Taaruf, Sebuah Istilah yang Asal Keren?

Posted on Updated on

Pada beberapa tahun terakhir ini, ada gejala pergeseran makna taaruf. Ada kecenderungan, taaruf tidak lagi diartikan menurut makna asli yang terkandung dalam Al-Quran, surah al-Hujurât [49], ayat 13: “Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku li ta‘ârafû (supaya kamu saling kenal). …. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Jadi, makna asli istilah taaruf itu adalah proses saling kenal dengan siapa pun selama hayat dikandung badan. Namun sekarang, ada banyak ikhwan yang bilang, “taaruf adalah perkenalan antara seorang ikhwan dan seorang akhwat yang akan menikah.” Bahkan, ada tak sedikit akhwat yang ngomong, “taaruf adalah proses pendekatan selama maksimal tiga bulan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang akan menikah.” Aneh, ya? (Bukan hanya aneh, malah bisa jadi bid’ah sesat.)

Gimana nggak aneh? Bayangin aja. Mereka batasi makna taaruf hanya untuk pendekatan ketika akan menikah. Itu pun selama maksimal tiga bulan saja. Mereka dengung-dengungkan istilah taaruf dengan makna yang agak menyimpang dari makna yang terkandung dalam Al-Quran, surah al-Hujurât [49], ayat 13. Padahal, mereka kan rajin membaca Al-Quran. Tekun pula menyimak terjemahnya dan mengkaji isinya.

Lantas, apakah mereka itu asal beda? Asal pake istilah dari bahasa Arab biar kedengaran Islami? Ataukah asal keren?

Gak usahlah kita berprasangka buruk kepada mereka. Mending kita berprasangka baik bahwa sesungguhnya sudah ada kata-kata khas yang digunakan oleh Allah dan/atau Rasul-nya ketika membicarakan perlunya pendekatan antara laki-laki dan perempuan yang hendak segera menikah. Kita cari yuuuk!

Kalau kata-kata khas tersebut seakar dengan istilah taaruf (seperti pada Al-Quran, surah al-Hujurât [49], ayat 13), maka istilah “taaruf pranikah” lebih elok daripada “taaruf” supaya tersedia ruang yang lapang bagi jenis-jenis taaruf lainnya. Seandainya kata-kata khas tersebut tidak seakar dengan istilah taaruf, kita dapat memanfaatkannya untuk merumuskan istilah lain yang lebih tepat.

Dari ayat-ayat Al-Quran, aku belum menemukan kata-kata khas yang dimaksud itu. What about you?

Dari hadits-hadits Nabi yang shahih, aku telah menemukannya! Alhamdu lillaah…. Mo tau? Gini niy….

Istilah Lain Yang Lebih Tepat

Di kitab Abdul Halim Abu Syuqqah, Tahrîr al-Mar’at (kitab ini menghimpun hadits-hadits shahih mengenai hubungan pria-wanita), aku jumpai enam hadits shahih mengenai perlunya “pendekatan” antara laki-laki dan perempuan yang hendak segera menikah. (Lihat Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), hlm. 53-56.)

Di situ, ada satu kata khas yang selalu muncul pada keenam hadits tersebut. Apakah kata khas ini seakar dengan istilah “taaruf” (saling kenal)?

Tidak. Istilah taaruf atau pun kata-kata yang seakar dengannya tidak pernah muncul di situ. Kata khas yang muncul adalah “nazhar”. Kemunculannya berbentuk kata kerja “yanzhuru” (memperhatikan) dan kata perintah “unzhur” (perhatikanlah).

Nah! Dari situ kita jadi ngeh, ternyata kita tidak diperintahkan untuk sekadar “taaruf” (saling kenal) bila hendak segera menikah. Yang disyariatkan dalam keadaan ini adalah “tanazhur” (saling memperhatikan).

Terus, apakah kata “nazhar” itu eksklusif khusus bagi yang hendak segera menikah?

Enggak juga. Contohnya, dalam suatu riwayat yang ngetop dikabarin, Ali r.a. berwasiat: “Unzhur mâ qâla wa lâ tanzhur man qâla.” (Perhatikanlah apa yang dikatakan dan janganlah kau perhatikan siapa yang mengatakan.)

Jadi, buat ngebedain ama jenis-jenis tanazhur lainnya, istilah yang lebih tepat untuk “pendekatan” antara laki-laki dan perempuan yang hendak segera menikah adalah TANAZHUR PRANIKAH.

Mungkin bagi sebagian orang di antara kita, istilah “tanazhur pranikah” ini kedengarannya kurang keren ketimbang “taaruf” atau pun “taaruf pranikah”. Namun, kita memilih istilah bukan lantaran asal keren, ‘kan?

About these ads

114 pemikiran pada “Taaruf, Sebuah Istilah yang Asal Keren?

    etikush berkata:
    23 Februari 2009 pukul 11:12

    hari Minggu, tanggal 15 Februari 2009, (satu hari setelah valentine) o-on disuruh Ambu ke pasar, beli daging sapi sekilo.

    Sepulangnya dari pasar, o-on bertemu dengan a-an dijalan.

    “darimana, bro?” tanya a-an.

    “dari pasar nih, tadi nyokap minta di beli-in daging sapi,” jawab o-on sambil menunjukkan bungkusan daging.

    “berapa sekilo?” tanya a-an lagi.

    “60 rebu perak,” jawab o-on.

    “segitu sekilo?” tanya a-an, sambil menunjuk ke bungkusan.

    “iya,” jawab o-on.

    “60 rebu cuma segitu? tadi malem gw nraktir i-in(pacar a-an), coklat+bakso+minum cuma 20rebu perak,” celetuk a-an.

    “trus apa hubungannya?” tanya o-on.

    “loe ngeluar-in 60 rebu perak cuma dapet daging segitu, mendingan juga gw, cuma keluar 20 rebu perak, bisa puas semaleman…
    hehehe…,”

    [...] ta’aruf untuk pranikah saja justru merupakan bid’ah. (Lihat “Taaruf, sebuah istilah yang asal keren?” dan “Awas! Taaruf praNikah = Bid’ah [...]

    ramaputra berkata:
    2 April 2009 pukul 10:00

    ta`aruf sdh jelas bukan kata yg berasal dari bahasa indonesia tetapi menjadi kata serapan ke dalam bahasa indonesia tapi itupun tdk digunakan secara luas oleh manusia penutur bahasa indonesia.

    ucha berkata:
    20 April 2009 pukul 21:10

    bagaimn memanaj hati biar tidak zina.. wlw hanya sebatas ta’aruf. Qta jga dianjurkan saling menjaga hati sebelum nikah.. Syukron

    ucha berkata:
    20 April 2009 pukul 21:11

    mencintai karena allah itu seperti pa?

    Farid berkata:
    26 April 2009 pukul 06:49

    Klw mnrtq istlh taaruf mmang jgn sLL d idntikkn dg prknalan antr lk2 dg wnta sblm nkh,tp apakh pnts mlrng org yg mnggnakn istlh taaruf sbgai prss prknalan sblm nkh yg islami,toh arti taaruf sndri mmang slng knal kn?dan klw aq lht d sbgian pmhaman klngn msyrkt mmprlhtkan bhwa taaruf tu prss prknalan
    antra lk2 dg wnta yg tdk mlnggar btsn2 syariat (ini mkna yg mngalami pnymptan)d bhs indonesia ada kn pljrn pnympitan mkna?lain dg pcrn yg sLL idntik dg ‘KNPI’,mnmalY mrka prnh brsnthan klt,dan klw aq lht mmang pcran tu sLL brkntasi negatif.cb deh lht d wikipedia tntng taaruf(itu lah pmhamn org indonesia saat ini),tp yg jls si apapn istlhY d dlmY tdk blh da khalwat,ikhtilath,dan prbwtan ‘taqrobuzzina’ yg lain,o y mngkn mksd orng yg mngtakn taaruf max. 3 bln tu adlh bntk ijtihad dia agar taaruf itu jgn lama2 utk mnghndari fitnah,apakah pntas seorang muslim krna prbedaan dlm mnggunakan istlh mnybabkn qta brcrai brai,kpn negara islam akn trbntuk?kpn khilafah islam akn trbntk?klw hal skcil ni mmbwt bgtu mdh mngluarkn vonis bidah/ssat,snggh kt2 yg tdk pnts mncl dr bi2r seorng muslim,ingtlh PR utk umat ini bgtu bnyk,mr song2 negara islam,khilafah islam,kmnangan d prng almalhamah kubro mlwn zionis

      M Shodiq Mustika responded:
      26 April 2009 pukul 09:13

      @ Farid
      Ta’aruf bukanlah sekadar istilah dari bahasa Arab, melainkan istilah dari Al-Qur’an. Bila kita mempersempit maknanya, maka akan berkurang jugalah pengamalan kita terhadap apa yang diperintahkan oleh Al-Qur’an itu.
      Pintu ijithad itu terbuka, tetapi bukan untuk membuat bid’ah.
      Istilah bid’ah telah dikemukakan oleh Rasulullah SAW. Pengertiannya pun telah dikupas secara mendalam oleh para ulama seperti Ibnu Taimiyyah. Bahaya bid’ah tidak dapat dipandang remeh. Sungguh aneh sekali bila seruan untuk menjauhi bid’ah malah dikatakan “tidak pantas muncul dari bibir seorang muslim”.

        patria berkata:
        14 Januari 2010 pukul 11:59

        Maaf jadi ikut cooment :)

        buakn ga pantes mas Sodiq..

        tapi kalo sediki2 bi’ah….

        Apa ga aneh????
        Orang ga tau itu di beri pengertian dulu..di bimbing dulu.

        Bahkan Rsul selalu meberi Contoh dulu sebelum melarang, dan indahnya Beliau selalu memberi Solusi.

        Bagai mana dakwah kita mo di dengar kalo cuma bisa menyalahkan…
        Kalo tau mohon di bagi2 dulu ilmunya kawan…

        “Maaf kawan, saya setuju ma ms Farid.
        maksudya..kawan2 jangan langsung menghukum dan menghujat.
        tapi di jelaskan dulu kepada yag bersangkutan.

        Jangan2 kita pandai berbicara, tapi hanya tau sebagian dari Isi perkataan itu???
        (jangan di sempitin…dulu kawan)

        bayangin sapean bukan orang Desain, ta ceritai istilah

        “Extrude, bevel yang ada di program 3D”
        mudeng ta??????????

        bonar berkata:
        12 September 2012 pukul 19:56

        Kalo ta’aruf di sebut bid’ah, berarti pacaran apa.. Bahkan di alqur’an dan hadist gak ada istilah pacaran islami. Aneh yg berusaha menjauhi zina dgn ta’aruf di bilang bid’ah, tapi yng mendekati zinah dgn pacaran di bilang sunah. Tobat pak, ingat kalo ada remaja2 yg membaca blog anda kemudian “berpacaran islami” dan akhirnya terjebak zinah maka andapun akan menanggung dosanya

