Percaya dulu baru Yakin atau Yakin dulu baru Percaya

Posted on Updated on

Adakah yang pernah merasakan kebingungan atas suatu pilihan? Tulisan ini sebenarnya akan membahas masalah TIP SIMPLE MENGHADAPI RASA BINGUNG ATAS SUATU PILIHAN, tapi mengapa judul postinganya “Percaya dulu baru Yakin atau Yakin dulu baru Percaya?” dari judul postingan yang membingungkan ini justru bisa menjadi TIP SIMPLE MENGHADAPI RASA BINGUNG ATAS SUATU PILIHAN. Sebagain orang sering kali mengalami kebingungan jika dihadapkan dengan pilihan kalimat dengan komposisi kata yang sama namun susunannya berbeda. Misalnya saja kalimat Percaya dulu baru Yakin atau Yakin dulu baru Percaya

Antara Percaya dulu baru Yakin atau Yakin dulu baru Percaya, mana yang anda terapkan dalam hidup anda? Mungkin ada yang Percaya dulu baru yakin dan ada pula yang Yakin dulu baru Percaya, tapi ada pula yang masih bingung mau pakek yang mana yah? Antara yakin dan percaya sebenarnya tidak sama, keduanya beda tapi mirip, keduanya inilah yang sebenarnya termasuk salah satu factor yang mempengaruhi itensitas rasa bingung dalam diri anda. Ibarat organ tubuh manusia, Yakin itu adalah Hati dan Percaya itu adalah Otak. Maksudnya, Keyakinan itu adalah sesuatu yang menyangkut masalah hati sedangkan Keperyaan itu merupakan sesuatu yang menyangkut pikiran dalam otak kita. Jika anda bertanya mana yang lebih dulu antara percaya dan yakin? Itu berarti anda bertanya otak dulu atau hati? Sepintar-pintarnya otak manusia maka tak akan ada manfaatnya jika dia tak punya hati tapi sebodoh-bodohnya otak manusia tetap ada manfaatnya jika dia punya hati. Contohnya adalah ada orang yang pintar lulusan luar negeri tapi dia hanya memakai kepintaranya itu untuk kepentingan dirinya sendiri dan tidak mau berbagi kepintarannya kepada orang lain, disisi lain ada orang jalanan yang tak pernah mengenyam dunia pendidikan tapi dia rela berbagi dengan sesamanya yang sedang kesusahan walupun dia sendiri sebenarnya susah.

Berikut ini adalah beberapa contoh lain dalam mendiskripsikan Percaya dulu baru Yakin atau Yakin dulu baru Percaya:
1.Mengenai adanya Tuhan, anda Percaya dulu baru Yakin atau Yakin dulu baru Percaya? Jika anda percaya terlebih dulu maka suatu saat nanti bisa saja anda terpengaruh dan bisa jadi anda tidak yakin bahwa Tuhan itu ada tapi jika anda sudah yakin dari lubuk hati anda yang paling dalam bahwa Tuhan itu ada maka sampai kapanpun anda akan selalu percaya bahwa Tuhan itu ada.
2.Mengenai Pekerjaan anda saat ini mampukah membawa kesejahterakan, anda Percaya dulu baru Yakin atau Yakin dulu baru Percaya? Jika anda percaya dulu maka bisa saja anda akan merasa risau dan akhirnya tidak yakin ketika kesejahteraan itu tak kunjung anda dapatkan, tapi jika anda yakin terlebih dulu bahwa pekerjaan yang anda lakukan saat ini bisa membawa anda kedalam kesejahteraan maka disaat kesejahteraan itu tak kunjung datang anda akan tetap yakin dan memperjuangkan kesejahteraan yang belum anda dapatkan itu.
3.Bisakah anda di percaya orang lain, anda Percaya dulu baru Yakin atau Yakin dulu baru Percaya? Jika anda percaya dulu maka bisa jadi anda tidak yakin bahwa anda bisa dipercaya orang lain ketika kepercayaan dari orang lain itu tak kunjung anda dapatkan, jika anda yakin terlebih dahulu maka andapun akan tetap berjuang untuk bisa dipercaya orang lain walaupun kepercayaan itu tak kunjung anda peroleh. Dengan keyakinan bahwa anda bisa dipercaya orang lain maka andapun akan menjadi semakin percaya diri untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain.
Ketiga contoh diatas mungkin sudah cukup untuk mendiskripsikan bahwa kita perlu meyakini dahulu kemudian mempercayainya.

