remaja

Program Terbaru PESANTREN CINTA: Pesantren Kilat Akhir Pekan untuk Muda-Mudi

Posted on Updated on

Setiap akhir pekan, biasanya kamu ngapain aja? Pacaran, jalan-jalan santai, nongkrong di Mal, nonton televisi di rumah atawa apa? Nih, ada acara alternatif yang lebih oke. Ikutan aja program Pesantren Kilat Akhir Pekan untuk Muda-Mudi di Pesantren Cinta, Jogja. Waktu yang disediakan tuh dari Sabtu sore sampe Minggu siang. Setiap pekan diadakan. Acaranya nyantai tapi jitu. So, dua hari saja jadi “santri”, kamu sudah mampu mengatasi masalah cinta yang sedang kau hadapi. Ini dia pengumumannya:

Pesantren Cinta

Pengasuh: Ustadz M Shodiq Mustika (penulis buku bestseller Istikharah Cinta)

Sekretariat 1: Lantai Dasar Masjid Pangeran Diponegoro, Kompleks Balaikota, Jl Kenari 56, Jogjakarta, Telp 0274-544838

Sekretariat 2: Jl Monjali km 5, Gg Kembang Duren II, No 79 B, Jogjakarta (barat Nandan Griya Idaman) HP 085643030092

Pesantren Kilat Akhir Pekan untuk Muda-Mudi

Pilihan Paket Program:

  1. Bagaimana Mendapatkan Jodoh Terbaik
  2. Bagaimana Mengendalikan Nafsu Seksual
  3. Bagaimana Mengatasi Putus-Cinta
  4. tema lain menurut permintaan klien

Materi Kajian:

Paket 1. Bagaimana Mendapatkan Jodoh Terbaik:

  1. Mengenal Perbedaan Kepribadian Pria-Wanita
  2. Kunci Sukses di Dunia Cinta
  3. Jurus-jurus PDKT (pendekatan) Islami
  4. Cara Istikharah Menurut Sunnah Rasulullah
  5. Bagaimana Mendapat Restu dari Orangtua
  6. Bagaimana Supaya Siap Nikah
  7. Studi Kasus Pencarian Jodoh

Paket 2. Bagaimana Mengendalikan Nafsu Seksual:

  1. Mengenal Perbedaan Seksualitas Pria-Wanita
  2. Kunci Sukses Mengendalikan Nafsu
  3. Jurus-Jurus Penangkal Zina
  4. Kendalikan Nafsu Seksual dengan Puasa ala Nabi
  5. Kiat-kiat Mengatasi Kecanduan Seksual (pornografi, masturbasi, dsb.)
  6. Bagaimana Menyalurkan Energi Cinta kepada Lawan Jenis
  7. Studi Kasus Pengendalian Nafsu Seksual

Paket 3. Bagaimana Mengatasi Putus-Cinta:

  1. Mengenal Berbagai Penyebab Putus-Cinta
  2. Pencinta Sejati Tidak “Memiliki” Kekasih
  3. Jurus-Jurus Penangkal Duka
  4. Mengobati Patah-Hati dengan Terapi Zikir “Tujuh Menit”
  5. Panduan “Taubat” bagi Pencinta yang “Gagal”
  6. Jadikan Putus-Cinta sebagai “Batu Loncatan” Menuju Kesuksesan
  7. Studi Kasus Putus-Cinta

Fasilitas:

  • Ustadz/ustadzah yang penyayang
  • Sertifikat
  • paket buku referensi & modul
  • buku tulis (notebook)
  • 3 kali makan+minum
  • Ruang kuliah, ruang tidur, kamar mandi

Infaq per Paket Program

Meskipun dikelola secara profesional, infaq  yang perlu dibayar oleh peserta program ini tidak ditentukan. Para peserta dipersilakan membayar sesuai dengan keadaan masing-masing dengan mempertimbangkan biaya fasilitas yang perlu disediakan oleh penyelenggara.

Infaq dapat dibayarkan di muka, langsung di sekretariat Pesantren Cinta atau melalui transfer ke rekening BCA no. 785-022-3569 atas nama Maimunah, S.Ag.