        Andree Jamez berkata:
        19 September 2012 pukul 16:12

        Perbedaan Pacaran dengan Ta’aruf
        Kalian mungkin bertanya-tanya, bukankah pacaran adalah ajang mengenal satu sama lain? Bagaimana bisa menikah kalau tidak pacaran dulu? Aku bilang bisa dengan cara Islam. Islam mengajarkan kepada calon suami istri untuk saling mengenal terlebih dahulu yang disebut ta’aruf. Tentu saja ta’aruf lebih sopan dan lebih terarah karena calon suami istri dikenalkan oleh keluarga masing-masing. Secara logika saja, kalau pacaran kan, fulanah selalu mencoba untuk menutup kejelekan dirinya dari si fulan dan memperlihatkan sisi baiknya saja, begitu juga si fulan kepada si fulanah. Kalau ta’aruf, mulai dari kebaikan sampai kejelekan setiap pasangan pasti disebut oleh keluarga, jadi setelah menikah tidak ada penyesalan apapun.
        Aku juga berani bilang, kalau pernikahan yang dimulai dari ta’aruf lebih bertahan lama daripada yang dimulai dengan pacaran. Kenapa? Berikut perbedaan pacaran dengan ta’aruf.
        1. Seperti yang aku tulis barusan, dari ta’aruf kita bisa menerima kekurangan diri pasangan kita mengingat diri kita yang juga punya banyak kekurangan. Tidak seperti pacaran dimana setiap pasangan berusaha untuk menutup-nutupi kekurangan dirinya dan tampil sebaik mungkin di depan kekasihnya.
        2. Kalau pacaran berarti manis-manisnya sudah dihabiskan di awal, setelah menikah tinggal sepahnya doang. Kalau ta’aruf, manis-manisnya tentu saja dinikmati setelah menjadi halal. Kitapun merasa disayang oleh Allah SWT karena tidak ada keresahan sedikitpun.
        3. Orang yang berta’aruf biasanya terbimbing dan ter-tarbiyah. Senantiasa menegakkan syariat Allah dan al-Millah. Mereka biasanya adalah orang-orang yang tahu hukum agama kalau bercerai adalah hal yang sangat Allah benci. Berbeda dengan masyarakat awam kebanyakan yang menyelesaikan masalah dengan bercerai. Contohnya gosip perceraian artis yang menjamur di infotainment. Mereka pasti memulai pernikahan dengan pacaran, kan?
        Orang yang memulai pernikahan dengan berpacaran biasanya (aku tidak bilang seluruhnya)adalah orang yang tidak mengenal hukum agama. Mereka biasa pergi berduaan, ikhtilat, berpegangan tangan, berpelukan, dan berciuman. Tidak ada jaminan si cewek tidak akan hamil di luar nikah lalu aborsi karena cowoknya tidak mau bertanggung jawab.

    [...] 2. Menurut kaidah dari ushul fiqih, segala hubungan antarmanusia itu boleh, kecuali bila ada dalil qath’i yang melarangnya. Dalam hal ini, tidak ada larangan untuk berniat ganda, misalnya: meminta bantuan dan sekaligus melakukan pendekatan (PDKT). Supaya tidak terkecoh, Rasulullah menganjurkan kita untuk melakukan tanazhur (pengamatan dan penaruhan perhatian), bukan se…. [...]

    abror berkata:
    5 Juni 2009 pukul 14:21

    kalau seumpama seorang ikhwan yang suka seorang akhwat, kemudian ia taaruf. apa g menimbulkan perbuatan “zina”, seperti zina mata dsb. apa g malah merugikan, oleh karena itu…apakah ada yang namanya pacaran islami, kalau pun ada itu bdiah

    sekaarz berkata:
    22 Juni 2009 pukul 19:54

    masalah bgt si mengenai istilah.
    biasa aja deh kayaknya..

    namanya juga di Indonesia, bukan negara yang menggunkana bahasa Arab sebagai bahasa sehari2. jadi wajar aja kalo akhirnya yang menjadi generik suatu kata adalah makna yang populer dipergunakan.
    masa gitu aja bid’ah? segampang itukah men’cap’ seseorang menjadi ahli bid’ah???

    maaf..

    ukhti berkata:
    5 Juli 2009 pukul 09:56

    Duu…….h bingung ane,,, mang ta’aruf yang sebenernya kaya apa c???… coz yang ane tau ta’aruf itu ya perkenalan antara ikhwan dan akhwat yang udah siap walimah, tapi gak boleh berduaan aja karna akan ada yang ke-3nya,,,, tau kan yang ke-3nya siapa?… jadi harus ada yang menemani di situ, ada baiknya murobbinya lah yang mnemani.. dan yang ane tau kalo udah ta’aruf tu berarti dah masuk masa khitbah… bener ga ya??…… maaf kalo sok tau… :-)

    ilham667 berkata:
    8 Juli 2009 pukul 10:34

    proses yang benar dalam pernikahan
    http://menikahsunnah.wordpress.com/2008/06/23/proses-syari-sebuah-pernikahan/

    bukan pacaran..

    ظُرْ اِلَيْهَا فَاِنَّهُ اَحْرٰى اَنْ يُؤْدِمَ بَيْنَكُمَا
    .
    “Lihatlah dulu wanita itu, sebab akan lebih menjamin kelanggengan kalian berdua.” An-Nasa’i (2/73), At-Tirmidzi (1/202), Ad-Darimi (2/134), Ibnu Majah (1866), Ath-Thahawi (2/8), Ibnu Al-Jarud di dalam Al-Muntaqa (hal. 313), Ad-Daruquthni (hal.395), Al-Baihaqi (7/84), Imam Ahmad (4/144-245/246) dan Ibnu Asakir (17/44/2),
    Ini berarti sebelum menikah dan maminang antara kedua belah pihak tidak saling mengenal apalagi pacaran.

    lalu kenapa anda begitu semangat mengkempanyekan Pacaran??

    Pasti akan ada dari ummatku suatu kaum yang (berusaha) menghalalkan zina, sutra, khomer (minuman keras), dan alat-alat musik!.” (H.R. Bukhari.)

      Nabila berkata:
      14 Juli 2009 pukul 09:50

      ilham667 said:

      “Ini berarti sebelum menikah dan maminang antara kedua belah pihak tidak saling mengenal apalagi pacaran.”

