Psikologi Cinta

Memikirkan kekasih ternyata ampuh untuk meredakan rasa nyeri/sakit

Posted on Updated on

Sering sakit gigi? Nyeri karena luka-luka? Nih, ada obat ampuh:

Mau Bebas Rasa Sakit, Pikirkan Orang Tercinta!
Senin, 16 November 2009 | 15:54 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sekadar memikirkan orang-orang yang dicintai dapat membantu mengurangi rasa sakit, demikian hasil satu studi baru. Hasil studi tersebut menggarisbawahi pentingnya hubungan sosial dan agar orang selalu terhubung secara sosial, demikian hasil riset di University of California di Los Angeles (UCLA).

Dalam studi yang dipublikasikan jurnal Psychological Science edisi November 2009 tersebut, para ahli menanyai 25 wanita apakah dengan hanya memandangi gambar orang yang mereka cintai dapat mengurangi rasa sakit.

Para wanita tersebut memiliki pacar dan mereka telah memiliki hubungan baik dengan pacar mereka selama lebih dari enam bulan. Semua wanita itu mendapatkan rangsangan panas yang cukup menyakitkan di lengan mereka sewaktu mereka melewati sejumlah kondisi yang berbeda. Pada satu rangkaian keadaan, mereka memandangi gambar pacar mereka, orang asing, dan kursi.

“Ketika semua wanita tersebut hanya memandang gambar pasangan mereka, mereka sesungguhnya melaporkan lebih sedikit rasa sakit akibat rangsangan panas ketimbang ketika mereka sedang memandangi gambar satu obyek atau gambar orang asing,” kata penulis studi itu, Naomi Eisenberger, Asisten Profesor Psikologi serta Direktur Laboratorium Ilmu Syaraf Afektif dan Sosial di UCLA.

“Jadi, mengingat kepada pasangan, melalui gambar sederhana, seseorang mampu mengurangi rasa sakit,” katanya

Dalam serangkaian kondisi lain, masing-masing wanita memegang tangan pacar mereka, tangan seorang pria asing, dan menggenggam bola. Studi itu mendapati bahwa ketika perempuan memegang tangan pacar mereka, mereka melaporkan lebih sedikit rasa sakit dibandingkan dengan saat mereka memegang tangan orang asing atau bola sewaktu mereka menerima jumlah perangsang panas yang sama.

“Ini mengubah pendapat kita mengenai bagaimana dukungan sosial memengaruhi orang,” kata Eisenberger.

“Secara khusus, kita memikirkan dukungan sosial itu untuk membuat kita merasa nyaman, itu harus menjadi sejenis dukungan yang sangat responsif bagi kebutuhan emosi kita. Namun, di sini, kami menyaksikan bahwa hanya foto orang yang penting buat seseorang dapat memiliki dampak yang sama.”

Studi ini, kata Eisenberger, memperlihatkan seberapa banyak dampak hubungan sosial kita dapat muncul dalam pengalaman kita dan cocok dengan kegiatan lain yang menekankan pentingnya dukungan sosial bagi kesehatan fisik dan mental.

Para peneliti tersebut menyarankan bahwa jika nanti orang mesti melewati pengalaman yang menyakitkan atau berupa tekanan, tapi mereka tak dapat menghadirkan orang yang mereka cintai untuk mendampingi mereka, foto dapat menggantikannya.

Editor: acandra
Sumber : Ant

Katakan Cinta Kalau Memang Cinta

Posted on Updated on

Sifat Munafik (Pribadi munafik) kerap kali tidak disadari oleh seseorang. Mereka tidak sadar kalau sebenarnya dalam dirinya telah memelihara tanaman penusnah yang sangat berbahaya dan membahayakan. Bukan hanya ini, tidak jarang mereka semakin hari semakin memupuk tanaman tersebut sehingga tumbuh dan berkembang.

Salah satu contoh dari hal diatas adalah berpura-pura mencintai lain jenis padahal dusta, bohong hanya dalam rangka ingin mewujudkan niat yang tersembunyi.  Bisa jadi memiliki niat yang kurang baik terhadap pasangan sehingga tertutupi kata dan kalimat manis yang diucapkannya sehingga pasangan pun meng-ya-kannya.