Tempat dan Jumlah Peserta

Kelas Jumlah Peserta per Kelas Tempat
Privat 1-2 orang Menurut permintaan klien
Umum 8-10 orang Sekretariat
Rombongan maksimal 12 orang Sekretariat atau menurut permintaan klien

Waktu

Program ini dibuka untuk setiap akhir pekan, mulai Sabtu sore hingga Minggu sore atau di waktu lain menurut permintaan klien. Peserta dapat memilih sendiri kapan bisa mengikuti program ini.

Lain-lain

Untuk pendaftaran atau informasi selengkapnya, silakan hubungi email: muhshodiq[at]yahoo[dot]com atau SMS: 085643030092

Tips untuk Berhenti dari Kebiasaan Masturbasi

Posted on Updated on

Seorang pembaca postingan “Kecanduan masturbasi: Cara mengatasinya” menyampaikan beberapa tips jitu untuk berhenti dari kebiasaan masturbasi. Ini dia kutipan kata-katanya:

saya wanita, 25 tahun juga pernah mengalami hal ini, saya masturbasi pertama kali smp, setelah 7 tahun (kuliah tingkat 2), saya mengerti sangat sulit untuk menghentikan kebiasaan ini, Alhamdullilah saya berhasil menghentikan kebiasaan itu.. saya mau berbagi tips untuk teman2 yang mengalami ini :

1. jangan mengingat lagi film porno / bacaan yang membangkitkan hasrat seksual kita, karena akan membawa kita menuju fantasi seksual yang menyebabkan kita masturbasi

2. jangan menyentuh lagi alat2 / benda-benda yang sering kita gunakan untuk masturbasi (misal selang air / bantal / guling) karena itu akan membawa kita pada perbuatan itu lagi

3. ceritakan pada sahabat kita tentang masalah ini, karena dengan begitu kita lebih dikuatkan untuk tidak masturbasi lagi

4. biasakan untuk tidak mengunci kamar saat kita di dalamnya, karena akan memancing kita untuk kembali masturbasi.

5. perbanyak shalat tahajud di malam hari, karena akan menjauhkan kita dari godaan fantasi seks yang berlebihan

6. jangan pernah mengingat kenikmatan yang pernah kita rasakan, karena tubuh kita akan segera merasa ketagihan untuk melakukannya kembali.

demikian tips yang saya berikan, semoga bermanfaat

Sejarah Asal-Mula Istilah “Pacaran Islami”

Posted on Updated on

Sejumlah orang, terutama yang suka browsing di internet pada tahun-tahun belakangan ini, menyangka bahwa aku adalah pencetus istilah “pacaran islami”. Persangkaan tersebut keliru. Untuk meluruskan kekeliruan tersebut, berikut ini hendak aku jelaskan “sejarah” asal-mula munculnya istilah “pacaran islami”. Baca entri selengkapnya »

Dampak Buruk SMS bagi Perkembangan Jiwa Remaja

Posted on Updated on

Apakah dirimu suka pakai SMS tiap hari, siang-malam dan pagi-sore? Berhati-hatilah! Jangan sampai penggunaan SMS itu menghambat perkembangan psikis dirimu, seperti dikabarkan:

SMS Hambat Perkembangan Psikis Remaja
Jumat, 29/05/2009 12:52 WIB
Fino Yurio Kristo – detikinet

Washington – Kaum muda dikenal sebagai rajanya mengirim SMS. Namun jika dilakukan dengan terlalu berlebihan alias ekstrim, kebiasaan SMS dapat membuat mereka ketiban berbagai masalah yang cukup serius.

Itulah kesimpulan yang tertera dalam penelitian oleh psikolog dari Massachussets Institue of Technology, Sherry Turkle. Studi ini menyebutkan kalau remaja yang terlalu banyak berkirim SMS dapat mengalami gangguan tidur, kecemasan dan juga terhambat perkembangan psikisnya.

Dikutip detikINET dari ABC, Jumat (29/5/2009), Turkle memaparkan kalau SMS membuat proses perpisahan antara orang tua dan remaja untuk menjadi orang dewasa yang sehat jadi terganggu. Sebab dengan SMS, anak dan orang tua dapat terus terhubung secara berlebihan.

“Di antara tugas yang harus dilakukan remaja adalah untuk berpisah dengan orang tua dan menemukan ketenangan serta kedamaian untuk menjadi orang yang mereka inginkan. Namun SMS mengganggu tugas tersebut,” klaim Turkle.