      Bukankah Rasul kita mengenal Khadijah sebelum mereka menikah?

    indranz berkata:
    16 Juli 2009 pukul 15:24

    thank’s ya pak Shodiq,, infonya sangat berguna…

    wassallam…

    masyitoh berkata:
    24 Juli 2009 pukul 15:10

    aslm…………..
    pak shodiq, tau gak dimana lembaga untuk taaruf seseorang?
    balas. waslm

    kojev vanzouvend berkata:
    15 Oktober 2009 pukul 07:15

    sory numpang mampir bntar,,,klo bhas soal taaruf stiap org memiliki pndpt msing2(apalgi ampe skrg)yg penting kita ngrti apa itu taaruf yg sbnrnya???yach emank bnr klo g dijlasin scra detail seseorg bsa mengertikan mknanya jd slh kaprah!!!intinya kmbli kpda niat diri msing2 az,,,stlah saya bca dri comment saudra2 diats saya jd lbh tau ap mkna dri kata taaruf!!!thanks bwt infonya,

    zikri berkata:
    3 Desember 2009 pukul 17:11

    Pak shodiq,menurt ane,jgn trlalu gampang memvonis muslim muslimah melakukan bidah,memvonis seseorang sesat..artikelny bgus,tp jangan ditambhin vonis sesat dong..masa gara2 salah penggunaan kata,qt2 masuk neraka seh?bidah sesat t4ny d neraka kan?kagak mau ah..tolong diedit pak,kalo bgni bs menyebrkan konflik d antra muslim yg msh dlm tahap belajar..dikhwtrkn akan menyebarkan semangat saling mengatakan sesat..bhaya kan?menurut ane jg,sudah bgus muslim indonesia,mengenal kata taaruf..jd msyarakat tau,ada jalan syar i,untk menikah..pak shodiq,yg perlu dikatakn sesat itu adalah pacaran it pak..kalo slh penggunaan kata,ya ditegur aja..ya?

      patria berkata:
      14 Januari 2010 pukul 12:07

      Setuju banget mas Zikri…
      kita yang awam jadi ngeri, kalo kaya Gitu..

      Mohon di bimbing dengan baik, bukankah Sang Rassul, selalu mengajarkan Islam dengan kelemah lembutan..

    patria berkata:
    14 Januari 2010 pukul 12:02

    laha..
    kalo ada seorang Pria bialang ta’aruf ke Cewek..

    terus mo perkenalan, si cewek dah berharap.

    E’dengan Gampang ini kan cuma Taaru ga usah di masukin ke Hati..
    dah biasa jadi Jangan terlau berharap!

    kira2 bener ga neh mas???

    mohon infonya??
    karena Allah dan Rasull kan melarang kita mempermainkan hati Seseorang ^.-

    Trims

    [...] 3b) Untuk pranikah, Islam tidak mengajarkan taaruf, tetapi tanazhur. (Lihat “Taaruf, Sebuah Istilah yang Asal Keren?“.) [...]

    herupra berkata:
    11 Juni 2010 pukul 09:06

    wew…tulisan yang menarik, makasih infonya…salam kenal, Heru IPB

    abu naufal berkata:
    16 Juni 2010 pukul 21:06

    Assalamualaikum

    saya menilai tulisan ini berasal dari orang yang tidak bisa membedakan suatu istilah berdasarkan etimologi (bahasa) dengan istilah berdasarkan terminologi (syariat).

    di dalam syariat Islam terkadang terdapat istilah yang memiliki pengertian yang tidak sama dengan pengertian secara bahasa. sebagai contoh; kata Bid’ah berdasarkan etimologi (bahasa) berarti hal baru yang di ada-adakan, sedangkan berdasarkan terminologi (syariat) berarti hal baru yang di ada-adakan dalam hal agama terutama dalam hal ibadah & aqidah.

    juga istilah Jihad dalam etimologi (bahasa) berarti bersungguh-sungguh (mengerahkan segenap kemampuan), sedangkan berdasarkan terminologi (syariat) berarti memerang orang-orang kafir yang memusuhi/memerang Islam.

    perbedaan makna suatu istilah dikarenakan pengertian dalam syariat bersifat taufiqiyah (berdasarkan dalil/wahyu) maka tidak lah heran jika suatu istilah dalam syariat memiliki makna yang berbeda dalam arti secara bahasa.

    begitu juga dengan istilah Ta’aruf berdasarkan etimologi (bahasa) berarti perkenalan (secara umum), sedangkan arti Ta’aruf dalam syariat berarti perkenalan antara laki-laki dengan perempuan dalam rangka penjajakan menuju jenjang pernikahan.

    Kesimpulannya bahwa menyamakan istilah Ta’aruf secara syariat dengan istilah Ta’aruf berdasarkan bahasa adalah bentuk pe-nafian istilah “ta’aruf” secara syariat. dengan kata lain, sesungguhnya tulisan artikel diatas dimaksudkan untuk menjauhkan umat Islam (pemuda-pemudinya) dari syariat islam.

    Wallahualam

      M Shodiq Mustika responded:
      17 Juni 2010 pukul 07:37

      @ abu naufal
      wa ‘alaykumussalaam
      Alangkah baiknya seandainya abu naufal menyampaikan bukti ketika melancarkan tuduhan.
      Istilah jihad dalam syariat Islam ada landasan syar’i-nya. Istilah jihad sudah ada sejak zaman Rasulullah.
      1) Manakah landasan syar’i yang mensyariatkan ta’aruf untuk pranikah? Apakah istilah ta’aruf pranikah sudah ada di zaman Rasulullah?
      3) Manakah bukti bahwa “tulisan artikel diatas dimaksudkan untuk menjauhkan umat Islam (pemuda-pemudinya) dari syariat islam”? Bila tanpa bukti sama sekali, bukankah tuduhan itu sama saja dengan fitnah?
      Dan Allah sajalah yang Mahatahu.

    khassim_ar_rijal berkata:
    19 Agustus 2010 pukul 14:58

    Demi Allah…..

    -Beliau hampir selalu berkata :”Menurut saya…..dan Menurut saya….”
    itulah yang sebenarnya yang selalu diajarkan kepada seluruh pendeta missionaris, bahwa akal umat islam dapat kita belokkan jika kita dapat merangkaikan metode penyusunan perkataan dengan seksama dan akan terlihat seolah2 logis, lalu mereka tanpa sadar dengan sendirinya akan berpindah dari konsep bahwa :” Seharusnya dalam Islam bila kita tidak menemukan kejelasan dalam Al-Qur an maka pagangan kedua umat Muslim adalah Hadits Shahih yang antara Al-Qur an dan hadits tersebut hanya boleh ditafsirkan oleh beberapa ulama yang telah memenuhi kriteria “Ahlul Mujtahid”…. hanya boleh ditafsirkan oleh beberapa ulama yang telah memenuhi kriteria “Ahlul Mujtahid”…. hanya boleh ditafsirkan oleh beberapa ulama yang telah memenuhi kriteria “Ahlul Mujtahid”….
    ana sengaja mengulangi perkataan di atas agar kita umat Muslim tidak mudah terkecoh.. Walaupun pintu ijtihad telah terbuka atas suatu perkara namun tidak semua ulama berhak menafsirkannya semena2…apalagi dengan menggunakan akal yang masih duga2an….”Menurut saya….Menurut saya….” kalau begitu menurut semua orang saja sekalian, kan banyak orang yang masih sehat akalnya di luar sana….