Tidak  jarang kalau kita tanyakan kepada sebagian orang yang kita kenal dengan pengakuannya mereka akan menjawab BUKAN atas dasar CINTA  melainkan harta, tahta atau rupa. sehingga kalau ketiga hal tersebut sudah terpenuhi, maka orang tersebut (subyek) akan langsung meninggalkan obyeknya, mujur kalau masih sempat mengucapkan selamat tinggal.

Pribadi Munafik tidak usah dipelihara. Hanya lantaran niat yang tidak benar, banyak orang menerlantarkan makna kesucian cinta. menyamaratakan makna demi tercapainya nafsu materialisnya. Alangkah lebih baiknya kalau kita memang ada rasa cinta katakan jangan dipendam. Karena cinta bukan untuk dipendam atau disembunyikan melainkan untuk dirasakan dan dijalani.

Ada hal yang harus kita ingat dalam kehidupan cinta, CINTA bukanlah sebuah permainan yang harus ada kalah menangnya. Masalah kalah menang dalam bercinta bukan permainan tetapi hiasan dari makna firman Allah, bahwa Allah menciptakan segala sesuatu selalu berpasang-pasangan. Ada suka ada duka, ada tangis ada tawa, begitu selanjutnya.

Jadi katakanlah cinta kalau memang cinta, jangan mengatasnamakan yang lain dengan cinta.  Berani mengatasnamakan yang lain dengan cinta, sama halnya dengan bersiap-siap menghadapi tangtangan hidup selanjutnya.

Lahir, Hidup Dan Mati Karena CINTA

Posted on Updated on

“Katakanlah, jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, maka Allah akan mencintai kalian.’ (Al-quran.)

Adakah kekuatan yang mampu membelah lautan menjadi darat?

Adakah kekuatan mendinginkan bara api?

Adakah kekuatan menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada? (bukan membuat)

Belajar menjadi orang bijak setidaknya memandang kehidupan dengan cinta. Karena mereka sadar tercipta dengan cinta dan karena itu pula tidak mungkin mereka mengingkari fitrah kelahirannya tersebut sehingga mereka tebarkan pengaruhnya atas dasar cinta.

Mungkin Tidak berlebihan salah satu gaya kepemimpinan berpusatkan pada kekuatan cinta (leadership by love). (baca : Tasmara, Spiritual Centered Leadership). Lingkaran pengaruhnya dipenuhi dengan rasa tanggung jawab yang tulus merupakan bagian dari putik sari bunga cinta. Mereka sadar bahwa dengan memeperluas medan pengaruh atas dasar kasih, persaudaraan dan ketulusan tidak akan kehilangan apapun. Justru dengan memberi cinta, dia merasa menerima keberkahan. Cinta telah memeluk, menjerat erat dirinya sehingga wajahnya senantiasa menunjukkan senyum, keakraban, familiar dan penuh kesejukan. Kehadirannya menjadi penyejuk hati membawa keceriaan, dan meggetarkan orang-orang disekitarnya kedalam kebahagiaan pula, mereka adalah tipe manusia yang menumbuhkan pengaruh kredibilitasnya melalui pelayanan yang berorientasi pada kebahagian, kepeuasaan, dan ketentraman orang-orang yang dilayaninya.

Rasullulah SAW adalah pemimpin agung, manusia tersukses, sosok kekasih Allah yang menunjukkan keteladan tentang apa arti melayani dengan cinta. Hatinya bergetar setiap kali melihat penderitaan atau beban oran-orang yang beriman. Jiwanya meritih bila dia tidak mengunjungi orang-orang yang miskin yang membutuhkan penghiburan beliau. Pemaafannya luar biasa. Pada saat kekuasaan berada di dalam genggamannya (futtuh makkah) semua musuh-musuhnya kecut bahkan ada yang melarikan diri. Karena disangkanya akan ada balas denadam kepada mereka yang telah membuat Rasullullah dan keluarganya menderita. Tetapi, beliau bersabda, : “ Tidak ada dendam, tidak ada kebencian, fainnakum tulaqa! Engkau semua bebas kemanapun engkau suka.”

Tutur katanya lemah lembut dan senyumannya merona menebharkan kedamian. Disayanginya anak-anak kecil. Dimotifasinya para pemuda dan dihormatinya orang-orang tua. Rasullulah SAW. Pemimpin agung kekasih Allah, tetapi bila akan menemuinya cukuplah kita mencarinya dianjtara orang-orang yang hantinya patah atau orang yang perutya kelaparan. Disanalah beliau bergabung, diantara orang-orang yang membutuhkan penghrapan dan pertolongan. Antara dirinya dan umatnya seakan tidak berjarak. Dihormatinya tamu-tamunya dengan dihamparkannya sorbannya untuk memulaikan tamu yang hadir. Ash-shalatu wassalamu alaika ya Rasulullah.

Bagaimana keadaan kita yang berada di dunia Egoisme ini? Kapankah kiranya hendak sedikit meneladani sifat cinta Rasulullah? Adanya beliau penuh cinta, gerak badan, helaan nafas bahkan getak jantung adalah cinta.

Putus Cinta, Bunuh Diri? Itu Bukan Korban Cinta

Posted on Updated on

Memberikan    cinta kepada seseorang  bukanlah  suatu  jaminan  kalau  orang  tersebut  akan mencintai kita. Kita tidak boleh terlalu banyak berharap kepada manusia yang dalam hal ini adalah orang yang kita cintai. Ingatlah kalau yang kita cintai itu adalah MANUSIA yang memiliki banyak kelebihan tepapi jangan lupa kekurangannya manusia. Karena kesadaran yang dipraktikan akan meminimalisir kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

Dewasa ini, entah berapa jiwa yang telah mengakhiri hidupnya di tangannya sendiri. Bukankah ini adalah suatu keanehan?

Kita yang selama ini dibesarkan oleh orang tua, disekolahkan dan dipenuhi berbagai kebutuhan, ternyata setelah remaja harus memberikan nyawa kepada tiang gantungan, pel over dosis, pisau digenggaman, lompat dari gedung,lompat ke jurang dank e tempat-tempat yang mampu membawa mereka kea lam kedamaian (perspektif mereka).

Kasus bunuh diri diatas ternyata diasumsikan dengan istilah Korban Cinta. Seakan cinta adalah sesuatu yang menakutkan. Alangkah lebih baiknya kalau asumsi ini kita ganti dengan istilah lain. Karena cinta itu adalah sesuatu yang suci. Apakah tidak lebih baik bagi mereka yang telah meyerahkan nyawanya (bunuh diri) dengan lain istilah bukan korban cinta. Andai saja mereka paham tentang (minimalnya) gambaran cinta, Insya Allah tidak akan pernah melakukan hal naïf tersebut.

Kedangkalan pengetahuan terhadap makna cinta, wajar kalau berakhir dengan pertikaian bahkan pembuhan. Apakah tidak ada cara dan jalan lain untuk meyelesaikan suatu masalah yang berhubungan dengan putus cinta selain bunuh diri?

Bukanlah ada istilah lain lagi, “Jangan bermain api kalau takut panas. Jangan bermain cinta kalau takut kecewa.”

Orang-orang yang melakukan hal-hal nekad diatas, berarti pada dasarnya belum siap bercinta sehingga lantaran tidak kuat menanggung derita, kecewa dan keputusasaan yang sangat dalam mengharuskannya bunuh diri. Itu dilakuakan karena kedangkalan pemahaman, tipisnya keyakinan. Itu juga bukan korban cinta melainkan korban keserakahan nafsunya sendiri.

Semoga Allah melindungi kita dari hal itu. Amien.

Rambu-Rambu Bercinta

Posted on Updated on

Cinta itu adalah sesuatu hal yang abstrak. Cinta bukan sekedar rasa melainkan keseluruhan rasa,asa dan perasaan bahkan perbuatan. Cinta bukan sekedar bahasa kata, bukan pula sekedar terjemahan sikap semata, melainkan rasa yang diterjemahkan dalam kata, sikap dan rasa itu sendiri. Akan tetapi itu bukan difinisi dari cinta, karena bagaimanapun juga cinta bukanlah kata atau rasa yang memiliki batas. Memberikan difinisi terhadap cinta secara tidak langsung  memberikan batasan makna cinta.