Membaca ketiga paragraph diatas apakah anda masih bingung dalam memilih Percaya dulu baru Yakin atau Yakin dulu baru Percaya? Menurut saya lebih baik kita Yakin dulu baru Percaya ketimbang Percaya dulu baru Yakin. Karena kita harus mendahulukan hati kemudian baru ke otak, itu berarti kita harus yakin dulu baru percaya. Terus apa kaitanya Yakin dulu baru Percaya dengan TIP SIMPLE MENGHADAPI RASA BINGUNG ATAS SUATU PILIHAN

Salah satu penyebab orang mengalami kebingungan adalah karena mereka tidak mendengarkan suara hati dan lebih cenderung memikirkanya dengan otak yang penuh kerisauan alhasil jika kita berlebihan dalam berfikir dan mengabaikan suara hati maka yang timbul adalah rasa bingung. Jika kita tidak peka dengan suara hati dan berfikir secara berlebihan maka kemungkinan besar yang muncul adalah berfikir negative atau dalam bahasa gaulnya adalah su’udzon thinking, apalagi jika kita lebih mendangarkan kata orang ketimbang medengarkan suara hati pastinya yang terjadi adalah super-super bingung. Jadi TIP SIMPLE MENGHADAPI RASA BINGUNG ATAS SUATU PILIHAN adalah yakinlah dulu kemudian percayalah bahwa pilihan anda itu yang terbaik, dengarkan suara hati kemudian pikirkanlah dengan otak yang jernih dan selektiflah dalam menerima saran orang lain, karena jika anda tidak selektif dalam memilih saran dari orang lain maka yang terjadi adalah tambah bingung. Dan satu hal penting yang perlu anda camkan disaat bingung menentukan pilihan adalah mohon petunjuk dariNya. Meski dalam kondisi bingung namun segala sesuatu yang berasal dari hati nurani memiliki kemungkinan yang lebih besar akan hasil yang lebih baik, YAKIN dan PERCAYALAH.

Iklan

14 thoughts on “Percaya dulu baru Yakin atau Yakin dulu baru Percaya

    luvaholic9itz said:
    14 Agustus 2009 pukul 20:45

    bingung dulu baru mikir apa mikir dulu baru nungging..???
    hemmmmp…??? 😀

    donat said:
    27 Agustus 2009 pukul 21:27

    kata siapa yakin itu di hati percaya itu di otak? gimana klo dua2nya di hati?

    liza said:
    27 Agustus 2009 pukul 21:45

    Saya setuju dgn “Yakin dulu baru percaya”
    Cuba kita fikirkan…

    seseorang itu mati apabila nyawa terpisah dari jasadnya. Dikatakan tidak bernyawa.
    Nyawa itu adalah roh yakni hati. (soul)
    Bila kita yakin ia datang dari hati, makanya ia kekal sampai kembali ke hadapNya.
    Sedang otak hanya berfungsi selama bernyawa. Apabila mati ia turut mati. Justeru percaya yang dihasilkan dari otak bukanlah sesuatu yang kekal apa lagi teguh !

    Ini cuma pendapat saya.
    Liza, Negeri Sembilan, Malaysia.

      haikal said:
      17 Agustus 2012 pukul 06:41

      lau menurut saya, sangatlah brbeda dgn kebanyakn pndapat sauadara2 d krn kn saya lebih setuju dgn ” percaya dulu baru yakin ”
      krn kita tdk mngkin yakin trhadap sesuatu jika kita tdk mngetahui tentang sesuatu trsebut…
      contoh; “makanan” jika kita mlihat suatu mkanan psti kita cari tau dhulu, apakah mknan trsebut tdk kotor atau kotor .,.lau sdah percaya bhwa mknan trsebut tdk sperti yg kita kira, barulah kita memakanx

    gienswa said:
    2 September 2009 pukul 22:12

    Makna “yakin” memiliki range yg lebih luas drpd “percaya”. Yakin bs saja merupakan harapan/doa yg muncul jauh sebelum hal yang diharapkan itu terjadi. Sementara itu, rasa percaya selalu datang seiring atau sesudah suatu fakta/bukti terjadi.
    Yakin sangat erat terkait dg emosi yg kadang misterius: tak perlu fakta nyata yg mendukungnya. Sedangkan rasa percaya terkait dg pemikiran logis. Dengan pengertian di atas, sptnya sdh tersirat bhw yakin selalu dtg lbh dulu drpd percaya, disadari ataupun tidak.