    Oleh kerena itulah Imam Syafi’i mengingatkan dan menekankan bahwa dalam menafsirkan Al-Qur an, penggunaan akal untuk media penafsiran adalah peringkat yang ketujuh setelah Ijtihad para ulama… Bukan seorang ulama, apalagi sembarangan ulama… Astaghfirullahal adzim….

    -Beliau membelokkan makna Dzikir Pengangungan terhadap ALlah SWT. dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. dengan sedikit melemahkan dan menghilangkan title di belakang asma dan nama tersebut… Alasannya adalah kebanyakan Ayat2 Al-Quran mengatakan begitu dan juga syahadat kita…ini adalah salah satu metode pendangkalan aqidah lainnya…. padahal, bilamana Al-Qur an tidak menerangkan secara detail tentang sebuah permasalahan, maka harusnya Haditslah yang menjadi pegangan untuk penafsiran dalam peringkat yang kedua…. sekarang coba antum bertanya, apakah di dalam Al-Qur an ada penjelasan tentang tata cara mengerjakan Shalat? Tentunya tidak wahai saudaraku, Al-Qur an hanya menegeskan masalah perintah untuk mengerjakan shalat, namun tata cara pelaksanaannya ada dalam penuturan hadits Rasulullah SAW. bukan dari “Menurut saya…Menurut saya…”???
    Sadarkah kita umat muslim bahwa pada saat rasulullah SAW. hendak memulai khutbah jum’atnya, malaikat jibril as. memohon agar Baginda SAW. mengaminkan tiga doa jibril as. yang salah satu@ adalah bahwa “Diharamkan bagi seorang muslim untuk masuk syurga bila jika disebutkan atau menyebutkan nama Nabi Muhammad SAW. ia tidak bershalawat dengan mengucapkan pula ‘Sallallahu alaihi wassalam(SAW)’.”

    Allahuma syafiqullah…. saudaraku….
    Allahuma syafiqullah…. .

      M Shodiq Mustika responded:
      20 Agustus 2010 pukul 04:57

      Di antara tanda sikap ekstrim yang tampak jelas adalah bersangka buruk terhadap orang lain, sehingga suka melontarkan fitnah atau menuduh tanpa bukti yang kuat (Dr. Yusuf Qardhawi, Islam Ekstrem: Analisis dan Pemecahannya (Bandung: Mizan, 1992), hlm. 42-46).

        bonar berkata:
        12 September 2012 pukul 20:12

        Berarti andapun seorang yg ekstrim karena berprasangka buruk dan menuduh orang yg ber-ta’aruf sebagai pelaku bid’ah

    Aktivitas Terpenting Pacaran Islami | M Shodiq Mustika ™ berkata:
    1 September 2010 pukul 05:20

    [...] Udah baca artikel “Taaruf: Sebuah Istilah Yang Asal Keren?” [...]

    TITANZ CHAW berkata:
    9 Oktober 2010 pukul 22:20

    kok jd malah brdebat…jjur sy adlh mualaf……sy jd bingung,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,hikz…..hikz….

    Arsyil Hendra Saputra berkata:
    23 Oktober 2010 pukul 08:18

    Buat pak Shodiq: ASTAGHFIRULLAHAL ADZIMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMM

      w1nd4 berkata:
      1 Januari 2011 pukul 22:57

      ass. wr. wb

      sungguh, sy sdh membaca byk dr blog ini.
      taaruf yg berarti perkenalan dan penjajakan utk ke jenjang menikah salah satunya tentu ditempuh dgn berpacaran. walaupun jodoh sudah ditentukan oleh allah, bgmn mungkin kita bs hidup berbahagia dgn org yg hanya kita kenal luarnya saja, dgn cerita2 yg bsa sja hanya ‘riya’ smata. pacaran tdk melulu berbohong dan selalu sok sempurna pd pasangan. jujur saja sy sdh pacaran slama 3th, dan sdh stahun blakangan pacar sy yg rajin ikut pengajian smakin mengajarkan sy byk ttg agama. sy smakin mantap,walau mungkin pernikahan itu entah kpn terjadinya tp sy sudah yakin dan ingin dy yg jadi pasangan sy seumur hidup nanti kelak, terlebih sy sdh mengenal dan tau selak beluk,kebiasaan,baik buruknya pacar sy itu. ya, yakin itu timbul seiring waktu yg menghasilkan kualitas hubungan. tapi, bagaimana pacaran itu kembali lagi tergantung pd pribadi masing2, apakah dgn pacaran islami itu sunguh2 mau mencari pasangan hidup dan membawa kebaikan,mengajak kebaikan,mengajarkan kebaikan atau hanya have fun, mendekati zina saja. mungkin di jaman skrg sdh umum org2 yg pacaran dmn2, apakah mereka berpacaran dgn islami atau tdk itu kembali lagi pd hati nurani masing2.

      org2 yg komen disini jgnlah sok suci dan mengatakan pak shodiq mensesatkan umat. tolonglah pahami byk umat muslim yg ga smuanya ikut pengajian,msh byk org baca alquran tp ga paham maknanya. jgnkan pendapat org, pendapat ulama aja bermacam2.. tp tolonglah kita2 ini yg minim agamanya jgn asal njeplak aja..sy ga kenal sm yg pd komen di artikel ini. tp kalau emnag kalian tau agama plis deh ini bukan ajang utk sok paling suci dan merasa selalu benar. klo kalian emg tau agama buktikan donk cinta kasih kalian,keprihatinan kalian utk membantu org2 yg bingung. bukan cuma berdebat aja.. kita sama2 muslim. dijalan allah lah yg paling benar. tapi JANGAN TERSESAT DIJALAN YG BENAR.

      wass.