Perasaan cinta tidak akan pernah hadir sebelum mampu menghilangkan rasa benci, dengki, tidak suka, muak dan beberapa sifat yang bertentangan dengan gambaran makna  cinta.

Akan tetapi tidak menutup kemungkinan cinta lahir dari arah yang berlawanan tersebut. Atau dengan kata lain, Cinta adalah kemampuan untuk menghilangkan perasaan benci, dengki, acuh dalam menjalin hubungan dan perhatian yang intensif terhadap yang dicinta.

Ada gambaran sabda dari baginda Nabi Muhammad saw,

“ Barang siapa yang mencintai sesuatu maka ia menjadi budak dari apa yang dicintainya.”

Para ilmuwan muslim (baca : ulama Allah) sebagian memberikan rambu-rambu lalu lintas bercinta agar tidak terjebak ke lambah pembudakan tersebut. Mencintai adalah merupakan fitrowiyah bagi seseorang. Selama menjadi manusia, pasti memiliki perasaan cinta. Karena cinta merupakan fitrowi maka, tidak mungkin suatu doktrin akan mengajarkan untuk mencintai. Bukanlah kita ada karena adanya cinta?

Gambaran batasan yang diberikan para ulama tentang cinta tersebut, agar seseorang mencintai bukan semata karena hasrat yang dipicu nafsu, melainkan menyadari dengan segenap pengetahuan, bahwa adanya cinta tidak mungkin tumbuh dengan sendirinya tetapi karena ada yang mengadakan, menumbuhkan kembangkan, sehingga terlahir dalam bentuk rasa, kata dan perbuatan.

Mungkin kita agak sulit membedakan makna cinta yang mengarah kepada pembudakan (cinta yang terlahir karena nafsu) dengan rasa yang tulus dan murni karena anjuran syar’ie. Mungkin juga kita sempat bertanya kepada orang atau kepada diri sendiri, apakah rasa yang sedang menepit jiwa hanya sekedar hasrat, buruan nafsu, kehendak atau kamuslase saja?

Minimalnya kita memiliki gambaran tentang rambu-rambu dalam bercinta agar tidak tertipu oleh daya dan kekuatan yang dimiliki musuh-musuh kita (iblis) :

  • Menyadari dengan sepenuhnya, cinta bukan hanya terlahir karena seringnya bersama (berkumpul), seringnya berkomunikasi, atau lantaran kebaikan sikap, wajah dan lain sebagainya tetapi ada kekuatan supra natural yang menghadirkannya.
  • Mentaati rambu-rambu agama dalam menjalin komunikasi bukan sekedar ingin memuaskan panggilan nafsu.
  • Memiliki orientasi yang jelas dan kontinuitas yang konsis terhadap hubungan yang dibina tidak hanya dianggap sebagai permainan belaka.
  • Menyadari motor penggerak kehidupan, bahwa apa yang sedang dijalani tidak mesti berujung dengan senyum dan tawa melainkan bisa jadi berakhir dengan air mata dalam ketidakpuasan.
  • Memahami pula makna dalam penciptaan, Allah selalu memberikan pasangan. Allah menciptakan atas maka diciptakan-Nya pula bawah, ada timur ada barat. Begitu juga kalau saat ini sedang tertawa karena senang, bersiaplah untuk menangis dalam duka dan kecewa.

Tidak ada jaminan khusus bagi kita untuk sukses dalam menjalani cinta walau sudah ada rambu-rambunya, tetapi minimalnya kita telah mempersiapkan diri untuk dapat menghadapi kemungkinan tantangan yang bakal terjadi.

Semoga Allah menyatukan kita dalam cinta dan memisahkan pula dengan cinta, amien.

Kemunafikan Adalah Virus, Jadi Vaksin?

Posted on Updated on

Munginkankah virus bisa berubah menjadi vaksin? Kalau dalam dunia medis bisa saja. Karena perkembangan ilmu dan teknologi semakin canggih, semuanya bisa disulap menjadi hal yang mengagumkan.

