dengan kasus imam yang lupa bacaan quran dan diingatkan oleh makmum. Dalam kasus itu, meski seolah ada ‘pembicaraan’ antar imam dan makmum, namun yang terjadi hanya sesekali saja, tidak sepanjang shalat.

Sedangkan membaca dari mushaf didudukkan seperti imam berbicara dengan orang lain, meski hanya lewat tulisan saja.

Mushaf Khusus, Mengapa Tidak?

Bila kita cenderung kepada pendapat yang membolehkan, tetap harus
berhati-hati dengan gerakan yang berlebihan. Dan untuk itu boleh juga
dipikirkan untuk tidak memegang mushaf dengan tangan, melainkan cukup diletakkan di depan orang yang shalat, tentunya dengan huruf yang besar dan tidak di atas tanah. Adapun bila hanya matanya saja yang membaca tulisan dari mushaf, tidak mengapa.

Dan sekarang ini di banyak tempat sudah terbit mushaf yang cocok untuk hal itu. Selain ukuran hurufnya besar juga halamannya lebar, sehingga tidak perlu membolak-balik halaman lagi. Satu halaman mushaf itu sebanding dengan 2 halaman di mushaf lain. Produsennya barangkali paham bahwa sebagian ulama agak ketat dalam masalah tidak boleh terlalu banyak bergerak dalam shalat.

Namun karena masalah ini memang khilaf di kalangan para ulama, di mana
sebagian membolehkannya dan sebagian melarangnya, maka yang dibutuhkan sekarang ini adalah sikap bijak dan toleran. Alangkah baiknya bila kita tidak saling menyalahkan, apalagi sampai menghujat dan menuduh shalatnya saudara kita itu batal dan tidak sah.

Selama suatu masalah masih terjadi khilaf, yang terbaik adalah bersikap
bijak dan berlaku adil.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hebatnya NU: Cara Shalat Muhammadiyah Pun Disambut Hangat

Posted on Updated on

Alhamdulillaah… Tadi saat berkunjung ke situs resmi Nahdlatul Ulama (NU), aku jumpai sebuah fakta yang sangat menarik: Ternyata, sebuah buku karya seorang dosen Universitas Muhammadiyah mengenai cara shalat diterima keberadaannya di situs resmi NU ini. Bahkan, boleh dibilang bahwa keberadaannya disambut hangat. Sebab, apresiasi terhadap buku tersebut muncul di rubrik resensi buku. Gambar kover bukunya pun tertayang di sidebar setiap halaman. Bagiku, apresiasi dan toleransi seperti itu luar biasa dan patut diteladani oleh kelompok-kelompok Islam lainnya. Baca entri selengkapnya »

Wajibkah Penyeragaman Cara Shalat?

Posted on Updated on

Saat kutempuh latihan ujian praktek shalat sewaktu SMP, mulanya aku menggunakan cara shalat ala Muhammadiyah. Namun oleh guruku, yang kebetulan beraliran NU, cara shalatku dinilai salah. Aku diminta mengulangi shalatku. Berhubung aku ingin lulus, ya kupenuhi saja permintaannya, tapi khusus untuk latihan dan ujian itu saja. Dalam praktek sehari-hari, aku tetap menggunakan cara Muhammadiyah.

Saat ini, kecenderungan untuk menyeragamkan cara shalat mungkin masih berlangsung di sekolah-sekolah oleh guru-guru yang bersangkutan. Aku merasakannya ketika putri sulungku, kelas 3 SD, mengkritik salah satu cara shalatku. Baca entri selengkapnya »

Teks & Terjemah Doa Istikharah

Posted on Updated on

Teks doa istikharah:

teks arab doa istikharah 1
Allaahumma, innii astakhiiruka bi’ilmika, wa astaqdiruka biqudratik.

teks arab doa istikharah 2
Wa as-aluka min fadhlikal ‘azhiimi, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyuub.

teks arab doa istikharah 3
Allaahumma, in kunta ta’lamu anna haadzal amra khairul lii fii diinii wa ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii, faqdurhu lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiih.

teks arab doa istikharah 4
Wa in kunta ta’lamu anna haadzal amra syarrul lii fii diinii wa ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii, fashrifhu ‘annii, washrifnii ‘anhu, waqdur liyal khaira haitsu kaana, tsumma radhdhinnii bih.

Terjemah doa istikharah:

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan [yang tepat] kepada Engkau dengan ilmu [yang ada pada]-Mu, dan aku memohon kekuasaan-Mu [untuk menyelesaikan urusanku] dengan kodrat-Mu.

Dan aku memohon kepada-Mu sebagian karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedangkan aku tidak berkuasa, dan Engkau Mahatahu sedangkan aku tidak tahu, dan Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib.

Ya Allah, sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih baik untuk diriku, agamaku, dan kehidupanku, serta [lebih baik pula] akibatnya [di dunia dan akhirat], maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusan ini bagiku, kemudian berkahilah aku dalam urusan ini.

Dan sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih buruk untuk diriku, agamaku, dan kehidupanku, serta [lebih buruk pula] akibatnya [di dunia dan akhirat], maka jauhkanlah urusan ini dariku, dan jauhkanlah aku dari urusan ini, dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana pun, kemudian jadikanlah aku ridha menerimanya.

Murtadkah bila meninggalkan tiga kali shalat Jum’at berturut-turut?

Posted on Updated on

Jumat kemaren aku dengerin radio, siang2 gitu jam 11an. Mbak2 penyiarnya blg gini : “Ayo pada siap2 jumat’an… katanya kalo 3x bolos jumat’an itu udah dianggap kafir loh…” jadi penasaran… emg ada yah hadist ato quran yg bilang begini? kalo gitu, sebenernya byk donk umat islam yg udh “gak diakui” oleh Allah? gw jg pegang terus konten hadits ini, tp apakah bener sperti itu p. Ustadz?

Jawaban M Shodiq Mustika: Baca entri selengkapnya »

Shalat Sunnah Tidak Perlukah Perhitungan?

Posted on Updated on

Saat blogwalking tadi, kujumpai sebuah tanya-jawab yang menarik. Pertanyaannya: “Ustadz, saya mohon penjelasan mengenai hukum melaksanakan shalat sunnah awal & akhir tahun serta shalat sunnah rajab, karena di tempat saya shalat itu marak dilaksanakan. Saya sendiri dulunya termasuk orang yg melaksanakan, kemudian saya mendapat keterangan dari teman saya yg mesantren di beberapa pesantren di Garut dan Sukabumi serta Cianjur bahwa hukum hadistnya maudlu’ ( sangat dhoif ) sehingga tidak boleh dipakai menjadi dasar hukum dia juga memperlihatkan referensi dari dua kitab yaitu Fathl Mu’in dan Kifayatul Akhyar yang setahu saya itu kitab fiqh yg mu’tabar. Itu menjadi konflik di hati saya karena selama ini saya melaksanakan berdasarkan kitab tasawwuf ( qhoniyyah /ghunyah dan khozinatul asror ), menurut ustadz pendapat mana yg harus saya ikuti…?”

Baca entri selengkapnya »

Usai onani, haruskah mandi besar?

Posted on Updated on

Seorang pembaca artikel “Kecanduan masturbasi: Cara mengatasinya” bertanya, “apakah onani/masturbasi merupakan hadats besar yang apabila setelah melakukakannya harus mandi besar? atau cukup berwudhu saja?”

Jawaban M Shodiq Mustika:

Baca entri selengkapnya »