… jika anda sangat mencintai Allah SWT dan beliau SAW, anda tidak akan menulis seperti ini, tapi anda akan menulis yang isinya sangat menganjurkan menuliskan SWT dan SAW, bahkan menuliskan dengan lengkap tanpa menyingkat. jika anda seorang yang dalam ilmu tentang Islam, kenapa tidak memunculkan mahabbah dan ta’dziman kepada Allah SWT dan Muhammad SAW?? … jika anda memang ‘ulama dari barisan Islam yang lurus, ajarkan kami untuk mencintai dan ta’dziman kepada Allah SWT dan Muhammad SAW, bukan malah mendangkalkan.
Tanggapan M Shodiq Mustika:
Ada banyak cara untuk menunjukkan cinta kita kepada Allah SWT dan rasul-Nya. Ada kalanya kita perlu menyebut “SAW” (atau pun SWT) secara lengkap, ada kalanya perlu menyingkat, dan ada kalanya pula tidak mencantumkannya diperlukan, tergantung pada situasi (atau konteks) yang kita hadapi. Untuk pertimbangan, aku biasanya berpedoman pada Fiqh Prioritas.
Situasi yang sedang kuhadapi ketika menulis artikel “Haruskah menyebut Nabi Muhammad dengan “Muhammad SAW”?” adalah adanya sejumlah orang yang mewajibkan penulisan “SWT” dan “SAW”. Kalau sebatas menganjurkan, tentunya aku sangat mendukungnya. Tapi karena mereka sudah berlebihan, yakni mewajibkan suatu amal yang tidak diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka aku merasa berkewajiban mengingatkan mereka. (Alhamdulillah, sebagian besar dari mereka bersedia menerima dakwahku ini. Semoga demikian pula Anda.)
Dan Allah sajalah yang Mahatahu.