Misalnya racun atau bisa ular kobra dijadikan obat untuk penyakit tertentu sebagaimana dilakukan oleh Negara-negara tetangga (pernah ditayangkan di TV7). Ada juga yang menjadikan racun ular yang mematikan tersebut sebagai obat kekebalan tubuh atau dijadikan vaksin untuk melawan beberapa racun dalam tubuh. Dalam islam, jauh-jauh sebelum perkembangan imtek, ternyata sudah ada permainan yang tidak kalah pentingnya yaitu tentang kemunafikan disulap jadi kedekatan, kejujuran, bahkan menjadi cinta.

Karena objek kita adalah kemunafikan, maka pada bahasan ini penulis berusaha menitik beratkan pembahasan kepada pengolahan sifat munafik yang merupakan virus keimanan bisa menjadi sebuah obat penguat atau vaksin terhadap keimanan. Sebagai penguat kedekatan seorang hamba dalam meniti jembatan pengabdiannya kepada Allah.

Dalam berbahgai literature termasuk Nash alqur’an dan transliterasi dari berbagai hadits, bahwa sifat munafik adalah suatu sifat yang sangat dilarang oleh syar’ie otomatis larangan berkibat keharaman (mendapat dosa kalau dikerjakan dan dapat pahala jika ditinggalkan). Akan tetapi juga tidak menutup kemungkinan sifat munafik dirubah menjadi suatu perintah yang korelasinya senada dengan virus dan racun menjadi vaksin bagi kekebalan tubuh.

Sifat munafik selaksa bara api yang akan membakar habis segala kebaikkan dan pengabdian seseorang kepada Allah. Sebagaimana api membakar kayu. Tetapi sifat munafik bisa menjadi kayu bakar yang menyalakan api keimanan seseorang dengan bara yang lebih dan sangat panas.

Dalam sejarah perkemabangan kebudayaan islam, kita mengena khalifah Harun Arrasyid, pada masa beliau kita memngenal ilmuwan muslim (ulama) yang sampai saat ini karya beliau dipopuleritaskan dan diamalkan di beberapa unit pendidikan islam (baca pondok pesantren) dengan istilah Syi’ru Abunawas (syair abunawas). Dalam syairnya, Abu Nawas mengatakan (transliterasi)

“Tuhanku sungguh tidak pantas aku untuk surga firdaus

Tetapi tidak pula sanggup (kuat) menahan siksa neraka-Mu”.

Itu adalah cuplikan bait syair yang diberikan Abu Nawas yang diberikannya pada saat seorang muridnya bertanya:

“Guru, bisakah kita menipu Allah?”

Abu Nawas menjawab, “Bisa.” kemudian membaca syai’r di atas hingga akhir (baca Kisah Abu Nawas menipu Allah).

Yang penulis maksud dengan sifat munafik bisa jadi Vaksin, bukan munafik yang membangkang, melanggur aturan main syar’ie, pura-pura beriman dibelakang membangkang, tetapi justru melaksanakan perintah-Nya. Seseorang yang benar-benar muslim tetapi benar juga mukminnya, akan meyakini dan menyadari kalau dirinya adalah orang lemah, oranjg dhalim yang tidak mampu menghitung segala anugerah Allah.

Berjuta-juta milyard bahkan tak dapat dihitung nikmaNya yang diberikan dalam hitungan jam, yang tidak sanggup untuk dihitung apalagi dibalas (Baca Arifin : Samudra Alfatihah). Menyadari ketidakmampuan akan segala kasih sayang yang diberikan Allah dalam segala hal dan keadaan akan membawa ke pintu gerbang ke vaksinasi keimanan dengan catatan ada pengakuan, kesadaran, pelaksanaan dan pembuktian kalau kita adalah makhluk yang lemah, tanpa rahmat-Nya. Tidak akan mampu menghadapi undangan Allah. Kita juga sadar kalau undangan Allah (shalat lima waktu) semata, bentuk kasih sayang Allah untuk hamba-hambaNya. (baca cinta spesial dari Allah).

Belajar menipu Allah dengan lebih dekat kepada-Nya akan menjadi vaksin yang akan menjadi penguat bagi aqidah dan keyakinan seorang hamba, tetap berusaha menjalankan perintah dan meyakini larangan adalah kemudharatan hidup, kemudian berusaha mecari kebijakan dari hal yang dianggap kecil dan spele oleh orang-orang yang telah ditutup dan dibutakan pimtu hantinya oleh Allah.