    Arsyil Hendra Saputra berkata:
    23 Oktober 2010 pukul 08:31

    BLOG INI DITUTUP AJA DEH…!!

    sri berkata:
    5 Desember 2010 pukul 16:13

    Bahkan, ada tak sedikit akhwat yang ngomong, “taaruf adalah proses pendekatan selama maksimal tiga bulan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang akan menikah.” Aneh, ya? (Bukan hanya aneh, malah bisa jadi bid’ah sesat.)

    Jd yg dianggap bisa menjadi bid’ah yi pendapat ttg taaruf yg prosx harus 3 bulan.
    Ingat loh, bisa menjadi bid’ah berarti ada potensi menjadi bid’ah tapi penulisnya sendiri tidak mengklain itu adalah bid’ah. hehehe..sy bukan membela penulis. Hanya memperhatikan penulisan kalimatx :D

    eniwei, thnks artikelnya. bikin sy lebih tau byk ttg istilah ini. Jadi gak ikut2n ketularan latah mrk yg sy anggap tau byk ;)

    sayyid muhammad ma`ruf berkata:
    21 Desember 2010 pukul 03:07

    Assalamu`alaikum…….
    bacalah, dan nilailah sesuatu itu menurut akal fikiran dan ilmu yang telah kita dapatkan , tetapi jangan menjelek2kan pendapat orang lain…. saya tidak berani menetapkan pendapat siapa yang salah dan pendapat siapa yang benar….sebab kita bukan Nabi, sedangkan Nabi saja sempat berbuat salah kemudian mengakuinya dan memperbaikinya, apa lagi kita hanya umat biasa yang terus belajar dan berusaha menjadi lebih baik.
    perdebatan atau musawarah itu adalah sebuah hikmah jika kita dapat menemukan titik penyelesaian dan kesimpulannya……
    maka merugilah orang yang berdebat tetapi tidak mendapatkan hikmahnya…..
    ta`aruf adalah perkenalan….. sedangkan perkenalan tidak pernah dibatasi laki2 atau perempuan, tua atau muda, miskin atau kaya….. jadi, ta`aruf itu digunakan sesuai dengan kebutuhan, sangat berlebihan jika sampai ada yang menetapkan ta`aruf hanya sebatas laki2 dan perempuan yang hendak menikah dalam batasan waktu tertentu, bisa2 menjadi bid`ah….
    masalah pacaran…. saya juga belum menemukan Ayat Alqur`an yang menegaskan dengan menggunakan kata2 “pacaran” yang ada “jangan mendekati zina”….. apakah pacaran itu mutlaq berzina??? wallahua`lam bisshowab….hanya Allah yang tahu…..
    ketika dihadapkan kepada kita sebuah anologi tabiat pacaran….:
    berdua2an laki2 dan perempuan yang bukan mukhrim ditempat yang sepi jelas zinah.
    berpegangan tangan dengan nafsu dan menimbulkan getaran jelas zinah
    bermesra2an (berpelukan, bermanja2an) jelas zinah
    apa lagi sampai bersetubuh…..itulah zinah yang paling besar
    tapi jika kita analogikan seperti ini….:
    dengan berpacaran seseorang dapat meningkatkan mutu keislamannya dan mutu keimanannya karena rasa syukur kita kepada Alloh yang telah mengkaruniai kita pasangan yang sangat ideal buat kita, apakah itu zinah?
    buaknkah pacaran itu dapat juga diartikan suatu wadah untuk lebih mengenal calon pendamping kita agar tidak menyesal dikemudian hari??? sedangkan pacaran itu sendiri belum da penetapan arti bahwa berpacaran itu adalah bermanja2aan dengan bergandeng tangan, berpelukan, beciuman dan sebagainya… mengapa kita berani haramkan pacaran sedangkan tidak ada dalam Al-Qur`an dan Hadits??? yang haram itu adalah ketika disertai zinah…saya setuju adanya pacaran Islami, bagi yang mampu menjalankannya, tetapi saya tidak menganjurkannya…. silahkan lakukan sesuatu itu menurut pemahaman kamu dan menurut ilmu yang pernah kamu dapat, namun tetap terus belajar dan trus mencari kebenarannya….
    tolong analisis baik2 kata2 saya sebelum dikomentari jika ada yang ingin mengomentarinya….
    mudah2an bermanfaat….
    wassalam…

      w1nd4 berkata:
      1 Januari 2011 pukul 23:03

      nah ini baruu sy setuju.
      pacaran islami itu merupakan tahap utk menikah dgn mantap sehingga bersyukur dan smoga tanpa penyesalan(maksudnya : tentu dlm menikah gada yg mau bercerai).

      ^_^

    sayyid muhammad ma`ruf berkata:
    21 Desember 2010 pukul 03:25

    saya pernah punya pacar, dan kami pacaran secara sehat, tidak duduk berdua2an, bahkan kami jadiannya lewat situs jejaringan sosial, terus setelah menetapkan hati, kami lanjutkan dengan bertukaran no Hp, setelah itu saling tanya kabar, dan saling mengenal pasangan melalui smsan atau telpon2nan….hanya sebatas itu…..
    bertemupun baru dua kali, yang pertama kurang dari 5 menit, hanya sekedar melihat wajah, itupun ditempat yang ramai (KAMPUS) dalam jarak kurang atau lebih 10 meter…. setelah seminggu berlalu berjumpa lagi, itupun karena ada sesuatu yang ingin diberikan, dan saya berkunjung dan duduk diteras, saya duduk dan dia berdiri itupun dengan jarak kurang atau lebih 10 meter…. kamipun jarang bertatap mata, ketika saya melihat dia, dia merunduk dan ketika dia melihat saya saya yang memalingkan wajah, menghidari kontak mata yang berakibat menimbulkan zinah kecil, yaitu zinah mata…. kami jalani pertemuan itu dalam waktu kurang dari 10 menit…. setelah itu tidak pernah berjupa lagi…..
    dia adalah wanita yang muslimah, berjilbab menutup dada, berpakaian yang longgar….
    apakah pacaran seperti ini haram???
    hanya Alloh yang lebih tahu segala hal yang menyangkut masalah kasih dan sayang karena dia adalah ARROHMAN dan ARROHIM…..

    affandes berkata:
    17 Juli 2011 pukul 00:19

    Salam, semoga kita diberi hikmah atas apa yang kita pelajari di sini.