    Idealnya, keyakinan dibangun di atas fondasi logika, dan rasa percaya jg selalu mempertimbangkan suara hati. Hal ini untuk menghindari munculnya keyakinan yang keliru(tak logis) ataupun rasa percaya yg membabi-buta/fanatisme. Sengaja fanatisme sy anggap sbg bagian “kepercayaan” bukan keyakinan karena fanatisme itu timbul akibat stimulus melalui otak; baik dari doktrinasi org lain maupun akibat dari “racun” bacaan. Dan karena berhubungan dg kerja otak, fanatisme itu terkait erat dengan pengetahuan dan kemampuan pikir/intelegensi seseorang.

    Dalam hal memutuskan sesuatu dengan memohon petunjuk-Nya, memang harus didasari keyakinan positif/husnudzon. Kadang2 kita “terpaksa” langsung meminta restu pada-Nya atas tindakan yang akan kita lakukan yang kita yakini benar, bukan menyodorkan pilihan dan meminta Dia memberikan tanda2 pilihan yang tepat bagi kita. Dalam hal ini kita anggap keyakinan yg muncul di hati kita sdh merupakan petunjuk awal dari-Nya.

    Contoh rekaan ttg seorg gadis yg dilamar 3 pria dalam suatu waktu. Asalkan pernah bertemu/taaruf dg ketiga pria itu, tentulah si gadis sudah memiliki pilihan awal di antara ketiganya. Hal yg biasa tjd, si gadis akan meminta wkt utk beristikharah, memohon petunjuk-Nya ttg siapa yg terbaik untuknya di antara ketiganya. Petunjuk pasti Allah berikan, hanya saja si gadis bs tepat menafsirkannya atau tidak.. itu soal lain.

    Jika membahas ttg percaya dan yakin, saya sptnya lebih suka jika si gadis dg berbekal keyakinan awal ttg pilihannya itu langsung meminta Restu saja dari Tuhan. God, I like him..please bless me/us. Karena bagaimanapun jg setiap keputusan/pilihan yg kt ambil mrp tanggungjwb kita. Tak ada celah utk menyalahkan tuhan.

    (setelah koment puanjang gini, sy kok jadi bingung, Mas..ga s4 ngedit..maaf..yaa..hehe)

      detsu said:
      9 Mei 2014 pukul 13:00

      Kalo menurut saya. Kita tidak bisa menentukan yakin dulu baru percaya. Atau percaya dulu baru yakin. Kalo diliat dari kisah leluhur. Kebanyakan mereka mempercayai sesuatu dulu baru meyakinkan diri. Seperti kita umat setelah nabi muhammad SAW. Kl udah percaya barulah meyakini dengan mengucapkan kalimat syahadat. Diliat dari kisah yg dmulai dari kalifah pertama. Dia mempercayai akan dtang seorang rosul terakhir. Dan setelah diberikan tanda dia yakin untuk memeluk islam.

      Jika yakin itu adalah rasa (hati) percaya itu pikiran ( otak). Jika kita rincikan lagi. Pikiran itu lemah terhadap hati. Karna kalo hati udah bicara dia sudah bisa menentukan mana yg benar. Tapi jangan dipikir kalo hati yg paling kuat didiri manusia. Masih ada nafsu. Hati paling lemah terhadap nafsu. Maka dari itulah allah memberikan pikiran buat berfikir. Dan mengendalikan hawa nafsu.

      Itu pendapat saya. Jadi mnurut saya tidak bisa ditentuin dulu yakin dulu baru percaya.

    afano said:
    7 September 2009 pukul 17:31

    lapar dulu baru makan atau makan dulu baru kenyang..he.he..!yakin dung

      rahma said:
      6 Mei 2015 pukul 09:28

      Setuju bngt….

    Diana Hafni Harahap said:
    17 Oktober 2009 pukul 17:57

    thanks atas dimuatnya blog ini tpi, msih ada yg kurang tuh tipsnya bgm membangun KEYAKINAN (hati) lbih besar pekanya daripada KEPERCAYAAN (otak).

    sorianus zebuua said:
    1 November 2011 pukul 19:20

    apa seh perbedaan yakin dan percaya yg sebetulnya?

    jhody said:
    26 September 2012 pukul 14:06

    klu mnurut sy mah, gk beda’ jau hanya beda tipis doank kok, jd gk usah dibahas ntar jd msalah.

    Fotocopy Murah said:
    3 Desember 2013 pukul 17:06

    Luar biasa tipsnya, kadang memang kita suka mengandalkan otak terlebih dahulu dibandingkan dengan hati, mksh ya tipsnya

    amhien junkeyz said:
    4 Juni 2014 pukul 00:56

    Agama yg melahirkan sejarah atau sejarah yg melahirkan agama

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s