Semoga kita mampu menjadikan perintah Allah sebagai perahu layar untuk berlabuh di dermaga cinta dalam menggapai penyatuan rasa bersama sang kekasih keabadian. Amien

Konsultasi: Si Dia Berubah Setelah Tahu Yang Sebenarnya

Posted on Updated on

Pak ustad, sy pusing. sy mw crita skaligus minta saran [atau konsultasi]. Dulu sy pernah bohong tentang status dan fisik kpd orang yg br sy knal.
Singkat crta, sy dgn dia mnjd dkat. Dan trnyta dy suka sm sy.Sy sadar kl sy bkan real sy yg bnar, mknya dy gak sy tanggpn. Tp mkin lama sy gak tega jg ngliat dy sy bo`0ngn gt. Kyknya dy trlihat sngat mencintai sy. Akhrnya, trjdlah pengakuan. Sy ngaku smuanya sm dy. Dy marah besar. Wajar sj menurut sy. Krna dl sy bohng dlm taraf tnggi. Trlalu dbt hmpir sempurna. Cantik, kaya, cerdas,dll
yg pd aslinya y sy hnya cewe yg biasa2 aja. Tp trnyta stlh bbrapa hr, dy bs mnerima sy kmbali. Krna ktnya dy udah trlanjur syg.Akhrny qmi spakat untuk brtmu 1 sm lain. Dy mau menerma sy apadanya.Qmi pun brpcran.Blm ada 2bln qmi brpcran, sy menanggkp sikap yg kurang enak skrg drpd ktka sy menjd org lain yg dl.
Contoh :
*dulu wkt sy msh mnjd diri yg lain, dy cpat dan sering mengungkapkn rasanya kpda sy. Seakan2 dy sngat mmbutuhkn sy. Tidak pernah mrh ato ngambek kl sy brbuat kslhn. Intinya dy it ngalahan. Dy rela nunggu sy mmbuat tugas smpai pagi wlwpn dy it ngantuk skali(via tlp).Pokokny lbh trlihat perhatian dan kerela brkorbannya trhdp sy yg dulu. Dan mslhnya yg skrg smuanya terbalik dr yg diatas itu.
Knp y pak ustad?
1.Apa dy skrg bnr2 mencintai sy atau hnya skdar syg sy sja?
2. Knp dy brbh akn sikap2nya yg dl dan yg skrg? Ap krna dl saya trgambarkn cantik dan skrg tidak ato bgaimana?
3.Saya hrs bgaimana? Tetap Brtahan dlm hubungan ini ato tidak?
4.Apakah sy hrus membatasi rasa syg sy ke dia agar syg tdk trlalu sakit ht kl trnyta nanti sy tw dy tdk sbgus yg sy kira?
5.Mnrt bpk dy it srius ato hanya main2 sja?
6.Apakah wajar sikapnya trsbt trhdp sy?
7.Apa yg harus sy lakukan agar sy tw prasaan dy yg ssungguhnya it tnpa hrs brtanya atau menunggu dy mengucapknnya krna sy pkir hal tersbt tidaklah mgkn dkarnakan dy yg trkesan cuek dan tdk pduli thdp perlakuan yg sy ingnkan?

Trima ksh.

Tanggapan M Shodiq Mustika: Baca entri selengkapnya »

Konsultasi: Saat Si Dia Kurang Romantis & Kurang Serius Menjalin Hubungan

Posted on Updated on

Pak ustad. Saya punya pacar yang 8 tahun lebih tua daripada saya. Dia 26, saya 19. Hubungan kami baru berjalan sekitar 5 bulan. Pokok masalahnya. Semalam, saya menanyakan seberapa seriuskah dia sama saya. Dia menjawab, ”Ga. Gak coba2. Tapi terlalu serius juga gak. Baru agak serius.”
Gak tahu kenapa ya pak, saya kok jadi ngerasa agak kecewa sama jawbannya dia itu. Saya juga gak ngerti apa maksudnya. Lagian dia juga kurang romantis dan terkesan agak cuek. Apa sayanya yang terlalu berprasangka ato gimana, saya juga gak tahu. Mungkin di sini, saya yang lebih menyayangi dia. Saya harus bagaimana, pak, menyikapi dan bertindak supaya jika suatu saat hal tersebut terjadi, saya tidak trlalu hancur dan sakit?? Mohon bantuannya. Terima kasih.