Sementara gangguan tidur atau stres dapat terjadi karena remaja sering memaksa diri untuk membalas SMS walau hari sudah larut malam.

( fyk / faw )

Hargai perasaan anak! (Kiat Jitu Mendisiplinkan Anak)

Posted on Updated on

Prinsip pertama yang perlu kita pahami untuk mendisiplinkan anak dan remaja adalah bahwa mereka lebih banyak bertindak atas dasar perasaan daripada pikiran mereka. Terkadang mereka beraksi tanpa berpikir sama sekali.

Mari kita ambil contoh seorang anak remaja yang suka marah-marah. Ia sering terlibat dalam pertengkaran lisan dengan ibu dan beberapa gurunya. Setiap kali kehilangan kendali, ia mengumpat ibunya atau gurunya itu, lalu mendapat hukuman yang relatif berat. Di sekolah, remaja ini sering diberi surat peringatan atau diskors. Ia tidak melawan. Ia selalu tampak menyesal. Namun, kenakalannya itu terus terjadi berulang kali.

Dialognya dengan ibunya seringkali terdengar seperti ini:

Anak: “Bu, bolehkah aku pergi ke rumah Christy sepulang sekolah?”

Ibu: “Tidak. Kamu harus pulang ke rumah dan mengerjakan tugasmu dulu.”

Anak: “Aku tak akan lama di sana, dan aku akan mengerjakan tugasku segera setelah pulang ke rumah.”

Ibu: “Itu yang kamu katakan terakhir kali, dan itu tidak terjadi. Jawabannya tidak. Ibu katakan, jangan meminta izin lagi!”

Anak: (Setelah mengerahkan berbagai upaya untuk melunakkan hati ibunya, ia berteriak.) “Ibu tidak pernah mengizinkan aku melakukan apa pun! Ibu #%*. Aku benci Ibu!” (“#%*” = ungkapan umpatan)

Ibu: (Juga berteriak) “Diam! Kamu dihukum tidak boleh memakai telepon selama seminggu. Kamu harus belajar menjaga mulutmu!”

Begitulah. Anak-anak tak jarang berbuat nakal dengan melakukan kesalahan lagi dan lagi, bahkan bila mereka telah dihukum berulang kali. Bila ini terjadi, seperti pada contoh di atas, orangtua perlu mencari tahu perasaan apa yang mendorong tingkah laku mereka itu. Kemudian orang tua perlu mengajari mereka untuk mengenali perasaan mereka sendiri, lalu mengajari mereka cara-cara lain (yang tidak tergolong nakal) untuk menyalurkan perasaan mereka itu.

Cara begitu mungkin perlu waktu, tetapi begitulah kiat yang jitu. Contohnya adalah seperti berikut ini.

Ibu: “Ibu khawatir akan dirimu. Kamu sering marah, tetapi Ibu berharap kita bisa menemukan apa penyebabnya. Ibu merasa ada sesuatu di sini atau mungkin juga di tempat lain yang membuatmu merasa gelisah saat ini. Bisakah kau jelaskan apa itu?”

Anak: “Aku tidak tahu.”

Ibu: “Cobalah dengan menebak-nebak lebih dahulu apa yang mungkin kau rasakan, yang membuatmu marah. Apakah kau merasa sedih karena kau pikir Ibu tidak adil padamu?”

Anak: “Ya. Ibu selalu mengizinkan Mbak Yani (kakak anak itu) melakukan apa pun yang ia inginkan. Tapi setiap kali aku minta izin untuk melakukan sesuatu, Ibu selalu melarangku.”

Ibu: “Ibu minta maaf kalau keputusan Ibu terasa tidak adil bagimu. Bagaimana jika lain kali, ketika kau merasa seperti itu, kau katakan saja baik-baik? Misalnya: ‘Bu, ini rasanya tidak adil. Aku marah.’ Katakan saja. Ibu akan mendengarkan. Kemudian kita dapat membicarakannya tanpa teriak-teriak dan tanpa kata-kata umpatan. Nah, apakah kau sepakat untuk mencoba ini?”

Perhatikan bahwa si ibu tidak berusaha mendebat anak, seperti: “Yani pernah juga Ibu larang, tapi dia tidak marah-marah. Kamu pernah pula Ibu izinkan, tapi kamu melanggar syaratnya.”