    Ini hanya masalah perbedaan sudut pandang dan pengetahuan dalam mendeskripsikan makna sebuah kata ‘ta’aruf’ ataupun ‘pacaran’. Saya yakin kita semua sepakat bahwa kedua istilah itu tidaklah bersifat statis, tapi dinamis, itu tergantung kepada perbedaan ilmu pengetahuan yang diketahui oleh masing-masing kita.

    Dia (baca:istilah tersebut) akan baik jika kita yang memaknainya dengan baik, dan akan tidak baik jika kita memaknainya dengan tidak baik.

    Akan tetapi, satu hal yang bisa kita ambil hikmahnya, dan saya rasa kita semua tidak bisa memungkiri, bahwa “Penilaian yang berdasarkan dari pemikiran manusia, sedikit banyak pasti dilandasi dengan sedikit/banyak keegoan manusia itu sendiri”.

    Dan itu juga berlaku terhadap komentar saya ini.

    Itulah mengapa semua amalan yang kita kerjakan, hanya dipertanggung jawabkan oleh kita, bukan oleh orang yang mempengaruhi kita.

    Semoga bermanfaat, Salammun ‘alaikum

    nn berkata:
    13 September 2011 pukul 15:51

    walah walah
    mau apapun nama nya yg penting kedua bahgia

    happy ending.

    masalah selesai

    ayumi berkata:
    18 November 2011 pukul 05:40

    yg jls pacran scara islam tu g ad…
    Tpi sblum mnikah tu ta’aruf dlu tu ad…

    agendamerah berkata:
    19 Januari 2012 pukul 18:03

    [...] pra-nikah itu dianjurkan. (Adapun taaruf pra-nikah tidak ada [...]

    dwi berkata:
    2 Februari 2012 pukul 00:28

    assalamualaikum…
    perdebatan yang sangat panjang…dan terbuka peluang fitnah…..apa lagi jika dilihat dari sudut pandang yang “sempit”(saling merasa benar sendiri MENURUT VERSI DAN PEMAHAMANYA)..
    APALAGI SUMBER PERMASALAHANYA DARI PERBEDAAN PEMAKAIAN KATA DAN ISTILAH…

    tapi dalam proses belajar,memang sangat dibutuhkan,agar kita selalu mencari dasar hukum yang paling “benar.”..(AlQur’an,Hadist,ijma,qiyas)…,tidak hanya BERDASAR DARI SATU SUMBER DAN HANYA TAQ’LID(IKUT2AN).

    saran bagi “admin”(penulis blog ini),ntuk kedepanya biar tidak menimbulkan salah pemahaman yang ujung2nya bs menimbulkan fitnah dan perpecahan,tolong PENULISANYA LEBIH TERSTRUKTUR ALURNYA,memang pemberian TAUTAN/LINK bisa membuat tulisan simple/tidak terlalu panjang lebar,tapi bagi yang membacanya tidak secara keseluruhan,bs menimbulkan kesalah pahaman. APALAGI YANG DIBAHAS MENYANGKUT MASALAH DASAR HUKUM AGAMA….
    kasihan pak bagi yang MASIH AWAM dalam masalah agama(SEPERTI SAYA),apalagi ada saudara kita MU’ALAF seperti komentar di atas….
    Kalau ada kesalahan bersumber dari kebodohan saya..

    dwi berkata:
    2 Februari 2012 pukul 00:31

    assalamualikum
    etika dalam berbicara dan berdebat…
    http://akhwatzone.multiply.com/reviews/item/27

    nilam sari berkata:
    20 Februari 2012 pukul 09:57

    nilam says:

    Assalamu’alaikum

    saya ingin bertanya,
    bukankah sebelum ikhwan dan akhwat menjalani ta’aruf itu pasti mereka membangun komitmen dan janji setia kpd pasangannya dg melibatkan Allah,beberapa lama si ikhwan mengatakan bahwa janji dan komitmen yg dilakukan manusia kn blm pasti akan ditepati jd si ikhwan berlaku sewenang-wenang dg menjalin hubungan lagi bersama akhwat lain,karena dy menganggap ta’aruf ini sebagai Hubungan Tanpa Status jd bisa melakukan apa saja yg dy inginkan.bukankah Allah telah berfirman agar umatnya menepati janji dg ancaman QS. al-Baqarah ayat 225,QS.Al-Maa-idah ayat 89, al-Fath ayat 10,QS.al-Isra ayat 34…?apa yg harus akhwat lakukan jika trjadi seperti ini?apakah bersabar,salat istikharah,dan berdoa untuk ikhwan tsbt atau menghentikan proses ta’aruf ini?mohon bimbingannya pak

    makasih,
    Wassalamu’alaikum

    cherry berkata:
    16 April 2013 pukul 17:40

    saat saya berusia sekitar 6 tahun, saat itu pernah saudar sepupu saya melakukan penetrasi kepada saya, namun saat itu saya menolak dan menangis, meski se ingat saya saya menangis karena merasa sakit namun.. saya langsung berontak dan pergi, saat itu saya masi kecil… tapi saya tidak bisa lupa kejadian itu, meski setelah dewasa sya tidak pernah pacaran. tapi saya khawati saat saya menikah apa yang terjadi saat saya kecil dulu berdampak hebat/alias saya tidak perawan lagi… sammpai saat ini saya menyimpan pengalam buruk ini bahkan dari keluarga saya.. apakah saya harus menceritakan pengalamn buruk ini atau bagai mana…

    apakah saya harus memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan sebelum menikah, karena bagi sya keperwan itu penting hanya kebodohn dan ketidak tahuan saya di masa lalu saat saya kecil itu malah berdampak buruk untuk saya..