Jawaban M Shodiq Mustika: Baca entri selengkapnya »

Takut Kehilangan Si Dia? Begini Solusinya!

Posted on Updated on

Diantara persoalan yang dikonsultasikan kepadaku beberapa hari ini, ada satu persoalan psikologis yang dikemukakan oleh dua orang penanya. Persoalan semacam ini sering terjadi di dunia percintaan, baik secara terbuka maupun secara tersembunyi, yaitu masalah takut kehilangan si dia. Sebelum aku sampaikan jawabanku, aku kutipkan lebih dulu persoalan yang dikemukakan oleh dua orang penanya tersebut:

ku menjalanin hubungan dgn pria yg sdah di tunangkan oleh orang tuanya, tapi tunangan tersebut di landaskan karna hutang budi antar keluarga sdngkan aku & dia slg syng,ku bingung harus bgmna?

sdngkn di sisi lain ku tdk mau melepaskan hub ini? bahkan ku berharap dia jodoh ku + dy termasuk org yang di inginkan dlm keluarga ku.

ku harap anda bisa memberi solusi atas masalah aku.

saya seorang mahasiswi, saat ini sedang berpacaran dengan tmn sekelas, dan kami sudah sepakat untuk menjalin hubungan yang serius, klo bsa sampai pernikahan nnti. bisa dibilang hubungan kami tdk trllu mulus, krn kami berdua msh sgt muda, dan umur kami tdk jauh bda. kepribadian kami berbeda, dan saya boleh dibilang selalu lemah apabila sudah menyangkut masalah yang berhubungan dgn dia.
saya prnh brpacaran bbrp kali, dan untuk kali ini sgt berarti buat saya. saya bnr2 mencintai org ini, dr sekian kali mslh menerpa kami, saya sllu meminta ditunjukkan jln oleh Allah SWT, dan hasilnya sllu menuju kepada dia. karena itu saya yakin insya Allah dialah jodoh untuk saya.

saat ini saya bnr2 merasa bersalah kpd dia, saya melakukan hal yg paling dia tdk suka:tdk mempercayai dia.
kronologisnya:
hmpr dr 3 mgu lalu dia tdk prnh menelepon saya, atau sms saya, karena dia sedang merintis usaha yg sebelumnya prnh gagal,dan ini sgt membutuhkan konsentrasinya.
selama itu, karena dia tdk prnh menghubungi saya, ketemu d kampus pun saya merasa dia sllu judes kpd saya, dan kami tdk prnh punya ksmptn utk ngobrol sdktpun, krn dia sllu trburu2 oleh kesibukannya.
saya jd merasa panik, saya merasa dia menghindari saya, dan saya jd berpikir, apakah saya punya slh, apakah dia sdh tdk cinta, semua pikiran2 buruk itu sllu ada d benak saya.
alhasil, saya sllu cerewet, menuntut perhatian dr dia dan itu membuat dia bnar2 marah sampai skr.
saya ingin selalu mendukung dia, tp saya jg bth perhatian, saya tdk trbiasa jauh dr dia.
maksud saya, dr 24 jam waktu yg dia punya per hari, saya ingin dia bsa meluangkan wktu utk saya sdkt saja, hanya utk sekedar memberi kbr pun tdk apa2.
sampai akhirnya kmrn, saya bru melihat kalo usaha yg sdg dia kerjakan itu memang bsa dibilang bnr2 besar, tanggung jwbnya kpd orang tuanya pun bsr jg, karena selain itu dia jg msh mahasiswa.slm ini saya hanya berfikir usahanya tdk sebesar itu, krn dia sndiri tdk prnh cerita apa2 soal itu.
jd skr saya bnr2 merasa bersalah, tlh memikirkan kepentingan saya saja, di saat dia bth dukungan, ttp saya mlh menuntutnya mcm2.saya sdh mencoba meminta maaf tp blm ad balasan.
bagaimana saya hrs bersikap dan meminta maaf spy dia bsa memaafkan saya?
masalah saya yang utama adalah saya terlalu takut untuk kehilangan orang ini, saya sangat mencintai dia, dan hanya di dkt dialah saya bisa merasa tenang dan damai.
bagaimana cara untuk mengatasi ketakutan2 tsb?
karena tiap kali saya jauh dr dia saya merasa sgt insecure dan tdk tenang..