Mengapa mendebat anak yang marah itu tidak perlu? Sebab, kemarahan itu selalu merupakan emosi kedua. Kemarahan biasanya merupakan ungkapan dari perasaan yang lain. Dalam contoh kasus di atas, perasaan yang mendasari kemarahan si anak itu lebih berkaitan dengan kecemburuan atau bahkan ketakutan kalau-kalau ibunya lebih mencintai kakaknya.

Selanjutnya, orang tua perlu memaklumi perasaan si anak itu dan melakukan berbagai tindakan seperlunya (bukan sekadar menyampaikan penjelasan) yang memperlihatkan kepada si anak bahwa orangtua menghargai perasaan si anak. Segera sesudah perasaan dan kebutuhan akan penghargaan itu tertangani, insya’Allah si anak akan mengubah kebiasaannya yang kita golongkan nakal itu.

——-
Referensi: Joyce Divinyi, Discipline Your Kids, Langkah 1: Pikirkan perasaan si anak.

Salahkah menolak cinta pria tampan?

Posted on Updated on

Ustadz,, saya juga punya masalah yang agak berat niii,, jadi gini ceritanya,, saya tuh anak perempuan yang nggak pernah terlepas dari saran-saran dan perhatian orang tua saya, alhamdulillah… tapi itu semua jadi membuat perilaku dan sikap keseharian saya seperti anak kecil, walaupun umur saya hampir 17 tahun, tappi teman-teman saya selalu bilang saya seperti anak TK karena cara saya bicara, kelakuan saya, kebiasaan saya masih seperti anak kecil, unutuk mengambil keputusan sendiri saya masih kurang percaya diri, takut terjadi kesalahan yang bisa menyebabkan penyesalan di kemudian hari, yaa kurang lebih begitulah gambaran kepribadian saya,,

Dengan kondisi kejiwaan saya yang masih kekanak-kanakan seperti itu, suatu hari saya harus memutuskan perkara yang menurut saya tidaklah mudah,,

Seorang mahasiswa UI yang menurut saya amat rupawan menyatakan perasaannya pada saya.. , ingin sekali saya menjawab “iya” tappi, untuk melakukannya sangat berat bagi saya, saya punya beberapa pertimbangan untuk itu,

pertama, saya tahu dalam islam tidak ada kata pacaran,

kedua, saya tahu saya menyukainya namun, saya merasa perasaan ini hadir hanya karena paras tampannya bukan karena budi pekerti dan kesholehannya..

singkat cerita, kami tidak “jadian”………

namun, setelah semuanya selesai sering terbesit perasaan menyesal kenapa saya menyia-nyiakan orang seperti dia..

pertanyaan saya adalah:

bagaimana cara yang paling efektif agar perasaan menyesal yang sering menghantui saya saya tidak lagi ada??

Jawaban M Shodiq Mustika: Baca entri selengkapnya »

Seperti Nabi, Gaul Islami Pria-Wanita Itu Seluas-luasnya

Posted on

Luaskah pergaulan Nabi saw. dan para shahabat dengan lawan-jenis yang bukan muhrim? Sebatas dengan suami atau istri sajakah? Sebatas untuk kepentingan pernikahan dan keperluan darurat lainnya sajakah? (Ataukah meliputi semua bidang kehidupan manusia?) Manakah bukti yang menunjukkan sempitnya (atau luasnya) pergaulan tersebut?

Leluasanya Perbauran Pria-Wanita di Zaman Nabi

Ternyata, Baca entri selengkapnya »

Video PKS Berwajah Baru (Bagai Remaja ABG)

Posted on Updated on

Dalam pengamatanku, penampilan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sekarang tampak jauh berbeda dengan lima (atau apalagi sepuluh) tahun yang lalu. Seperti remaja ABG (anak baru gede), PKS kini kelihatannya gemar merias diri untuk tampil secantik-cantiknya. Terkadang, wajahnya terlihat menor lantaran make-up yang berlebihan. (Contoh kasus: “PKS Sombong …“) Namun secara keseluruhan, dalam pandanganku, penampilan PKS sekarang terlihat lebih memikat seperti Foto Aura Kasih di Majalah Sexy.