    ada sedikit terauma dalam diri saya, namun langkah apa yang paling baik yang harus saya tempuh…

    harap masukanya …???

    seni mencintai batuan apa adanya berkata:
    20 April 2013 pukul 14:05

    mantap! saya suka tulisan ini… dua jempol! semua syariat yang ada dalam al qur’an dan hadist banyak di interpretasikan begitu saja oleh para ustad dan ulama yang jenggotnya panjang sampe puser, bajunya gombrang, celana panjang dipendek2in…. dalil al qur’an dan hadist seharusnya ditelaah dengan nalar dan akal sehat, mentang2 ayat di al hujarat ada kata-kata ‘perempuan-laki2′ terus ada kata ta’aruf… eeehhh dijadiin sistem nikah yg ‘benar’ dalam agama benar-benar kacau balau dunia… umat islam terperangkap dalam ‘batas-batas’ yang dikotak-kotakkan para ‘ulama’ padahal apakah ‘mereka’ benar2 ‘ulama’ (ilmuan) menurut al quran? ayat diatas maknanya sangat luas sekali… sangat-sangat luas kalau sekedar diartikan secara sempit kalau ta’aruf itu cuma nikah saja ‘ujung’nya… ada bangsa, negara, suku, kenalan, bagaimana umat islam bisa maju kalau cuma mikir kebelet nikah terus ta’aruf? kita harus melahirkan kembali khawarizmi, ibnu sina, al biruni, dan para ilmuwan, teknokrat, dan para ahli matematika… mereka menyebrangi lautan, melewati berbagai macam garis batas antar ras, suku bangsa, dan agama untuk memperdalam research dan keilmuwan mereka… menelurkan karya ilmiah, konsep baru, penemuan-penemuan baru di berbagai disiplin keilmuan; astronomi, musik, matematika (geometri, al jabar, trigonometri, topologi, geologi, dll), fisika, kimia, biologi, sastra, dan lain sebagainya… subhanallah.. indah sekali…. merekalah para otodidak multi talenta yang memahami ta’aruf dengan semurni-murninnya dalam al hujarat ayat 13… terus di era kontemporer dimana agama banyak di ‘nodai’ orang-orang berjenggot panjang dan tidak berani ta’aruf ke negara eropa, Amerika, Israel yg saat ini memiliki pasokan profesor, phD, ilmuan yang begitu kaya dibandingkan negara-negara di belahan bumi lain… buat diajak ‘ta’aruf’….. malah sebaliknya membenci tanpa mau berbenah diri untuk generasi muda berikutnya…. berani “TA’ARUF”????
    —-> ta’aruf buat nikah doang????? ya sudahlah…. terserah….

    reza berkata:
    5 Mei 2013 pukul 10:17

    sebenernya kita menjadi terkotak kotak karena munculnya istilah baru,padahal pada zaman nabi istilah ini tdk dipakai hanya utk pra nikah saja..
    bahkan istilah pacaran tdk ada dizaman kakek buyut kita.
    batasan2 ketika saling mengenal di quran dan hadist sdh ada.cara saling mengenal bebas dgn cara apa saja,tp ada larangan2 yg harus di jaga.

    sebelum fatimah dan ali dinikahkan nabi pun sebenernya mereka sdh saling menyukai.namun mereka baru tau setelah mereka menikah.
    tdk ada masalah dgn metode taaruf yg byk dipakai skrg.karena tdk melanggar aturan nabi,dan nabi pun tdk mengaturnya secara detail.hanya menjelaskn apa2 yg dilarang. misal dilarang pergi hanya berduaan,menundukan pandangan,dll.
    yg pasti jgn mudah membid’ah kn org lain apalagi sesat,,klo ada org yg berciuman,pegang tangan apakah itu sesat? yg sesat itu yg ga sholat dan menyekutukn Allah

    ummuwais berkata:
    14 September 2013 pukul 07:37

    Salamun’alaik…. dulu waktu masih jahiliyah (jaman SMA) saya sempat berpacaran dgn beberapa org tp sy tinggalkan krn krg sreg dlm arti “selalu ada maunya” (laki2 koq sama yaaaaa… mengancam akan meninggalkan kalo tdk dikasih “ini” dan “itu”)… alhamdulillah masih dijaga Allah. Setelah lulus kuliah, saya menikah dgn laki2 yg saya tdk kenal sama sekali cm dijodohkan sama teman, tukar biodata n langsung dilamar, alhamdulillah 10 tahun sdh kami menikah, walopun anak menjelang 3 org, tiap hari seperti pacaran terus… Benarlah kalamullah Qs. An-nuur: 26…
    Buat para muslimah, tanpa taaruf pun anda bisa mendapatkan jodoh yg baik…syaratx perbaiki kualitas iman n akhlak anda! Buat para muslim, gak usah coba2 menjajaki deh, gak yakin anda2 bisa tahan godaan (fitnah buat laki2 kan wanita) langsung aksi aja, ingat anda bebas memilih tp kalo mau dpt muslimah yg baik tentulah anda juga harus sempurna. Kalo mau dapat Khadijah, maka anda harus menjadi pribadi Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bisa gak????

    Blog’Ge Tri Sihono » Ta’aruf praNikah=bid’ah sesat berkata:
    30 Oktober 2013 pukul 11:49

    […] Sumber […]

    […] 3b) Untuk pranikah, Islam tidak mengajarkan taaruf, tetapi tanazhur. (Lihat “Taaruf, Sebuah Istilah yang Asal Keren?“.) […]

    Benarkah ta’aruf = pendekatan pranikah? « Indonesia Hot berkata:
    20 Januari 2014 pukul 18:10

    […] ta’aruf untuk pranikah saja justru merupakan bid’ah. (Lihat “Taaruf, sebuah istilah yang asal keren?” dan “Awas! Taaruf praNikah = Bid’ah […]

    […] 1) Untuk pranikah, Islam tidak mengajarkan taaruf, tetapi tanazhur. Lihat “Taaruf, Sebuah Istilah yang Asal Keren?“ […]

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s