mohon bantuannya,,terima kasih

Tanggapan M Shodiq Mustika: Baca entri selengkapnya »

Heboh! Jumlah Caleg Stres Mungkin 186 Ribu!!

Posted on Updated on

Gawat! 186.000 Caleg Kemungkinan Kena Gangguan Jiwa
Senin, 20 April 2009 | 19:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Diperkirakan ada sekitar 186.000 caleg yang mesti mendapatkan bantuan psikolog karena gangguan jiwa lazim, 4.800 caleg yang memerlukan rawat jalan dan pengobatan karena gangguan jiwa berat, dan 480 caleg yang perlu mendapat perawatan di rumah sakit jiwa.

Perkiraan di atas disampaikan oleh psikiater dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Hervita Diatri dalam Forum Temu Media FKUI, Jakarta, Senin (20/4).

“Ini dihitung berdasarkan prevalensi riset kesehatan dasar tahun 2007, pusat penelitian dan pengembangan Depkes yang dikalikan dengan jumlah kegagalan para caleg. Jumlah tersebut didasarkan dari rasio kemungkinan jumlah caleg dengan kursi yang diperebutkan,” kata Hervita.

Lebih lanjut ia menjelaskan, gangguan jiwa lazim itu seperti depresi, kecemasan, sulit tidur, gangguan makan, keluhan fisik tanpa dasar. Sedangkan gangguan jiwa berat meliputi gangguan perilaku, pikiran bunuh diri, penyalahgunaan zat dan alkohol.

“Setidaknya ada 4 faktor yang membuat hal itu bisa terjadi pada para caleg,” ungkap Hervita. Pertama adalah faktor individu. Mereka yang masuk di sini adalah yang pada dasarnya memiliki kecenderungan mekanisme adaptasi dan cara penyelesaian masalah yang kurang matang.

Kedua, faktor sosial-ekonomi. Para caleg memiliki motivasi yang kuat tetapi kurang mendukung untuk persiapan kegagalan. Para caleg menganggap pencalonan dirinya sebagai tindakan penyelamatan untuk perbaikan ekonomi, status sosial; merupakan tindakan investasi maupun dianggap sebagai lapangan pekerjaan.

Ketiga, faktor sistem. Kurangnya pemahaman mereka tentang sistem demokrasi dan pemilu, partai, termasuk posisi yang akan diperebutkan sehingga risiko kegagalan kurang diprediksi.

Terakhir, terkait dengan faktor strategi. Mereka kurang memperhitungkan untung-rugi. Tindakan yang mereka lakukan, seperti menjual begitu saja harta benda mereka seperti rumah dan tanah dan juga berutang dalam jumlah yang besar, bisa memicu stres.

Untuk itu, Hervita mengingatkan bahwa kemungkinan jumlah caleg yang stres bisa terus bertambah mengingat proses penghitungan suara masih berlanjut. Oleh karenanya, ia mengingatkan beberapa hal.

Pertama, keluarga caleg perlu menjaga komunikasi dan saling memberikan dukungan untuk lebih mampu melihat semua ini sebagai proses yang perlu dihadapi bersama secara positif.

Kedua, bila para caleg maupun anggota keluarga caleg melihat ada perubahan secara psikologis maupun fisik seperti yang tersebut di atas, maka sangat disarankan untuk konsultasi dengan tenaga kesehatan jiwa.

“Ketidakberhasilan yang terjadi saat ini adalah milik saat ini. Kehidupan memiliki masa lalu, saat ini dan masa depan. Mari belajar bersama dari masa lalu dan saat ini, untuk merangkai masa depan,” kata Hervita.