Diantara wajah-wajah baru PKS itu, yang paling membuat diriku terpikat adalah wajah yang tampak di sebuah iklan kampanye versi “track record” yang sering muncul di televisi akhir-akhir ini. Baca entri selengkapnya »

Suksesnya Film “3 Doa 3 Cinta”

Posted on Updated on

Pasangan aktris-aktor Dian Sastrowardoyo dan Nicolas Saputra pernah sukses dengan film yang mereka bintangi, “Ada Apa dengan Cinta”. Kali ini, mereka juga sukses bermain bersama dalam sebuah film yang juga romantis. Namun, filmnya kali ini lebih “dewasa”. Film ini mengisahkan 3 remaja santri yang hidup di sebuah pesantren di daerah Jawa Tengah. Tiga remaja tersebut memiliki rencana hidup mereka masing-masing setelah lulus dari pesantren. Film ini di buat di daerah Muntilan – Magelang. Pesantren yang ada di film ini adalah Pesantren Pabelan Magelang. Judulnya: “3 Doa 3 Cinta”. Bagaimana kesuksesannya? Baca entri selengkapnya »

Rayakan Hari Kasih-Sayang secara Islami

Posted on Updated on

Dari tahun ke tahun, setiap 14 Februari, muda-mudi Indonesia (yang mayoritasnya muslim) semakin bergairah merayakan “Hari Valentin” ini sebagai hari kasih-sayang. Padahal, sejumlah aktivis dakwah semakin gencar menyuarakan seruan keras: “perayaan Valentine’s Day itu haram, budaya Barat jahiliyah yang merusak Islam, harus dijauhi, jangan ikut-ikutan,” dan sebagainya. Namun, bagi banyak muda-mudi Islam Indonesia, seruan semacam itu bagai “anjing menggonggong, kafilah berlalu”.

Mengapa begitu? Salah satu diantara sebab-sebabnya barangkali adalah lantaran generasi orangtua (seperti diriku) telah memberi contoh yang kurang baik. Diantaranya: membudayakan korupsi, menyuburkan materialisme, mengakali hukum negara, melecehkan fatwa MUI, dan sebagainya. Diantara sebab-sebab semakin membudayanya perayaan Hari Valentin, yang paling mendasar menurutku adalah gagalnya kita (orangtua & aktivis dakwah) dalam memenuhi kebutuhan muda-mudi kita yang gemar merayakan hari kasih sayang setiap 14 Februari itu.

Kebutuhan mereka yang manakah yang kurang kita penuhi, sehingga mereka getol merayakan Hari Valentine? Kebutuhan akan kasih-sayang! Siang-malam, kita keasyikan berburu rezeki, mengurus ini-itu… tapi kurang menaruh perhatian kepada mereka. Ketika “menaruh perhatian besar” pun, kita suka membuka mulut dan enggan membuka telinga. Akibatnya, mereka kekurangan kasih-sayang dari kita.

Dalam keadaan haus akan kasih-sayang itu, mereka tidak menuntut kita untuk memberi kasih sayang yang lebih mendalam dari kita. Mereka berusaha sendiri memenuhi kebutuhan mereka ini. Caranya, antara lain, dengan merayakan Hari Valentine setiap tahun, yang jatuh pada 14 Februari.

Dalam keadaan begitu, apakah kita (terutama aktivis dakwah) menghargai usaha mereka? Tampaknya tidak. Kita mati-matian mencela budaya mereka ini dan menjejali telinga mereka dengan seruan-seruan keras yang jauh dari kasih sayang. Akibatnya, kebutuhan mereka akan kasih sayang itu semakin kurang terpenuhi. Walhasil, semakin terdoronglah mereka untuk berburu kasih-sayang dari luar diri kita, diantaranya melalui perayaan Hari Valentine.

Dalam keadaan yang “mengharukan” (baca: memprihatinkan) ini, apa yang dapat kulakukan selaku orangtua & aktivis dakwah? Kupikir, sebaiknya aku sampaikan seruan dengan penuh kasih-sayang. Kepada sesama orangtua dan sesama aktivis dakwah, aku mengajak, marilah kita bersikap lebih penyayang terhadap anak-anak kita dan adik-adik kita. Kepada anak-anak dan adik-adik kita, aku berseru: Rayakan Hari Kasih-Sayang secara Islami!

Bagaimanakah cara merayakan Hari Kasih Sayang yang islami? Baca entri selengkapnya »