Taaruf, Sebuah Istilah yang Asal Keren?

2007 Januari 21
by M Shodiq Mustika

Pada beberapa tahun terakhir ini, ada gejala pergeseran makna taaruf. Ada kecenderungan, taaruf tidak lagi diartikan menurut makna asli yang terkandung dalam Al-Quran, surah al-Hujurât [49], ayat 13: “Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku li ta‘ârafû (supaya kamu saling kenal). …. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Jadi, makna asli istilah taaruf itu adalah proses saling kenal dengan siapa pun selama hayat dikandung badan. Namun sekarang, ada banyak ikhwan yang bilang, “taaruf adalah perkenalan antara seorang ikhwan dan seorang akhwat yang akan menikah.” Bahkan, ada tak sedikit akhwat yang ngomong, “taaruf adalah proses pendekatan selama maksimal tiga bulan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang akan menikah.” Aneh, ya? (Bukan hanya aneh, malah bisa jadi bid’ah sesat.)

Gimana nggak aneh? Bayangin aja. Mereka batasi makna taaruf hanya untuk pendekatan ketika akan menikah. Itu pun selama maksimal tiga bulan saja. Mereka dengung-dengungkan istilah taaruf dengan makna yang agak menyimpang dari makna yang terkandung dalam Al-Quran, surah al-Hujurât [49], ayat 13. Padahal, mereka kan rajin membaca Al-Quran. Tekun pula menyimak terjemahnya dan mengkaji isinya.

Lantas, apakah mereka itu asal beda? Asal pake istilah dari bahasa Arab biar kedengaran Islami? Ataukah asal keren?

Gak usahlah kita berprasangka buruk kepada mereka. Mending kita berprasangka baik bahwa sesungguhnya sudah ada kata-kata khas yang digunakan oleh Allah dan/atau Rasul-nya ketika membicarakan perlunya pendekatan antara laki-laki dan perempuan yang hendak segera menikah. Kita cari yuuuk!

Kalau kata-kata khas tersebut seakar dengan istilah taaruf (seperti pada Al-Quran, surah al-Hujurât [49], ayat 13), maka istilah “taaruf pranikah” lebih elok daripada “taaruf” supaya tersedia ruang yang lapang bagi jenis-jenis taaruf lainnya. Seandainya kata-kata khas tersebut tidak seakar dengan istilah taaruf, kita dapat memanfaatkannya untuk merumuskan istilah lain yang lebih tepat.

Dari ayat-ayat Al-Quran, aku belum menemukan kata-kata khas yang dimaksud itu. What about you?

Dari hadits-hadits Nabi yang shahih, aku telah menemukannya! Alhamdu lillaah…. Mo tau? Gini niy….

Istilah Lain Yang Lebih Tepat

Di kitab Abdul Halim Abu Syuqqah, Tahrîr al-Mar’at (kitab ini menghimpun hadits-hadits shahih mengenai hubungan pria-wanita), aku jumpai enam hadits shahih mengenai perlunya “pendekatan” antara laki-laki dan perempuan yang hendak segera menikah. (Lihat Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), hlm. 53-56.)

Di situ, ada satu kata khas yang selalu muncul pada keenam hadits tersebut. Apakah kata khas ini seakar dengan istilah “taaruf” (saling kenal)?

Tidak. Istilah taaruf atau pun kata-kata yang seakar dengannya tidak pernah muncul di situ. Kata khas yang muncul adalah “nazhar”. Kemunculannya berbentuk kata kerja “yanzhuru” (memperhatikan) dan kata perintah “unzhur” (perhatikanlah).

Nah! Dari situ kita jadi ngeh, ternyata kita tidak diperintahkan untuk sekadar “taaruf” (saling kenal) bila hendak segera menikah. Yang disyariatkan dalam keadaan ini adalah “tanazhur” (saling memperhatikan).

Terus, apakah kata “nazhar” itu eksklusif khusus bagi yang hendak segera menikah?

Enggak juga. Contohnya, dalam suatu riwayat yang ngetop dikabarin, Ali r.a. berwasiat: “Unzhur mâ qâla wa lâ tanzhur man qâla.” (Perhatikanlah apa yang dikatakan dan janganlah kau perhatikan siapa yang mengatakan.)

Jadi, buat ngebedain ama jenis-jenis tanazhur lainnya, istilah yang lebih tepat untuk “pendekatan” antara laki-laki dan perempuan yang hendak segera menikah adalah TANAZHUR PRANIKAH.

Mungkin bagi sebagian orang di antara kita, istilah “tanazhur pranikah” ini kedengarannya kurang keren ketimbang “taaruf” atau pun “taaruf pranikah”. Namun, kita memilih istilah bukan lantaran asal keren, ‘kan?

79 Tanggapan leave one →
  1. 2009 Desember 3
    zikri permalink

    Pak shodiq,menurt ane,jgn trlalu gampang memvonis muslim muslimah melakukan bidah,memvonis seseorang sesat..artikelny bgus,tp jangan ditambhin vonis sesat dong..masa gara2 salah penggunaan kata,qt2 masuk neraka seh?bidah sesat t4ny d neraka kan?kagak mau ah..tolong diedit pak,kalo bgni bs menyebrkan konflik d antra muslim yg msh dlm tahap belajar..dikhwtrkn akan menyebarkan semangat saling mengatakan sesat..bhaya kan?menurut ane jg,sudah bgus muslim indonesia,mengenal kata taaruf..jd msyarakat tau,ada jalan syar i,untk menikah..pak shodiq,yg perlu dikatakn sesat itu adalah pacaran it pak..kalo slh penggunaan kata,ya ditegur aja..ya?

Lacak Balik & Ping Balik

  1. “Izinkan Aku Berzina” « M Shodiq Mustika
  2. Islamisasi pacaran yang berkualitas tinggi « M Shodiq Mustika
  3. Aktivitas Terpenting Pacaran Islami « Pacaran Islami
  4. Halal-Haram Pacaran (Dalil Mana Yang Lebih Kuat?) « Pacaran Islami
  5. Tinjauan : Ta’aruf sebuah istilah asal keren « Pacaranislamikenapa’s Weblog
  6. Antara tanazhur, pacaran islami, dan ta’aruf (1) « Pacaranislamikenapa’s Weblog
  7. “Izinkan Aku Berzina” « Suryaningsih Site
  8. Awas! Taaruf praNikah = bid’ah sesat!!! « Pacaran Sehat
  9. Haramkah belajar agama dari buku? « Salafi Liberal
  10. Nabi Muhammad pun pernah pacaran (tetapi secara islami) « Pacaran Sehat
  11. My Blog
  12. puji’s Blog » Blog Archive » Nabi Muhammad pun pernah pacaran (tetapi secara islami)
  13. Manakah situs ta’aruf yang bertujuan nikah? « M Shodiq Mustika
  14. PDKT antara ikhwan-akhwat aktivis dakwah « M Shodiq Mustika
  15. Benarkah ta’aruf = pendekatan pranikah? « Fiqih Asmara
  16. PDKT antara ikhwan-akhwat aktivis dakwah « Pacaran Islami

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS